Profil Dr. J. W Ijzerman

Posted in Catatan Perjalanan on November 9, 2011 by KomunitasAleut!

Seorang Insinyur, Arsitek, Arkeolog, dan Akademisi…Semuanya terangkum dalam diri seorang Dr. J. W. IJZERMAN (1851—1932), Perintis pembangunan jalur kereta api di Hindia Belanda, serta pimpinan komisi perguruan tinggi Hindia Belanda yang mendirikan Technische Hogeschool (ITB).

Berlatar belakang pendidikan militer Breda, Ijzerman memulai karirnya di Hindia Belanda sebagai staff peneliti bagi kemungkinan pendirian jalur kereta api di Sumatra. Tugasnya dilakukan dengan perjuangan berat mengingat ganasnya medan hutan Sumatra saat itu. Kemampuannya yang tinggi, membuatnya dikenal sebagai insniyur paling berpengaruh di bidang perkeretaapian yang tengah dirintis di akhir abad 19.

Pada pertengahan 1878 IJzerman diangkat sebagai insinyur yang menangani proyek pembuatan jalur Bogor-Bandung-Cicalengka. Salah satu karyannya adalah Stasiun Bandung (lama) yang didesain oleh dirinya.

Pada tanggal 30 Mei 1917 didirikanlah Komite sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda yang diketuai Dr. C.J.K. van Aalst, yang kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Tugasnya antara lain mengumpulkan dana untuk pendirian sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda.

Dalam pertemuan di Batavia pada bulan Mei 1919 ditetapkan bahwa Perguruan Teknik itu akan bernama “Technische Hogeschool”. Ijzerman sempat dihadapkan pada pilihan Solo, Yogyakarta, Jakarta atau Bandung sebagai lokasi sekolah. Walikota Bandung B. Coops lantas menyatakan bersedia memberikan sebidang lokasi di Bandung Utara seluas 30 Hektar, terletak di antara Cikapundung dan Dago untuk ditempati sekolah tersebut. Ijzerman menyetujui usul itu, didukung oleh Gubernur jenderal Mr. J. P. Graaf Limburg Stirum.

Untuk mengenang jasa-jasanya dalam pendirian sekolah tinggi di Bandung, Prof. Odé merancang suatu taman di selatan TH (ITB) yang dinamai Ijzerman-park, dan sekarang bernama taman Ganesha. Sebuah patung dada Ijzerman sempat bertengger di utara taman itu sebelum kemudian dicopot di jaman jepang, dan saat ini tersimpan di gedung rektorat ITB.

Sekilas Peristiwa APRA

Posted in Revolusi on November 9, 2011 by KomunitasAleut!

23 Januari 1950, peristiwa kebiadaban APRA di Bandung. Tidak ada perang. Sudah damai. Tenang. Tanpa curiga satuan kecil dan perorangan anggota TNI keluar masuk Bandung untuk menyelesaikan persiapan pengambilalihan tugas keamanan kota yang masih ditangani Belanda.

Apa lacur! Pagi hari itu waktu orang masuk kantor. Ada yang baru datang dari Jakarta, terus masuk ke Open Deur (Pintu Terbuka), Tempat makan di pojok jalan Braga. Oleh pasukan APRA ia diseret keluar sambil dimaki-maki karena berbaju seragam TNI. Disabet kelewang, lalu ditembak, padahal tidak ada perang. Dan tak bersenjata.

Masih di jalan Braga agak ke bawah, di depan bioskop Majestic. Sebuah mobil dari utara diberhentikan. Pengendaranya diseret keluar. Haa, zo’n kleine piel… een luitenant!… Terus saja kelewang diayunkan tepat merobek pipi. Mulut menganga sampai belakang rahang. Terhuyunglah sang pahlawan rebah di atas jalan aspal.

Disertai makian serdadu sewaan, sang pahlawan dipaksa berdiri. Tegar ia berdiri sambil mengenakan pici TNI-nya rapih-rapih. Baru melangkah dua ayunan, ditembaklah ia dari belakang. Dalam jarak kurang dari satu meter, tepat di belakang kepala. Hei, lubang peluru di kepala belakang kecil, di depan menganga besar bukan main! Mereka menggunakan peluru dumdum, peluru yang dilarang menurut konvensi jenewa. Peluru untuk berburu babi hutan. Barbar!

(..Dikutip dari buku Kisah Perjuangan Unsur Ganesa Kurun Waktu 1942-1950)

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Hati yang Bimbang *

Posted in Buku on November 9, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Andika Budiman

30 Oktober 2011, agenda Komunitas Aleut! adalah makan-makan, mendoakan Indra, mendoakan Indra dan Icha, serta sedikit bercerita tentang film dan buku kesukaan masing-masing.  Kebetulan beberapa minggu lalu saya menamatkan Salah Asuhan (1928). Tokoh favorit saya bernama Corrie, gadis keturunan Eropa centil, periang, dan berlebihan yang digambarkan Abdul Moeis dengan piawainya. Berikut salah satu bagian kesukaan saya:

Semalam-malaman itu Corrie tidak merasai tidur nyenyak. Setiap saat ia bertanya dalam hatinya, cintakah ia kepada Hanafi, tapi senantiasa didengarnya pula sahutan, “Oh! Anak Belanda dengan orang Melayu, bagaimana boleh jadi!” Tapi seketika itu juga berbunyi pula suara: “Orang Melayu boleh disamakan haknya dengan orang Eropa!”

Lalu dihadapkannya ke muka angan-angannya akan diri Hanafi, lahir dan batin. Rupanya, molek, kulitnya tidaklah hitam bagai Bumiputera kebanyakan. Hanafi sendiri ada benci pada bangsanya, Bumiputera. Pelajarannya, tingkah lakunya, perasaannya, semua sudah menurut cara Barat. Kalau ia tidak tinggal bersama ibunya yang sangat kampung, tentang tabiat dan perasaannya tak akan adalah yang menyangka Hanafi orang Melayu. Sebab bencinya pada bangsanya sendiri, sudah tentu ia suka minta disamakan dengan bangsa Eropa, tentu tak ada lagi batasnya pangkat yang boleh dijabatnya.

Tapi—tapi, meskipun demikian, Corrie boleh memastikan, bahwa ia tidak dapat membalas percintaan Hanafi, sebab … ya, sebab … ? Sebab ia tidak cinta!

Hanafi dipandang sebagai seorang sahabat saja yang dibawa bergaul di waktu bertemu saja. Dari kecil ia sudah berkenalan, sudah sama-sama bermain-main, meskipun Hanafi ada tiga tahun lebih tua dari dia. Dahulu, semasa di sekolah rendah di Solok, ia memandang Hanafi seolah-olah saudara tuanya; dan acap kali Hanafi melindungi jika ada seseorang anak laki-laki yang hendak menganiayanya. Waktu datang ke Betawi, ia masih mendapati Hanafi di kota itu, enam bulan sesudah itu baharulah Hanafi pulang ke Sumatera Barat. Tapi dalam enam bulan itu, hanya dua-tiga kali ia berjumpa dengan kawan itu, sedang selama ia di asrama Salemba, tidak pula berkirim-kiriman surat dengan dia. Hanya tiap-tiap vakansi mereka bertemu di Solok, sedangkan pergaulan tetap cara biasa: sebagai kakak dan adik. Secara orang bersaudara, banyak benar timbul pertikaian pikiran antara keduanya, dan tiap-tiap bersahut-sahutan itu, ada jualah salah seorang yang marah. Jika yang seorang sudah bermuka merah, yang lain lalu mengalah. Demikian saja dilakukan oleh mereka berganti-ganti, hingga persahabatan antara keduanya bisa kekal.

Hanya Corrie sudah merasai menjadi gadis, setelah ia masuk sekolah H.B.S.; terutama di negeri kecil dijaganyalah benar namanya, supaya jangan menjadi sebutan.

Oleh karena itu hanya sekali-sekali ia datang ke rumah Hanafi, begitu juga tidak pernah seorang diri, melainkan membawa kawan juga. Dan jika ia berjalan-jalan dengan Hanafipun ia membawa salah seorang kawan. Buat dirinya sendiri ia tidak terlalu peduli, tapi yang dijaganya hanyalah perasaan orang. Hanafi dipandangnya seolah-olah saudaranya: jadi seharusnya ia tidak perlu berhati-hati benar, hanya Hanafi itu memang orang Melayu; dan di dalam adat orang Melayu memang banyak benar pantangan bagi anak gadis. Jika sekiranya di Betawi Hanafi membawanya ke tempat permandian di pinggir laut dengan tidak membawa seorang kawan, akan tidaklah ia berkeberatan, karena—Hanafi dipandangnya sebagai saudaranya benar.

Yang sudah-sudah, Hanafipun berlaku sebagai seorang saudara pula kepadanya, hanya di dalam vakansi sekali ini, dan terlebih pula sehari tadi, perangainya sudah lain. Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya berpegang-pegangan tangan, dengan tidak ada gelinya, tapi waktu tadi siang Hanafi meraba lalu mencium tangan Corrie, bukan saja Corrie terkejut karena kedatangan tuan dan nyonya Brom, melainkan sebenar-benarnya ia terkejut sebab dicium tangannya itu. Dan itupun sudah luar biasa, karena antara kakak dengan adik tak usahlah terkejut pasal bercium-ciuman tangan itu. Tapi Corrie sudah terperanjat, segala darah sudah naik ke kepalanya, dan jantungnya pun berdebar-debar.

Itulah suatu tanda baginya, bahwa dari pihaknya sifat-sifat ‘bersaudara’ itu sudah berubah. Hati berahinya sebagai gadis sudah timbul pada saat itu. Dan mulai dari itu yakinlah ia akan bahaya percampuran laki-laki dengan perempuan. Dahulu disangkanya bahwa seseorang gadis akan bisa bercampur gaul dengan bujang sebagai saudara sejati; bebas dari perasaan lain yang tidak layak bagi orang bersaudara. Persahabatan yang suci antara gadis dengan bujang disangkanya boleh berlaku dengan sesuci-sucinya. Jika ia bergaul dengan bujang-bujang, maka disangkanya adalah ia bergaul dengan sahabat, yang tidak memandang ia sebagai perempuannya, melainkan sebagai sahabat saja, serupa dengan kepada sahabat laki-laki.  Itulah sebabnya Corrie sudah menertawakan sekalian bujang, yang segera saja menulis surat ‘lamaran’ menyatakan cinta yang tidak berhingga kepadanya, setelah bertemu dua-tiga kali di tempat bermain tenis atau di tempat keramaian. Laku serupa itu jauh dari menimbulkan berahi si gadis itu, melainkan menimbulkan bencinya, hingga inginlah ia hendak mempermain-mainkan orang yang serupa itu.

Dalam persangkaan Corrie, pergaulannya dengan Hanafi selama ini hanya dibangunkan di atas rasa persahabatan dan persaudaraan saja. Memang sayanglah ia pada Hanafi, tetapi sebagai sayang kepada saudara.

Tapi nyatalah bahwa perasaan dari kedua belah pihak sudah berubah. Hanafi sudah cinta padanya, bukan lagi kepada adiknya, melainkan kepada seorang perempuan yang dikehendakinya buat menjadi istrinya. Perasaan Corrie terhadapnya sudah berubah pula, tapi cintakah ia pada Hanafi? Itulah suatu pertanyaan besar, yang sedang membimbangkan hatinya, yang mengganggu kesenangannya sampai ke tempat tidurnya. Senantiasa wajah Hanafi sudah terbayang-bayang dalam pandangannya, meskipun ia memicingkan mata. Meskipun perangai Hanafi sudah kebelanda-belandaan, tapi adalah juga sifat ketimuran yang belum hilang sama sekali padanya, yaitu malu-malu sopan orang Timur masih ada dikandungnya; dan sifat yang sebuah inilah yang menarik hati si gadis itu.

Sejurus lamanya termenunglah Corrie. Maka dihitungnya pada buah baju kimononya, seolah-olah meramal-ramali, “Cinta—tidak—cinta—tidak—cinta!” Stop, lima bilangan buah kimono, kesudahannya jatuh pada ‘cinta’.

“Oh,” kata Corrie, “tentu saja disudahi dengan ‘cinta’, karena buah kimono itu memang lima. Sekiranya kumulai menghitung dengan ‘tidak’, tentu ‘tidak’ pula kesudahannya.”

“Tokek!”

“Ha!” kata Corrie pula dalam hatinnya. “Tokek itu jarang bohongnya. Mari kita lihat … tidak–“Tokek!” cinta–”Tokek!” tidak–”Tokek!” cinta–”Tokek!” tidak–”Tokek!” cinta.

“Oh, tokek celaka, biasanya ia berbunyi lima kali, sekarang enam! Pendeknya aku tak cinta pada si Hanafi si gila – bah! Orang Melayu!”

Corrie mencoba menghilangkan segala kenang-kenangan yang berhubungan dengan Hanafi. Kepalanya sudah berasa berat, telinga mendesing-desing.

Sejurus lamanya terlayanglah ia, lalu tertidur. Seketika juga wajah Hanafi sudah nampak pula dimukanya, sambil senyum simpul dengan sapanya. Corrie sudah diganggu oleh mimpi yang bukan-bukan. Rasanya Hanafi meninggalkan dia, pergi mengembara ke negeri jauh, Maka pada saat perceraian, menjeritlah Corrie sekuat-kuatnya, menyeru nama Hanafi, kekasihnya …

“Corrie! Corrie!” kata suara ayahnya di muka pintu kamarnya, “Engkau bermimpi Sadarlah!”

Bukan buatan sungut Corrie, demi ia sadar dan mengingat akan mimpinya. Oh, ia, Corrie du Busée, akan menjerit bila bercerai dengan Hanafi? Orang Melayu! Oh, oh, apakah sangka ayahnya, kalau mendengar seruan Hanafi itu?

Seketika itu timbullah gundah-gulananya yang tidak terkira-kira, mengingatkan keadaan Hanafi. Ia menyalahkan orang itu, karena sudah membimbangkan pikirannya. Dipandangnya sebagai saudara benar dari kecilnya. Dipercayakannya dirinya kepada ‘saudara’ itu. Sekarang inilah jadinya. Tidak patut Hanafi menggoyangkan hatinya sampai serupa itu, merusakkan kesenangannya sama sekali!

Jika ia esok datang ke rumah Hanafi, antara seorang dengan seorang, hendak dinyatakannya kemasygulan hatinya tentang itu. Ia hendak berkata kepada Hanafi, tidak patutlah Hanafi merusakkan kepercayaan Corrie yang diberi selama ini kepadanya, tidak layak mempergunakan kelemahan anak gadis buat mencapai maksudnya.

Tapi—dibalik-balik pula dipikirkan—kalau Corrie sendiri tidak cinta kepadanya, apakah yang buat disusahkan? Kalau ia memang tidak cinta, dengan sepatah kata ia dapat mencegah segala gangguan itu; dan amanlah pula dalam hatinya. Ya – memang sesungguhnya ia tidak cinta kepada Hanafi; dan hal itu hendak diceritakannya esok petang dengan selesai, dengan pendek. Supaya Hanafi mengetahui benar-benar, bahwa ia tidak usah mengharap-harap lagi. Tapi—kasihan, kalau diceritakan pula sekalian itu; alangkah sedih hati Hanafi! Tali persaudaraan yang sekian teguhnya, ditimbulkan dari zaman masih kanak-kanak, tentu akan putus.

Dalam memikirkan yang serupa itu, ia sudah bangkit dari berbaring, lalu membukakan pintu kamarnya.

“Oh, Pa,” demikian ia berkata kepada ayahnya, yang masuk ke dalam kamarnya. “Tadi Corrie sangat riang di tempat bermain tenis. Hanafi sudah mempertakut-takuti dengan keluang, yang banyak bergantungan di pohon ketapang di tempat itu; dan jatuh seekor karena ditembak oleh seorang anak dengan senapan angin. Keriuhan yang tadi siang, sampai terbawa ke dalam mimpi!”

Tuan du Busée melihat dengan bimbang pada air muka anaknya yang merah-merah padam itu.

“Engkau sangat gembira, Corrie! Rupanya seluruh urat sarafmu sedang tergoyang. Minumlah satu tablet bromural. Marilah ayah ambilkan.”

Sejurus lamanya tuan  du Busée meninggalkan anaknya, lalu datang kembali membawa sebuah botol kecil di tangannya.

Setelah dikeluarkannya sebuah tablet, maka dituangkannya air dingin dari karaf ke dalam gelas yang ada di meja toilet, lalu diberikannya air dan tablet itu kepada anaknya.

“Telanlah ini, anakku! Segera juga darahmu akan surut, tidurmu akan nyenyak. Selamat malam!”

Dengan cepat Corrie menurut perintah ayahnya, lalu berbaring pula tidur kembali. Pukul empat sudah berbunyi. Tidak lama setelahnya, tidur nyenyaklah ia.

Hanafipun tak hilang-hilang juga dari kenang-kenangannya. Di dalam tidur nyenyak itu, bermimpilah ia, bahwa ia sudah meramal-ramal pula dari strip kelambu, yang ada pada tumpuan kakinya. Strip itu antara dua puluh sentimeter renggangnya, jadi banyak sekali bilangannya. Rasanya ia sudah mulai menghitung dari ‘tidak’, karena sesungguhnya ia tidak cinta. Tidak – cinta – tidak – cinta – tidak … akhirnya jatuh kepada ‘cinta’ juga!

Sangat masygul hatinya, setelah ia sadar dari tidurnya, melihat matahari sudah tinggi dan teringatlah ia akan mimpinya itu.

“Oh, mimpi itu bohong!” katanya, sambil memperbaiki kain selimutnya, seolah-olah hendak menyambung tidur, meskipun pukul tujuh sudah lama terdengar berbunyi.

Maka memandanglah ia ke kelambu yang ada pada tumpuan kakinya. Banyak benar strip-strip itu, lebih dari tiga puluh. Mari dicoba-coba buat penghabisan. Haruslah dimulai dengan ‘tidak’, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

“Tidak – cinta – tidak – cinta – …”

Tiga puluh kali berganti-ganti antara ‘tidak’ dengan ‘cinta’ kebetulan pada strip yang merapat benar pada tiang tempat tidur, berhenti pulalah bilangan itu dengan ‘cinta’.

“Barangkali aku kena guna-guna!” kata Corrie, sambil merentak bangkit dari tidurnya. “Aku sesungguhnya tidak cinta pada orang itu! Tidak, tidak, tidak! Meramal-ramal itu permainan kanak-kanak, tahayul orang Melayu, sepuluh kali hendak dikatakan cinta, sore hendak kuperlihatkan benar-benar, apa yang kukandung dalam hatiku kepada orang itu. Memang sayang sekali, bila perbuatanku akan memutuskan tali persahabatan dan persaudaraan yang sekukuh itu, tapi apa boleh buat. Oh, oh, sungguhkan tak boleh jadi, pergaulan laki-laki dengan perempuan suci dari perasaan yang bukan-bukan itu?”

Yang sangat dimasygulkan pada Hanafi ialah, karena ialah laki-laki yang pertama kali dapat menimbulkan gelombang yang sehebat itu dalam kalbunya, sehingga urat-urat sarafnya sudah tergoyang, tidur tak lelap, sedang makannyapun sudah tak enak.

Tapi sementara itu gusar pulalah ia pada dirinya sendiri, karena waktu menjelang pukul lima itu berasa amat panjang olehnya, hingga ia hampir-hampir tak sabar menantikan hari petang.

“Tentulah aku ingin buru-buru hendak menyatakan perasaanku kepadanya, buat menyurutkan hatinya jangan sampai berharap-harap,” demikian Corrie sudah memberi keterangan atas halnya tidak sabar menanti hari petang itu. “Lebih dari itu tidak. Mustahil aku resah menentikan waktu, sekadar buat berpandangan dengan dia saja! Mustahil!”

Dan sehari-harian itu sudah pula ia melakukan suatu perbuatan, yang tidak pula dapat diterangkannya apa sebabnya ia berbuat demikian. Peti tempat menaruh ‘surat-surat lamaran dari yang gila-gila di Betawi’ sudah dikeluarkannya dari taruhan, lalu dibawanya sekalian surat-surat itu ke dapur dan dibakarnya. Sambil tersenyum, berkatalah ia dalam hatinya:

“Nah! Mudah-mudahan malam ini mereka akan mendapat wahyu, kemana jalannya surat-surat mereka itu. Supaya jangan membuang-buang perangko juga!”

*) Kalau tidak salah, itulah judul bab ini.

Menyelami Jejak Citarum Purba

Posted in Catatan Perjalanan on November 1, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Anggraini “Rini” Lestari

Kenyataan bahwa Kota Bandung adalah sebuah wilayah yang bebentuk cekungan mungkin sudah diketahui banyak orang. Cerita bahwa ribuan tahun lalu cekungan tersebut seluruhnya berisi air dan merupakan Danau Bandung Purba rasanya juga sudah banyak orang yang tahu. Minimal dari cerita legenda Sangkuriang. Tapi berapa banyak orang yang tahu bagaimana danau raksasa tersebut kemudian menjadi surut hingga memungkinkan kita berpijak di dasarnya sampai hari ini?

Sampai 4 hari yang lalu saya sendiri termasuk orang yang tidak tahu. Tapi kemudian perjalanan bersama komunitas Aleut memberi pencerahan tentang asal-usul tanah tempat saya berdiri hari ini. Berkumpul di depan gedung Asia Afrika kami bersiap menuju tempat tujuan NgAleut edisi Senang-Senang (padahal edisi pegal-pegal). Ternyata tujuan NgAleut yang sempat dirahasiakan dan cukup membuat banyak orang penasaran adalah sungai Citarum di daerah PLTA Saguling. Mobil yang mengangkut kami melaju dengan kecepatan sedang menyusuri wilayah Padalarang. Berhenti sejenak disebuah warung nasi untuk membeli nasi bungkus yang menjadi sumber energi terakhir kami sebelum menyusuri Citarum.

Meneruskan perjalanan menuju Rajamandala, kami melewati deretan tagog-apu (perbukitan kapur) yang sebagian besar sudah habis dikeruk para penambang. Ketika melewati wilayah bukit kapur yang luas, Bang Ridwan bercerita bahwa jutaan tahun lalu tempat ini adalah sebuah lautan dangkal. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil hewan laut dan terumbu karang di perbukitan batu kapur.

Beberapa saat kemudian Bang Ridwan menunjuk satu tempat yang merupakan lokasi Gua Pawon. Katanya gua tersebut dulunya merupakan tempat tinggal manusia purba karena pernah ditemukan artefak dan fosil manusia. Sekarang Gua Pawon menjadi tempat wisata dan dilindungi pemerintah daerah. Tetapi sayangnya wilayah sekitarnya tidak dilindungi dan menjadi pemukiman warga. Padahal jika dilakukan penelitian lebih lanjut ada kemungkinan di wilayah sekitarnya juga ditemukan fosil-fosil bersejarah.

Memasuki wilayah PLTA Saguling kami langsung menuju Sanghyang Tikoro, yaitu sebuah gua yang dilewati aliran sungai Citarum. Sebenarnya saya tidak asing dengan nama ini karena dulu pernah mengunjungi kantor PLTA Saguling yang ada di sebelah Sanghyang Tikoro. Tapi Satu-satunya yang saya ingat dari Sanghyang Tikoro adalah bau belerang yang cukup menyengat. Cerita dibalik Sanghyang Tikoro sendiri baru saya tau dari hasil NgAleut ini. Sanghyang Berarti Dewa dan Tikoro berarti Tenggorokan. Jika dilihat dari bentuknya, gua ini memang mirip dengan mulut manusia yang sedang menganga.

 

Gua ini sempat dihubung-hubungkan dengan cerita bobolnya Danau Bandung Purba. Jadi ternyata Danau Bandung Purba menjadi surut karena terjadi kebocoran. Banyak orang percaya bahwa Sanghyang Tikoro ini tempat bobolnya Danau Bandung Purba. Tapi menurut Bang Ridwan kebocoran Danau Bandung Purba sebenarnya terjadi akibat timbulnya celah antara Pasir Kiara dan pasir Larang. Mitos yang berkembang mengenai Sanghyang tikoro ini apabila ada sesuatu yang masuk kedalamnya, bahkan jika hanya sebatang lidi, maka akan terdengar suara rintihan wanita yang kesakitan, dan Bandung akan kembali tergenang oleh air seperti zaman Sangkuriang. Mitos yang terdengar mengerikan dan tampaknya cukup sukses membuat manusia takut memasuki Sanghyang Tikoro. Tapi mungkin mitos ini mengandung makna agar manusia jangan membuang apapun kesungai bahkan hanya sebatang lidi pun. Karena jika sampah banyak menumpuk disungai maka akan menyebabkan banjir. Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan nenek moyang kita ya teman-teman.

 

Selesai melihat Sanghyang Tikoro, kami berjalan menuju Gua purba lainnya yaitu Sanghyang Poek untuk beristirahat sambil menunggu hujan reda. Sanghyang Poek adalah gua yang sangat indah dengan batuan besar yang menjulang.

 

Tapi sayangnya keindahan tersebut dirusak oleh tangan-tangan vandalisme manusia-manusia labil. Pada dinding-dinding gua terdapat banyak coretan-coretan tidak bermakna. Untung ngga nemu tulisan Aleutian were here.

 

Setelah hujan reda, perjalanan panjang menyusuri jejak citarum purba pun dimulai. Aliran sungai sebenarnya relatif kecil karena hulu sungai Citarum purba ini sudah dibendung oleh PLTA Saguling. Tapi batu-batu yang sangat besar dan terjal cukup menyulitkan perjalanan. Ditambah kondisi batu yang licin akibat guyuran hujan. Saya yang awalnya berjalan tegak, lama kelamaan lebih banyak ngesot pake tangan dan kaki untuk melewati batu-batu yang besar dan licin. Perjalanan yang sulit dan melelahkan apalagi sambil membayangkan bahwa kami harus menyusuri jalan yang sama ketika pulang nanti cukup bikin pengen nyerah aja.

 

Tapi semua kelelahan terbayar ketika kami sampai pada tujuan akhir. Genangan air tenang yang bersih dan sangat indah dikelilingi pohon-pohon dan batuan besar. The hidden treasure. Bang Ridwan menjulukinya The Bi*** (pake t,c,h katanya :D). Satu persatu Aleutian mulai turun ke dalam air dan berenang-renang dengan bahagianya. Kesegaran air yang bersih dan sorot mata bahagia teman-teman yang lain sukses menggoda saya untuk ikut turun ke air. And here we are swimming on the Bi*ch together..

 

Selesai menyelami jejak citarum purba kami kembali begegas untuk pulang. Kesegaran air Citarum cukup membantu memulihkan stamina. Sampai di depan kantor PLTA Saguling kami memasuki mobil dan melewati Sanghyang Tikoro. Kembali tercium bau belerang yang sangat menyengat. Selama bertahun-tahun saya menyangka kalau disana memang terdapat kawah belerang. Tetapi kemudian salah satu pegiat Aleut mengatakan bahwa bau tersebut adalah bau limbah yang mencemari Citarum. Informasi yang cukup mengagetkan buat saya. Saya tidak bisa membayangkan limbah semacam apa dan sebanyak apa yang mampu menghasilkan bau belerang yang sangat menyengat seperti itu.

Lagi-lagi, selalu menyedihkan ketika harus menyaksikan keindahan arus sungai rusak oleh arus modernisasi.

Original post : Here

NgAleut Citarum Berenang Senang !!

Posted in Catatan Perjalanan on November 1, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Pinot

 Hutan selalu mempunyai fenomena alam yang di dalam nya terdapat tumbuhan dan benda alam. Ada benda yang hidup dan benda mati, ada tumbuhan hidup dan tumbuhan yang mati. Begitupun,di sungai Citarum Bandung,yang di jelajahi Aleutian kini  (23/10),  mempunyai fenomena  alam yang tak kalah indah dengan sungai yang lainnya. Batu-batu besar, air jernih yang mengalir dan pepohonan yang masih tertera se-alakadarnya , juga di sepanjang pinggir jalan bebatuan tidak ada atau jarang terlihat bekas sampah makanan, rokok, cangkang plastik dll. Bahkan tidak banyak wisatawan yang mengunjungi daerah kawasan Citarum. Hal tersebut membuat Aleutian beruntung bisa menjelajahi kawasan Citarum yang cukup indah dan sejuk itu. Karena,bisa lebih tahu kondisi dari kawasan Citarum yang tidak banyak di kunjungi waisatawan. Walaupun di sepanjang perjalanan,setapak demi setapak terus di tempuh hingga terkuras tenaga dan membuat badan cukup lelah, tapi itu tidak membuat Aleutian berhenti untuk menempuh perjalanan, karena kebersamaan membuat lelah Aleutian tidak terasa hingga sampai tujuan. Di ujung, Aleutian pun berenang senang dengan melakuan berbagai gaya, dengan berfoto dipandu fotografer Aleut. Walaupun hanya sebagian yang berenang di “danau” hijau yang cukup sejuk, rasa lelah dan kucuran keringat serasa hilang. Setelah selesai beremdam di “danau” Citarum, kini Aleutian melanjutkan perjalanan, tetapi menuju perjalanan pulang. Walaupun  ada sebagian yang terjatuh dan terpeleset saat perjalanan, itu tidak membuat Aleutian mengeluh. Walaupun tidak banyak fasilitas, tapi Aleutian begitu puas merasakan indahnya panorama dan febnomena alam Citarum.

  Kawasan Citarum dan gua ST (Sanghyang Tikoro) juga mempunyai legenda. Dikatakan bahwa ST adalah gua yang terjadi dari “proses” pembentukan DB (Danau Bandung) oleh Sangkuriang. Pada saat itu Sangkuriang ingin menikahi Dayang Sumbi, Dayang Sumbi memberikan syarat kepada Sangkuriang bahwa Sangkuriang harus membuat danau dan perahu. Saat itu Sangkuriang membendung Citarum di ST. Air Citarum  jadi tergenang dan membentuk danau besar, Danau Bnadung. DB menjadi kering akibat bocornya danau dan air keluar lewat Gua ST. Gua ST disebut-sebut berperan atas surutnya air DB. Tetapi, K.Kusumadinata tahun 1959 menunjukan bahwa gunung-gunung seperti Pancaklarang dan Gunung Bentang adalah sebagai lokasi -lokasi yang mungkin menjadi tempat bocornya DB. Batas-batas pinggiran DB sangatlah luas,antara sekitar Cililin sampai Rancaekek, Padalarang sampai Ujungberung,dan Majalaya sampai Soreang. Dan berkembanglah pula dongeng-dongeng lain yang berkaitan dengan ST. Dulu dekat ST ini orang-orang dilarang keramas,karena dikatakan jika ceceran rambut terbawa air sungai melewati ST,maka akan ada suara jerit kesakitan dari dalam gua. Dan masih banyak dongeng lainnya dari ST. Ada lagi satu tempat menarik di dekat ST, tempat berndamnya air panasdi depan PLTA .

Kawasan ini kini berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan, karena selama ini dibiarkan sendiri tanpa pengendalian dari pihak tertentu. Akibatnya, tidak banyak dan jarang dikunjungi wisatawan, ditambah tidak ada banyak fasilitas. Sebuah catatan yang harus menjadi perhatian adalah dampak tidak terurusnya kawasan ini kelak. Terurusnya kawasan ini pun tentu akan mempengaruhi perkembangan daerah ini sebagai daerah komersial dimasa yang akan datang atau menjadi bagian dari wilayah strategis untuk di kunjungi oleh wisatawan.

Oleh: Pinot Scoot_2011

NB: inilah cacatan saya tentang ngAleut Citarum, maaf jika ada kekurang dari catatan saya hhe semoga bermanfaat :)

Dalam Perjalanan Pulang

Posted in Catatan Perjalanan, Citarum on Oktober 29, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Ayu ‘Kuke’ Wulandari

*catatan angin yang telah jatuh cinta sejak kali pertama pada Ci Tarum Purba*

Jangan kan biar hilang semua yang telah diberi. Jangan kan pergi rasa manusiawi dan naluri diri. Biar Bumi tetap bersinar di bawah Mentari. Agar kita tetap bersinar di bawah Mentari.

[Deep Blue Sea - Deep Forest feat. Anggun]

Aleutian menuju Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)Aleutian menuju Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)

.

Surga Kecil berkawal pasukan batu ini masihlah merupakan bagian dari salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia.

Ci Tarum mengalir dari hulu di daerah Gunung Wayang, di sebelah selatan kota Bandung menuju ke Utara dan bermuara di Karawang. Sungai ini diperkirakan memiliki panjang sekitar 225 kilometer.

Surga Kecil yang masih lekat dengan nuansa hijau sejuk ini masihlah merupakan bagian dari sungai yang punya keterkaitan hati dengan masyarakat Sunda sejak awalnya. Sungai yang dulu diposisikan lebih besar sebagai sarana transportasi, pusat pemerintahan dan tapal batas  kerajaan-kerajaan di Jawa Barat. Sungai yang sempat menjadi simbol kebesaran para raja/menak yang berkuasa waktu itu.

Pada abad ke-5, dari sebuah dusun kecil yang dibangun di tepi sungai Ci Tarum oleh Jayasinghawarman, lambat laun daerah  berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, yaitu Kerajaan Tarumanegara, kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat.

.

Dulu, Ci Tarum menjadi batas wilayah antara dua kerajaan yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda (pergantian nama dari Kerajaan Tarumanegara pada tahun 670 Masehi). Ci Tarum sebagai batas administrasi ini terulang lagi pada sekitar abad 15, yaitu sebagai batas antara Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

.

[Citarum Dalam Perspektif Sejarah, A.Sobana Hardjasaputra]

Surga Kecil yang pada faktanya kalah populer dengan reputasi pencemarannya yang terlalu aduhai bahkan hingga di mata & telinga dunia (the world’s most polluted river) sebenar-benarnya ada. Masih layak menjadi tempat untuk pulang. Selalu layak menjadi tempat untuk pulangnya para hati yang selalu merindukan makna hening damai, para benak yang selalu terjaga kesadarannya perihal keseimbangan alam dan manusia.

Surga Kecil ini dikenal dengan nama Ci Tarum Purba atau Ci Tarum bersih. Air-nya tidak mengundang kecurigaan akan mengakibatkan sakit perut ketika dikonsumsi (bahkan mentah). Indera penciuman tidak akan terhantui hingga trauma dengan aroma macam Sulfur (belerang) yang menjadi suguhan sekitaran PLTA Saguling dan Sanghyang Tikoro.

Surga Kecil Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)Surga Kecil Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)

.

Dalam bahasan toponimi, Citarum (demikian dunia biasa menuliskannya) berasala dari dua kata yaitu Ci dan Tarum.

Ci atau dalam Bahasa Sunda Cai, artinya air. Sedangkan Tarum, merupakan sejenis tanaman yang menghasilkan warna ungu atau nila sekaligus diyakini dapat digunakan sebagai obat sakit perut dan penyubur rambut [artikel tentang Tarum oleh T. Bachtiar]

Namun, bahkan pada kali ketiga pulang ke Ci Tarum (dan kali ini bersama Komunitas Aleut!), entah mata ini tersilap atau aku memang kurang fasih dalam memperhatikan tumbuhan-tumbuhan di sisian sepanjang sungai, sepertinya benar-benar tak ada Tarum Areuy yang tersisa. Beberapa buah unik macam buah Loa dan Cermot (yang rasanya seperti buah Markisa) ada. Maka untuk sementara, kembali berimajinasi menjadi satu-satunya solusi. Bekalnya adalah gambar-gambar Tarum Areuy hasil googling juga sisian sungai yang sudah aku kenali. Tapi entah kenapa aku malah jadi teringat mbak Diella Dachlan dari Cita Ci Tarum yang punya keinginan untuk kembali menghiasi Ci Tarum bersih ini dengan gerombolan-gerombolan Tarum Areuy. Akan tampak seperti apa ya Ci Tarum dengan tanaman itu?

Cermot & Loa (foto oleh Kuke)Cermot & Loa (foto oleh Kuke)

.

Di hari Minggu (23 Oktober 2011) yang sarat mendung, sebentar gerimis – hujan agak deras – gerimis, disambut lagi dengan mendung lembab selang-seling dengan panas; yang ada di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya hatiku (sejak 1 Agustus 2010) ini sungguh beragam :) Bisa jadi karena si Gunung turut serta. Tapi sepertinya yang lebih membuatnya beragam adalah karena perjalanan mudik ini disertai keceriaan para Aleutian (Komunitas Aleut!).

Ya, harus diakui, aku yang sudah sekitar 1 bulan lebih vakum dari kegiatan bersama komunitas (pasal sakit dan kesibukan yang harus ditanggung sebagai dampak istirahat sakit yang 2 minggu itu) menjadikan kesempatan ngAleut bersenang-senang! (yang undangannya diluncurkan 2 hari sebelum perjalanan) sebagai momentum untuk aktif kembali mendokumentasikan aktivitas komunitas, selain berusaha keras menyerap pengetahuan-pengetahuan sejarah Bandung, Indonesia, hingga musik dunia dari para kawan di sana.

.

Ya, harus diakui, para Aleutian lebih banyak ngangeninnya ketimbang ngeboseninnya. Maka seketika perjalanan pulang ini menjadi lebih berharga dibanding perjalanan sebelumnya karena tumpukan kangen beraktivitas bersama terbayar sudah.

Pia tak kunjung habis berdecak kagum ketika kaki-kaki kami semakin menjauhi Sanghyang Poek yang sebelumnya dijadikan spot untuk beristirahat makan siang. Dephol merutuki baterai-baterai DSLR-nya yang sudah kosong sebelum benar-benar jauh meninggalkan Sanghyang Tikoro. Mr. Kobopop berenang senang di salah satu sisian Ci Tarum menjelang Leuwi Malang yang dulu membuatku nyaris tidak ingin lagi pulang ke Bandung. Bey mengambil resiko untuk merekam keceriaan kawan-kawannya dengan masuk ke sungai (yang dibilang dangkal ya dalam, dibilang dalam ya dangkal) sambil tak melepaskan si Alpha DSLR. Nia mengagumi para Aleutian yang saling bahu-membahu di garis belakang demi tidak meninggalkan Pipit.

Ya, Pipit :) sepertinya inilah Aleutian yang akan sangat lama lupa dengan pengalaman pertamanya menyusuri rute air berbatu demi ikut bersenang-senang dengan kawan lainnya, kebulatan tekad Pipit kali ini dan pembuktian yang dia tunjukkan (menurutku) layak diapreasi dengan baik :)

Keceriaan. Kekaguman.Kebulatan tekad. Kerelaan. Bahu-membahu (foto oleh Kuke)

Keceriaan. Kekaguman.Kebulatan tekad. Kerelaan. Bahu-membahu (foto oleh Kuke)

.

Aku jadi terharu. Lagi-lagi terharu di aliran rumahnya hatiku. Karena ya lagi-lagi dapat pelajaran baru. Perihal manusia, perihal alam, perihal alam yang membawakan kekentalan persahabatan dan kekeluargaan antar manusia. Seperti waktu itu :)  (baca: Persahabatan Ci Tarum)

Ternyata Ci Tarum masih menyimpan keajaiban lain. Ternyata bukan hanya ada Surga Kecil yang berhasil disimpan baik-baik. Ternyata sungai ini sudah menunjukkan, dengan siapa pun aku pergi maka kami semua bersedia dengan rela saling mengulurkan tangan dan berbagi kebahagiaan meski itu sebatas seteguk air.

Jika sudah begini, sepertinya aku susah untuk menghindari tumbuhnya harapan-harapan akan kepedulian manusia pada alam dan keseimbangan hidup. Jika sudah begini, sepertinya aku menjadi sangat susah untuk tidak berharap agar para pemuda-pemudi penerus bersedia untuk tidak sekedar berjalan-jalan senang sampai memenuhi harddisk/flash-disk mereka dengan file foto jalan-jalan entah-di-mana-saja tanpa mengambil sari yang alam maksud. Jika sudah begini, apakah kemudian salah mencetuskan keberanian bermimpi bahwa 10 tahun mendatang Ci Tarum Purba tidak akan kehilangan Surga Kecil-nya, malah semakin meruak menulari bagian panjangnya yang sama sekali tak menyenangkan sebagai pendamping kehidupan masyarakat?

Tapi, apa aku hanya terhenti di situ? Hanya bisa berharap dan bermimpi? Tidak berbuat apa-apa sebiji dzarrah pun?

Surga Kecil berkawal pasukan batu ini masihlah merupakan bagian dari salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia. Surga Kecil yang masih lekat dengan nuansa hijau sejuk ini masihlah merupakan bagian dari sungai yang punya keterkaitan hati dengan masyarakat Sunda sejak awalnya.  Surga Kecil yang pada faktanya kalah populer dengan reputasi pencemarannya yang terlalu aduhai bahkan hingga di mata & telinga dunia (the world’s most polluted river) sebenar-benarnya ada. Surga Kecil ini dikenal dengan nama Ci Tarum Purba atau Ci Tarum bersih.

Aku ingin selalu pulang ke sana. Bukan cuma sampai esok atau minggu depan, tapi seterusnya bisa sekali-kali pulang ke sana entah bersama siapa saja. Bersediakah turut menjaganya tanpa seratus persen hanya bergantung pada pasukan batu? Ah, atau, mungkin sebaiknya kau perlu mengalami sendiri perjalanan menuju Surga Kecil itu sepertinya halnya aku, kekasihku, para sahabat, dan kawan-kawanku; agar hatimu bersedia rela ikut menjaga :)

Telusur Citarum Purba

Posted in Catatan Perjalanan on Oktober 24, 2011 by KomunitasAleut!

Oleh : Nia Janiar

Saat SMS undangan ngaleut datang tanpa menyebutkan destinasinya, saya tidak memiliki bayangan hingga sms tersebut memberitahukan, “Seru beeng. Ngingetin sama ngaleut pertama kamu, Nia.” Karena ngaleut pertama saya adalah menyusuri Sungai Cikapundung, berarti kali ini juga akan menyusuri sungai. Apalagi di SMS tersebut ada biaya transportasi Rp30.000,00, maka saya jadi curiga bahwa Minggu (23/10) akan pergi ke Citarum Purba.

Buku catatan kecil sudah dibawa. Kamera sudah dipersiapkan. Dan asumsi saya ternyata benar.

Dulu saya bertanya pada teman dimana itu Citarum Purba saat melihat foto-fotonya, dia membalas, “Rahasiaa.” Meh. Melihat saya akan pergi ke sana, rasanya hati ini sudah senang duluan karena perjalanan sekarang ini akan menjawab sebuah rasa penasaran. Dengan carteran angkot di daerah alun-alun, masuk daerah Rajamandala-Padalarang hingga PLTA Saguling, sampailah saya ke sebuah sungai yang panjangnya kira-kira 225 kilometer ini.

Citarum ini dari kata Ci dan Tarum. Ci atau cai dalam bahasa Sunda berarti air, sementara Tarum atau nila itu adalah jenis tanaman. Citarum bukanlah sungai biasa. Bagaimana tidak, ia adalah aliran air yang pernah mampat oleh lahar letusan Gunung Sunda lalu membanjiri cekungan Bandung sehingga terjadi Danau Bandung Purba! Luar biasa.

Pertama kami ke sebuah gua Sangyang Tikorok. Ini merupakan aliran sungai bawah tanah dan menembus sebuah bukit. Menurut Pia, aleutians yang diminta menjelaskan tentang arti nama gua ini, Sangyang itu sama seperti The Almighty atau The Holly sementara Tikorok itu tenggorokan. Bahkan ada mitos jika sebuah kayu masuk ke dalam maka gua ini akan bersuara seperti tenggorokan yang tersedak.

Sangyang Tikorok

Tidak ada yang berani menyusuri gua yang panjangnya sekitar 200 meter ini. Kata Bang Ridwan, orang mungkin hanya berani masuk sekitar 80 meter. Tapi ternyata ada saja beberapa warga yang berani menelusuri panjang gua sampai habis. Membayangkan 200 meter yang gelap dan penuh dengan suara gemericik air saja sudah menyeramkan.

Setelah dari sana, kami ke Sangyang Poek, gua di daratan. Di balik gua ada sebuah ruang yang dikelilingi dan dinaungi oleh batu yang sangat besar. Sebenarnya menuju ruang itu bisa masuk gua Sangyang Poek. Tapi saya memilih lewat jalan yang agak memutar namun tetap terbuka. Untuk mengisi tenaga ke destinasi selanjutnya dan menunggu rintik hujan reda, kami makan siang dari bekal yang sudah kami beli di daerah Padalarang. Penting untuk dicatat karena daerah sini tidak ada warung apalagi Alfamart.

Oke, jika ini Citarum Purba, lalu kita mau kemana lagi? — itu yang terbesit oleh saya karena kalau tidak salah foto-foto teman saya hanya sampai batu besar itu saja. Ternyata, jika tidak jauh, bukan Aleut! namanya. Dan kalau pun jaraknya dekat, pasti aleutians juga kecewa. Kami terus berjalan menuju hulu, melewati, menginjak, dan melompati bebatuan yang begitu besar, sampai ke sebuah kolam hasil bendungan aliran air akibat celah batu yang menghimpit kecil. Maka ini adalah tujuan akhir kami, sebuah pemandian alam yang sesungguhnya dengan air bersih nan hijau di tengah hutan.

Edo–yang entah bagaimana–sudah ada di situ.

Semua orang malu-malu untuk menyebur. Saya sendiri punya ketakutan irrasional terhadap air yang tidak bening dan tidak terlihat dasarnya. Namun ketika Bang Ridwan dan Reza sudah masuk, saya memberanikan diri. Tidak ada yang menarik kaki mereka dan tenggelam ke dasar kolam, artinya di sana tidak ada binatang apa-apa. Begitu masuk … huah! Peluh langsung hilang begitu badan tersentuh segarnya air Citarum. Menyesal bagi mereka yang tidak berenang.

Setelah berenang, berendam, dan berganti pakaian, akhirnya kami pulang. Kala itu waktu sudah sore. Untung angkutannya mau menunggu sehingga kami tidak perlu jalan kaki sejauh 15 kilometer menuju jalan raya. Pipit, salah satu aleutian yang bersusah payah mengumpulkan tenaganya hingga pulang, akhirnya ‘khatam’ hingga tempat kami berakhir. Selamat untuk Pipit. Selamat juga untuk teman-teman yang sudah saling membantu dan merelakan tangan agar saling berpagut di perjalanan yang penuh tantangan ini. Budaya tolong menolong ini sudah saya kenal ketika saya pertama kali gabung Komunitas Aleut! dan masih terjaga hingga sekarang. Luar biasa.

Hari sudah menuju pukul 6 sore. Burung-burung hitam berterbangan di atas langit Citarum, pipa-pipa oranye yang besar tampak berpendar, dan pohon-pohon bergemerisik syahdu ditempa angin. Walau menyisakan pegal di tangan dan di kaki, semoga sebuah pengalaman dan panorama keindahan purba akan terus disajikan Sungai Citarum nan lestari.

Original Post : http://mynameisnia.blogspot.com/2011/10/telusur-citarum-purba.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.500 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: