Ada Patung Atlas di Jaarbeurs!!!

Posted in Catatan Perjalanan on November 23, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Dian Palupi Restuputri

Jadi ceritanya minggu kemarin saya ngaleut dengan Komunitas Aleut. Aleut diambil dari bahasa sunda yang berarti jalan bersama-sama. Sebenarnya pengen gabung dari denger di Radio Ardan tapi baru sempet pas minggu kemarin. Tema minggu ini adalah Ngaleut Militer. Dan saya telat datang saudara-saudara =D Rute pertama saya yaitu dimulai dari SMP 5. Komplek SMP 5, SMA 3, SMA 5 memang oleh belanda dipersiapkan sebagai perkomplekan sekolah.
SMP 5 Bandung sekarang
SMP 5 Bandung jaman Belanda http://www.kaskus.us/showthread.php?p=511242656
Belanda dulu memang berencana memindahkan tampuk pemerintahan dari Batavia ke Bandung karena setelah diteliti kota yang paling enak untuk ditinggali adalah kota bandung yang berhawa sejuk dan kemudian jauh dari perairan juga. Jakarta yang deket dengan laut dikhawatirkan sewaktu-waktu bisa diserang dari laut. Pertama yang dipindahkan oleh pemerintah Belanda adalah militer, akan tetapi sebelum sempat semua dipindah Belanda terkena krisis ekonomi sehingga Gedung Sate termasuk yang distop pembangunannnya karena tidak punya dana lagi.
Peletakan pertama gedung sate diambil dari http://lautanwaktu.blogspot.com/2010_04_01_archive.html
Gedung Sate http://www.bdgcity.com/btd.php?id=13

Setelah dari komplek sekolah kita beranjak ke Taman Lalu Lintas (Taman Ade Irma Suryani = Insulindepark). Di taman ini ditumbuhi berbagai macam tanaman dan pohon yang sekarang sangat jarang kita temui. Katanya sih taman ini disebut juga taman mini-nya Kebun Raya Bogor.

http://mahanagari.multiply.com/photos/photo/4/35

Setelah itu kita ke Komplek Kodam III/Siliwangi, yang mana jika kita ke kawasan militer kita tidak boleh memfoto apapun itu. Dikhawatirkan posisi tersebut diketahui (eh bukannya sekarang GPS akan lebih akurat daripada foto ya, ya sudahlah). Kawasan ini bekas kawasan militer Belanda sampai ada menara untuk pengintai juga loh.

Dari kompleks militer kita beranjak ke Taman maluku yang terkenal dengan patung pastur yang (katanya) bisa jalan-jalan itu loh. Disebut juga dengan MolukkenPark. Perihal patung pastur ini, disebutkan bahwa pastur ini bernama Verbraak . Saat pemerintahan jepang semua patung peninggalan Belanda dihancurkan kecuali patung pastur ini dan patung Ijzerman (di Taman Ganesha depan ITB sekarang disimpan di rektorat ITB). Karena patung pastur ini sempat dikubur dahulu sehingga tidak dihancurkan. katanya nih patung ini suka berubah letaknya ada yang bilang posisi tangannya berubah, bukunya terbuka dan beberapa bilang kadang hilang entah kemana. Ternyata ada teorinya kenapa posisi tangan/bukunya kadang berubah. Ternyata dari sisi penglihatan dan perspektif yang berbeda, patung ini akan terlihat beda apalagi didukung oleh fondasi yang tinggi, dari sudut berbeda bukunya akan terlihat beda.

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/04/07/keep-bandung-beautiful-euy/
Yang menarik lainnya yaitu Jaarbeurs atau Annual Trade Fair, yang kalau diterjemahin : Bursa dagang tahunan. Nah ini juga salah satu cara pemerintah Belanda untuk menekan krisis ekonomi. Isinya ya buat jualan barang-barang lah. Menariknya disini diatas gedung terdapat 3 patung Atlas (Atlas dalam mitologi yunani adalah putra Titan yang dihukum Zeus memanggul dunia), intinya sih supaya perekonomian Belanda bisa bangkit lagi (karena dipanggul Atlas hehe)
Jaarbeurs www.bandungtempodoeloe.blogspot.com
Patung Atlas di Jaarbeurs http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/04/07/keep-bandung-beautiful-euy/
Ya itu sekelumit ngaleut saya insyallah kapan-kapan saya ikut ngaleut lagi. Dan bisa berbagi cerita disini.

ps : karena batere kamera abis terpaksa comot gambar dari sana sini =(

Original post : http://zput.blogspot.com/2011/11/ada-patung-atlas-di-jaarbeurs.html

Pemerintahan Darurat Sjarifudin Prawiranegara di Sumatera Tengah

Posted in Catatan Perjalanan on November 21, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Mr. Syarifudin Prawiranegara

Ada tulisan menarik dalam koran Pikiran Rakyat beberapa hari lalu, seorang sejarawan Jawa Barat menceritakan bagaimana usahanya untuk mempromosikan Sjarifudin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional. Namun menurut sy tulisan itu masih lebih banyak membicarakan pribadi sang sejarawan daripada perjuangan Sjarifudin Prawiranegara. Untuk itu sekadar menambahkan, Berikut adalah sedikit ulasan kisah perjuangan Sjarifudin dkk. selama menjalani pemerintahan darurat di Sumatera.

Gamang 

Waktu agresi  Belanda dimulai, negara RI belum sembuh dari penderitaan akibat tikaman yang diberikan PKI Musso dari belakang dengan peristiwa Madiun yang menimbulkan ribuan korban jiwa. Wakil Presiden Moh. Hatta yang pada waktu itu jadi Perdana Menteri beberapa minggu sebelum serangan Belanda, bersama Mr. Sjarifudin Prawiranegara yang ketika itu menjabat Menteri Kemakmuran berangkat dari Jogja ke Bukittinggi, ibukota kedua RI untuk mengadakan perundingan dengan pucuk pemerintahan di Sumatera berkaitan upaya pembentukan pemerintahan sementara di Bukittinggi dengan pimpinan Bung Hatta apabila Belanda melanjutkan agresi baru.

Di tengah persiapan pembentukan pemerintahan itu, Bung Hatta dipanggil kembali ke Jogja untuk berunding dengan pihak Belanda di Kaliurang dengan perantaraan Komisi Tiga Negara. Perundingan ini mengalami kegagalan dan berbuah pada agresi militer ke-II. Saat itu Mr. Sjarifudin baru berada beberapa hari saja di Bukittinggi, dan langsung memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut mengingat kondisi yang semakin tidak menentu.

Sebelum Agresi terjadi, sebenanya Soekarno-Hatta telah mengeluarkan mandat yang mengatakan bahwa  :

Djikalau dalam keadaan darurat pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjarifuddin Prawiranegara Menteri Kemakmuran untuk membentuk Pemerintah Republik darurat di Sumatera

Selain mandat tersebut, turut dikeluarkan mandat lain kepada Dr. Sudarsono, Palar, dan Mr. Maramis di India yang isinya sbb. :

Djikalau ichtiar Sjarifuddin di Sumatera tidak berhasil, maka saudara2 dikuasakan membentuk exile government Republik Indonesia di India

Rumah2 dan Pabrik2 yang dimusnahkan Belanda sewaktu PDRI

PDRI

Sementara itu rombongan Mr. Sjarifudin mengungsi ke  Halaban, negeri yang terletak 20 Km di luar kota Payakumbuh, di lereng gunung Sugo, sedangkan rombongan lain menuju daerah yang berbeda. Pada tanggal 21 Desember, hari ketiga agresi militer Belanda, Mr. Sjarifudin masih ragu2 dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya, karena  mandat yang diberikan kepadanya dari Kabinet Hatta untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatera ternyata belum didengarnya, karena memang segala bentuk saluran komunikasi telah lebih dulu diputus oleh Belanda.

Mengenai mandat kabinet ini, Mr. Sjarifudin baru mengetahui beberapa bulan setelah PDRI, berbentuk wawancara pers Bung Hatta yang dilakukannya di tempat pembuangannya di Bangka, yang didengar Sjarifudin di tempat persembunyiannya di pedalaman Sumatera Tengah dari radio. Dengan ini terbuktilah bahwa Sjarifudin membentuk pemerintahan darurat ini atas inisiatif sendiri.

Disamping pemerintahan darurat yang didirikan Mr. Sjarifudin, ada pula pemerintahan Gerilya yang dibentuk Tan Malaka di Jawa, namun tampaknya inisiatif Tan Malaka ini kurang populer. 

Dick Tamimi

Dalam suatu wawancara dengan wartawan “Indonesia Raya”, Mr. Sjarifudin mengatakan bahwa “Kalau tidak ada Dick Tamimi, pemerintahan darurat tidak ada artinya”. Menurutnya Dick Tamimi yang waktu itu jadi perwira AURI dan ikut dalam rombongan PDRI berdarurat dengan zender radionya tela berjasa besar buat PDRI karena dengan radio itu dapat dilakukan hubungan dengan pulau Jawa, yhaitu antara lain dengan Kol. Simatupang dan kemudian dengan Menlu PDRI Mr. Maramis yang berkedudukan di New Delhi. Hubungan inilah yang menelorkan resolusi India didalam dewan keamanan PBB yang memerintahkan “cease fire” kepada Belanda.

Waktu itu yang menjadi anggota pemerintahan darurat di Jawa dengan titel komisaris adalah Dr. Sukiman, Mr. Susanto Tirtoprojo, Ij Kasimo dan Supeno yang gugur ditembak Belanda di dekat Kediri.

PDRI Mobil

Karena terus diburu2 Belanda, demikian Mr. Sjarifudin dan perangkat pemerintahan darurat terus mobil dan berpindah2 dari satu tempat ke tempat yang lain dan termasuk radio Dick Tamimi yang  juga dibawa kemana-mana. Karena keadaan Halaban sudah tidak aman lagi, PDRI pindah ke Bangkinang. Disini mereka mengalami pemboman Belanda dan dalam perjalanan diteruskan ke Pekanbaru. Perjalanan masih dilakukan dengan mobil dan jeep, dan kadang2 harus menyebrang sungai dengan rakit. Di dalam perjalanan ke Pekanbaru didengar kabar bahwa Pekan Baru sudah diduduki Belanda, maka tujuan perjalanan dirubah ke Taluk di daerah Riau.

Dikarenakan kondisi pemerintahan Sjarifudin yang selalu mobil, Belanda selalu mengejek PDRI sebagai Pemerintah Dalam Rimba Indonesia, namun Sjarifudin membalas ejekan tersebut melalui pancaran radio ke seluruh dunia sebagai berikut :

Pemerintah kami biarpun dalam rimba, tetapi sah, karena masih di dalam daerah kekuasaan kami (Indonesia). Tetapi Belanda yang terang2an dalam undang2 dasarnya menyatakan tidak sah mendirikan pemerintah atau memindahkannya ke luar daerah kekuasaanya, telah memindahkan kekuasaanya ke London, di waktu Nederland dikuasai Jerman tahun 1940. Pemerintahaanya di Indonesia dipindahkan ke Australi. Lalu kenapa Belanda mencap PDRI yang masih di dalam daerahnya tidak sah?

Mobil2 Dimasukkan ke dalam Sungai

Dalam perjalanan menyusuri rimba inilah, semua mobil2 bagus yang dipakai anggota pemerintahan darurat dimasukkan ke dalam suatu sungai dengan suatu upacara khusus, karena mobil2 ini tidak bisa dipakai lagi berhubung jalan2 yang akan ditempuh amat buruk. Mr. T. Hassan tampaknya amat berat untuk berpisah dengan mobil “Gajah Putihya” dan dengan amat terharu dia melihat mobil kesayangannya itu tenggelam.

Mr. Sjarifudin Kehilangan Kaca Mata

Jeep yan ditumpangi Mr. Sjarifudin bersama Dick Tamimi pernah slip dan masuk ke dalam suatu kali yang cukup  dalamnya, sehingga para penumpang keluar dengan basah kuyup, dimana Mr. Sjarifudin kehilangan barang yang amat diperlukannya, yaitu kaca matanya. Sesampainya di Taluk, kepada Sjarifudin diberikan sebuah “Testbril” yang biasa dipakai kalau seorang dokter mata tengah memeriksa mata seorang pasien yang mau memakai kaca mata. Kaca mata istimewa inilah yang dipakai Sjarifudin sebagai pengganti kaca matanya yang hilang itu, hal mana tentu saja menimbulkan tertawaan kepada siapapun yang melihatnya.

Sesudah mengalami penembakan dengan senapan mesin dari pesawat terbang Belanda di Taluk, rombongan PDRI mengungsi ke sungai Darah. Sementara itu perjalanan dengan jalan kaki dimulai, tidak kurang dari 40 Km sehari. Sesudah berjalan dari satu desa ke desa lain, maka diputuskan bahwa pemerintahan darurat akan berkedudukan di suatu desa bernama Bidaralam. Disinilah kontak dengan Jawa dan New Delhi dilakukan, sehingga perjuangan PDRI berkumandang ke seluruh dunia dan menguatkan tuntutan Palar dengan dibantu wakil2 India di PBB, sehingga perjuangan Indonesia berhasil.

Di Desa2 yang kecil dan miskin kadang-kadang rombongan hanya disuguhkan nasi sama cabe dan daun singkong rebus, tetapi karena cape akibat perjalanan yang dilakukan, makanan ini tetap enak rasanya.

Kegiatan Sehari-hari Pemerintah Darurat di Pedalaman

Gencatan Senjata

Ketika berita gencatan senjata telah didengar oleh PDRI, juga terdapat informasi bahwa Bung Hatta terbang ke Aceh untuk menemui Sjarifudin. Namun karena Sjarifudin berada di Sumatera Tengah, tentu saja usaha Hatta sia-sia. Untuk itu dikirimlah Natsir, Leimena, dan Dr. Halim ke Sumatera Tengah. Mereka melakukan perjalanan kaki sekitar 15 Km hingga akhirnya berhasil menemui Sjarifudin.

Setelah pemerintahan darurat mendengar bahwa pemimpin2 di Bangka mengadakan perundingan dengan Belanda tanpa membuat hubungan terlebih dahulu dengan PDRI, pihak PDRI merasa amat kecewa, karena menurut mereka berunding dengan pemimpin yang berada dalam tawanan, pihak Belanda dapat memaksakan kemauannya. PDRi juga tidak menyetujui hasil persetujuan Roem-Royen karena tidak seimbang dengan kekuatan pejuang yang melakukan gerilya. Namun PDRI kemudian menyetujui perundingan Roem Royen karena ingin menghindari perpecahan dalam usaha perjuangan.

Rujukan :

  • RE Baharudin, Tjerita Tentang Pemerintahan Darurat Sjarifudin di Sumatera Tengah. Dalam Bingkisan Nasional Kenangan 10 Tahun Revolusi Indonesia. 1955
  • ST Rais Alamsyah. 10 Orang Indonessia Terbesar Sekarang. 1952

Yap Tjwan Bing yang Melompat Pagar

Posted in Catatan Perjalanan on November 21, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Indra Pratama

Jangan nikah sama perempuan Sunda, males, terus matre lagi.”.

Biasa laah, orang Batak kan jago ngomong, makanya dia jadi pengacara.”

Pernah dengar kalimat-kalimat seperti itu?. Saya bertaruh pasti semua sudah pernah dengar kalimat sejenis, meskipun dengan variabel suku, sifat dan konotasi yang bisa dirubah sesuai kebutuhan. YAP. Stereotype.

Meskipun di masyarakat kota besar atau daerah kosmopolit lain stereotype itu sudah terkikis, tapi tidak bisa disangkal bahwa prasangka-prasangka (baik dalam konotasi buruk maupun baik) antar etnis, suku, ataupun ras masih banyak tertanam dan tumbuh subur di banyak entitas di negara kita tercinta ini.

Warga negara keturunan China merupakan korban dengan kisah tersedih dari efek buruk prasangka-prasangka diferensial disepanjang sejarah nusantara, khususnya di tanah Jawa. Tahun 1740, VOC yang menerima perlawanan dari para orang China, baik kuli maupun pengusaha kaya membantai 10.000 diantara mereka (dimana jumlah itu lebih dari 95% dari orang China di Batavia saat itu). Peristiwa itu terkenal dengan nama Peristiwa Angke, dan sudah banyak penelitian yang mengkaji mengenai peristiwa itu. Bahkan Remi Silado membuat drama dengan latar peristiwa itu. Lalu dilanjutkan dengan peristiwa Tangerang 1946-1948, peristiwa 1963 di Bandung, dan banyak lagi hingga terakhir pada kerusuhan Mei 1998.

Berbagai peraturan memberatkan kemudian dibebankan pada orang China yang berdiam. Dari peraturan pajak, administrasi, hingga surat jalan. Kehidupan mereka pun “dikurung” di wilayah-wilayah khusus dengan diawasi para letnan dan kapten China. Penguasa melakukan proses disintegrasi yang disengaja antar suku bangsa yang berdiam di Hindia, menjadikan mereka (entah atas alasan rasial ataupun pribadi/kelompok) sebagai the only one that rule. Hal yang sama juga dilakukan terhadap etnis lain tanpa kecuali.

Perkembangannya sebenarnya mudah ditebak. Seperti dua orang yang tidak pernah berkomunikasi, tentu akan saling mencurigai. Begitu juga dengan perkembangan hubungan orang keturunan/totok China dengan pribumi. Pemisahan yang diatur oleh hukum membuat hubungan ini menjadi begitu profesional dan tidak akrab.

Namun ada banyak pula contoh langka antitesis. Dimana interaksi yang terjadi konstruktif dalam konteks nasionalisme Indonesia. Salah satu contoh terbaik interaksi ini adalah Yap Tjwan Bing.

Yap lahir di Solo, 31 Oktober 1910. Putra dari pasangan Yap Yoe Dhiam dan Tan Tien Nio yang berdagang di daerah Slompretan. Pada usia 7 tahun ia tinggal pada keluarga Belanda bernama Killian untuk belajar bahasa Belanda dan sekolah di HCS Kristen Gembelekan, Solo. Ia menamatkan pendidikan MULO di Madiun, satu angkatan dengan Ir. Rooseno, salah satu tokoh penting Indonesia lainnya. Kemudian karena ia bukan berasal dari keluarga China elit maka ia tidak dapat melanjutkan pelajarannya ke HBS melainkan ke AMS B di Malang. Tak lama ia pindah ke AMS Kristen di Jakarta, dimana ia bertemu dengan salah satu calon ujung tombak pergerakan, Amir Sjarifudin.

Sejak umur 18 tahun sebenarnya ia sudah bersimpati pada pergerakan nasional. Kesibukan menuntut ilmu dan menjadi pemain sepakbola amatir di klub Hok Sang Hwee menjauhkannya dari usaha mendekati dunia politik pergerakan. Namun simpati tersebut berubah menjadi kecintaan saat pada tahun 1932 Yap bersekolah di Negeri Belanda. Di Belanda Yap aktif bergaul dengan para aktivis Perhimpunan Indonesia yang dipimpin Moh.Hatta dan Iwa Kusumasumantri, meskipun tidak bergabung dengan mereka. Saat para pemimpin Perhimpunan Indonesia ditangkap dan disidangkan atas kegiatan mereka pun, Yap menghadiri sidang para pemimpin perhimpunan. Kesadaran politik nasional Indonesia Yap mulai tumbuh pesat pada periode ini. Meskipun ia belajar untuk memperoleh gelar Drs. pada bidang farmasi di Amsterdam, namun ia malah makin suka membaca buku-buku politik.

Studinya selesai tepat pada saat dimulainya Perang Dunia ke-II tahun 1939. Yap pun memilih pulang segera ke Hindia. Di Hindia ia bekerja di Apotik Suniaraja, Bandung.Di Bandung lah Yap benar-benar terjun langsung dalam politik pergerakan. Ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia pimpinan Soekarno dan membantu di bidang ekonomi.Ketertarikan Yap terhadap Marhaenisme Soekarno membuatnya loyal pada Soekarno sampai masa kemerdekaan. Tak lama setelah itu, tahun 1942 Jepang datang. Ketika dibentuk badan-badan baru buatan Jepang yang dipakai sebagai “alat” perjuangan oleh para tokoh seperti Soekarno dan Hatta, Yap pun ikut serta, khususnya dalam Gerakan Angkatan Baru Indonesia dan Gerakan Rakyat Baru.

Kemudian pada masa “kepepet”, Jepang mewujudkan janjinya memberi jalan bagi kemerdekaan Indonesia lewat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Yap pun diangkat menjadi anggota, mewakili etnis China di Indonesia. Juga saat perkembangannya BPUPKI dirubah menjadi Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI), Yap pun masih menjadi anggota.

Dalam buku Peranakan idealis: dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya karya Yunus Yahya menyebutkan, saat peristiwa proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, Yap sedang berada di rumahnya di Bandung, yang terletak di Jalan Naripan no.31 bersama A.H Nasution dan tokoh-tokoh lain. Disebutkan bahwa Yap dan kawan-kawan merayakan kemerdekaan dengan bersulang dan bergembira. Catatan yang cukup aneh mengingat berita proklamasi tentunya sulit disebarluaskan keluar Jakarta karena pengawasan ketat Jepang.

Yap ikut dalam rapat perumusan Undang-undang Dasar 1945 yang diselenggarakan PPKI yang selesai pada 18 Agustus 1945. Perlu dicatat bahwa pembentukan BPUPKI dan PPKI sendiri diusahakan semaksimal mungkin mengakomodir setiap kepentingan kelompok-kelompok calon rakyat Indonesia. Setelah 27 Agustus PPKI dibubarkan dan dibentuk Komite Nasional Indonesia Pusat sebagai parlemen sementara, nama Yap Tjwan Bing pun ada didalamnya, lagi-lagi sebagai wakil golongan China. Saat pemerintahan pindah ke Jogjakarta, Yap turut hijrah sebagai anggota DPR-RI dan kemudian DPR-RIS. Di Jogjakarta ia tinggal di jalan Pakuningratan, berdekatan dengan para tokoh lain seperti Moh.Roem, Tabrani, Ir.Djuanda, dan Ir.Rooseno. Pada masa ini pula atas permintaan Dr. Sardjito ia turut berperan serta dalam pembentukan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada dan menjadi dosen di UGM. Pada masa itu pula ia mendirikan apotik di Jl. Malioboro dan di Bandung bersama Dr. Ir. Tan Sin Hok dan Dr. Tan Peng Ie.

Di Jogjakarta, Yap menjadi besar hatinya akan harapan kehidupan harmonis antar etnis di Indonesia kelak. Yap terpukau akan bagaimana sikap para pemimpin Indonesia dalam berinteraksi dengan rakyat Jogja dan sekitarnya yang multietnis. Yap terutama sekali terpukau dengan usaha bahu-membahu rakyat berbagai etnis dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Golongan China sendiri, diberi tugas mencari suplai onderdil kendaraan, baik pribadi maupun perang dan kereta api, dari wilayah barat Pulau Jawa, yang dikuasai Belanda.

Nasionalisme Yap semakin terwujud dalam gerakan-gerakan politiknya di masa berikutnya. Sebelumnya pada tahun 1948 Yap mendirikan Persatuan Tionghoa, yang pada tahun 1950 dirubah namanya menjadi Partai Demokrat Tionghoa Indonesia, yang menghimpun orang-orang keturunan China yang bersikap pro-Republik Indonesia. Juga saat pada dekade 50-an Yap ditawari menjadi menteri negara dalam Kabinet Negara Pasundan, negara boneka Belanda di Priangan, Yap menolak tegas, membuktikan komitmennya pada Indonesia. Sampai tahun 1950 Yap tetap menjadi anggota DPR, tetapi bukan lagi mewakili golongan China,tetapi sebagai kader dari Partai Nasional Indonesia, dimana Yap (dengan enggan) menjabat ketua di bidang ekonomi. Pada dekade ini ia juga aktif di Institut Teknologi Bandung sebagai Curator dan turut menjadi anggota Ikatan Apoteker Indonesia yang didirikan tahun 1955.

Namun pada tahun 1963, segala kecintaan dan perjuangan Yap dan kaum China lainnya pada Indonesia mendapat ujian berat. Di bandung terjadi kerusuhan berlatar rasial. Peristiwa seorang mahasiswa ITB yang ribut akibat insiden lalu lintas dengan seorang warga keturunan China tiba-tiba berujung pada keributan massal. Para mahasiswa ITB dan Universitas Padjajaran mempelopori massa merusak dan menjarahi toko-toko, rumah tinggal, dan kendaraan milik warga negara keturunan China.Peristiwa ini diduga merupakan rembetan atas peristiwa serupa di Cirebon beberapa waktu sebelumnya.

Yap Tjwan Bing, salah satu dari founding fathers Republik Indonesia rupanya tidak luput dari aksi tak terpuji ini. Mobil terbaru miliknya yang diparkir di rumah Jalan Cipaganti 32 habis dibakar massa. Demikian pula bungalow yang dimilikinya di Lembang. Dimulailah eksodus besar-besaran warga keturunan China dari Indonesia. Yap tentunya tidak mau ikut meninggalkan tanah airnya, namun ia dan istri mengkhawatirkan putra mereka yang mengidap penyakit polio, bagaimana bila ia juga terkena amuk massa. Pada saat keraguan itu, ada sebuah rekomendasi dari dokter suharso dari Solo, bahwa putra Yap bisa dirawat di luar negeri, karena penyakit polio myelitis yang diidap putra Yap belum bisa ditangani di dalam negeri. Dengan perasaan enggan, akhirnya Yap sekeluarga hijrah ke Los Angeles, Amerika Serikat.

Di Amerika, kesehatan Yap menurun. Tahun 1970 ia terkena stroke. Namun bertahan hingga menghembuskan nafas terakhir tahun 1988. Yap Tjwan Bing, pahlawan Indonesia itu dikembumikan di Rose Hill.

Nama Yap terlupakan selama bertahun-tahun dari pengetahuan umum masyarakat republik yang turut dibidaninya. Sampai pada 22 Februari 2008 Walikota Solo Joko Widodo meresmikan nama Jalan Yap Tjwan Bing, menggantikan nama Jalan Jagalan, pada peringatan Imlek tahun yang sama.

Perjuangan Yap menjadi salah satu bukti bahwa tidak selamanya warga keturunan China dan pribumi harus hidup dalam eksklusivitas masing-masing, dengan urusan masing-masing. Nasionalisme yang terkendali bisa menjadi alat pemersatu. Prasangka-prasangka buatan Belanda sudah ketinggalan jaman, mari kita mulai jaman yang baru, sejarah hubungan warga negara keturunan China dan pribumi yang baru, hubungan antar etnis yang baru, hubungan pusat-daerah yang tidak vampirism, dan hubungan antar manusia yang saling menghargai.

Yuk ah!.

Berdasarkan pengalaman saya, terbukti bahwa ganti nama dari nama Cina menjadi nama Indonesia tidak menentukan kepatriotan seseorang. Saya berpendapat bahwa mereka yang telah melepaskan nama Cina nya belum tentu merupakan orang yang cinta Negara Indonesia dan sanggup menjadi Patriot Bangsa. Namun hal ini tidak berarti bahwa mereka yang tetap memakai nama Cina itu kurang cinta kepada tanah air tempat mereka dilahirkan yaitu Negara Indonesia tercinta, yang lebih penting dari pada mengganti nama adalahb perubahan sikap mental baik dari golongan pribumi maupun non pribumi, secara mental mereka harus merasa benar – benar sebagai Bangsa Indonesia yang berbentuk Republik dan berdasarkan pada UUD 1945 dan Pancasila. (Yap Tjwan Bing)

 

Sumber :

Prasangka di Balik Pecinan

Posted in Catatan Perjalanan on November 21, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Nia Janiar

Teman saya, seorang keturunan Tionghoa, pernah menautkan tulisannya yang berjudul ‘Hai, Cina!’ yang berisi keputusannya kuliah di universitas negeri. Keputusan ini sangat besar baginya karena pada saat itu ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, berpindah dari lingkungan homogen ke heterogen. Beruntung orang tuanya tidak melarang, hanya mengingatkan bahwa ia akan menjadi minoritas dan pasti akan menemukan banyak perbedaan.

Teman saya itu masuk hitungan cukup beruntung dimana orang tuanya suportif terhadap keputusannya. Tidak sedikit teman-temannya yang dilarang untuk kuliah yang mayoritasnya ada pribumi dan muslim. Kebanyakan mereka dimasukkan ke universitas swasta non-muslim. Ketakutan orang tuanya itu wajar karena ingin melindungi anaknya dari diskriminasi ras Tionghoa yang terjadi di masyarakat.

Darimanakah diskriminasi kaum Tionghoa bisa terjadi, mungkin sedikit banyak jawab terjawab saat saya dan Aleutians jalan-jalan ke Pecinan. Awalnya saya tidak akan ikut karena ide menjelajah kawasan Pecinan tampak tidak menarik bagi saya. Tapi untungnya keputusan salah saya tidak diambil, karena perjalanan kemarin (13/11) sungguh menginspirasi saya dalam menulis tema yang sebenarnya sudah lama ingin saya tulis.

“Udah Cina, pelit lagi. Calon masuk neraka!” teriak salah seorang pemulung kepada ibu saya yang cuek saat ia mengemis minta makan. Ibu saya memang bukan keturunan Tionghoa, tapi kulitnya yang terang, mata sipit, dan perawakannya merujuk seperti warga Tiongho. Tapi kami ikut tersentil mendengar kata ‘Udah Cina, pelit lagi.’ Memangnya kalau Cina, ada yang salah? Memangnya kalau pribumi boleh pelit?

Sebelum menjawab, biarkan saya menceritakan ulang sejarah Pecinan yang saat itu diceritakan oleh Candra dan Indra. Pecinan atau China Town terjadi saat Indonesia masih dijajah Belanda, warganya dipecah-pecah berdasarkan rasnya untuk memudahkan pengendalian warga yaitu Eropa (termasuk Jepang yang dianggap maju dengan orang kulit putih), Timur Asing (Tionghoa), dan pribumi. Untuk warga Tionghoa, dibangun sebuah konsentrasi yang dikenal sebagai Pecinan. Di Bandung, mereka ditempatkan di kawasan Cibadak dan Pasar Baru. Di kawasan Cibadak, mayoritas kaum Tionghoa bekerja sebagai tukang atau pengrajin. Sementara di Pasar Baru, kaum Tionghoa bekerja sebagai pedagang.

Sama seperti Bandung, di Jakarta dan Semarang pun dilakukan pemisahan. Bahkan di tahun 1740, Pecinan dibenteng dan lahan orang Tionghoa dibatasi. Bahkan ada yang namanya kartu pas atau izin jalan. Untuk bisa keluar benteng, mereka harus memiliki kartu pas—mungkin semacam visa kalau kita mau jalan ke negara tetangga. Sistem kartu pas dan benteng ini dihapus di awal abad ke-20.

Terbatasnya lahan ini mempengaruhi tempat tinggal mereka yang bangunannya memiliki karakteristik tinggi dan panjang. Jika kita jalan ke Pecinan yang ada di Bandung, rumah sekaligus toko (ruko) yang dihuni warga Tionghoa adalah hal yang lazim dilihat sekarang ini. Tentu saja tidak semua ruko dihuni warga Tionghoa, begitu juga rumah biasa yang dihuni warga pribumi.

Mereka tumbuh dan berkembang hingga sekarang. Mereka turut memutar roda ekonomi dengan bisnis atau berdagang. Unggul dalam bidang ekonomi, mereka diberi peran sebagai perantara pasar modern (Belanda dan Barat) dengan pasar tradisional kala itu. Selain itu menimbulkan kesan bahwa warga Tionghoa “berada di atas” pribumi dengan segala eksklusivitas. Ini bisa jadi pencetus prasangka-prasangka dan diskriminasi yang ada di masyarakat.

Salah satu usaha warga Tionghoa yang waktu itu kami datangi adalah warung Cakue Osin yang ada di Jalan Pasar Barat. Pemiliknya yang bernama Lie Tjay Tat membikin cakuenya sendiri. Dengan senang hati, ia mempertunjukkan cara memotong adonan, melekatkan dengan air, hingga menggorengnya yang memiliki teknik tersendiri agar cakuenya mengembang.

Selain menjual cakue, mereka menjual kompia (sejenis roti keras yang cocok dipasangkan dengan bubur kacang tanah) yang memiliki dua jenis yaitu kompia kosong atau kompia yang berisi daging babi, bala-bala daging babi, dan lainnya. Bagi kaum muslim, sebelum makan di daerah Pecinan itu sebaiknya tanya dulu apakah makanannya halal atau tidak.

Islam dengan Tionghoa pun erat kaitannya. Saat melewati viharra yang ada di Jalan Kebon Sirih, Indra mengemukakan tema bahwa beberapa walisongo adalah orang Tionghoa (Indra menambahkan ada juga yang dari Hadramaut dan wilayah Magribi (Afrika Utara), seperti Sunan Gresik). Maka jika ditelusur lewat internet, menurut Prof. Slamet Muljana dalam bukunya yang sempat dilarang edar pada saat Orde Baru berjudul Runtuhnya Kerjaan Hindu Jawa (1968) memang mengatakan seperti yang Indra bilang. Namun pemerintah Orde Baru yang sudah kepalang menganggap Tionghoa sebagai musuh karena dianggap komunis dan membantu gerakan 30 September 1965, melarang buku tersebut.

Berbagai prasangka dan kecurigaan ini terus bergulir melalui berbagai macam peristiwa dari peristiwa pembantaian warga Tionghoa oleh VOC di Muara Angke tahun 1740 hingga tragedi Mei 1998 dimana manusia diperkosa dan dibunuh karena ras yang tentu tidak ia minta. Prasangka yang diturunkan secara berkelanjutan yang seolah-olah dibenarkan oleh beberapa kejadian, memicu pemulung berteriak seperti itu dan jadi alasan orang tua melarang anaknya bersekolah di lingkungan dengan mayoritas pribumi.

Tidak hanya Tionghoa, tapi prasangka negatif juga terjadi di dalam pribumi seperti Sunda itu mata duitan, Jawa itu lamban, Batak itu keras, dan lainnya. Tidakkah yang mata duitan sekarang tidak hanya suku Sunda saja? Tidakkah semua orang membutuhkan uang? Dan sebagaimana semua orang—apapun sukunya—bisa lamban dan keras? Prasangka yang manusia bikin sendiri tentunya menjadi tidak valid.

Tulisan panjang lebar di atas boleh jadi hanya dari sudut pandang saya sebagai pribumi, sebagaimana buku sejarah, literatur, dan bahan-bahan lain yang dijadikan rujukan, dengan kurangnya bagaimana pandangan kaum Tionghoa terhadap pribumi. Proses pencarian yang tidak hanya merujuk benda mati melainkan berdiskusi juga bisa memecah prasangka karena ada interaksi untuk mengkonfirmasi tentang hal-hal yang selama ini manusia duga.

Dan pada akhirnya, Tionghoa dan pribumi adalah sebuah label yang saling membatasi.

“Our greatest strength as a human race is our ability to acknowledge our differences, our greatest weakness is our failure to embrace them.” –Judith Henderson.

Original Post : http://mynameisnia.blogspot.com/2011/11/prasangka-di-balik-pecinan.html?spref=fb

Sebuah Kamar Di Penjara Banceuy

Posted in Catatan Perjalanan on November 16, 2011 by KomunitasAleut!

“…Kamar tahanan yang sempit itu isinya hanya bung Karno, balebale yang keras, pispot yang setiap saat harus dicuci dan beberapa cicak-cicak. Hanya itu. kalau malam tiba sepinya tiada ketulungan lagi. Sepi seperti kuburan tua”

Pispot gunanya untuk menampung kotoran manusia. Tetapi pispot yang ada di kamar tahanan bung Karno ber dwi fungsi. Bila siang berfungsi sebagai tempat air seni maupun kotoran. Tetapi sore hari segera dibersihkan dan pada senja hari naiklah derajad sang pispot, yang tadinya diletakkan dibawah kemudian diseret keluar, dan dinaikan ke atas tempat tidur. Menjadi meja darurat yang digunakan untuk menulis pleidoi “Indonesia Menggungat” yang terkenal.

Hampir satu setengah bulan Soekarno menyiapkan pembelaanya. Sepanjang hari Bung Karno menuliskan karyanya selama masih ada penerangan lampu. Bila lampu telah padam, ia tetap mencurahkan inspirasinya dengan berteriak kepada Gatot yang ada di seberangnya, memuntahkan isi otak yang sebenarnya sudah harus dituangkan di atas kertas.

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Profil Dr. J. W Ijzerman

Posted in Catatan Perjalanan on November 9, 2011 by KomunitasAleut!

Seorang Insinyur, Arsitek, Arkeolog, dan Akademisi…Semuanya terangkum dalam diri seorang Dr. J. W. IJZERMAN (1851—1932), Perintis pembangunan jalur kereta api di Hindia Belanda, serta pimpinan komisi perguruan tinggi Hindia Belanda yang mendirikan Technische Hogeschool (ITB).

Berlatar belakang pendidikan militer Breda, Ijzerman memulai karirnya di Hindia Belanda sebagai staff peneliti bagi kemungkinan pendirian jalur kereta api di Sumatra. Tugasnya dilakukan dengan perjuangan berat mengingat ganasnya medan hutan Sumatra saat itu. Kemampuannya yang tinggi, membuatnya dikenal sebagai insniyur paling berpengaruh di bidang perkeretaapian yang tengah dirintis di akhir abad 19.

Pada pertengahan 1878 IJzerman diangkat sebagai insinyur yang menangani proyek pembuatan jalur Bogor-Bandung-Cicalengka. Salah satu karyannya adalah Stasiun Bandung (lama) yang didesain oleh dirinya.

Pada tanggal 30 Mei 1917 didirikanlah Komite sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda yang diketuai Dr. C.J.K. van Aalst, yang kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Tugasnya antara lain mengumpulkan dana untuk pendirian sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda.

Dalam pertemuan di Batavia pada bulan Mei 1919 ditetapkan bahwa Perguruan Teknik itu akan bernama “Technische Hogeschool”. Ijzerman sempat dihadapkan pada pilihan Solo, Yogyakarta, Jakarta atau Bandung sebagai lokasi sekolah. Walikota Bandung B. Coops lantas menyatakan bersedia memberikan sebidang lokasi di Bandung Utara seluas 30 Hektar, terletak di antara Cikapundung dan Dago untuk ditempati sekolah tersebut. Ijzerman menyetujui usul itu, didukung oleh Gubernur jenderal Mr. J. P. Graaf Limburg Stirum.

Untuk mengenang jasa-jasanya dalam pendirian sekolah tinggi di Bandung, Prof. Odé merancang suatu taman di selatan TH (ITB) yang dinamai Ijzerman-park, dan sekarang bernama taman Ganesha. Sebuah patung dada Ijzerman sempat bertengger di utara taman itu sebelum kemudian dicopot di jaman jepang, dan saat ini tersimpan di gedung rektorat ITB.

Sekilas Peristiwa APRA

Posted in Revolusi on November 9, 2011 by KomunitasAleut!

23 Januari 1950, peristiwa kebiadaban APRA di Bandung. Tidak ada perang. Sudah damai. Tenang. Tanpa curiga satuan kecil dan perorangan anggota TNI keluar masuk Bandung untuk menyelesaikan persiapan pengambilalihan tugas keamanan kota yang masih ditangani Belanda.

Apa lacur! Pagi hari itu waktu orang masuk kantor. Ada yang baru datang dari Jakarta, terus masuk ke Open Deur (Pintu Terbuka), Tempat makan di pojok jalan Braga. Oleh pasukan APRA ia diseret keluar sambil dimaki-maki karena berbaju seragam TNI. Disabet kelewang, lalu ditembak, padahal tidak ada perang. Dan tak bersenjata.

Masih di jalan Braga agak ke bawah, di depan bioskop Majestic. Sebuah mobil dari utara diberhentikan. Pengendaranya diseret keluar. Haa, zo’n kleine piel… een luitenant!… Terus saja kelewang diayunkan tepat merobek pipi. Mulut menganga sampai belakang rahang. Terhuyunglah sang pahlawan rebah di atas jalan aspal.

Disertai makian serdadu sewaan, sang pahlawan dipaksa berdiri. Tegar ia berdiri sambil mengenakan pici TNI-nya rapih-rapih. Baru melangkah dua ayunan, ditembaklah ia dari belakang. Dalam jarak kurang dari satu meter, tepat di belakang kepala. Hei, lubang peluru di kepala belakang kecil, di depan menganga besar bukan main! Mereka menggunakan peluru dumdum, peluru yang dilarang menurut konvensi jenewa. Peluru untuk berburu babi hutan. Barbar!

(..Dikutip dari buku Kisah Perjuangan Unsur Ganesa Kurun Waktu 1942-1950)

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.567 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: