Dunia Aleut!

Catatan Bandung karya Komunitas Aleut!


Meninggalkan komentar

Melihat Wajah Baru Alun-alun Bandung

Alun-alun Bandung

Alun-alun Bandung (foto: Arya Vidya Utama)

Setelah selesai direnovasi dan diresmikan pada 31 Desember 2014, Alun-alun Bandung kini menjadi primadona wisata warga Kota Bandung. Hamparan rumput sintetis di tengah kawasan kini dipenuhi pengunjung untuk sekedar duduk-duduk atau untuk bermain bersama buah hati. Renovasi yang memakan waktu 7 bulan dan menghabiskan biaya 10 miliar Rupiah berhasil menghilangkan kesan kumuh yang melekat pada Alun-alun Bandung dalam satu dekade terakhir.

Ramainya kunjungan membuat Alun-alun Bandung menjadi fenomena baru di Kota Bandung. Lini masa berbagai media sosial kini dipenuhi dengan foto Alun-alun Bandung, baik itu foto selfie maupun foto keramaian di dalam komplek ini. Fenomena ini kemudian menjadi sebuah anekdot, bahwa selain musim hujan dan musim kemarau, di Kota Bandung sedang musim berfoto di Alun-alun.

Kondisi terkini Alun-alun mengembalikan fungsinya yang sempat hilang. Kemunculan mal yang dimulai pada era 90-an memperparah keadaan. Pusat keramaian warga Bandung bergeser perlahan dari Alun-alun dan kemudian menyebar ke beberapa titik yang terdapat mal di Kota Bandung. Hal ini membuat Alun-alun ‘mati suri’ selama hampir dua puluh tahun.

***

Tak pas rasanya jika membicarakan Alun-alun Bandung tanpa membahas sejarahnya terlebih dahulu. Alun-alun Bandung muncul seiring dengan perpindahan Ibukota Kabupaten Bandung dari Karapyak (Dayeuh Kolot) ke daerah sebelah selatan Jalan Raya Pos pada tahun 1810. Bisa dibilang Alun-alun adalah lapangan terbuka untuk umum pertama yang ada di Bandung setelah perpindahan Ibukota.

Menurut Haryoto Kunto dalam buku Semerbak Bunga di Bandung Raya, pada dasarnya alun-alun merupakan halaman depan rumah kediaman penguasa lokal. Alun-alun dalam Bahasa Jawa artinya ombak lautan. Halaman tempat kediaman penguasa lokal diasosiasikan dengan ombak lautan karena aktivitas seperti pemerintahaan, perdagangan, budaya, dan keagamaan berpusat di seputar lingkungan kediamaan penguasa lokal.

Seperti alun-alun di Pulau Jawa pada umumnya, Alun-alun Bandung juga dipengaruhi oleh kebudayaan Mataram Islam. Komponen yang melengkapi alun-alun di Mataraman dihiasi dengan empat komponen, yaitu masjid, istana raja/bupati, rumah patih, dan pasar. Maka tak heran jika lingkungan di sekitar Alun-alun Bandung mirip dengan kondisi Alun-alun di daerah Jawa.

Alun-alun Bandung dari masa ke masa

 

Alun-alun Bandung di awal penggunannya selain digunakan sebagai tempat aktivitas warga, juga pernah digunakan sebagai tempat eksekusi mati. Mereka yang diputus hukuman mati di Bale Bandung (berlokasi di bekas lahan Nusantara) akan dijerat tali yang terpasang di Alun-alun Bandung. Mereka yang akan dieksekusi akan dikalungi secarik kertas yang berisi kesalahan yang diperbuat.

Pada sekitar tahun 1900-an, Alun-alun Bandung memiliki fungsi sebagai stadion sepak bola karena minimnya stadion sepak bola pada saat itu. Pertandingan yang dilangsungkan bertaraf nasional, biasanya antar klub sepak bola di Hindia Belanda. Kegiatan sepak bola di Alun-alun Bandung ini akhirnya berhenti dilaksanakan pada sekitar tahun 1920-an seiring dilarang digunakannya Alun-alun sebagai stadion sepak bola dan juga beberapa klub sepak bola di Bandung sudah memiliki stadion sepak bola sendiri.

Alun-alun terus mengalami perubahan hampir setiap satu dekade sekali, dimulai sejak tahun 1954 pada saat menjelang Konfrensi Asia-Afrika hingga yang terakhir dilakukan oleh Ridwan Kamil pada tahun 2014. Total setidaknya telah terjadi perubahan selama tujuh kali sejak 1950.

***

Alun-alun kini menggunakan kombinasi batu andesit dan rumput sintetis. Di tengahnya membentang hamparan rumput sintetis seluas 4.800 m2, sedangkan sisanya menggunakan batu andesit. Di kedua sudut sebelah selatan Alun-alun terdapat taman yang ditumbuhi tanaman-tanaman kecil, sedangkan di sudut kanan sebelah utara terdapat arena bermain anak seperti jungkat-jungkit dan ayunan.

Petugas keamanan Alun-alun yang merupakan gabungan dari Linmas dan Satpol PP Kota Bandung mengamankan Alun-alun. Mereka ditempatkan di setiap sudut taman dan terus berpatroli keliling. Selain menjaga keamanan, petugas keamanan juga seringkali menghimbau para pengunjung untuk berhati-hati dalam membawa barang bawaan terutama anak kecil yang membawa ponsel untuk berfoto.

Kondisi Alun-alun cukup bersih. Tempat sampah tersedia di banyak titik dan sudut. Kondisi ini disebabkan karena kesadaran para pengunjung untuk tertib membuang sampah cukup tinggi dan patroli keamanan sesekali membantu memunguti sampah yang tercecer. Namun di beberapa titik masih terlihat adanya sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung.

Pengunjung datang ke Alun-alun umumnya untuk melepas penat akibat lelah bekerja. Mereka datang bersama keluarga ataupun bersama pasangan untuk sekedar duduk-duduk menikmati keadaan, botram, atau bercengkrama di rumput sintetis. Jumlah pengunjung per hari bisa mencapai ribuan orang dengan puncak keramaian di hari Sabtu dan Minggu. Bahkan menurut salah satu petugas keamanan, kunjungan di hari Sabtu akan terus ramai hingga pukul 5 pagi di hari Minggunya.

Penggunaan rumput sintetis alih-alih penggunaan rumput biasa sempat menjadi polemik. Namun Walikota Bandung, Ridwan Kamil, di akun Twitter-nya pada 27 Desember 2014 menjelaskan bahwa apabila lapangan tersebut diurug tanah, bebannya terlalu berat untuk dua lantai basement yang ada di bawahnya. Selain itu, rumput sintetis yang dipasang awet untuk digunakan selama 10 tahun.

Rumput sintetis ini dirasa cukup nyaman bagi beberapa pengunjung. Para pengunjung, terutama orang tua yang membawa anaknya, menjadi tak khawatir saat anak-anak mereka bermain di atas rumput sintetis. Hal ini disebabkan karena rumput sintetis relatif aman dan dan resiko akibat terjatuh lebih kecil dibandingkan ketika terjatuh di permukaan yang lebih kasar seperti tanah. Selain itu, para orang tua tidak terlalu khawatir anaknya kotor akibat berguling-guling di atas rumput sintetis.

Alas Kaki Pengunjung yang Disimpan di Sisi Rumput Sintetis

Alas Kaki Pengunjung yang Disimpan di Sisi Rumput Sintetis (Foto: Arya Vidya Utama)

Untuk dapat berkegiatan di rumput sintetis Alun-alun, pengunjung harus melepas alas kakinya terlebih dahulu. Sayangnya, tidak ada rak penyimpanan untuk alas kaki, sehingga alas kaki para pengunjung disimpan di sisi rumput. Hal ini menimbulkan kesan tidak rapi dan faktor keamanan alas kaki juga terbaikan. Untuk menyiasatinya, pengunjung dapat membeli kantong keresek yang dijual oleh beberapa orang pedagang. Alas kaki yang sudah terbungkus keresek dapat anda bawa ke dalam rumput dan mempermudah pengawasannya.

Di sekeliling Alun-alun terdapat beberapa pedagang asongan yang berjualan. Kebanyakan dari mereka menjual minuman, makanan ringan, dan bola karet yang biasa digunakan untuk bermain bola di atas lahan rumput sintetis. Menurut beberapa pengunjung, keberadaan pedagang asongan ini cukup membantu karena tidak adanya kios penjual makanan, minuman, dan bola karet di Alun-alun. Sampai saat ini, para pedagang kaki lima ditempatkan di basement. Keberadaan para pedagang asongan juga perlu menjadi perhatian pengurus Alun-alun karena dapat mengancam kebersihan Alun-alun.

Bus Bandros (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

 

Selain berwisata di Alun-alun, pengunjung juga dapat berwisata dengan Bus Bandros. Bus yang sudah beroperasi sejak bulan Juli 2014 ini akan membawa anda berkeliling sekitar Bandung dengan rute: Alun-alun, Jl. Banceuy, Jl. Braga, Jl. Lembong, Jl. Sunda, Jl. Diponegoro, Jl. Dago, Jl. Merdeka, Jl. Tamblong, Jl. Asia-Afrika, Jl. Oto Iskandardinata, Jl. Kepatihan, dan kembali ke Alun-alun. Untuk naik bus ini, anda perlu merogoh kocek Rp 10.000,00 untuk satu kali perjalanan. Bus Bandros beroperasi setiap hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 08.00 hingga pukul 15.00.

Menara Kembar Masjid Raya Bandung (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

 

Wisata lain yang dapat dilakukan di Kawasan Alun-alun adalah Menara Kembar. Menara ini terdapat di kedua sisi Masjid Raya Bandung, hasil dari perubahan wajah Masjid pada tahun 2001. Masing-masing menara mempunyai ketinggian 81 meter dan jika ditambah dengan tinggi fondasi menara, ketinggian totalnya mencapai 99 meter yang merupakan simbol dari Asmaul Husna (99 Nama Allah swt.). Dari atas menara, pengunjung dapat melihat pemandangan Bandung dari ketinggian. Menara ini dapat diakses setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.30, dengan tiket masuk Rp 3.000,00 untuk dewasa dan Rp 2.000,00 untuk anak-anak. Menara yang saat ini bisa diakses adalah menara yang terdapat di sisi utara Alun-alun, sedangkan menara di sisi selatan Alun-alun yang sedang dalam perbaikan dapat diakses bulan depan.

Pemandangan Dari Atas Menara Kembar (Foto: Al-Amin Siharis)

 

***

Perubahan Alun-alun Bandung akan berdampak langsung pada Masjid Raya Bandung yang berada di kawasan yang sama, begitu juga sebaliknya. Sejak didirikan pada tahun 1810, masjid ini telah tiga belas kali dirombak; delapan kali di abad ke-19, dan lima kali pada abad ke-20. Perubahan terakhir terjadi pada tahun 2001, di mana saat Masjid Raya Bandung diperluas, Alun-alun berubah menggunakan konblok dan di bawahnya dibangun basement 2 lantai.

Keramaian Alun-alun saat ini berdampak positif pada Masjid Raya Bandung. Sejak Alun-alun berumput sintetis, jamaah yang shalat di Masjid Raya menjadi semakin meningkat. Hal ini dicatat dengan baik oleh pengurus Masjid Raya Bandung. Peningkatan pengunjung di Masjid Raya juga menambah jumlah uang kencleng yang diterima pihak pengurus. Dari semula rata-rata per bulan hanya 12 juta, sekarang bisa mencapai angka 20 juta per bulan.

Namun selain dampak positif, Masjid Raya Bandung juga terkena dampak negatif. Sejak dibukanya Alun-alun baru, memang permasalahan kebersihan di area masjid berkurang karena minimnya PKL jika dibandingkan dengan wajah sebelumnya. Namun, kurangnya kesadaran para pengunjung masjid membuat masalah kebersihan masih menjadi PR yang belum sepenuhnya terselesaikan bagi Masjid Raya Bandung.

Anak Kecil yang Bermain Bola di Dalam Masjid (Foto: Arya Vidya Utama)

Dalam kaitannya dengan ritual ibadah shalat, kehadiran para pengunjung Alun-alun terbilang cukup mengganggu. Gangguan ini disebabkan oleh banyaknya anak-anak yang berlari-lari sambil main bola dan gaduhnya obrolan para pengunjung yang sedang beristirahat di dalam masjid. Untuk mengatasi masalah ini, pengurus secara berkala menghimbau lewat pengeras suara agar pengunjung lebih tertib. Sayangnya suara yang keluar dari pengeras itu terdengar kurang jelas. Ada juga beberapa hal yang dinilai kurang pantas dilakukan oleh pengunjung di dalam masjid, seperti memakai rok pendek saat berkunjung dan membagikan selebaran tentang seminar menangkap peluang penghasilan.

Berfoto-foto di Dalam Masjid Raya Bandung (Foto: Irfan Teguh Pribadi)

 

***

Alun-alun Bandung saat ini telah berhasil kembali kepada fungsinya sebagai ruang publik dan tempat berinteraksi warga Bandung yang sempat hilang dalam dua dekade terakhir. Namun keberhasilan ini perlu dibarengi dengan perbaikan di beberapa sisi seperti sistem penyimpanan alas kaki, dan penanggulangan dampak negatif terhadap Masjid Raya Bandung.

____

Catatan: Pengumpulan data dilakukan pada 25 Januari 2015.

Para Kontributor Tulisan (Foto: Arya Vidya Utama)

 

Kontributor:

Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Candra Asmara S. (@candraasmoro)

Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Nasir Abdurachman

Ganesha Wibisana (@wibisanaaa)

Bambang Satriya (@bamuban)

Gita Diani Astari (@gitadine)

Hanifia Arlinda (@niviarlinda)

Nida Mujahidah Fathimah (@denidaa_)

Yuningsih

Arif Abdurahman (@yeaharip)

Yanti Maryanti (@adetotat)

Reza Nugraha (@aphrareja)

Rizal N.

Fajar A. (@fajarraven)

Deris Reinaldi

Taufik N. (@abuacho)

Kukun Kusnandar

Syamsul Arifin

Eka Arif Kurniawan (@ekaarif)

Iyan Supiyani (@AangIanzHolic)

Fuji Rahmawati (@nersfuji)

Alifia Rachmanitia Sudrajat

Al-Amin Siharis (@amincun)


Meninggalkan komentar

Tebing Keraton

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

Pemandangan Dari Tebing Keraton

Sejak 2006 kenal tempat ini dengan nama Cadas Gedogan. Pemandangan dari atas tebing ke arah Maribaya memang bagus, apalagi pagi atau sore hari. Sekarang tempat ini mendapatkan nama baru, Tebing Keraton, yang konon muncul dari sebuah mimpi. Cerita terus berkembang, di antaranya sebagai pusat kerajaan mahluk halus, lokasi tambatan kuda kerajaan yang disebut Batu Gadogan, dan sebuah curug kecil di bawahnya yang bernama Cikiih Kuda.

Sejak Mei 2014 lokasi ini menjadi sangat populer sebagai objek wisata. Sejak dini hari sudah menerima banyak tamu bermobil atau motor yang menunggu matahari terbit, atau sore hari menjelang matahari tenggelam. Pemandangan kabut di bawah lembah atau berkas cahaya matahari jadi objek foto favorit.

Sekarang lokasi ini dikelola oleh Tahura Ir. Djuanda. Untuk masuk dikenakan biaya Rp.11 ribu. Batuan tebing yang menjorok dirapikan dengan beton dan diberi pagar demi keamanan pengunjung. Jalan setapak yang tadinya tanah dan rumput sudah diberi semen dan dibangun pula sebuah gapura, mengesankan gapura keraton.

Di sisi jalan utama Ciharegem Puncak sudah muncul banyak warung, salah satunya memasang spanduk dengan tulisan “Kampung Keraton”. Digelar pula kegiatan-kegiatan budaya Sunda. Saya coba cari satu rumah petani yang dulu biasa saya singgahi bila lewat kawasan ini, ternyata tak berhasil saya temukan, mungkin karena saya pangling dengan suasana baru yang ada.

Di dekat lokasi ini masih terdapat makam keramat Embah Gembong yang dianggap sebagai leluhur Kampung Ciharegem. Di salah satu puncak bukit di bawah lembah ini juga masih terdapat makam keramat yang walaupun cukup terpencil namun masih dikunjungi peziarah. Untuk menuju makam keramat ini harus mengambil jalan dari arah Maribaya.


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Menikmati Alun-alun Bandung

2015-01-25 Menikmati Alun-Alun Bandung

#InfoAleut Hari Minggu (25/01/2015) kita akan… “Menikmati Alun-alun”. Mari bersama-sama menikmati suasana alun-alun sekaligus mencari tahu mengenai fenomenanya.

Seperti apa Alun-alun Bandung dari masa ke masa? Apakah ada perubahan fungsi Alun-alun Bandung? Mengapa sekarang Alun-alun Bandung jadi tempat yang nge-hits? Mari kita cari tahu bersama :D

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di dekat Shelter Bus Bandros Alun-alun Bandung pukul 07.30 WIB. Bawa alat tulis karena kita akan mencatat beberapa hal yang akan kita cari tahu bersama. Jangan lupa, konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup dengan SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah :)

Cara Gabung Aleut
Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :)

Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :)


Meninggalkan komentar

Penyintas Identitas

Oleh: Ariono Wahyu (@A13xtriple)

Europa Europa-1B

Solomon Parel (Solek)  adalah salah seorang penyitas genosida Perang Dunia Kedua. Dia berhasil selamat dengan cara menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Yahudi. Kisah Solek yang diperankan oleh Marco Hofschneider ini menjadi inti cerita film “Europa, Europa” (1990). Judul asli film ini adalah “Hitlerjunge Salomon” dan merupakan adaptasi dari autobiografi Solomon Parel yang berjudul “Ich war Hitlerjunge Salomon” (1989).

Menonton film ini sekarang mengingatkan pada sebuah film lain, “The Human Stain” (2003), yang berkisah tentang pentingnya identitas bagi seseorang. Dalam film “The Human Stain” si tokoh utama menyembunyikan identitas rasnya sebagai keturunan etnis Afrika-Amerika, sedangkan “Europa, Europa” mengisahkan bagaimana perjuangan seorang Yahudi menyembunyikan identitas dengan berpura-pura menjadi seorang keturunan ras Arya.

Bagaimana indentitas seseorang menjadi faktor pembeda sekaligus faktor yang mempersatukan, konflik dan arti indentitas  suku bangsa, agama, ras dan bahkan golongan, semuanya diceritakan dalam film ini. Seorang pemuda Yahudi berusaha menghilangkan identitas fisiknya dengan cara menarik kulup penisnya agar tak terlihat bahwa dia disunat. Solek memperoleh ide tersebut ketika melihat Leny (Julie Delpy), gadis Jerman yang dicintainya menarik sweaternya menutupi kepalanya.

Dalam film ini juga diceritakan betapa ukuran-ukuran fisik  yang diklaim merupakan ciri suatu ras yang paling unggul, ternyata bisa salah. Pada suatu adegan, Solek harus diukur oleh gurunya berdasarkan ukuran-ukuran bangsa Arya, ternyata fisik Solek memenuhi kriteria sebagai keturunan ras Arya, walaupun tidak murni (campuran). Sungguh menggelikan bahwa ada ukuran-ukuran fisik yang dapat menentukan identitas seseorang merupakan ras yang paling mulia. Tapi bukan hanya ukuran fisik seperti lingkar kepala, bentuk hidung saja, bahkan cara berjalan seseorang pun bisa menjadi ciri khas suatu bangsa. Sungguh pemujaan  berlebihan terhadap keunggulan identitas fisik suatu bangsa dapat membuat kekonyolan.

Bukan hanya tantangan ciri fisik yang harus dihadapi oleh Solek. Dia juga harus bergelut dengan masalah identitas kepercayaannya (agama). Saat tinggal di asrama yatim piatu di Grodno, Uni Soviet, Solek menjadi seorang ateis, padahal dia tumbuh dan dibesarkan sebagai Yahudi yang taat. Ketika berpura-pura menjadi seorang Jerman, dia pun harus menjadi seorang Kristen.

Namun identitas juga dapat menjadi faktor pemersatu, perasaan senasib yang mengikat kebersamaan. Saat pertama kali bergabung dengan pasukan Nazi Jerman, Solek yang berpura-pura sebagai seorang keturunan ras Arya dan memanfaatkan kemampuannya berbahasa Jerman, menjalin persahabatan dengan prajurit Nazi bernama Robert (André Wilms). Ternyata Robert adalah seorang gay, dan mengetahui jika Solek adalah seorang Yahudi. Karena baik Robert maupun Solek merasa memiliki identitas rahasia yang dapat mengancam nyawa mereka masing-masing, mereka kemudian menjadi sahabat yang dipersatukan oleh perasaan senasib. Baik Solek maupun Robert memiliki identitas yang sangat dibeci oleh Nazi, yaitu Yahudi dan gay.

Bahasa sebagai salah satu identitas suatu bangsa berperan besar sebagai penyelamat bagi Solek. Solek yang lahir dan dibesarkan di Jerman, dan kemudian tinggal dan mendapatkan pendidikan di asrama yatim piatu di Grodno, Uni Soviet, menguasai bahasa Jerman dan Rusia. Ketika Solek tertangkap oleh pasukan Nazi yang menginvasi Uni Soviet, kemampuan berbahasa itulah yang membebaskannya. Dengan kemampuan berbahasanya, Solek yang berpura-pura menjadi seorang keturunan Jerman, menjadi penerjemah bagi pasukan Nazi yang menangkapnya. Diikuti dengan nasibnya yang mujur, Solek diangkat anak oleh Kapten yang memimpin pasukan Jerman yang menangkapnya, dan kemudian dikirimkan untuk bersekolah di akademi militer yang melatih “Pemuda Hitler” (Hitler Youth/ Hitlerjunge) . Solek dianggap sebagai jimat keberuntungan pasukan Nazi karena berhasil menangkap anak Joseph Stalin, berkat kemampuannya sebagai penerjemah bahasa. Solek juga terlihat maju meyerbu pasukan Uni Soviet seorang diri, padahal sebenarnya dia ingin lari kembali ke Uni Soviet.

Walupun sudah relatif aman dengan menyamar sebagai seorang Jerman, Solek tak bisa mengingkari nuraninya sebagai Yahudi. Pertentangan identitas tersebut mencapai puncaknya pada saat Solek mencari keluarganya di ghetto Yahudi di Polandia. Dia melihat betapa mengengenaskannya kehidupan tahanan di kamp interniran Yahudi tersebut. Akhirnya Solek melarikan diri dari pasukannya saat dia menghadapi pasukan Uni Soviet. Dia pun dapat bertemu dengan kakaknya, Isaac, dan kembali menjadi Yahudi.

Identitas tergambarkan begitu penting di dalam film ini. Solek harus bergelut dengan identitas-identitas untuk dapat bertahan hidup. Perjuangannya untuk selamat dari episode mengerikan Perang Dunia Kedua, membuat Solek yang seorang Ibrani, harus menjadi ateis lalu menjadi fasis. Namun pada akhirnya dia tak dapat membohongi dirinya, dan kembali menjadi seorang Yahudi.

Jadi apa identitas dirimu?  Nasionalis, fasis, fundamentalis, zionis, ateis? Silahkan anda sendiri yang menentukan dan memberinya makna.


Meninggalkan komentar

Perjalanan Terakhir Bersama KRD Patas Bandung Raya

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Saya bukanlah pengguna kereta secara reguler ataupun fans berat kereta api, namun kereta api adalah salah satu moda transportasi favorit saya. Belum pernah saya tidak menikmati bepergian dengan kereta api. Bisa jadi salah satu alasannya adalah karena pemandangan selama perjalanan yang memanjakan mata. Sepanjang mata memandang, saya bisa melihat hamparan sawah, gunung, sungai, jalanan yang paralel dengan jalur kereta, dan juga interaksi masyarakat yang tinggal di bantaran rel. Pemandangan ini tak akan pernah bisa disaksikan jika bepergian menggunakan moda transportasi lain.

Sejenak saya terhenyak saat sedang membuka Twitter pada Rabu malam (14/01).

“Admin @KomunitasAleut Sekedar Info aja Mulai Lusa, Patas bakal di tiadakan. Entah dikemanakan nanti Patas berwarna Hijau itu. :’)” – Railway Fans Bandung (@ppkadaop2bd)

Twit tersebut membuat saya kaget sekaligus sedih, karena kereta yang bentuknya khas dan hanya satu-satunya kereta berpenggerak hidrolik yang beroperasi di Bandung ini akan menghilang dari peredaran. Belum lagi nasibnya yang masih belum jelas akan dikemanakan.

Ingatan akan KRD Patas Non-AC Bandung Raya mengantar saya pada kenangan di bulan Agustus 2014. Setelah sekian lama tidak naik KRD Ekonomi maupun Patas, saya berkesempatan untuk naik kereta api menuju Cimahi dalam rangka survey Ngaleut Kota Garnisun bersama seorang kawan. Saat itu kereta yang kami naiki adalah KRD Patas Non-AC. Berhubung saya tergolong awam akan kereta api, Kawan saya menjelaskan bahwa KRD Patas tidak melayani semua stasiun di Bandung Raya. Kereta ini hanya melayani 6 stasiun saja (Padalarang-Cimahi-Bandung-Kiaracondong-Rancaekek-Cicalengka). Berbeda dengan KRD Patas yang melayani 13 stasiun. Tak heran mengapa harga tiket KRD Patas bisa sampai 2 kali harga KRD Ekonomi.

Belum selesai saya terkagum akan cerita KRD Patas, kereta tiba di Stasiun Cimahi yang menjadi destinasi kami. Bandung-Cimahi ditempuh hanya dalam 10 menit saja. Bandingkan dengan menggunakan mobil ataupun motor yang bisa 3-6 kali lipatnya.

Lamunan ini pun berakhir saat akun Railway Fans Bandung melanjutkan kicauan mereka.

“Besok ada rekan-rekan RF Bandung yang mau Sadride naik Patas Non AC dari Bandung Jam 14.15 & 16.25”

Tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk ikut sadride ini. Kapan lagi bisa mengapresiasi KRD Patas selain esok hari. Selain itu, momen ‘terakhir’ selalu menarik untuk saya.

______

Pukul 14.13 saya tiba di Stasiun Selatan Bandung. Sedikit telat dari rencana karena lambatnya pelayanan di bank yang membuat saya harus sedikit ngebut di jalan. Dengan kemampuan berlari saya yang pas-pasan, saya naik di gerbong KRD Patas Non-AC tepat satu menit sebelum kereta berangkat. Ah, hal ini mengingatkan saya saat joyride Ngaleut Spoorwegen In Bandoeng. Saat itu juga saya dan 49 pegiat lainnya tergesa-gesa untuk menaiki KRD Patas AC menuju Cicalengka karena kami mengabiskan waktu terlalu lama untuk menjelaskan daerah sekitar Stasiun Bandung.

Saya bergegas menuju rangkaian gerbong terakhir untuk bertemu dengan teman-teman dari Railway Fans Bandung. Saya banyak berbincang dengan Erwan dan Adit mengenai KRD Patas. Menurut Erwan, KRD Patas mulai melayani daerah Bandung Raya pada sekitar tahun 1970-an. Sejak awal KRD beroperasi, ada 7 stasiun yang dilayani. Namun saat ini Stasiun Cikudapateuh tidak lagi dilayani KRD Patas.

Lalu bagaimana nasib KRD Patas yang akan berhenti beroperasi ini? Menurut Adit, Kereta KRD Patas AC akan dioperasikan menjadi KRD Ekonomi. Sedangkan KRD Patas Non-AC nasibnya belum diketahui, kemungkinan akan dijadikan cadangan bagi KRD Ekonomi.

Kereta terus melaju menuju Stasiun Rancaekek. Di tengah perjalanan, saya bertanya kepada salah satu bapak yang rutin menggunakan KRD Patas. Sudah sekitar 6 tahun ia menggunakan layanan kereta ini, dan mau tidak mau kedepannya ia harus menggunakan KRD Ekonomi meskipun waktu tempuhnya lebih lama.

Kereta akhirnya tiba di Stasiun Rancaekek. Ingatan akan kehebohan di stasiun ini di Ngaleut Spooregen in Bandoeng kembali terngiang. Saat itu kami berniat untuk mengejar kembali ke Bandung menggunakan KRD Patas Non-AC. Seluruh peserta sudah duduk manis di dalam stasiun untuk menunggu kereta yang baru akan berangkat dari Stasiun Cicalengka. Saat saya dan dua orang kawan akan membeli tiket, ternyata tiket kereta yang kami akan gunakan sudah ludes di Stasiun Cicalengka. Dengan sangat tergesa-gesa, peserta diarahkan kembali menuju kereta yang sebelumnya dinaiki. Hampir saja kami harus menunggu kereta berikutnya.

Kereta kembali melaju menuju Stasiun Cicalengka. Stasiun ini adalah pemberhentian paling timur di rute Bandung Raya. Di sini pula saya berpisah dengan teman-teman Railway Fans Bandung yang baru akan kembali ke Bandung sekitar pukul 18.00 menggunakan KRD Patas terakhir, tak hanya di jadwal terakhir pada hari itu namun juga kereta yang terakhir beroperasi. Saya kembali membeli tiket menuju Bandung yang berangkat pada pukul 15.15.

Sepanjang perjalanan pulang, saya hanya menikmati perjalanan singkat ini. Duduk di pinggir jendela membuat saya mudah untuk melihat hamparan sawah, gunung di kejauhan, dan interaksi warga yang tinggal di bantaran rel. Saat kembali menengok keadaan di gerbong, rupanya saya bukan satu-satunya orang yang menikmati sadride ini. 2 baris kursi dari tempat saya duduk ada seorang pelajar SMA yang juga sedang menikmati perjalanan terakhir KRD Patas.

Kereta akhirnya tiba di Stasiun Bandung. Di pintu gerbong sudah terlihat kerumunan penumpang yang akan berangkat ke Stasiun Cimahi maupun Padalarang. Saat turun dari gerbong, salah satu penumpang berseru “Isuk mah moal aya deui euy.” (Besok mah (kereta ini) ga bakal ada lagi euy) kepada rekannya.

Segera saya menghampiri bagian depan kereta untuk sekedar mengabadikan gambar. Tampak pelajar SMA yang duduk satu gerbong dengan saya sedang memfoto kereta ini menggunakan kamera ponselnya. Berdiri tak jauh dari pelajar SMA tersebut saya melihat juga ada 2 orang mahasiswa sedang berfoto di depan kereta. Setelah mereka selesai befoto, giliran saya yang mengabadikan kereta ini melalui foto sembari tak lupa juga saya ber-selfie.

_______

Farewell, my friend. Thanks for the memories.

 

Tautan asli: http://aryawasho.wordpress.com/2015/01/16/perjalanan-terakhir-bersama-krd-patas-bandung-raya/


2 Komentar

Ngaleut Institut Teknologi Bandung

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Masuk ke kampus almamaternya Ir Soekarno, Ridwan Kamil, dan Pidi Baiq ini hanya pernah saya lakukan kalau ada event Pasar Seni. Kalau masuk lewat SNMPTN emang enggak, soalnya kalau ga salah pilihannya dulu ya cuma Unpad tercinta. Ga kepikiran sih kenapa ga milih FSRD dulu.

Ah Sujiwo Tejo yang kuliah di Matematika dan Teknik Sipil malah jadi seniman. Eh tapi beliau juga alumni ITB sih. Oke lah, biar ga kepanjangan langsung saja bakal saya laporkan kegiatan ngaleut di kampus pencipta orang-orang hebat ini.

canonet ql17 itb

ITB didirikan pada 3 Juli 1920 dengan nama Technische Hoogeschool te Bandoeng, sering disingkat menjadi TH te Bandoeng, TH Bandung, atau THS. Tujuan awal pendiriannya adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia Pertama.

Dan untuk mengenal lebih dekat salah satu kampus tertua di Bandung ini, Komunitas Aleut mengadakan ngaleut pada Minggu, 18 Januari 2015 dengan meeting point di Taman Ganesha dekat monumen kubus.

itb canonet ql17

itb canonet ql17

Satu bentuk arsitektur yang unik dan mungkin bakal menimbulkan pertanyaan adalah soal bentuk atapnya yang bergaya Minangkabau. Ya, inilah hasil rancangan dari arsitek Belanda asal Jatinegara, Maclaine Pont. Mahakarya Pont ini mendapat serangan dari sejawatnya, Prof. Wolff Schoemaker.

Lihat: Komunitas Aleut – Maclaine Pont dan Kisah ITB

Arsitek Schoemaker dan Bosscha yang mewarnai Bandung dengan beragam bangunan hasil rancangan mereka pun turut andil dalam pembangunan ITB ini. Dan pastinya pujian pun harus kita sematkan kepada para kuli bangunan, karena tanpa mereka ga mungkin ada kampus ITB.

itb canonet ql17

itb canonet ql17

ngaleut canonet ql17

Dari gaya tradisional dan kolonial menuju apartemen Podomoro. Ya, jika menelusuri bangunan kampus ini dari gerbang depan ke belakang, bakal terasa seperti dalam lorong waktu. Semakin ke area belakang ITB, bangunan yang terlihat semakin menjadi gaya kekinian dan futuristik. Bahkan, di area belakang masih berjalan beragam pembangunan gedung baru.

Kondisi cuaca mendung, tapi emang berjalan-jalan di kampus ITB sungguh menyegarkan karena dihiasi beragam pohon rindang. Bayangkan kalau harus ngaleut di Unpad Jatinangor dengan kondisi terik, wih serasa kardio. Tapi tetap bangga sama Unpad lah, ITB mana punya odong-odongnya? :cool:

ngaleut itb canonet ql17

ngaleut itb canonet ql17

Salah satu topik yang saya suka, selain urban legend-nya, adalah soal sejarah pergerakan mahasiswanya. Ya, kampus ini yang meluluskan banyak tokoh nasional, yang paling diingat tentu saja sang proklamator dan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Namun oleh para mahasiswa ITB pula kemudian kekuasaan Orde Lama digugat.

Baik di Orde Lama dan Orde Baru para mahasiswa ITB berperan aktif dalam aktivitas pergerakan nasional. Meski pada Orde Baru terjadi sedikit kemerosotan. Dan mungkin di era Reformasi ini, sangat menurun drastis. Salah satu faktornya adalah akibat beratnya beban SKS, sehingga mahasiswa menjadi study-oriented.

Yang pasti, semoga kampus ini tetap bisa mencipta orang-orang hebat yang bisa memberikan manfaat bagi sekitar. Minimal buat kota Bandung lah.

urban landscape tamansari canonet ql17

Oke, semua foto-foto di atas hasil jepretan dari kamera film Canon Canonet QL17 dengan amunisi Fujifilm Superia 200 yang expired-nya entah kapan. Setalah ngaleut langsung dicuci scan di Lab Seni Abadi. Dan untuk ke roll ketiga ini hasilnya ya ada peningkatan lah, khususnya intuisi soal setting exposure yang pas.

Saatnya bikin hashtag #indo35mm #bdg35mm #ishootfilm #beforepixel #believeinfilm #filmphotography #sunny16 #superiajenaka #canonql17.

 

Tautan asli: http://arifabdurahman.com/2015/01/18/ngaleut-institut-teknologi-bandung/


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Ngaleut ITB

2015-01-18 ITB

Hari Minggu (18/01/2015) kita akan… “Ngaleut ITB”. Mari mengenal lebih dekat salah satu perguruan tinggi tertua di Kota Bandung ini.

Bangunan mana yang pertama kali dibangun? Siapa itu Ijzerman dan mengapa ada taman yang dibangun khusus untuknya? Apa peran Bosscha untuk pembangunan ITB? Yuk cari tahu bersama grin emoticon

Tertarik untuk bergabung? Kumpul di depan Taman Ganesha (dekat monumen kubus, seberang gerbang utama ITB) pukul 07.30 WIB. Jangan lupa, konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup dengan SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah smile emoticon

Sekian saja Info Aleut malam ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 11.463 pengikut lainnya.