Not Great Men

Posted in Catatan Perjalanan on Oktober 10, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Indra Pratama

Metode termudah untuk mengidentifikasi adalah dengan membuat suatu penanda. Dalam musik industri dan industri musik kita mengenal istilah genre, yang dibuat untuk memudahkan media dan kita mengenal, menganalisis, dan berkegiatan sok-tahu lainnya tentang musik populer berdasarkan  bunyi instrumen,tekstur, tangga nada, pola lagu dan waktu tertentu. Dalam sejarah populer dan sosiologi (konsep timeline) dikenal sebuah teori bernama Great Man theory.

Teori ini dipopulerkan oleh Thomas Carlyle pada 1840an melalui buku “On Heroes, Hero-Worship, and the Heroic in History”. Dalam buku tersebut Carlyle merumuskan fenomena yang sudah terjadi ribuan tahun bahwa “The history of the world is but the biography of great men,”, bahwa sejarah semata-mata hanyalah biografi dari orang-orang besar. Carlyle melihat sejarah sebagai hasil keputusan pribadi para “pahlawan”, dengan memberikan analisis rinci dari pengaruh orang-orang besar seperti Muhammad, Shakespeare, Luther, Rousseau, dan Napoleon. Epos tertua yang pernah ditulis dan kemudian ditemukan adalah teks Epos Gilgamesh dari 2000 tahun sebelum masehi, yang menceritakan kepahlawanan Gilgamesh dari Mesopotamia yang bertualang melewati berbagai halangan para dewa untuk akhirnya mendapat berkah pengetahuan yang dipergunakan untuk kemakmuran bangsanya. Lalu terjadilah, para pahlawan makin mendapat sorotan : cerita Jason dan Argonauts, Hercules, Buddhacarita, Mahabharata, Ramayana, Beowulf, Arthur, Joan of Arc, hingga Muhammad, Thariq, Alexander, Attila the Hun, Diponegoro, hingga Sebastian Pinera baik dalam epos yang entah fact or fiction,ataupun dalam biografi, dan autobiografi. Para pahlawan selalu dikarakterkan sebagai mereka yang berjuang nyaris one-man show, menjadi agen perubahan bagi kaumnya, dan seringkali dicitrakan sebagai satu-satunya aktor dalam timeline mereka.

Alhasil para penikmat kisah pun seringkali terperangkap pada pengkultusan, seolah-olah memang para pahlawan itu adalah manusia unggul yang semenjak lahir sudah bisa mengorganisir suatu perubahan, atau dalam otaknya sudah langsung ada gagasan-gagasan yang datang dari langit. Sosiolog Herbert Spencer menyatakan pandangannya akan pendekatan heroic ini : Before he can remake his society, his society must make him.

Jika memang para pahlawan itu manusia normal, yang hidup dengan proses lahir-belajar-salah-belajar lagi-praktik-gagal lagi-berhasil/gagal-mati, maka tentunya adalah tidak objektif bila kita mengkultuskan mereka. Seorang jenius pun butuh lingkungan yang mendukung untuk menemukan momen kejayaannya. Muhammad memang manusia istimewa, tapi tanpa bantuan Abu Bakar, ia tidak akan pernah mencapai Madinah untuk kemudian memulai mengorganisasi rezim super tangguh yang kemudian menguasai Timur-Tengah. Diponegoro mungkin akan tertumpas sebelum 1830 jika ia bukan seorang bangsawan. Jim Morrison memang jenius, tapi tanpa The Doors dia akan jadi pengamen puisi yang mabuk. Soekarno tanpa bimbingan Tjokroaminoto, tanpa sekolah HBS Surabaya, tanpa perlindungan Inggit, tanpa dampingan Hatta, dan tanpa desakan para pemuda tidak akan menjadi founding fathers Republik Indonesia.

Tanpa dukungan semesta (lingkungan), kejeniusan dan keinginan kuat para jenius hanya akan menjadi abu. Kepahlawanan mereka ternyata bergantung pada banyak faktor dan tidak terjadi sendiri sesuai keinginan mereka.Maka bagi saya untuk memahami sebuah sejarah, yang selalu saling berkait dari suatu waktu, adalah kurang baik apabila kita hanya fanatik dengan salah satu tokoh tanpa berusaha memahami lingkungan di sekitar si tokoh, dan lebih parah lagi, tanpa perbandingan sumber dan tanpa kritisi terhadap kisah resmi dari si tokoh. Kita tahu bahwa pahlawan adalah para pemimpin, dan pemimpin dekat sekali dengan godaan penggunaan propaganda dan pencitraan. Fanatisme dan pengkultusan tampaknya sudah terlalu lawas untuk dianut, karena ternyata dengan usaha super keras dan lingkungan yang baik serta nasib yang berpihak, semua dari kita bisa jadi pahlawan.

No weak men in the books at home

The strong men who have made the world

History lives on the books at home

The books at home

It’s not made by great men

 

Gang of Four – Not Great Men

Dari Radio sampai Marhaenisme (Part 2)

Posted in Catatan Perjalanan on Oktober 2, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Rini Anggraini Lestari

Saya: “Marhaen tu siapa sih?”

Temen: (dengan gaya meyakinkan) “Gurunya Soekarno. Pernah denger partai PNI Marhaenis kan?”

Saya: “Ohh I see..”

Setelah selesai melihat2 stasiun radio, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat selanjutnya. Katanya kami akan diajak melihat makam Pak Marhaen. Dengan modal pernah denger nama PNI Marhaenis ditambah pengetahuan sesat  kalau Pak Marhaen adalah gurunya Soekarno, saya dengan setia mengikuti perjalanan panjaaaaang berliku2 menyusuri galengan sawah menuju makam Pak Marhaen.

Sesampainya di makam Pak Marhaen, akhirnya saya mendapat pencerahan mengenai siapa sosok Marhaen sebenarnya dari cerita kang indra.

Alkisah Soekarno muda sedang berjalan-jalan di Kawasan Bandung Selatan, menyusuri galengan sawah yang tadi kami lewati (heu.. ngarang). Kemudian Soekarno bertemu dengan seorang petani yang sedang bekerja di sawah. Nama petani tersebut adalah Pak Marhaen. Sawah yang digarap Pak Marhaen adalah milik Pak Marhaen sendiri. Beliau bukanlah seorang buruh tani yang bekerja untuk sawah orang lain. Tetapi walaupun begitu, kehidupan Pak Marhaen tetap sulit karena hasil sawahnya hanya cukup untuk makan keluarga sehari2. Melihat mayoritas kondisi sosial masyarakat Indonesia yang hidupnya sulit, terkangkangi (bahasanya kang indra) oleh masyarakat kelas borjuis, mendorong Soekarno untuk membuat gerakan perjuangan untuk membebaskan penderitaan masyarakat kelas bawah. Paham gerakannya dinamakan Marhaenisme, karena terinspirasi oleh Pak Marhaen sebagai simbol penderitaan rakyat kecil.

Wait!

Kelas masyarakat? Penderitaan kelas bawah? Perjuangan pembebasan?

Itu sih Marxisme

Br%$#x@*&^%$#@#$%^&%^$#zz Marxisme!” tiba2 terdengar suara kang Indra menyebut kata Marxisme

Nah kan bener ada hubungannya..

Karl Marx yang seorang filosof, ahli sejarah, ahli sosiologi, ahli ekonomi, sepertinya sangat mempengaruhi faham yang dianut Soekarno. Pemikiran2 Marx yang praktis (dan politis) diterapkan Soekarno di Indonesia dalam bentuk gerakan Marhaenis. Ngga heran sih sebenernya. Karena kondisi penderitaan kelas pekerja (proletar) pada zaman Marx masih sangat terasa juga pada masa penjajahan di Indonesia. Bahkan kalau dipikir2 kondisi penderitaan masyarakat kecil dari setiap zaman komplit ada di Indonesia. Markicek (Mari kita cek)!

  1.  Penderitaan para budak oleh warga bebas khas zaman perbudakan kuno? Ada!
  2. Penderitaan para hamba pengolah tanah oleh kesewenangan tuan tanah pada masyarakat feodal abad pertengahan? Ada!
  3. Penderitaan warga negara biasa oleh kaum bangsawan/pemerintah? Ada!
  4. Penderitaan kaum proletar (pekerja) oleh para pemilik sarana produksi (pemodal) pada masyarakat kapitalis? Ada!
  5. Penderitaan masyarakat yang hidup sulit walaupun mereka memiliki sarana produksi sendiri? Ada, seperti Pak Marhaen. Dan ini yg paling ironi memang.

Astagfirullah, penderitaan yang sangat lengkap sekali.. *ngurut dada sampai kaki*

Bisa jadi yang membedakan Marxisme dengan Marhaenisme adalah bahwa Karl Marx membuat faham Marxisme sebagai gerakan pembebasan penderitaan kelas masyarakat No 4, sedangkan Marhaenisme adalah gerakan pembebasan penderitaan kelas masyarakat No 1,2,3,4,5.  Artinya seluruh masyarakat yang merasa menderita oleh sistem yang diterapkan kelas masyarakat yang lebih berkuasa.

Kalau dihubung2kan, sepertinya Karl Marx yang lambat laun menggaungkan sistem komunis, sedikit banyak mempengaruhi praktek gerakan2 di Indonesia, terutama Soekarno. Melalui tulisannya, Comunist Manivesto, Marx mengusung ide bahwa jalan pembebasan penderitaan kaum proletar hanya bisa dilakukan melalui jalan R-E-V-O-L-U-S-I. Menyatukan seluruh kekuatan masyarakat yang menderita dan  membuat kelompok penguasa gemetar. Aah, bisa jadi Comunist Manivesto-nya Marx kalau di Indonesia adalah Indonesia Menggugat-nya Soekarno . (Haa ngaco..  oke abaikan. Ini cuma skeptis pribadi :p)

Skip ttg Marxisme. Kembali kepada Marhaenisme. Ketika diskusi sempat ada pertanyaan mengenai nama Marhaen yang terdengar kurang lazim untuk nama orang Indonesia apalagi orang sunda. Marhaen.. Berasa nama penyanyi.. Insya Allah~~  Insya Allah~~

Lanjut!

Menurut kang indra, justru Soekarno mengatakan bahwa pada saat itu nama Marhaen banyak digunakan oleh masyarakat sekitar sini. Nah dari nama yang tidak lazim itu pertanyaan menjadi meluas. Benarkah pertemuan soekarno dengan petani bernama Marhaen benar2 terjadi? Seandainya Soekarno bertemu dengan petani bernama Pak Ujang (ini nama yg lebih lazim kayanya) apakah fahamnya akan dinamakan Ujangnisme?

Rasanya untuk Soekarno yang sangat mengedepankan sebuah citra tidak akan menamakan fahamnya Ujangnisme. Boleh jadi Soekarno sebenarnya sudah merencanakan memberi nama Marhaenisme untuk fahamnya (ngga kalah keren kan dengan nama Marxisme). Tapi Soekarno perlu membuat cerita filosofis dan simbolis yang kuat dari nama Marhaenisme tersebut. Maka dibuatlah Alkisah pertemuan Soekarno dengan Pak Marhaen (kalau yang ini udah jadi skeptis rame2 dari dulu, jadi boleh tidak diabaikan..:p)

Hari ini, jauh setelah Indonesia terbebas dari penjajahan kolonialisme, apakah ditandai juga dengan terbebasnya seluruh masyarakat kelas bawah dari penderitaan kelas masyarakat yang lebih berkuasa? Apakabar faham Marhaenisme hari ini? Apakah sudah mati?

Belum (sepertinya)

Selama mata kita masih melihat ada kelas masyarakat yang masih terbelenggu dalam rantai penderitaan, maka gerakan2 pembebasan akan tetap menggeliat. Marhaenisme masih menggaung dalam forum2 masyarakat, bisa dilihat dalam salah satu situs http://marhaenisme.com/ . Semangat Marhaenisme pun masih dianut oleh puteri Soekarno yang mengusung salah satu Partai dengan kredo “Partainya Wong Cilik”. Tapi apakah faham tersebut benar2 dijiwai dalam praktek2 pembebasan penderitaan Wong Cilik atau hanya sebatas dijadikan kredo untuk menarik simpati rakyat?

No comment ah..

Original post : http://anggrainilestari.tumblr.com/post/10799777685/dari-radio-sampai-marhaenisme-part-2

Dari Radio Sampai Marhaenisme (Part 1)

Posted in Catatan Perjalanan on September 30, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Rini Anggraini Lestari

 

Sejak obrolan random setaun lalu dengan dua teman saya yang menyentil kesadaran tentang banyaknya perubahan wajah kota Bandung (read my post Bandoengkoe), saya jadi punya hobi baru luntang-lantung jalan kaki sendirian, bagaikan syahrini tanpa mas anang, menyusuri sudut2 kota Bandung. Berjalan kaki untuk sekedar meresapi dan menikmati suasana (semerawut) Bandung hari ini. Bernostalgia dengan memori kenyamanan Bandung masa lalu. Bermain dengan imaji khayal masa depan, membayangkan akan seperti apa tempat yang saya lewati hari ini 20 tahun mendatang.

Tapi sepertinya mulai sekarang saya ngga perlu lagi jalan kaki sendirian. Karena apa?

Karena Briptu Norman sudah mengundurkan diri dari kepolisian..:p

Oke bukan.. Tapi karena sekarang saya sudah bergabung dengan komunitas yang hobinya mapay jalan abring2an menyusuri tempat2 yang menyimpan banyak cerita tentang Kota Bandung. Yes, Komunitas Aleut!

Ngaleut pertama saya adalah hari minggu lalu saat episode Dayeuh Kolot 2. Kami menyusuri jejak2 peninggalan kejayaan teknologi komunikasi radio pada zaman penjajahan.  Menurut cerita Bang Ridwan, sekitar tahun 1920an kolonial belanda mulai membangun menara2 dan stasiun radio untuk saling berkomunikasi dengan  pasukan militer yang ada di daerah lain. Bahkan mereka membangun jaringan komunikasi radio untuk menghubungkan Indonesia dengan Belanda sehingga mereka dapat menerima perintah langsung dari Ratu Belanda.

Zaman kejayaan teknologi radio tersebut diabadikan dengan membangun sebuah monumen setengah bola dunia dengan dua orang (bugil) yang bersebrangan, satunya sedang berbicara dan satunya mendengarkan. Monumen tersebut dulu di simpan di sekitar mesjid istiqamah, tapi sayangnya kemudian dihancurkan, karena takut orang2 nafsu ngeliat patung bugilnya.. heu.. ngga deng..

Saya juga tidak tau persis kenapa di hancurkan, tapi menurut Bang Ridwan kemungkinan memang karena pertimbangan norma kesopanan.

Ketika Jepang datang untuk menduduki Indonesia, Jepang menguasai stasiun radio untuk memutus jaringan komunikasi militer Belanda. Jepang sangat mengetahui pentingya radio untuk kebutuhan komunikasi militer, oleh karena itu mereka tidak memakai gedung2 sebagai tempat stasiun radio, melainkan menggunakan gua2 agar komunikasi radio tidak mudah diputus lawan.

Di Bandung sendiri menara radio pertama di bangun di dataran tinggi puntang dan halimun sehingga jaringan gelombangnya melewati daerah cekungan yang ada di antara kedua gunung tersebut. Kemudian menara2 dan stasiun radio lainnya mulai di bangun di beberapa daerah. Salah satunya di dayeuh kolot yang saat ini menjadi kawasan kampus ITT Telkom. Di dalam kawasan kampus masih ada sisa 2 menara radio yang masih berdiri (sekarang digunakan oleh provider GSM). Plakat menara menunjukkan bahwa menara tersebut di bangun pada tahun 1934. Dulu, semua tempat yang dibangun menara dan stasiun radio, daerah disekitarnya disebut sebagai kampung radio. Termasuk daerah Palasari yang ada di dayeuh kolot ini.

Tidak jauh dari kawasan kampus, terdapat gedung yang dulu digunakan sebagai stasiun radio (sekarang digunakan oleh PT Telkom). Dengan izin pak satpam yang baik hati kami dibolehkan untuk masuk melihat-lihat gudang tua dan naik ke atap gedung untuk melihat menara pengawas. Menurut cerita pak agus (satpam yang baik hati), sejak pertama gedung ini di bangun tidak banyak perubahan pada bentuk bangunan. Bahkan kayu pada atap menara pengawas belum pernah diganti sejak pertama dibangun.


Disaat teman2 lain mengililingi atap gedung, saya berbincang-bincang dengan pak agus. Membicarakan sedikit sejarah stasiun radio ini. Menurut pak agus, dulu stasiun radio ini bernama stasiun Palapa. Nah sebenarnya ini masih harus di konfirmasi lagi kebenaran nama stasiun radio ini. Karena ada perbedaan informasi yang saya dapat dari penggiat aleut lain yang mengatakan bahwa stasiun radio ini dulu bernama stasiun Palasari. Di dalam gedung tersebut ternyata masih ada ruangan tempat menyimpan perangkat2 radio tua, juga terdapat foto-foto ketika stasiun radio masih aktif. Daaann tidak disangka-sangka saat temen2 lain lagi muterin atap gedung, saya diajak pak agus untuk melihat-lihat ruangan tempat perangkat radio tua.

Ruangan perangkat radio tersebut gelap dan dingin. Nyaris tidak pernah terjamah manusia (Ha! berlebihan). Dengan pintu besi dan dinding yang dilapisi besi, alat-alat yang sudah rusak dan terbengkalai, serta cahaya senter yang diarahkan ke wajah pak agus, cukup bikin suasana serem ajah (heu..ampun pak). Sebenarnya pak agus mau memperlihatkan foto-foto jaman dulu ketika stasiun radio masih aktif (Ya ampun pak baek bener). Tapi sayangnya foto2 tersebut ada di dalam lemari dan pak agus harus mendapat izin terlebih dulu untuk membuka lemarinya. Tapi saya sudah cukup merasa beruntung karena bisa melihat ruangan tempat sisa2 perangkat radio. Jejak sisa2 kejayaan teknologi radio di masa lalu. Tempat yang Bang Ridwan bilang, mungkin 5 tahun kedepan sudah hilang tergusur zaman..

To be continued.

Original post : http://anggrainilestari.tumblr.com/post/10721332265/dari-radio-sampai-marhaenisme-part-1

Sejarah Stasiun Kereta Api Bandung

Posted in Catatan Perjalanan, Kereta Api, Stasiun Bandung on September 28, 2011 by KomunitasAleut!
.
Oleh : Nia Janiar
Foto : Yandi “Dephol”
.
Coba kalau kamu pergi ke stasiun kereta lalu menemukan angka di bawah ini, kira-kira itu menandakan apa ya?
Itu tandanya stasiun ini berada 709 meter di atas permukaan laut. Saya baru tahu dan baru memperhatikan. Untung ikut Aleut!.
Minggu (25/08) rute Aleut adalah menyusuri sejarah rel kereta api stasiun Bandung. Kami tidak menyusuri secara harfiah jalur rel kereta api tapi kami masuk ke stasiun lewat pintu baru, lihat-lihat dan diberi penjelasan sebentar, lalu keluar lewat pintu lama. Saat berada di depan pintu lama, terdapat sebuah replika kereta bernama Monumen Purwa Aswa Purba yang dijadikan tempat bagi Indra Pratama dan M. Ryzki bercerita bahwa jalur kereta yang pertama kali masuk ke Bandung berasal dari jalur Cianjur pada tahun 1884. Awalnya pintu depan stasiun kereta ini letaknya di sekitar Jalan Setasiun Barat terus diperbesar dari tahun 1916 karena posisi Bandung yang semakin sentral dan signifikan.
Sebelumnya Belanda mencari jalan yang cocok di Hindia Belanda karena jalan Raya Pos dinilai masih sulit untuk mengangkut hasil perkebunan. Ide pembangunan jalur kereta ini sebenarnya muncul dari jendral militer yang bertujuan untuk pertahanan militer. Karena pada saat itu pemerintah tidak punya uang, mereka mulai mengadakan setidaknya 20 tender untuk swasta. Yang pertama kali dibangun Semarang-Jogja atau Semarang-Solo (M. Ryzki lupa antara yang mana) karena itu jalur yang paling ramai. Jalur Priangan itu dibangun paling terakhir karena medan paling susah (banyak sungai dan lembah) dan memakan biaya paling mahal. Namun pembangunan jalur Priangan ini tidak dibangun oleh swasta.
Pembangunan stasiun kereta ini tentunya berdampak ke lingkungan yang ada di sekitarnya, yaitu angkutan seperti sado (delman), pembangunan hotel-hotel–salah satunya hotel paling tua yaitu Hotel Andreas, dan juga tempat prostitusi di Kebon Jati (Saritem). Dulu prostitusi terjadi karena tidak ada kereta malam sehingga orang harus menginap di Bandung agar bisa berangkat keesokan harinya. Jadi karena mungkin istri atau kekasih jauh sementara udara Bandung yang dingin, jadi disediakan jasa penghangat ini.
Bagi saya, yang menarik adalah penamaan nama jalan dengan menggunakan istilah ‘stasiun’ yang berbeda-beda. Bimbang? Mudah-mudahan tidak.


Selain membicarakan tentang jalur kereta, kami juga sempat mengunjungi replika lokomotif di Viaduct dan Gedung Indonesia Menggugat. Setelahnya kami diberi kejutan dengan masuk ke dalam sebuah toko lukisan di Jalan Braga yang didalamnya terdapat sebuah ruang bawah tanah. Toko lukisan ini dulunya adalah toko jam. Lalu mengapa toko jam memerlukan sebuah ruang bawah tanah?–pertanyaan yang dilontarkan Bang Ridwan itu menggelitik Aleutians untuk mencari tahu lagi apa fungsi ruang yang gelap gulita dan tak luput dari cerita horornya.
Ruang itu memiliki lorong yang berujung ke sebuah lapangan kecil yang terdapat puluhan orang yang sedang menyanyi sambil menari. Kata Aneng, salah satu Aleutian yang sepertinya sempat mengobrol dengan salah satu orang di sana, mereka ini adalah grup pencak silat dari Cililin yang sedang beristirahat. Pasti tidak semua orang tahu tentang keberadaan ruang, lorong, dan lapangan ini.
Pasti juga orang tidak menyadari ada hiruk pikuk kecil dibalik hingar bingar Braga festival yang bertepatan dengan ngaleut kala itu atau hiruk pikuk deru laju kereta di atas besi-besi tua.
.
Original post : http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/sejarah-stasiun-kereta-api-bandung.html

Stasiun Bandung Selayang Pandang

Posted in Kereta Api, Stasiun Bandung on September 28, 2011 by KomunitasAleut!

Ketika perusahaan StaatSpoorwegen dipimpin oleh H.G. Derx , didirikanlah stasiun kereta api di Bandung tepatnya pd tanggal 16 Juni 1884. Mengingat akan dilakukannya serah terima pengelolaan lajur kereta api kepada Dinas Eksploitasi dari Dinas Bangunan yang sebelumnya bertanggung jawab dalam pembangunan jalan kereta api, maka pembangunan stasiun Bandung ikut mengalami percepatan. Pembangunan stasiun dilaksanakan siang dan malam dengan mengandalkan banyak pekerja.

Pada tanggal 5 Juni 1926, perusahaan StaatSpoorwegen merayakan hari jadinya yang ke 50. Untuk itu pemerintah kota melalui jasa murid-murid Gemeentelijk Ambachtschool (sekolah pertukangan) membangun sebuah tugu peringatan di depan Stasiun Bandung. Tugu yang dirancang Ir. H. De Roo ini juga berfungsi sebagai penanda lokasi (triangluasi). Pada tugu itu terpasang lampu listrik yang menyala terang setiap malamnya, menyimbolkan peran Kereta Api sebagai pembawa cahaya “kemajuan” jaman.

Pada gambar di atas yg diambil skitar tahun 50an, tugu itu sudah tidak ada, mungkin karena dicopot di masa pemerintahan Jepang.

Narasi oleh : M.Ryzki Wiryawan.

Pemancar Radio Tua

Posted in Catatan Perjalanan on September 27, 2011 by KomunitasAleut!
.
Oleh : Nia Janiar
.
Sekitar seminggu yang lalu (18/09), saya ke kawasan Buah Batu bersama Aleutians untuk melihat menara pemancar radio yang letaknya di belakang kampus IT Telkom. Mengenai sejarah tentang menara ini, sudah diarsipkan dalam blog Aleut yang ditulis oleh M. Ryzki W. dengan judul Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II. Jadi, jurnal saya ini semacam melengkapi apa yang sudah lengkap.
Jika saya tidak ikut Aleut, pasti saya tidak tahu bahwa sebongkah besi berwarna merah putih yang menjulang tinggi itu adalah cikal bakal dan telekomunikasi Hindia Belanda. Pasti saya juga tidak tahu bahwa menara ini adalah salah satu dari 13 sisa menara yang dihancurkan untuk memutuskan telekomunikasi pada masa penjajah Jepang. Dan pasti saya hanya akan menganggap menara pemancar ini hanya berupa tempat sakral orang-orang stress yang mau meregang nyawa.
Lanjut ke belakang IT Telkom, terdapat sebuah jalan bernama Jalan Radio dan perkampungan namanya Kampung Radio. Di sana juga terdapat stasiun radio tua yang kini dipakai oleh salah satu vendor GSM besar, gudang peralatan, dan asrama mahasiswa IT Telkom yang sudah tidak terpakai karena sering kebanjiran. Selain itu kami diizinkan naik ke pos penjaga yang berada di atap gedung oleh satpam yang baik hati.

Gudang

Tangga berkarat menuju pos penjaga

Perjalanan kali ini membuat saya membayangkan bagaimana jika Indonesia tidak dijajah Belanda? Mampukah anak bangsa membangun dari awal sistem telekomunikasi seperti ini? Jika iya, mampukah mereka membangun secepat ini? Lalu apakah seluruh aspek (terutama sistem komunikasi) akan semaju sekarang? Bisakah kita melakukan hubungan dengan kerabat di seberang lautan? Membayangkannya menimbulkan pemikiran bahwa jangan-jangan kita sebetulnya harus berterima kasih karena seolah-seolah negeri ini dibangun oleh konsep atau materi penjajah itu sendiri.
.
Original post : http://mynameisnia.blogspot.com/2011/09/pemancar-radio-tua.html

Gereja Blenduk, Semarang

Posted in Arsitektur, Semarang on September 15, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Achmad Rizal

gereja Blenduk, semarang

Gereja Blenduk  atau GPIB Immanuel adalah gereja tertua di Jawa Tengah dan salah satu yang tertua di  Indonesia. Gereje Blenduk didirikan tahun 1753 ini merupakan salah satu icon dari Kawasan Kota Lama, Semarang yang secara fisik masih sangat utuh dan bahkan masih digunakan untuk kebaktian oleh Penganut Protestan di Semarang.  Dahulu namanya Koepelkerk, dan terletak di Heerenstraat, yang kemudian menjadi Kerk straat (jalan gereja),  sekarang menjadi Jalan Letjen Suprapto.

Pada awalnya, gereja ini berupa bangunan panggung Jawa yang tidak diketahui arsiteknya. Namun oleh   arsitek W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde pada 1894-1895 dirubah secara dramatis dengan menambahkan menara pada bagian depan bangunan. Panggilan Gereja Blenduk diambil dari kubah yang terletak pada puncak gereja yang menonjol sehingga oleh orang  Jawa disebut dengan Mblenduk.

Hasilnya adalah Gereja Blenduk seperti sekarang dengan interiornya juga cantik, dihiasi lampu gantung kristal, bangku-bangku ala Belanda dan kursinya semua masih asli. Lalu ada orgen Barok nan indah, yang sayangnya sudah tidak bisa dipakai (rusak). Tangga dari besi cor (lebur) menuju ke orgen Barok itu buatan perusahaan Pletterij, Den Haag. Salah satu yang menarik bagi yang tidak bisa masuk ke Gereja Blenduk adalah jam pada menara kembarnya, yang masih menggunakan angka IIII menggantikan angka IV.

Daerah sekitar Gereja Blenduk dinamakan dengan Outstadt atau Little Netherland mencakup setiap daerah di mana gedung-gedung yang dibangun sejak zaman Belanda, hanya yang masih tersisa cukup banyak yang di daerah sekitar Gereja Blenduk.  Beberapa gedung Kuno sekitar Gereja Blenduk misalnya Gedung Jiwasraya, gedung Marba, Peek House dan kalau berkunjung ke Gereja Blenduk, jangan lupa untuk mampir ke Sate 29 di depan gereja Blenduk yang terkenal dengan sate Buntel dan gule sumsumnya.. Dijamin Maknyus…

Sumber :

  1. http://www.nederlandsindie.com/koepelkerk-gereja-blenduk-semarang/
  2. http://semarangan.loenpia.net/sejarah/kota-lama-potongan-sejarah-kota-semarang.htm
  3. http://visitsemarang.com/artikel/gereja-blenduk
  4. http://cityguide.kapanlagi.com/semarang/wisata/11191-gereja-blenduk.html
  5. https://www.facebook.com/media/set/?set=a.2201767315949.2120729.1000298462
Original Post : http://arl.blog.ittelkom.ac.id/blog/2011/09/gereja-blenduk-semarang/
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.084 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: