Rood-Wit, Merah Putih sang Pionir Sepakbola

Posted in Catatan Perjalanan on Juli 9, 2012 by KomunitasAleut!

Ini adalah repro jelek dari akte klub sepakbola pertama (yang tertulis) di Nusantara, Root-Wit (merah putih). Root-Wit didirikan di Batavia tanggal 28 September 1893. Di saat bersamaan, di Portugal, António Nicolau de Almeida mendirikan Futebol Clube do Porto.

Root-Wit sendiri bernama lengkap “Bataviasche Cricket- en Football-Club”. Dipimpin oleh J.D. De Riemer, klub ini berkecimpung di kriket dan sepakbola. Tahun 1894 Root-Wit disahkan oleh Departemen Kehakiman.

Yang menarik adalah :

1. Kenapa tertulis “Football” dan bukan “Voetbal” ?
2. Warna yang dipilih : merah-putih.

Oleh : R.Indra Pratama (@omindrapratama)

Sumber :

Tim Penulis 80 Tahun PSSI. 2010. Sepakbola Indonesia : Alat Perjuangan Bangsa dar Soeratin hingga Nurdin Halid (1930-2010)

Memperkosa Keeksotisan Ci Kapundung

Posted in Catatan Perjalanan, Cikapundung on Juli 9, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : Dinda Ahlul Latifah (@propesordinda)

Assalamu’alaikum Wr Wb

Hay, para penjelajah bumi,aku mau berbagi kisah perjalananku, kisah sepatu jalangku, dan kisah teman-teman hebatku saat kami “memperkosa”  keeksotisan Ci Kapundung. Selamat berpetualang !.

Pada tanggal 1 Juli lalu,kami semua para pegiat Aleut atau Aleutians, atau aku lebih sukamenyebut Aleut Rangers, dengan penuh semangat menjelajahi keeksotisan Sungai Ci Kapundung. Kami semua berkumpul jam 7.30 di markas besar atau sekretariat Komunitas Aleut. Tapi berhubung keadaan lalu lintas Bandung yang macet, jadinya semua Aleut Ranger a.k.a Aleutians yang siap ngaleut baru bisa berangkat sekitar pukul 8.30. Ngaret 1 jam?, itu presentasi menakjubkan untuk ukuran orang Indonesia yang akan pergi menjelajah tanpa dibayar, tapi kami semua tahu kami akan dapat bayaran lebih dari materi yaitu PENGALAMAN & KEPUASAN BERPETUALANG ;).

(nah itu potret wajah Ci Kapundung dalam awal perjalanan kami memperkosa keeksotisan sungai yang sudah tidak perawan lagi ini)

Kami semua para pegiat Aleut alias Aleutians alias Aleut Rangers sangat bersemangat sekali pagi itu. Matahari seakan ikut mendukung kegiatan jelajah sungai kami, sangat cerah dan hangat, tersenyum pada kami seakan berkata “Semangat Kaka!”. Sepanjang perjalanan kami tidak henti berceloteh, bergurau, dan berfoto. Jujur saja saat itu saya merasa seperti Dora The Explorer, namun saya tidak butuh peta untuk berpetualang, karena alam punya kompas dan petanya sendiri jika kita menikmatinya.

 
(yang kalian lihat itu salah satu penampakan wajah Sungai Ci Kapundung. Gambarnya sedikit burek yah. Maklumin aja saya potonya sambil elap-elap keringat)
 
(Inilah penampakan para Aleutian alias Aleut Rangers, gaya-nya trendy banget kan?;). Mau ngaleut tetep harus kece, siapa tahu dijalan ketemu produser pilem)

(nah inilah kenapa Sungai Ci Kapundung dibilang tidak perawan lagi, karena sudah tercemari oleh berbagai sampah dan limbah. Prihatin kan?. Sungai Amazon-nya Jawa Barat malah dipenuhi sampah dan limbah. Jangan tanya didalamnya ada buaya atau anakonda apa tidak, kalau ada mana mau kami nyebur kedalamnya)

(kami meneruskan perjalanan petualangan kami lewat jalur darat dulu,  melewati bukit-bukit dan perkampungan warga. Semakin siang matahari semakin  berkobar, keringat kami semakin deras sama seperti semangat kami yang tak pernah terkuras. Akhirnya kami sampai pada salah satu terowongan ,terowongan sepanjang sekitar 10-15 meter, saya tidak tahu persis berapa panjangnya, soalnya saya tidak bawa penggaris untuk sekedar mengukur panjang terowongan.)

kami para Aleut Ranger sangat antusias untuk menelusuri terowongan sungai itu, sorakan para Aleut Ranger yang memutuskan untuk tidak nyemplung membuat kami semakin semangat, yah betul sih adegan itu mirip-mirip salah satu challenge dalam Be A Man ;)) meskipun cuma sebagian yang nyemplung dan masuk terowongan tapi adrenalin cukup terpacu saat masuk kedalam terowongan yang gelap dan tanpa lampu itu.

(Waktu masuk terowongan saya sempat rekam dengan video recorder, cuma gelap sih, terus aplotnya bakal lama.heheheh)

Saya baru pertama kali masuk terowongan sungai, saya membuka sepatu saya dan nyeker masuk, tidak peduli kotor atau basah, karena berani kotor itu baik. Didalam terowongan kami semua mengalami kendala,apalagi buat para Aleut Ranger yang nyeker, bebatuan itu membuat kaki kami sakiiiiiiiit sekali. Apalagi medan gua yang sempit dan gelap, penuh sarang laba-laba. Persis salah satu adegan dalam film Anaconda. That was an amazing moment!.

Akhirnya setelah pergulatan dengan monster “gelap” dan monster “batu” dalam terowongan,para Aleut Ranger selamat sampai keluar terowongan. Kami pun disambut dengan sorak sorai Aleutian lain yang sudah menunggu di pintu keluar terowongan. Alhamdullilaaaaah ;).

Setelah berpetualangan dalam terowongan kami pun menemui WATERVANG!! .

jadi watervang itu fungsinya buat memecah aliran air sungai.gituuuuuuuuuh ;)).

Nah, perjalanan petualangan kami kecubek-kecubek Ci Kapundung belum  berakhir sampai disitu, KARENAAAAAAA PETUALANGAN YANG SEBENERNYA BARU DIMULAI ;))) jreng!jreng!.

Kami semua memutuskan untuk menyebrangi dan langsung melawan arus Ci Kapundung yang saat itu untungnya lumayan woles dan kalem. Kami semua menceburkan diri kesana!. Dan saya sangat bangga sekali sebagai orang Bandung (eh orang Lembang ketang saya mah) bisa langsung pedekate sama Ci Kapundung yang merupakan The King of River ini. (Eh bentar kalo King, kenapa Cikapundung bisa gak perawan lagi?. Oke saya salah nyambungin topik, maaf!. ). BACK TO THE CI KAPUNDUNG!.

Kalian tahu kan kaya gimana keadaan Ci Kapundung?. Yup! airnya terkontaminasi oleh berbagai zat dan partikel duniawi. Karena saya bukan orang kimia dan iisika, saya ga sempat meneliti dulu zat apa saja yang mengkontaminasi Ci Kapundung kami itu. Namun katanya, keadaan Ci Kapundung dikategorikan masih lumayan bersih. Ya memang sih ternyata sampah-sampahnya tidak terlalu membeludak,dan keadaan airnya masih tergolong tidak terlalu cubluk. Cuma tetap aja kan kita gatau orang ngapain aja disana.

Nah, medan dan keadaan bebatuan sungai yang cukup ekstrim dan licin membuat para Aleutian tergelincir dan terkejebur alias tikusruk. Saya pun merasakan sendiri bagaimana mantapnya ciuman batu Ci Kapundung yang bikin linu dan bonyok lutut ;3. Semuanya basah semuanya jibrug, semuanya senang ;3.

Jujur baru pertama kali saya menkeceburkan diri ke dalam sungai, sungai yang dijadikan sebagai tempat pembuangan!. Itu artinya saya, dan kami semua para Aleutian, merelakan dan menumbalkan diri untuk bersatu dengan sisa-sisa pembuangan, namun itu kami lakukan karna kami sayang Ci Kapundung, kami peduli dan kami kepo ingin mengenal lebih dekat Ci Kapundung tuh gimana sih orangnya, gituh!.

Perjuangan kami dalam berjalan menelusuri arus Ci Kapundung bisa dibilang cukup lancar, meskipun diwarnai insiden kecebur yang bikin ngakak saat melewati beberapa medan terjal dengan arus yang cukup besar kami semua saling membantu dan bekerja sama. Gilaaaa! ini keren abis, disaat banyak para pemuda bandung yang jalan-jalan ngalay ke mall,atau masih bergelut dengan selimut dan kasur, kami justru rela pedekate dan “memperkosa” keeksotisan Sungai Ci Kapundung!.

Akhirnya, arus dan medan Ci Kapundung berhasil kami taklukan!. Kami Menaaang!. Kami berhasil menepi ke daratan!. Kami lolos dari kejaran lele koneng ;3. Nah kebayang kan kalau di Ci Kapundung ada buaya atau anakonda -nya, perjuangan kami menuju daratan akan semakin ekstrim dan fearfull!. Alhamdullilaaah selamat meskipun basah semua ;3.
=======================================================================

Nah ini cuplikan poto-poto kami, Aleutians alias pegiat Aleut alias Aleut Rangers. Stamina kami masih kuat!, kami masih tangguuuh, karena perjalanan kami masih belum selesai ;3 Selamat menikmati pesona Ci Kapundung, selamat menikmati pesona kami ;)).
========================================================================

CURUG DAGO,prasasti.

Kami melanjutkan petualangan kami ke Curug Dago, tepatnya ke sebuah prasasti yang terdapat disana. Untuk menuju air terjun dan prasasti itu kami harus menuruni tangga, turunnya sih tinggal blek tapi naeknya cooooy ;3.

 Nah, keadaan air terjun di Curug Dago ini memang tak seindah “Air Terjun” Niagara di DUFAN,  ;(( . Oke, dan dalam perjalanan menuju Curug Dago kami menemukan hal  yang menakjubkan, benda hidup yang tak bisa dibawa pulang. Dan mereka adalah…

Dua personil junior baru Aleut Rangers yang kami temukan sedang menjelajah juga, mereka ini kakak-adik, namanya Teguh & Emir. Keduanya cakep kan?. Nah adek adek kalau sudah besar jangan jadi personil boyben, jadi personil Aleut sejati aja yah ;3.

Itu adalah batu prasasti-nya. Saya sendiri ga begitu tahu itu prasasti apa, karena keasyikan jepret sana sini, hihihi.

Oke mari kita menikmati pesona alam Curug Dago,dan pesona para Aleutian sebagai bonus super ;3.

 
Akhirnya selesailah petualangan kami di Curug Dago,kami semua memutuskan untuk mencari tempat peristirahatan,buat makan, solat, dan sharing;3.
=======================================================================
(nah itu foto saat kami melakukan sharing kegiatan ngaleut, kami semua secara bergantian akan menyampaikan kesan dan pesan “aleut kali ini” gituh. Kami sharing di sebuah pendopo di deket kawasan Curug Dago,tempatnya lumayan kotor. Cuma karena gak bawa sapu saya ga sempet bersihin sih. Maap yak.)
Akhirnya setelah sharing nya beres. Kami semua kompak lapar dan memutuskan mencari tempat makan. Berdasar salah satu rekomendasi Aleutian Master, A Ayan, akhirnya kami memutuskan untuk makan batagor di Simpang Dago. Tapi sebelum pergi kami tetep poto-poto lagi loh!.
 
===================================================================
Saat menuju tempat batagor ada fenomena menarik, yang dibawah itu foto temboknya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Tapi lihat dibawahnya, banyak sampah berjejeran. Saya tidak bawa sapu, kalo bawa mah Insya Allah disapuan.
Akhirnya perjalanan dan petualangan Ngaleut Cikapundung kami berakhir di meja salah satu tukang batagor di Simpang Dago. Selamat makaaaan, jangan lupa bayar!.
Udah dulu yah ceritanya. Capek nih, mau cuci sepatu dulu, sepatu putih saya jadi korban keganasan Cikapundung. Tapi gak apa-apa, berarti ada “bekas” dan “jejak” petualangan disana ;))).
=========================================================================
Kenapa saya pilih judul “MEMPERKOSA KEEKSOTISAN CIKAPUNDUNG”? . Jangan mikir porno!. Maksud dari memperkosa disini adalah menguak lebih dekat sisi keekstrim-an Cikapundung, terjun langsung ke aliran airnya, pedekate dengan deras arusnya. Kami semua sampai nyebur dan basah nyemplung Cikapundung, menurut saya itu bukan sekedar petualangan!. Lebih dari itu saya merasa itu juga adalah petualangan jiwa, karena otomatis, anggapan dan presepsi saya terhadap Cikapundung yang sudah tidak perawan lagi itu mulai berubah.
Saya sudah melakukan pedekate sama Cikapundung, saya berusaha buat mengerti, apa sih mau kamu? kok pundung ?. Dan saya rasa kalian harus melakukan hal yang sama, jangan sekedar “kenal” Cikapundung, tapi ber-pedekate-lah, kejarlah dan rasakan “perasaan” Sungai Cikapundung, buat jiwamu menyatu dengan derasnya air Cikapundung.
 Sekian cerita petualangan saya dengan Komunitas Aleut di Sungai Cikapundung. Ini baru season 1,masih ada season 2. Percayalah, kami ngaleut berseason-season bukannya mau menyaingi Cinta Fitri, tetapi karena kami peduli ;3.
SUMBER FOTO:
ALBUM FACEBOOK SAYA(DINDA AHLUL LATIFAH)
ALBUM FACEBOOK TEH TATA
MODEL FOTO:
SUNGAI CIKAPUNDUNG

Original Post : http://dindatheexplorer.blogspot.com/2012/07/memperkosa-ke-exotisan-cikapundung.html

Maribaja!

Posted in Catatan Perjalanan on Juli 3, 2012 by KomunitasAleut!

Dahulu Maribaya merupakan objek wisata yang sangat populer di Bandung. Saat ini pengunjung objek wisata tsb sudah sangat menurun seiring menurunnya kualitas keindahan di sana. Namun demikian, ada sedikit cerita menarik tentang Maribaya yang saya dapet dari suatu majalah jadul.

Konon asal muasal nama Maribaya diambil dari bahasa Sunda, kata “Mari” artinya Sehat dan “Baya” artinya Bahagia. Dahulu di sana hanyalah hutan rimba yang penuh dengan pepohonan besar dan kecil. Jarang sekali manusia berada di sana, kalaupun ada maka hanyalah orang-orang yang sedang susah atau bingung lantaran menderita penyakit yang dijauhi orang, seperti raja singa, borok, bungkul, dll.

Konon lagi, yang memberi nama tempat itu jadi Maribaya adalah seorang bujangga Sunda, KH Hasan Mustapa, yang saat itu menjadi kepala Penghulu di Bandung, jaman Bupati R. Aria Martanegara. Saat itu kira-kira tahun 1912 M.

Pada tahun 1926, saat terbentuknya Regentschaprad (Dewan kota), di Maribaya dibangun sebuah pesanggrahan oleh M. Usman yang saat itu menjabat Kontroleur merangkap kepala perusahaan kabupaten Bandung. Proyek pembangunan pesanggrahan sendiri dilakukan oleh Ir. R.H. Moch. Enoch yang menjabat Kepala Pekerjaan Umum Kab. Bandung tahun 1935.

Sebelum ramai oleh pengunjung, Maribaya termasuk tempat yang angker. Tercatat sebuah makam keramat di sana, seperti Makam Haji Buligir Putih yang ramai dijadikan tempat bertapa masyarakat. Selain itu ada juga beberapa mitos di Maribaya seperti :

- KASMARAN mere pepeling, ka sadaya nu teu damang, upami kasorang koreng, ararateul saluarna, atawa kasorang raad, siram teh kedah diatur, ulah sering ulah carang. Sedengna mah tilu kali, sareng mun parantos siram, landongan tipereu hae, Insha Alloh enggal damang,,,

– Di wewengkon Maribaya ulah nyeseuh pacuan digebot, sareng ulah nyebat lada, eta teh kedah dilarang, sok disamperkeun karuhun…

– Ulah nyandak poni lanjang, kajabi awewe goreng, baris teu matak kabita, sumawon tuang istri mah, kantenan eta kulanun, matak lami henteu damang…

(…Artinya silakan ditanyakan sama yang ngerti bahasa Sunda.. hehe)

*Foto kakek saya beserta teman2nya yang tengah “Ngaleut” ke Maribaya sekitar tahun 50’an

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Skandal Penyimpangan Seksual di Bandung

Posted in Catatan Perjalanan on Juli 3, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Apabila anda pernah membaca buku “Vaarwel, Tot Betere Tijden: Documentatie over de ondergang van Ned-Indie” yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan dengan judul “Selamat tinggal , sampai jumpa pada masa yang lebih baik” karangan B.J. Bijkerk tentunya tidak asing dengan kisah skandal homoseksual yang terjadi di Bandung sekitar tahun 1938.

Ceritanya pada suatu malam, seorang pelajar HBS (Hogere Burger School/Setingkat SMA) berteriak-teriak dan gugup sekali datang ke kantor polisi. Ia melaporkan telah diserang oleh seorang Eropa yang ingin melakukan hubungan seks dengannya.

Beberapa waktu kemudian, skandal seks ini terbongkar setelah polisi menangkap basah seorang pejabat tinggi di sebuah hotel Tionghoa di Bandung, ketika tengah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan seorang bocah pribumi. “Terwijl deze ontucht pleegt met een Inlands jongetje“. Sang pelaku segera dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi. Polisi kemudian menghubungi Residen Priangan dan Gubernur Jawa Barat yang kemudian menjatuhkan skorsing terhadap pejabat tersebut.

Sang pejabat lantas menanggalkan jabatannya dan atas kemauan sendiri naik kapal meninggalkan Hindia Belanda. Namun ketika kapal tersebut singgah di Makassar, pejabat tersebut diringkus polisi dan dibawa ke Batavia. Atas perintah jaksa agung, sang pejabat kemudian diganjar hukuman penjara selama satu setengah tahun di Sukamiskin.

Setelah itu Gubernur Jenderal Tjarda van Stackenborgh Stachouwer memerintahkan razia besar2an terhadap pelaku Homoseksual. Terjadilah seorang direktur sekolah MULO di Bandung melakukan bunuh diri dengan membuka keran gas di rumahnya karena takut ditangkap polisi dan malu terhadap keluarganya. Sang direktur ini terkenal pula sebagai penulis buku kanak2 terkemuka sekaligus organisator tonil untuk remaja. Di lingkungan masyarakat Bandung dia dikenal sebagai orang terpandang… Siapa sangka ternyata dia homoseksual. Siapakah namanya tidak disebutkan dalam buku karangan Bijkerk.

Editor : Tentunya kisah ini dimuat tanpa berpretensi kepada homophobia. Konteks yang dipakai dalam penceritaan ini adalah konteks sosial saat cerita ini terjadi, yang mana homoseksualitas, menurut sang penulis buku, bukan hal aneh di kalangan pribumi,, tapi jika menyangkut orang Eropa berhubungan berhubungan sesama jenis dengan pribumi, itu dianggap skandal.

Soekarno yang Flamboyan

Posted in Catatan Perjalanan on Juni 16, 2012 by KomunitasAleut!

Soekarno banyak ditulis sebagai sosok yang flamboyan, dan memang begitu adanya. Salah satu kebiasaan Soekarno yang dilakukannya jika ada tamu negara datang ke Indonesia dan mengunjungi suatu daerah adalah, mengumpulkan gadis-gadis tercantik dari setiap sekolah (SMA) di daerah tersebut untuk dijadikan pagar ayu menyambut sang tamu negara.

Seperti di foto ini, soekarno bersama Zhou Enlai berada di lapangan Gasibu Bandung disambut oleh gadis-gadis cantik se Bandung. Kebetulan salah satunya kakak dari ibu.

Oleh : Ali Hanifa

Foto:  dok.pribadi

Stilasi Nomor Empat

Posted in Bandung Lautan Api, Catatan Perjalanan on Juni 16, 2012 by KomunitasAleut!

Sepuluh stilasi yang dibangun untuk mengenang Bandung Lautan Api telah diperbaiki. Denah 10 stilasi, Teks lagu ‘Halo-halo Bandung’ , para sponsor serta Patrakolama udah terpasang di kesepuluh stilasi tersebut. Semoga timbul kepedulian masyarakat untuk mengenal dan merawat obejek objek sejarah yang ada dikotanya.

Stilasi keempat di berada di samping sebuah rumah yang terletak di Jl Simpang. Di tempat inilah dilakukan perumusan serta diambilnya keputusan pembumihangusan kota Bandung. Perintah untuk meninggalkan kota Bandung pun dikomandoi dari rumah ini.

Foto diambil :8-6-2012

Oleh : Dhika Permana Amri

Mojang Bandung

Posted in Humor on Juni 16, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Sejak dahulu Bandung terkenal atas kecantikan mojang-mojangnya yang tidak ada duanya di seluruh nusantara. Mojang-mojang ini juga dikenal pandai berdandan dan memiliki selera yang baik soal fashion, Itulah sebabnya orang-orang menyebut Bandung kota Kembang…

Berikut adalah sedikit kutipan mengenai mojang-mojang Bandung yang dikutip dari artikel Bandung Baheula karangan Sutadisastra tahun 1953 :

…Ti beulah kulon tembong dua nonoman istri arangkat ngarendeng, keur sumedeng na remaja putri, lir putri sakembaran, kulit enay, rambut hideung meles, sanggulna sanggul ciyoda diselapan tusuk sanggul emas endah. Katambah2 estu surup kana panganggona, selop ketokan jengke jangkung sinjangna manteron gading kolot biji kumeli meunang ngalepe, raksukan sutra tablo pulas gedang asak. Nu saurang nganggo kekemben sutra satengah diharudumkeun kana bahuna, tungtungna ngambay kenca katuhu nga-helab2 kasilir angin leutik ngahiliwir; demi anu saurang deui kekembenna sutra juru tilu latar bereum kasumba, kembang hejo ngora jeplok baruleud bodas laleutik, matak lucu dibeulitkeun kana tenggek leutik, tungtungna ngarambay ka hareup, minyakna Soir du Paris seungit angin2an…

Di samping karena kecantikan mojang2nya, dahulu Bandung juga dikenal karena “wanita2 penggoda”nya yang cantik2, bahkan ada istilah “Awewe Bandung mah sok ngarebut salaki batur“. Tapi seperti kata Sutadisastra ,“Ulah disangka ngan di Bandung bae awewe nu kitu teh, nepi ka akhirna sakabeh urang Bandung dihurun-suluhkeun dikompet daunkeun, disambarukeun karitu kabeh… Awewe bageur loba, sabalikna anu burung teu kurang2. Nya kitu deui nu goreng jeung nu hadena teh, lain ngan awewena bae, tapi lalakina deuih…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.146 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: