Perpustakaan Loge St. Jan

Posted in Freemasonry on September 24, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : M.Ryzki Wiryawan
Apabila anda hidup di Bandung tahun 1900’an dan ditanya di manakah perpustakaan terlengkap saat itu, maka dapat dipastikan jawaban anda adalah “Bibliotheek Loge St. Jan !”

Perpustakaan Loge St. Jan dengan nama resminya “Volksbibliotheek” didirikan oleh para anggota Freemason Bandung pada tanggal 10 Oktober 1891 dibantu pengurus Kweekschool (sekolah guru). Perpustakaan ini boleh dibilang menempati urutan pertama soal jumlah koleksi selama beberapa puluh tahun di Bandung. Pada bulan Januari 1897 saja tercatat sejumlah 2.500 buku sebagai koleksi perpustakaan ini. Beberapa tahun kemudian, karena keterbatasan tempat, koleksi perpustakaan dipindah ke sebelah kantor Het Nut van Bandoeng.

Setelah dana terkumpul untuk membangun gedung tersendiri, pada tanggal 26 Februari 1912, nama Volksbibliotheek diubah menjadi “Openbare bibliotheek van Bandoeng”. Pada tahun 1920-1921, perpustakaan ini telah memiliki koleksi buku sebanyak 25.883 buah. Mungkin terbanyak dibanding perpustakaan lain di Bandung saat itu. Bahkan ketika Soekarno mendekam di penjara Banceuy, ia kerap meminta seorang pendukungnya untuk tetap membawakan buku-buku dari perpustakaan st.jan ini untuk menjadi bahan referensi bagi karyanya, naskah “Indonesia Menggugat”…

Bagaimana nasib ribuan buku2 itu sekarang? Tidak ada yang tahu… Namun syukurlah saya berhasil memiliki salah satu buku koleksi perpustakaan St. Jan tersebut… doakan saja semoga ribuan buku lainnya bisa menyusul… hahaha

 

 

 

Tokoh-tokoh Freemasonry di Hindia Belanda

Posted in Freemasonry on September 15, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : M.Ryzki Wiryawan (@sadnessystem)

Ada hal menarik ketika kita membaca halaman http://nl.wikipedia.org/wiki/Categorie:Nederlands_vrijmetselaar
yang berisi daftar tokoh-tokoh terkenal Belanda yang menjadi anggota organisasi Vrijmetselarij (Freemasonry), ternyata sebagian mereka adalah tokoh2 yang tidak asing lagi dalam sejarah Nasional. Sebutlah contoh antara lain :

– Johannes van den Bosch (Pencetus Tanam Paksa)
– Eduard Douwes Dekker (Multatuli – Pengarang Max Havelaar)
– Nicolaus Engelhard (Pejabat Jaman Raffles)
– Joannes Benedictus van Heutsz (Panglima perang Belanda di perang aceh / gub, jenderal Hindia Belanda)
– Dirk van Hogendorp (1761-1822) (Sastrawan / Pejabat)
– Pieter Jelles Troelstra (Sastrawan / Politikus)
– Hubertus Johannes van Mook (Politisi / Letnan Jenderal Hindia Belanda semasa konfrontasi)
– Dll.

Tapi yang paling menarik adalah kedua orang berikut :

– Jan Willem IJzerman (Pegawai S.S. dan Perintis THS), dan

– Richard Leonard Arnold Schoemaker (Guru besar THS dan Arsitek beberapa gedung di Bandung seperti gedung NIGM/Gedung Gas, Villa Merah dan Gedung Oliefabrieken)

Dengan adanya kedua anggota penting Freemason di THS (Technische Hogeschool / ITB) ini maka misteri logo awal THS yang mengandung simbol freemason sedikitnya dapat terjawab. Tapi jangan khawatir, pengaruh mereka mungkin tidak terlalu besar karena menurut situs Freemason Hindia Belanda* :

“Er is het vermoeden dat de loge ook actief betrokken was bij de oprichting van de Technische Hogeschool Bandoeng door vrijmetselaar Jan Willem IJzerman, maar hier zijn geen aanwijzingen voor gevonden”

“Ada anggapan bahwa Loge (Freemason Bandung) terlibat aktif dalam pendirian Technische Hogeschool Bandung oleh anggota Mason Jan Willem IJzerman, namun tidak ada bukti yang ditemukan.”

Tidak ada bukti ? Menurut saya logo awal THS adalah sebuah awal untuk mengungkap misteri lainnya.. The Lost Symbol of Bandung..

*http://www.sintjanloge.nl/index.php/sint-jan

Maclaine Pont dan Kisah ITB

Posted in Arsitektur on September 15, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : M.Ryzki Wiryawan (@sadnessystem)

Pada th. 1918, Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda kelahiran Jatinegara (Meester Cornelis) mendapat undangan untuk merancang bangunan Sekolah Tinggi Teknik pertama di Hindia Belanda yang akan dibangun di Bandung (sekarang ITB). Pont dipilih karena selain fee-nya dianggap terjangkau, ia juga dianggap sebagai seorang arsitek yang paham akan perancangan bangunan tradisional setempat, yang menjadi salah satu kriteria perancangan bangunan baru tersebut.

Hasilnya adalah suatu bentuk arsitektur kombinasi dari struktur modern dari kayu lapis dengan bentuk atap arsitektur tradisional yang sangat harmonis. Arsitektur bangunan Aula Barat dan Aula Timur Technische Hogeschool (ITB) mengacu pada arsitektur tradisional bangunan khas Minangkabau (sunda besar), yang lapisan-lapisannya membentuk “lembaran bunga teratai”. Atap yang berlapis-lapis diadopsi dari tradisi ruang berpilar yang dilacak dari relief-relief candi abad kesembilan di Jawa Tengah. Bentuk ruangan yang luas mengadopsi arsitektur Pendopo Jawa.

Pont juga menggunakan teknologi tercanggih saat itu untuk bisa menghasilkan ruangan luas tanpa pilar di tengah ruangan, untuk itu ia menggunakan bentangan konstruksi rangka kayu dipasang menggunakan teknologi konstruksi busur kayu yang diikat cincin besi (patent laminated wooden arc construction parts – Emy System).

Mahakarya Maclaine Pont ini mendapat serangan dari sejawatnya, Prof. Wolff Schoemaker. Kritiknya antara lain, “Sekolah Tinggi Teknik dirancang dengan pemakaian contoh dari beberapa ciri khas bangunan Minangkabau, yang di Jawa berada di tanah asing”. Ia juga menyebut penggunaan atap khas Minangkabau sebagai ‘peniruan bentuk yang dibuat-buat’ dan suatu peniruan bentuk atap Sumatera, yang mengakibatkan kebocoran serius.

Bagaimanapun kritik yang dialamatkan pada Maclaine Pont, karya Pont berupa aula barat dan timur ITB terbukti dikenal sebagai salah satu karya arsitektur indis dengan bentuk tradisional yang sangat berhasil.

 

 

 

Gedung N.V. Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij

Posted in Arsitektur on September 11, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : M.Ryzki Wiryawan (@sadnessystem)

Siang tadi, Komunitas Aleut bersama teman dari Arsitektur ITB berkesempatan untuk memasuki sebuah bangunan tua di Braga, yang kondisinya boleh dibilang masih terjaga walau agak kotor karena lama tidak dihuni. Hawa kotoran burung dan mahkluk halus sangat terasa di bangunan ini.. hahaha..

Bangunan ini lebih dikenal sebagai Gedung Gas karena lama dioperasikan sebagai kantor bagi perusahaan N.V. Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM). Adapun bangunan ini hanya berfungsi sebagai kantor administrasi, sedangkan pabriknya terletak di daerah Kiaracondong.

Pabrik gas NIGM mulai beroperasi di Bandung tanggal 17 Februari 1921, dan merupakan cabang termuda saat itu. Sebelumnya perusahaan ini telah beroperasi di Batavia, Meester Cornelis (Jatinegara), Buitenzorg, Cheribon, Semarang, Surabaya, Medan, dan Paramaribo.

Keterlambatan pembangunan pabrik gas di Bandung antara lain disebabkan oleh sulitnya mendapatkan material gas alam, namun dalam beberapa tahun perusahaan ini berhasil memenuhi segala permintaan pelanggannya.

Penggunaan gas saat itu di Bandung lebih banyak ditujukan untuk kebutuhan bisnis, contohnya untuk dapur-dapur di hotel, pabrik2 roti, pabrik limun, penghangat di penginapan, barak, rumah sakit, dll. Sedangkan untuk industri, perusahaan ini juga menyalurkan gas ke pabrik altileri (sekarang PT Pindad) dan perusahaan swasta lainnya. Pada tahun 1930’an, telah dibuat sekitar 3.750 sambungan gas. Oh ya, Saat itu gas disalurkan lewat pipa-pipa, bukan lewat tabung gas seperti sekarang..

Pada bulan September 1928, NIGM membeli dan mulai menempati bangunan di Braga 33 (lihat gambar) yang tadinya digunakan Sekertariat Bandoeng Vooruit dan Kantor N.V. Becker & Co. untuk digunakan sebagai tempat kantor pembayaran dan showroom.

Setelah lama digunakan NIGM, Bangunan yang dirancang Richard Leonard Arnold (R.L.A.) Schoemaker tahun 1919* ini kemudian beralih tangan ke perusahaan gas negara pasca kemerdekaan hingga saat ini.

Setelah lama tidak ditempati, syukurlah baru-baru ada wacana untuk menghidupkan kembali gedung NIGM ini. Nice…

*Martien de Vletter dalam buku “Masa Lalu dalam Masa Kini:Arsitektur di Indonesia menyebutkan bahwa bangunan ini karya Wolff Schoemaker.

 

 

 

Gedung Gas

Posted in Arsitektur, Braga on September 11, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : Nia Janiar

Kalau lewat Jalan Braga arah Jalan Naripan, akan terlihat sebuah gedung besar di sebelah kanan jalan. Gedung ini selalu ditutup karena tidak dipakai dan bidang luas di depan gedung selalu menjadi bulan-bulanan warga untuk digambari atau ditempeli sesuatu. Kalau malam, trotoar depannya dipakai orang-orang untuk duduk-duduk sambil minum minuman beralkohol yang beli dari mini market terdekat. Tapi sepertinya malam ini tidak akan ada yang duduk di sana karena trotoarnya hitam dan bau. Menurut warga, ada gerobak tempat sampah yang sempat berhenti dan airnya sampahnya menetes kemana-mana.

Saat ngaleut hari Minggu (9/9) kemarin, pintu gedung besar itu terbuka, hanya boleh dikunjungi aleutians dan beberapa anak ITB yang memang mengurus perizinan untuk masuk. Kata Bey, ketua kelompok non VIP (bercanda), kita beruntung bisa masuk karena perizinannya susah dan harus diurus ke Jakarta. Lagi-lagi, pengalaman menelusuri tempat yang tidak dikunjungi semua orang yang saya dapat melalui aleut seperti basement Galeri Ropih, jalur lava Pahoehoe, Hotel Wilhelmina/Braga, dan Gedung Swarha (bagian ini saya tidak ikut).

Jadi, gedung yang kami kunjungi adalah Gedung Gas, saudara setanah air! Kata Bang Ridwan, ia pernah mengunjungi gedung ini tahun 1980-an untuk membayar gas (sebagaimana orang-orang pergi ke Jalan Surapati untuk membayar listrik). Gas-gas dialirkan melalui pipa bawah tanah, yang kata M. Ryzki Wiryawan, “Penggunaan gas saat itu di Bandung lebih banyak ditujukan untuk kebutuhan bisnis, contohnya untuk dapur-dapur di hotel, pabrik-pabrik roti, pabrik limun, penghangat di penginapan, barak, dan rumah sakit.” Terus konon gas ini bukan tipe eksplosif seperti tabung gas 3kg.

Saat masuk, kami disambut dengan sebuah ruangan besar. Di pojok kiri ada semacam meja resepsionis dengan judul “Gangguan” dan di pojok kanan ada semacam dapur kering. Menuju ruang tengah, di sana terdapat sebuah ruang agak lapang yang terang karena di atasnya terdapat atap kaca yang cahayanya tembus dari lantai dua. Sepertinya ini tipe rumah lama ya? Karena rumah saya juga memiliki kaca di atap sehingga lumayan menghemat listrik.

Gedung Gas ini memiliki banyak ruangan yang memiliki langit-langit tinggi, dilengkapi kaca-kaca yang kondisinya baik, juga lampu-lampu gantung yang sudah oleng. Selain berdebu (tentunya), di gedung ini banyak sekali burung-burung yang berterbangan. Di salah satu ruangan lantai dua, yang sepertinya adalah ruangan yang mereka pilih untuk membuat sarang, penuh dengan kotoran burung yang mengotori sisi dindingnya. Masuk ke dalam ruangan tersebut seperti berada di dalam sangkar burung raksasa. Walaupun banyak debu dan kotoran burung, gedung ini tidak terlalu pengap dan kadang terasa aliran udara melalui jendela.

Yang paling saya suka dari gedung ini adalah pintu-pintu yang besar dan lebar, kaca-kaca yang banyak dan langit-langit yang tinggi yang bikin suasana jadi terang dan sejuk. Walaupun bangunannya tidak banyak hiasan seperti Kala di Landmark atau New Majestic, saya menyukai detil penyangga atap yang berada di dekat ruang masuk. Secara keseluruhan, Gedung Gas terlihat masih kokoh. Sayang jika tidak digunakan. Namun lebih sayang jika dihancurkan kemudian dibangun hotel di atasnya.

original post : http://mynameisnia.blogspot.com/2012/09/gedung-gas.html

 

 

 

Gedung GEBEO Bandung

Posted in Arsitektur on September 11, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : M.Ryzki Wiryawan (@sadnessystem)

Bandung semakin gemerlap ketika pada tahun 1905 berdiri sebuah perusahaan yang mengelola penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan publik bernama Bandoengsche Electriciteit Maatschappij (BEM) yang kemudian berganti nama menjadi Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO N.V.) pada tahun 1920. Penggunakan nama “Gemeenschappelijk” pada perusahaan ini menunjukan bahwa perusahaan ini tidak murni milik swasta, melainkan sebagian sahamnya dimiliki oleh pemerintah.

Walaupun demikian Gebeo adalah perusahaan yang hanya mengurusi pendistribusian listrik, sedangkan pengelolaan pembangkit listrik dilakukan pemerintah lewat dinas Waterkracht en Electriciteit. Pada tahun 1930, Satu-satunya pembangkit listrik yang dimiliki Swasta adalah yang terletak di Cianjur, mampu menyediakan 342 KW listrik, hanya memenuhi sangat sedikit dibandingkan seluruh kebutuhan perusahaan. Kebutuhan listrik lainnya dipenuhi oleh pembangkit2 listrik tersebut tersebar di seantero Jawa Barat, seperti PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok/Dago, PLTA Ubruk dan Kracak.

Sebelum menempati gedung yang berada di Jl Asia Afrika sekarang, Gebeo berkantor di Bragaweg. Adapun bangunan yang berada di Jl Asia Afrika dan kini digunakan oleh PLN merupakan rancangan arsitek Gmelig Meyling yang dibangun tahun 1940.

Fakta ini sekaligus meluruskan anggapan yang menyebutkan bahwa gedung GEBEO yang berada di atas “sumur bandung” ini sebagai karya dari Wolff Schoemaker. Pada kenyataanya, biro arsitek Schoemaker memang sempat merancang desain pengembangan gedung GEBEO ini, tapi rancangan tersebut hilang pada masa konfrontasi Belanda-Republik, sehingga akhirnya desain pengembangan Gedung Gebeo ini kembali dilakukan oleh Gmelig Meyling pada tahun 1948.

Kini gedung ini masih sering dikunjungi orang2 yang ingin meminta berkah dari “sumur bandung” yang terletak di bagian bawah (basement) gedung… Sedangkan saya sendiri sesekali mengunjungi gedung ini untuk berburu buku bekas yang dijual di pelataran sisi gedung

Ngaleut! Taman Hutan Raya Djuanda!

Posted in Catatan Perjalanan on September 3, 2012 by KomunitasAleut!

Oleh : Asep Suryana

Meskipun pernah beberapa kali ke Taman Hutan Raya (THR) Ir. H. Djuanda – Bandung  bahkan melanjutkan hingga ke Maribaya – Lembang, kali ini bersama Komunitas Aleut sepertinya akan mendapat sesuatu yang baru (26-08-2012). THR dapat dijangkau dengan mudah. dari Terminal Dago  l.k. 2 kilometer ke arah utara..  Ci Kapundung adalah sungai yang mengalir di dalam kawasan THR juga merupakan batas alam yang memisahkan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Beberapa lokasi belum pernah saya sambangi sebelumnya. Obyek baru antara lain “lava pahoehoe”, penangkaran rusa, dan ternak lebah madu. Ci Kapundung adalah sungai yang membelah Kota Bandung. Hulu Ci Kapundung berada di kaki Bukit Tunggul kemudian mengalir ke arah barat sepanjang Patahan Lembang dan di bawah Curug (air terjun) Omas Maribaya debit airnya bertambah oleh aliran dari Ci Gulung yang berasal dari kaki Gunung Tangkubanparahu.  Aliran Ci Kapundung kemudian membelok ke selatan melalui celah patahan di kawasan Maribaya dan terus melewati kota Bandung dan akhirnya bermuara di Ci Tarum dekat Dayeuh Kolot.

Kondisi CiKapundung sebelah barat Goa Jepang

Di kawasan THR ini terdapat beberapa bendungan yang digunakan untuk mengarahkan air ke saluran hingga ke kolam penampungan yang digunakan untuk kepentingan bahan baku air bersih oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Tirtawening-Bandung dan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA Bengkok, beroperasi sejak 1922). PDAM Tirtawening berasal dari perusahaan sejenis yang didirikan pada jaman kolonila Stadsgemente Water Leiding Bandoeng (1916-1928).  Karena debit air sudah dikurangi, maka aliran air di Ci Kapundung di bawah Gua Jepang hingga bendungan sedikit sekali apalagi di musim kemarau seperti saat ini. Namun demikian kita dapat mengamati dasar sungai lebih jelas.

Salah satu bendungan

Coba kita amati foto satelit dari Google Earth mulai THR hingga Gunung Manglayang di bawah garis patahan naik. Daerah yang masih hijau adalah THR, Bojong Koneng, dan Gunung Palasari. Setengah bagian kota Bandung dari Ci Kapundung yang membelah kota hingga bagian timur kota Bandung di Ujungberung daur hidrologisnya antara lain bergantung pada sabuk hijau di atas Patahan Lembang. Jika daerah ini rusak atau berkurang, maka air tanah di cekungan Bandung pun terancam. Saat ini kebutuhan air bersih penduduk Kota Bandung belum dapat dilayani sepenuhnya oleh PDAM. Jika kita ambil rata-rata tinggi Patahan Lembang dari permukaan laut 1350 meter dan dataran tinggi Bandung 650 m dpl. serta jarak rata-rata keduanya 6,5 km dapat dibayangkan seandainya sebagian besar area pada kemiringan tersebut adalah ladang dan atau perumahan. Pada musim hujan dapat mengakibatkan banjir di kota Bandung dan pada musim kemarau kesulitan mendapatkan air tanah. Seperti juga Ci Kapundung Patahan Lembang adalah batas alam yang memisahkan KBB dan Kabupaten Bandung.

USGS: Siklus hidrologi

Google Earth: Potret Satelit kawasan Bandung Utara a.l. THR Ir. H. Djuanda dan Patahan Lembang

Google Map: Potret kontur Bandung Utara

Daerah Bojong Koneng yang masih hijau adalah instalasi militer dan tidak sembarang orang dapat masuk sehingga pepohonan di sana terjaga. Masalah besar yang dihadapi seputar THR adalah pembangunan perumahan, sedangkan di bagian timur hingga lereng Gunung Palasari adalah perladangan. Daerah tersebut termasuk ke dalam Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Menurut hemat saya alangkah baiknya Kecamatan Cimenyan dan di sebelah timurnya Kecamatan Cilengkrang dimasukkan ke dalam wilayah Kota Bandung. Mengapa? Karena kota Bandung berkepentingan dengan kondisi perbukitan di Bandung utara tersebut. Begitupun penduduk di kedua kecamatan tersebut secara administratif tidak jauh mengurusnya ke Soreang, tetapi lebih dekat ke kota Bandung. Sudah lama jalan-jalan di sebelah utara Kota Bandung di dalam n wilayah Kabupaten Bandung rusak seperti jalan menuju Palintang dan Desa Cilengkrang, sehingga cukup berdampak terhadap pengangkutan hasil pertanian.

Curug (Air terjun) Koleang

Salah satu obyek menarik dan belum sampai setahun ditemukan adalah Lava Pahoehoe. Menurut situs http://www.govisithawaii.com “pahoehoe” (istilah Hawaii) diucapkan “pah hoy hoy”. Pahoehoe mengacu pada lava basaltik yang memiliki permukaan halus, menggelembung, bergelombang, atau berurat. Bentuk permukaan ini karena pergerakan lava dari bagian bawah lava sudah mulai mendingin seperti kaki-kaki yang menjulur. Di THR, Lava Pahohoe terletak antara Curug (air terjun) Koleang dan Curug (Kidang) l.k. 2 km dari Goa Balanda. Untuk mencapainya kita harus turun dari jalur utama l.k. 100 m hampir tegak lurus. Sebaiknya turun paling tidak dengan bantuan tali.

Turun menuju tempat lava pahoehoe

Lava pahoehoe

Inspirasi dari “ngaleut” kemarin a.l. agar meningkatkan terus efisiensi penggunaan air dan ikut memelihara lingkungan yang menjadi unsur siklus hidrologis air. Komunitas juga mempelajari bagaimana dahulu sejak pemerintah kolonial Hindia Belanda menjaga kelestairn kawasan THR ini dan memanfaatkan Ci Kapundung. Sekarang sudah tersedia papan informasi di lokasi-lokasi penting untuk diketahui umum. Sungguh menyenangkan bisa belajar berbagai hal di THR ini. Pada hari Minggu kami berjalan salah satu yang mengganggu berjalan di “jogging track” utama dari Gua Belanda hingga Maribaya adalah setiap menit pejalan kaki harus mengalah dengan sepeda motor, kuda, atau sepeda. Jalur itu dibuat dengan “paving block” untuk berjalan kaki bukan diaspal dan mudah rusak bila dilalui sepeda motor. Harga makanan dan minuman yang dijual oleh warung-warung dalam kawasan THR tergolong mahal apalagi dibandingkan di daerah tujuan olah raga “hiking” di sebelah timurnya seperti Warung Bandrek, Caringin Tilu, Oray Tapa, Palintang, dan Cilengkrang.

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.258 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: