Dunia Aleut!

Catatan Bandung karya Komunitas Aleut!


2 Komentar

Kopi Javaco

Oleh: Ariono Wahyu (@A13Xtriple)

Bagi Bapak saya, kopi itu selalu kopi “Javaco”. Bukan kopi “Aroma” yang terkenal karena mendapat publikasi luas dari berbagai media, bukan juga kopi “Malabar” atau kopi instan dalam kemasan sachet. Kegemaran bapak pada kopi ini dulu sudah sampai dalam tahap fanatik. Bapak tidak akan ngopi kalau kopinya bukan kopi Javaco jenis arabica. Ya itu sudah suatu keharusan kopi arabika dari “Javaco, bukan Melange (robusta) dan bukan juga “Tip top”  Javaco, walaupun kedua jenis tadi berasal dari toko kopi yang sama.

Masih teringat Mamah akan bersusah payah untuk membeli kopi arabika dari Javaco jika persediaan kopi tersebut dalam toples kaca bekas permen sudah akan habis. Kebetulan Mamah bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit “Iyen” di Jl. Kebon Jati, tak jauh dari toko kopi Javaco. Kurang lebih 50 meter jaraknya. Namun walaupun jaraknya tidak begitu jauh, masalah membeli kopi ini bukanlah perkara yang mudah, karena toko kopi ini hanya buka hingga pukul 14.00 saja, pada saat yang sama jam kerja Mamah di rumah sakit baru saja selesai.

Mamah biasanya berupaya mengatasi masalah tersebut dengan cara menitip beli pada pesuruh di rumah sakit, namun kadang kala pesuruh tersebut tak mudah juga ditemukan. Bila sudah seperti ini, urusan membeli kopi ini akan menjadi masalah saya yang akan disuruh untuk membeli ke toko yang menjual kopi Javaco. Dengan berbekal pesan yang harus diingat, “Kopi Javaco Arabica” dan kadang kala berbekal bungkus kertas coklat kopi ini sebagai contoh, saya akan berangkat naik angkot ke toko kelontong yang menjual kopi ini.

Interaksi saya dengan kopi ini tak sebatas hanya bertugas membeli saja. Dulu ketika SD, saya sangat suka kopi, bukan susu seperti lazimnya anak kecil dalam masa pertumbuhan, melainkan kopi hitam kental seperti kopi Bapak. Bedanya kopi Bapak disajikan dalam cangkir dan dinikmati sambil merokok keretek yang sebelumnya telah dibasahi ampas kopi yang Bapak peroleh dari permukaan kopi tersebut. Sedangkan saya menikmati kopi dalam gelas dan tentu saja tanpa rokok hehe. Saya akan meminta dibuatkan kopi, kadang pagi, siang atau malam. Tak mengenal waktu dan tak peduli dengan ledekan “seperti orang tua” atau “seperti mbah yang diberi sesaji” atau anggapan bahwa kopi bisa bikin bodoh.

Sudah lama cerita seputar kopi Javaco ini terkubur. Kefanatikan Bapak terhadap kopi ini pun berjurang. Baru diawal tahun 2014 lalu saya dapat lebih kenal dan mengetahui lebih jauh mengenai kopi Javaco. Saat itu saya secara tak sengaja menemukan alamat kopi Javaco ini tercatat pada buku telepon Bandung tahun 1936 (Telefoongids Bandoeng (Preanger) – Januari 1936). Pada buku telepon ini tercatat nama “Javaco, Koffiefabriek”, lalu ada nama Directeur: Lie Kiem Gwan dan alamat di Kanomanweg 46.

Saya ingin tahu siapakah sebenarnya “Liem Kiem Gwan” dan di manakah letak Kanomanweg yang asing bagi saya, karena sepengetahuan saya bahkan di kompleks jalan perwayangan di sekitar daerah Pajajaran pun tak ada jalan dengan nama demikian. Akhirnya saya memberanikan diri untuk singgah ke toko kopi yang terletak di jalan Kebonjati ini. Pada beberapa kesempatan saya dapat bertemu dengan Pak Hermanto dan Pak Budi, anak-anak dari keluarga pemilik pabrik kopi Javaco.

Kopi Javaco Bandung, menurut generasi ke-tiga pemilik kopi ini, sudah berdiri sejak tahun 1928. Menurut mereka Liem Kiem Gwan adalah pendiri kopi Javaco dan merupakan kakek mereka. Liem Kiem Gwan merantau dari Malang ke Bandung. Pada awalnya membuka usaha teh dan kopi, namun kemudian lebih fokus pada penjualan kopi saja. Sebagai bukti bahwa kopi Javaco ini berdiri sejak 1928 adalah alamat toko ini sudah tercatat pada “Gouvernements Bedrijf der Telefonie Interlocale Gids voor Java en Madoera” Uitgave Januari 1930, bijgewerkt tot 20 December 1929.

Sangat kebeteluan sekali pemilik kopi Javaco saat ini masih menyimpan buku telepon dari era kolonial tersebut. Keterangan yang tercatat dalam buku telepon Jawa & Madura 1930, pada halaman 31, adalah: Koffiefabriek Javaco Dir. Lie Kiem Gwan, Tjikakak 44-46 no telepon Bd 544. Ternyata pada buku tersebut ditemukan pula bahwa Lie Kiem Gwan juga membuka usaha percetakan/drukkerijen bernama “Javaco Press” dengan keterangan alamat yang sama dengan pabrik kopi Javaco.

Selanjutnya, pada buku telepon Bandung tahun 1936 (Telefoongids Bandoeng (Preanger) – Januari 1936) tercatat: Javaco, Koffiefabriek, Directeur: Lie Kiem Gwan, Kanomanweg 46, dengan nomor telepon Bd 156. Saat ini toko kopi Javaco beralamat di Jalan Kebonjati No. 69 menempati bangunan antik dua lantai yang didominasi warna putih dan hijau. Bagian depan bangunan ini dikhususkan sebagai toko untuk menjual produk-produk Javaco, sedangkan bangunan lantai atas serta bangunan belakang yang tembus hingga ke Jalan Durman difungsikan sebagai rumah tinggal keluarga pemilik kopi Javaco. Pak Hermanto, salah satu pemilik kopi Javaco saat ini, juga pernah berbaik hati memperlihatkan surat bangunan toko ini yang berangka tahun 1800-an dan memuat lambang Kerajaan Belanda pada kertasnya.

Letak toko ini sekitar 50 meter ke arah timur dari perempatan jalan Gardujati, Pasirkaliki dan jalan Kebonjati. Bangunan toko ini tepat bersebelahan dengan bekas Hotel Surabaya yang sekarang menjadi sebuah hotel moderen. Di antara kedua gedung ini terdapat sebuah jalan kecil bernama Gg. H. Basar.

Toko ini buka dari hari Senin hingga Sabtu. Pada hari Jum’at buka dari pukul 09:00 sampai 14:00. Saat ini toko kopi Javaco menjual 3 jenis kopi, grade satu yaitu kopi arabika, grade dua adalah melange/robusta dan grade ketiga diberi label tiptop. Dahulu jenis kopi yang dijual di toko ini ada 5 macam, termasuk after breakfast sudah tidak diproduksi lagi.

Memasuki toko Javaco akan segera terasa suasana tempo dulu yang masih tetap dipertahankan keasliannya. Mulai dari kotak surat yang masih bertuliskan Brieven di pintu depan, lantai keramik bermotif yang lawas, kaca patri, dan konter toko berbahan kayu jati. Selain itu ada juga benda-benda lawas seperti motor vespa antik atau mesin pengggiling kopi tempo dulu. Di dinding toko terpajang lukisan berukuran besar bergambar biji-biji kopi serta secangkir kopi dan sehelai daun kopi, di bagian bawah lukisan tertulis “van Plant tot Klant” (Tanaman bagi Pelanggan).

Toko kopi Javaco masih mempertahankan kemasan yang sudah menjadi ciri khasnya sejak lama. Bubuk kopi dikemas dalam kantong kertas coklat bergambar pabrik kopi dengan tulisan “Javaco Koffie”, di bagian atas bungkus tertulis harga dalam bahasa Belanda “Prys/Prijs“. Pada bagian bawah kemasan tertulis “Dapat dibeli di Kebonjati 69, Bandung-Indonesia.” Kemasan coklat ini dapat terus dipergunakan untuk menyimpan kopi yang sudah dibeli agar aromanya tidak hilang dengan saran agar disimpan di toples kaca yang kedap udara. Selain dapat dibeli di tokonya langsung, kopi produksi Javaco juga dapat dibeli di beberapa toserba, di antaranya toko “P&D Setiabudhi”, yang  menurut pak Hermanto serta pak Budi, telah menjadi pelanggan kopi Javaco sejak lama.

Bila toko tempat menjual kopi Javaco terletak di Jl. Kebonjati, maka pabrik tempat mengolah dan menyimpan biji-biji kopi sebenarnya terletak terpisah, yaitu di Jalan Kasmin. Pabrik kopi ini memiliki dan mendatangkan kopi dari kebun-kebun mereka yang terletak di Jawa Timur. Pabrik ini menggunakan dua jenis pengolahan yaitu Wet Indische Bereiding disingkat WIB yang artinya pengolahan basah serta Ost Indische Bereiding (OIB) yang artinya pengolahan kering.

Demikianlah sekilas cerita salah satu produsen kopi tertua di Bandung.


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Kelas Menulis

2014-12-21 Kelas Menulis

Sampurasun! Hari Minggu (21/12/2014) kita akan Kelas Menulis bersama Ridwan Hutagalung (Admin : Mooibandoeng). Mari kita mencari tahu lebih mengenai bagaimana menulis dengan benar dan efektif. Penasaran?

Yuk, kumpul di Kedai Preanger, Jalan Solontongan No. 20-D jam 13:00. Bagi Aleutians yang tertarik untuk ikut di dalam kegiatan ini silakan konfirmasikan kehadiranmu dengan cara SMS ke nomor 0896-8095-4394. Formatnya cukup dengan cantumkan namamu dan kesediaan untuk hadir. Ingat, konfirmasi kehadiran ini hukumnya WAJIB.

Sekian saja Info Aleut pagi ini. Mari belajar bersama.


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Jalur Kedokteran (14/12/2014)

Jalur Kedokteran 2014

‪#‎InfoAleut‬ Hari Minggu (14/12/2014) kita akan Ngaleut… “Jalur Kedokteran”. Mari kita mencari tahu lebih mengenai beberapa dokter yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di Bandung.

Siapakah dr. Tjipto? Siapakah dr. Rubini? Apa saja kiprah dr. Eijkman? Mari kita cari tahu bersama.

Kumpul di Taman Otten (seberang pintu selatan RS Hasan Sadikin) pukul 07.30. Bagi Aleutians yang tertarik untuk ikut di dalam ngaleut ini silakan konfirmasikan kehadiranmu dengan cara SMS ke nomor 0896-8095-4394. Formatnya cukup dengan cantumkan namamu dan kesediaan untuk hadir. Ingat, konfirmasi kehadiran ini hukumnya WAJIB

Sekian saja Info Aleut malam hari ini. Mari belajar bersama


Meninggalkan komentar

Cerita Sebuah Donat di Pagi Hari

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

IMG_20141207_091951

do·nat n kue yg dibuat dr tepung terigu, mentega, gula, dsb, berbentuk bundaran yg berlubang di tengahnya

Pagi itu saat Ngaleut Jelajah Taman dan Villa, sebetulnya saya sudah sarapan dan hanya berniat untuk membeli sebotol kecil teh susu di Roti Gempol, namun niat itu luluh saat saya berjalan menuju meja kasir. Tak sampai sejengkal dari meja kasir, hidung saya mencium aroma khas donat yang baru saja diangkat dari penggorengan (iya, hidung saya memang sedikit hipersensitif kalau menyangkut urusan makanan). Tanpa pikir panjang saya mengeluarkan ekstra Rp 4.500,00 dari dompet saya untuk satu buah donat yang ditaburi gula tepung. Dalam waktu kurang dari 3 menit, donat itu sudah berada di dalam sistem pencernaan saya.

***

Asal-usul Donat

Berhubung saya hanya sebagai ahli (memakan) donat, maka kutip penjelasan mengenai asal-usul donat dari Wikipedia.

Asal-usul donat sering menjadi sumber perdebatan. Salah satu teori mengatakan donat dibawa ke Amerika Utara oleh imigran dari Belanda yang juga memopulerkan hidangan penutup lain, seperti: kue kering, pai krim (cream pie) dan pai buah (cobbler).

Cerita lain mengatakan donat berbentuk cincin diciptakan kapten kapal asal Denmark bernama Hanson Gregory. Sang kapten sering harus menyetir kapal dengan kedua belah tangan karena kapal sering dilanda badai. Kue gorengan yang dimakan ketika sedang menyetir ditusukkan ke roda kemudi kapal, sehingga kue menjadi bolong. Kebetulan bagian tengah kue juga sering belum matang, sehingga donat sengaja dibuat berlubang di tengah agar permukaan donat yang terkena minyak bertambah dan donat cepat matang.

***

Donat dan Indonesia

Jika dilihat dari kacamata kuliner lokal, jelas donat tidak masuk ke dalam katogeri kuliner nusantara mengingat merupakan produk asing (populer di Amerika). Alhamdulillah, sampai tulisan ini di-publish juga saya belum menemukan kajian serius antara donat dengan Zionisme maupun fatwa yang melarang untuk menyantap donat dengan alasan donat merupakan makanan asal Amerika Serikat yang merupakan sekutu Israel.

Di Indonesia, kita dapat menjumpai donat dengan berbagai tekstur, rupa, dan harga. Mulai dari yang teksturnya mirip batu bata hingga yang bisa lumer dengan mudah di mulut, dari yang harganya Rp. 1.000,00 hingga Rp 20.000, dan dari yang berupa seperti bola tenis hingga berupa… donat. Dengan mudah dapat melihat beberapa kotak donat yang berada di boncengan motor di pagi hari. Setidaknya kita akan melihat dua motor membawa berkotak-kotak donat, akan lebih banyak jika rumahmu tak jauh dari pabrik pembuatan donat, dan bahkan lebih banyak lagi jika di kampusmu sedang ada kegiatan danus.

Inti dari omong kosong dalam paragraf di atas adalah, donat telah menjadi bagian dari kehidupan orang Indonesia meskipun berasal dari luar Indonesia. Lihat saja bagaimana menjamurnya penjualan donat di Indonesia, mulai dari donat yang dijual oleh franchise di banyak mal dan pusat perbelanjaan lainnya hingga donat yang dijual di warung kecil dan pedangang keliling. Seringkali donat dianggap sebagai makanan Barat yang mewah, padahal dengan Rp 1.000,00 pun kita dapat menikmati sebuah donat.

Tulisan ini bukanlah propaganda, tapi menjadi pengingat bahwa suka atau tidak suka kekayaan kuliner di Indonesia itu juga dipengaruhi budaya dan kekayaan kuliner dari luar negeri. Seringkali fakta ini terabaikan atas nama nasionalisme.

___

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2014/12/10/cerita-sebuah-donat-di-pagi-hari/


Meninggalkan komentar

Rumah Zaman Kolonial = Tidak Canggih?

Oleh: Mohamad Salman (@vonkrueger)

20141207_101826

Ya, saya suka dengan rumah-rumah jaman kolonial. Meskipun kadang orang melihatnya sebagai lambang penjajahan, sarang jurig, saya tetep aja suka. Bahkan saya berpikir kalau nanti bikin rumah sendiri, bakal bikin replika atau setidaknya banyak ngambil gaya-gaya rumah kolonial.

Banyak yang bingung ketika saya bilang saya suka dengan rumah-rumah kolonial. Yang sering jadi omongan adalah “ngapain ingin yang kayak gitu, jadul, ga matching sama jaman serba canggih kayak sekarang.” Sebenarnya kalau kita lihat, telaah dan perhatikan lebih dalam, rumah-rumah tua sarang jurig ini sebetulnya lebih canggih dari kebanyakan rumah sekarang.

Rumah kolonial biasanya punya fitur yang khas: pintu dan jendela yang besar. Bagi kebanyakan orang, pintu dan jendela besar ini untuk mengakomodasi bule-bule Belanda yang emang lebih besar dari orang Indonesia. Padahal bukan (hanya) itu. Pintu dan jendela-jendela besar itu sengaja dibuat sebagai jalan angin masuk, dan pada akhirnya membantu sirkulasi udara dan menyejukkan isi rumah.

Nah, konsep pintu rumah sebagai alat ventilasi ini menemukan bentuknya yang paling canggih dalam Dutch Door. Pintu ini dibagi secara horisontal ditengah-tengah, sehingga bagian bawah bisa ditutup sementara bagian atas tetap terbuka. Asalnya pintu ini dibuat untuk menjaga supaya binatang atau anak kecil bisa dijaga supaya tidak keluar masuk rumah sembarangan, tanpa menutup aliran udara. Ternyata, selain menjaga binatang dan anak kecil, pintu bawah yang tertutup juga bisa menahan debu jalanan masuk ke rumah.

Dutch Door

Itulah kenapa ketika kita masuk ke dalam rumah kolonial, kita akan merasa udara di dalam lebih sejuk/tiis dibanding udara di luar. Selain bukaan rumah (pintu dan jendela) yang besar, lubang ventilasinya juga bejibun. Taman luas disekeliling, atau minimal depan dan belakang rumah. Lalu jarak antara lantai dengan plafon, juga loteng yang terhitung besar. Jauh sebelum orang-orang ribut mencari alternatif menyejukkan rumah tanpa AC, rumah-rumah jadul ini sudah menerapkan jawabannya.

 

Jadul-jadul juga canggih, kan? :D

___

Tautan asli: http://msvonkrueger.wordpress.com/2014/12/09/rumah-zaman-kolonial-tidak-canggih/


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Jelajah Taman dan Villa (07/12/2014)

2014-12-04 Taman dan Villa

#‎InfoAleut‬ Selamat pagi Aleutians! Hari Minggu (07/12/2014) kita bakal Ngaleut… “Jelajah Taman dan Villa”!

Sesuai dengan judulnya, kita bakal menelusuri beberapa kawasan yang dulunya diperuntukan sebagai taman dan villa. Kawasan mana sajakah itu? Bagaimana kondisinya saat ini? Mari kita cari tahu bersama.

Kumpul di Taman Citarum (Seberang Masjid Istiqomah) mulai pukul 07.30 WIB. Bagi Aleutians yang tertarik bergabung silakan konfirmasikan kehadiranmu melalui SMS ke nomor 0896-8095-4394. Formatnya cukup dengan cantumkan namamu dan kesediaan untuk hadir. Ingat, konfirmasi kehadiran ini hukumnya WAJIB :)

Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo ikutan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :D


Meninggalkan komentar

Catatan Perjalanan : Ngaleut dan Belajar bersama IYAF 2014

Oleh : Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Bandung, dasar di danau

lari tertumbuk di bukit – bukit

Ramadhan K.H – Tanah Kelahiran 6

Kumpul bersama di Jalan Cikapundung Timur

Kumpul bersama di Jalan Cikapundung Timur

Senin itu, IYAF (Indonesian Youth Agriculture Forum) dan Komunitas Aleut bekerja sama dalam kegiatan bersama. Isi kegiatan bersama tersebut yakni ngaleut dan belajar bersama. Peserta kegiatan saat itu berasal dari anggota IYAF yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. IYAF adalah sebuah forum mahasiswa – mahasiswa untuk mendiskusikan dan memberi solusi atas masalah pertanian di Indonesia.

Peserta kegiatan di Titik Nol Bandung

Peserta kegiatan di Titik Nol Bandung

Dengan mengambil rute Jalan Braga dan sekitarnya, peserta kegiatan yang berjumlah 51 orang memulai dengan berjalan dari Jalan Cikapundung Timur ke Titik Nol Bandung. Dalam perjalanannya, peserta kegiatan dipandu oleh Vecco dan Herdi sebagai perwakilan dari Komunitas Aleut. Di lokasi Titik Nol Bandung, Herdi dan Vecco mulai bercerita mengenai asal mula Titik Nol Bandung dan hubungannya dengan Jalan Raya Pos.

Peserta kegiatan di depan Hotel Preanger

Peserta kegiatan di depan Hotel Preanger

Setelah dari Titik Nol Bandung, para peserta diarahkan ke Hotel Preanger. Saat di depan Hotel Preanger, para peserta diceritakan mengenai para Preanger Planters yang sering turun gunung ke Bandung untuk berbelanja. Selain kisah para Preanger Planters, peserta kegiatan diceritakan juga mengenai juru gambar Hotel Preanger yang kelak menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Peserta kegiatan di Hotel Savoy Homann

Peserta kegiatan di Hotel Savoy Homann

Setelah dari Hotel Preanger, para menyeberang menuju Hotel Savoy Homann. Di sini dua anggota Komunitas Aleut mulai bercerita mengenai salah satu hotel tertua di Bandung ini. Selain cerita sejarah hotel Savoy Homann, ada juga cerita mengenai delegasi – delegasi Konferensi Asia Afrika 1955 yang menginap di Hotel Savoy Homann.

Memasuki Jalan Braga, para peserta mulai menghadapi hambatan yakni trotoar yang sedang diperbaiki. Karena hambatan tersebut, para peserta terpaksa berjalan di tepi jalan khusus untuk kendaraan bermotor.

Peserta kegiatan di depan Rathkamp

Peserta kegiatan di depan Rathkamp

Di ruas jalan ini, Herdi dan Vecco menceritakan asal mula nama Braga dan kisah-kisah Jalan Braga pada masa kolonial. Selain itu para peserta mendapat cerita-cerita mengenai toko serba ada De Vries dan perkumpulan Societeit Concordia yang punya peran penting dalam perkembangan kota Bandung. Umumnya mereka cukup kaget mendengar kisah kamar mandi di dalam toko De Vries yang merupakan hal pertama di Bandung saat itu.

Peserta kegiatan di depan New Majestic Theater

Peserta kegiatan di depan New Majestic Theater

Pada lokasi berikutnya, atau titik yang kelima, kami membuka cerita dengan ketokohan arsitek C.P. Wolff Schoemaker, dilanjutkan dengan bioskop Majestic dan Hotel Braga yang sekarang menjadi Hotel Ibis style Bandung Braga. Tak lupa, kami sampaikan juga tentang sebuah toko terkenal di Braga, Au Bon Marche yang sekarang menjadi Café Zombie.

“Siapa yang tak kenal Sutan Syahrir dan Soekarno?” Adalah pertanyaan pembuka sebelum kami menceritakan latar belakang sebuah bangunan yang menjadi titik keenam. Di sini, Herdi dan Vecco bercerita mengenai bangunan yang dulu bernama Ons Genoegen. Selain tentang gedungnya, kami ceritakan juga pertemuan antara Sutan Syahrir dengan Soekarno di Ons Genoegen.

Peserta kegiatan di dalam Sumber Hidangan

Peserta kegiatan di dalam Sumber Hidangan

Setelah berjalan cukup jauh, para peserta yang mulai kelelahan mencari tempat makanan ringan di Jalan Braga. Untungnya, titik ketujuh kegiatan ini adalah Sumber Hidangan atau dulu bernama Het snoephuis. Dengan menggunakan waktu 15 menit dan 30 ribu, setiap peserta mulai memilih makanan yang tersaji di ruang saji. Ada yang membeli satu atau dua buah kue. Ada juga yang membeli sampai lima hingga sepuluh kue Sumber Hidangan.

Pada titik kedelapan, para peserta mendapatkan cerita-cerita di balik Gedung Gas Negara. Ada peserta kegiatan yang menceritakan pengalaman masuk Gedung Gas Negara saat pameran foto mengambil lokasi di gedung tersebut. Selain cerita pengalaman masuk, Vecco dan Herdi juga bercerita mengenai proses distribusi gas sebelum masa kemerdekaan Indonesia.

Dalam istirahat kedua di gedung Landmark, para peserta memakai tangga masuk untuk menjadi tempat duduk. Selain beristirahat, para peserta mengambil sela – sela waktu istirahat untuk berfoto bersama dengan latar pintu masuk Landmark. Setelah beristirahat, Vecco dan Herdi mulai bercerita mengenai Landmark yang sebelumnya bernama penerbit Van Dorp.

Peserta kegiatan mendengar Bank indonesia

Peserta kegiatan mendengar Bank indonesia

Dengan mengambil tempat di depan Bank Indonesia, anggota Komunitas Aleut menceritakan dan memperlihatkan Bank Indonesia tempo dulu. Pada titik terakhir ini, para peserta berdecak kagum dengan keindahan dan kemegahan bangunan Bank Indonesia yang memang sudah terkenal.

Titik akhir di Taman Balai Kota

Titik akhir di Taman Balai Kota

Pada akhir kegiatan, para peserta dan Komunitas Aleut beristirahat dan berbagi kesan di Taman Balai Kota. Sayang, saat penyerahan piagam dari IYAF ke Komunitas Aleut, hujan besar turun di taman. Oleh karena itu, kami melanjutkan penutupan kegiatan bersama dilakukan di dalam bis.

Sumber Foto :

@IYAF2014

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 11.365 pengikut lainnya.