Sekolah Kolonial di Bandung : OSVIA dan KWEEKSCHOOL

By : M.Ryzki Wiryawan

Sejarah Sekolah Bandung : OSVIA dan KWEEKSCHOOL

Beberapa waktu yang lalu komunitas Aleut mengadakan perjalanan menyusuri bekas-bekas bangunan yang pernah digunakan sebagai sekolah di masa Kolonial, sebagian besar bangunan ini masih tetap berfungsi sebagai sekolah hingga saat ini. Sayangnya, saya tidak dapat mengikuti perjalanan ini karena diserang penyakit yang tak dikenal, tapi yang paling mengganggu saya adalah penyakit kegantengan ini… hahaha (hueekk)

Tapi biarlah, karena sy gak bisa share di perjalanan maka saya share lewat tulisan aja, dikit mengenai sejarah pendidikan kolonial, khususnya dua bangunan tertua yaitu OSVIA dan KWEEKSCHOOL yang jejaknya masih bisa kita lihat di Bandung ini. Maka beruntunglah yang tinggal di Bandung. Oke langsung aja deh…

Pendirian sekolah untuk Pribumi tampaknya baru dimulai saat sang Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan regen-regen di Jawa bagian utara dan timur untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak pribumi, tujuannya agar mereka mematuhi adat dan kebiasaan sendiri. Kebijakan ini diteruskan oleh Gubernur Jenderan Van Der Capellen (1819-1823) namun hasil yang diharapkan tidak pernah terwujud. Hingga tahun 1849 anya ada dua sekolah yang didirikan regen yang aktif. Pemerintah Hindia Belanda saat itu juga tengah disibukan berbagai pemberontakan yang mengabiskan kas. Sehingga saat residen Bandung dan Krawang meminta F.30,- dan F.20,- untuk biaya menggaji guru, permohonan mereka ditolak.

Kemudian muncullah Van den Bosch lewat kebijakan “cultuurstelsel”-nya yang memeras tenaga penduduk hingga keringat penghabisan. Untuk mensukseskan program ini, Van den Bosch membutuhkan tenaga-tenaga pribumi sebagai pegawai rendahan yang murah untuk menjaga perkebunan pemerintah. Para pegawai ini sedapatnya dipilih dari anak-anak kaum ningrat yang memang sudah memiliki kekuasaan secara tradisional. Tahun 1931 sang Gubernur Jenderal mengeluarkan surat edaran untuk pendirian Sekolah dasar negeri di tiap-tiap karasidenan atas biaya Persekutuan Injil (Bijbelgenootschap). Tapi di lapangan kebijakan ini tidak berjalan. Barulah setelah Raja Belanda turun tangan lewat Keputusan Nomor 95 tanggal 30 September 1848 yang memberi wewenang kepada Gubernur Jenderal untuk untuk menganggarkan dana sebesar f.25.000,- setahun bagi pendirian sekolah bumiputera, kaum pribumi mulai dapat merasakan pendidikan.

Nantinya, akan dikenal dua jenis sekolah dasar untuk kaum pribumi, yaitu :

1.       De Scholen der Eerste Klasse – Sekolah Dasar Kelas 1 (Maksudnya untuk golongan kelas 1), yaitu untuk anak-anak pemuka masyarakat, priyayi atau raja-raja.

2.       De Scholen der Tweeder Klasse – Sekolah Dasar Kelas 2 (Untuk masyarakat kelas 2), Yaitu untuk anak-anak dari masyarakat biasa.

Hoofdenschool (Sakolah raja) – (Dok. Keluarga)

Nah, tahun 1865 di Bandung didirikanlah sekolah untuk anak-anak kepala daerah Bumiputra, dikenal sebagai Sekolah Raja (Hoofdenschool) sekolah inilah yang pada tahun 1900 menjadi OSVIA (Opleiding voor Indlandsche Ambtenaren) atau sekolah untuk pendidikan pegawai bumiputera. Sekolah ini kemudian ditingkatkan menjadi sekolah menengah pertama atau MOSVIA. Sekolah ini terletak di daerah Tegalega sekarang. Tidak banyak keterangan mengenai sekolah ini kecuali mempersiapkan calon-calon pegawai dan administratur bagi perusahaan atau instansi milik Belanda.

OSVIA Bandung (Dok. Tropenmuseum)
Guru dan Pelajar OSVIA yang gagah (Tropenmuseum)

Ada salah kaprah di masyarakat bahwa yang diidentikan sebagai sekolah raja adalah sekolah guru di jalan merdeka, padahal sekolah raja yang sebenarnya adalah OSVIA ini.

Sekolah guru (Kweekschool) merupakan tindak lanjut dari keputusan Raja Belanda tanggal 30 September 1848 tentang pembukaan sekolah dasar negeri. Untuk memenuhi kebutuhan gurunya, maka dibukalah sekolah Pendidikan guru berdasarkan Keputusan Pemerintah India Belanda tanggal 30 Agustus 1851. Sekolah guru pertama dibuka di Solo tahun 1952 dan yang di Bandung dibangun taun 1864-1866. Tidak ada syarat apapun untuk memasuki sekolah guru ini, syarat satu-satunya adalah berusia 14 tahun dan itupun sering tidak dapat dipastikan karena ketiadaan akte kelahiran. Kebanyakan yang mendaftar sekolah guru adalah golongan rendah, bukan golongan priyayi/raja seperti yang selama ini disangka orang. Metode belajar di Kweekschool adalah semacam boardingschool atau sekolah asrama.

Kweekschool (Dok. keluarga)
Kweekschool tahun 30’an (Dok. Keluarga)

Namun, walau demikian, Lulusan sekolah guru memiliki prestise tinggi di masyarakat, mereka mendapat gelar mantri guru dan fasilitas seperti hak untuk menggunakan payung, tombak, tikar, dan kotak sirih. Mereka juga mendapat biaya menggaji empat pembantu untuk membawa empat lambang kehormatan itu, terbayang bagaimana wibawa seorang guru saat itu. Semua orang otomatis akan menghormatinya. Selain fasilitas, mereka juga mendapat gaji yang sangat tinggi untuk ukuran pribumi.

Murid kelas 3 atau 4 kweekschool yang menunjukan tingkah laku baik diijinkan kawin, namun harus tetap tinggal dalam asrama. Dikarenakan calon pendaftar yang membludak, tahun 1871 diadakan ujian saringan masuk untuk kweekschool. Membludaknya pendaftaran, selain karena fasilitas yang ditawarkan, juga karena faktor berikut :

1.       Pendidikan guru bebas dari pembayaran iuran sekolah, bahkan siswanya mendapatkan uang saku tiap bulan sebesar f.12,- hingga f.15,- sebagai biaya pakaian dan makanan, sehingga tidak memberatkan orang tua. Segala ongkos perjalanan juga ditanggung pemerintah

2.       Para lulusan sudah dipastikan mendapat pekerjaan pada sekolah pemerintah dengan gaji lumayan yang memberikan status sosial terhormat dalam masyarakat sebagai pegawai pemerintah dan seorang intelektual.

3.       Kweekschool merupakan salah satu jalan bagi golongan menengah dan rendah Indonesia untuk menikmati pendidikan lanjutan. Akhirnya guru menjadi orang yang sangat dihormati di dalam masyarakat Indonesia saat itu.

Mata pelajaran di Kweekschool Bandung adalah sebagai berikut :

1.       Bahasa Melayu

2.       Bahasa Sunda

3.       Menulis

4.       Berhitung

5.       Ilmu Ukur

6.       Ilmu Bumi

7.       Sejara

8.       Ilmu Alam

9.       Menggambar

10.     Ilmu Mendidik

11.    Bernyanyi

Di tahun ke-4 murid kweekschool mengadakan praktik mengajar di sekolah luar. Di Bandung, setiap calon guru belajar mengajar di tiap kelas selama dua minggu, dari kelas terandah sampai tertinggi. Mereka yang tidak ikut praktik mengajar bisa mengikuti pelajaran bersama murid kelas III. Praktik mengajar ini disudahi dengan ujian akhir. Bahkan murid yang tidak lulus sekalipun, masih bisa diangkat sebagai guru dengan gaji yang lebih rendah yakni f.20,- sedangkan yang lulus mendapat f.40,- sebulan. Ah, enaknya menjadi guru saat itu…

Nah demikian sedikit yang bisa saya bagi dari pengalaman saya eh, dari hasil baca-baca saya selama saya terkapar sakit ini, lebih kurangnya mohon dibantu ya… Pokonya mah “Blum ke Bandung kalo blum Ngaleut!”

Suasana belajar di OSVIA (Dok. Keluarga)
About these ads

11 Tanggapan to “Sekolah Kolonial di Bandung : OSVIA dan KWEEKSCHOOL”

  1. info unik. makasih banyak..

  2. Ini info sejarah perlu dilestarikan

  3. Informasi ini sangat penting bagi saya sebagai penduduk kota Bandung, karena kakek saya pindah ke Bandung tahun 1957, beberapa bangunan sudah berubah fungsi.

  4. nice , i like it :)

  5. Osvia/Mosvia sering disebut Sakola Menak (Sekolah Umum Kaum Priyayi), sedangkan Kweekschool di jln Merdeka disebut Sakola Raja, malahan taman kotapraja yang ada di depannya disebut Kebon Raja. Duka mana nu leres tah?

    • Duanana leres pa. Kumargi duanana teu tiasa dilebetan ku anu salian ti barudak kaum priyayi. Anu ngabentenkeunna, Mosvia mah sapertos IPDN ayeuna, sakola kanggo calon PNS. Upami Kweekschool mah sakola kanggo calon2 guru, sapertos UPI ayeuna. Mugi2 infona tiasa ngabantos.

  6. di bandung ada kweekschool.. aku kq baru tau yaah?? di daerah mana??

  7. sakola TK taman kanak-kanak pertama di Bandung yang bangunannya masih gagah berdiri ada di jalan riau (sekarang jadi heritage factory outlet bandung) dulu katanya disebut sebagai sakola froebel (TK)…begitu kata alm ibu saya..saya benar tidak nya mangga ditelusuri ku komunitas aleut nu the best thea….

  8. “Sekolah guru pertama dibuka di Solo tahun 1952 dan yang di Bandung dibangun taun 1864-1866. Tidak ada syarat apapun untuk memasuki sekolah guru ini, …”

    Maaf kalau saya salah, tapi sepertinya yang di Solo itu tahun 1852 kah …?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.486 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: