Jejak Masa Lalu “Yang Terlupakan”

Posted in Catatan Perjalanan, Kemerdekaan, Komunitas Aleut, Kota, Monumen / Tugu, Tokoh on April 11, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Wisnu Setialengkana (@naminawisnu)

Ironis. Satu kata yang terucap bila melihat tempat ini.
Tempat yang merupakan situs sejarah. Salah satu jejak masa lalu ‘yang terlupakan”

Mungkin masih banyak yang tidak tahu mengenai bangunan di foto yang ada diatas itu. Yakin tidak mengetahuinya ?

Ironis. Kembali harus saya ucapkan bila tidak mengetahuinya. Terlebih bila orang Bandung.

Baiklah, kita tambah lagi ya fotonya.

Sudah lebih terbayangkan kan ?

Bangunan tersebut adalah bagian sisa dari Penjara Banceuy.
Penjara Banceuy adalah nama sebuah penjara di kota Bandung[1], yang identik dengan Presiden Pertama Indonesia Soekarno, Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929 dan dipenjara di Penjara Banceuy ini, sehingga Penjara ini identik dengan nama nya.

Penjara Banceuy dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1877, awalnya penjara ini diperuntukkan bagi tahanan politik tingkat rendah dan kriminal. Di penjara ini ada 2 macam sel yaitu sel untuk tahanan politik di lantai atas dan sel untuk tahanan rakyat jelata di lantai bawah. Sel penjaranya sendiri berukuran 1,5 x 2,5 meter. Inilah yang menjadi titik tolak kenapa bangunan ini bersejarah.
Pada tanggal 29 Desember 1929, Soekarno serta tiga rekan dari PNI, Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja ditangkap di Yogyakarta dan kemudian dijebloskan ke penjara Banceuy selama kurang lebih 8 bulan. Di sinilah Soekarno menyusun pledoi yang sangat terkenal yang kemudian diberi nama Indonesia Menggugat. Yang dibacakan di sidang pengadilan di Gedung Landraad (kini bernama Gedung Indonesia Menggugat yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan). Pada tahun 1983 penjara Banceuy dipindahkan ke Jalan Soekarno-Hatta. Yang kemudian penjara Banceuy ini sendiri dibongkar untuk dijadikan kompleks pertokoan dan disisakan hanyalah sel penjara Bung Karno dan menara pos penjaga.

Penjara Banceuy menjadi bagian dari saksi bisu sejarah perjuangan rakyat Indonesia. Di penjara ini, presiden pertama RI Ir. Soekarno pernah mendekam selama delapan bulan atas tuduhan pemberontakan dan dijerat pasal-pasal karet haatzai artikelen. Saat itu, pada akhir Desember 1929, Soekarno yang menjabat Ketua PNI dijebloskan ke Penjara Banceuy bersama rekan satu pergerakannya, yaitu R. Gatot Mangkoepradja (Sekretaris II PNI Pusat PNI), Maskoen Soemadiredja (Sekretaris II Cabang Bandung), dan Soepriadinata (Anggota PNI Cabang Bandung).

Di penjara itu, Soekarno menempati sel nomor 5 yang hanya berukuran 2,5 x 1,5 meter dan berisi kasur lipat juga toilet nonpermanen. Pada ruangan pengap ini pula, Soekarno menyusun pidato pembelaan (pledoi),[3] yang dibacakan pada sidang Pengadilan Hindia Belanda di Gedung Landraad (kini Gedung Indonesia Menggugat) di Jalan Perintis Kemerdekaan (dahulu Jalan Gereja). Pledoi dengan judul Indonesie Klaagt Aan (Indonesia Menggugat) pun menjadi terkenal.

Sudah cukup informasinya kan ?

Sekarang saya ingin berbagi informasi saja mengenai bangunan tersebut yang saya sebut sebagai Jejak Masa Lalu “Yang Terlupakan”.

Mengapa “yang terlupakan” ?

Karena memang tidak banyak yang peduli terhadap bangunan tersebut.

Saya yakin Pemerintah Pusat, Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung mengetahui keberadaan situs sejarah tersebut. Saya sangat yakin.

Saya pun percaya bahwa keluarga Bung Karno yang saat ini menjadi bagian ‘kelompok penting” di negara Indonesia mengetahui keberadaan dan nilai sejarah bangunan tersebut. Meski hanya sepetak sel penjara.

Namun apa yang diceritakan oleh Pak Achmad, sang penjaga situs bersejarah itu ?

Kembali, kata Ironis yang harus saya ucapkan.

Makin Ironis, bila kita membaca spanduk berikut ini :

 

Situs bersejarah ini dilindungi oleh Undang-Undang RI dan Peraturan Daerah Kota Bandung loh. Dan seharusnya kondisinya tidak seperti yang saya lihat hari minggu ini (6-4-2014)

Ah, tapi ternyata saya memang belum bisa menghentikan untuk mengucapkan kata Ironis.
Bung Karno terkenal dengan pidatonya yang berjudul ‘JASMERAH’ – Jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Namun kenyataannya saat ini, keluarga besar Bung Karno, pengagum Bung Karno, pencinta dan fans berat Bung Karno seakan-akan melupakan salah satu jejak langkah sejarah dari seorang Bung Karno. Ironis.

Bahkan, beberapa teman saya, mengira bahwa sel Bung Karno di Penjara Banceu adalah foto ini :

Sekali lagi, Ironis !!

Ini beberapa foto sel no 5 yang ditempati oleh Bung Karno

Agar kata-kata ironis tidak keluar terus, sepertinya informasi mengenai keberadaan situs sejarah ini harus lebih disebarluaskan.
Kemudian setelah itu ? Seharusnya kita bersama-sama memberikan perhatian terhadap situs bersejarah ini.
Bagaimana caranya ? Mungkin hal terkecil adalah memberikan bantuan berupa peralatan untuk pemeliharaan.
Bila memang ada niat, kita bisa berkomunikasi dengan Pak Achmad. Informasi mengenai keberadaan Pak Achmad sebenarnya terpampang juga didepan situs bersejarah ini. Ada sebuah spanduk.

Yuk, mulai sekarang kita makin lebih peduli dengan jejak sejarah bangsa ini.
Menarik kok untuk mengetahuinya, belajar dan turut serta dalam menjaga keberadaan jejak-jejak sejarah bangsa ini.

Sebagai tambahan, ada foto teman-teman Komunitas Aleut di situs bersejarah ini.


Oh iya, di sekitar situs ini juga ada beberapa tulisan yang bisa jadi bahan perenungan kita semua

 

Sumber :
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Penjara_Banceuy
2. Foto-foto pribadi @naminawisnu

Menggali Sejarah Perkembangan Kota dari Permakaman di Kota Bandung

Posted in Catatan Perjalanan, Komunitas Aleut, Kota, Kota Tua, Lingkungan, Makam, Pasar Baru Bandung, Pecinan, Plesiran with tags , , , , , , , , on Maret 12, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Ariyono Wahyu

Permakaman merupakan salah satu fasilitas/perlengkapan sebuah kota yang penting. Bila mereka yang hidup membutuhkan kompleks permukiman sebagai tempat tinggal untuk bernaung, maka mereka yang telah “berpulang ke keabadian” juga membutuhkan tempat untuk move on menuju kehidupan selanjutnya.

Ternyata, melalui permakaman, kita juga dapat menggali sejarah perkembangan sebuah kota. Berikut ini adalah cerita mengenai permakaman yang saya baca di buku-buku yang membahas kota  Bandung. Dalam buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” karya Haryoto Kunto, ada disebutkan istilah kerkhof yang artinya kuburan. Kerkhof adalah kata kuno dalam bahasa Belanda untuk permakaman. Kerkhof Belanda tertua di kota Bandung terdapat di ruas Jl. Banceuy sekarang, dulu lokasinya disebut Sentiong. Ternyata kata Sentiong yang berasal dari bahasa Cina juga bermakna kuburan. Cukup lama bekas Sentiong di Jl. Banceuy ini ditempati oleh sebuah Pasar Besi, tapi sekarang lokasi itu sudah tidak ada dan di atasnya didirikan bangunan pertokoan baru. Sampai paruh pertama abad ke 19, batas utara kota Bandung baru sampai di daerah  Jl.  Suniaraja sekarang ini, jadi tidak mengherankan bila di pinggiran kota ini dulu terdapat permakaman.

Kerkhof di Jl. Banceuy sering disebut bergantian dengan Sentiong karena di dalamnya tidak hanya terdapat permakaman orang Belanda, melainkan juga orang keturunan Cina. Salah satu warga kota terkemuka yang dimakamkan di Sentiong adalah Asisten Residen Carl Wilhelm August Nagel. Ia tewas dalam huru-hara Munada pada akhir tahun 1845. Akibat kerusuhan ini pasar kota (pasar lama di Ciguriang) terbakar dan akibatnya kota Bandung tidak memiliki pasar hingga dibangunnya Pasar Baru di awal abad ke 20.

Kerkhof Sentiong di Jl. Banceuy eksis hingga akhir abad 19. Saat itu suasana sekitar permakaman sungguh sunyi, apalagi bila hari sudah malam. Warga yang bermukim di daerah utara kota, sepulang dari menikmati hiburan atau keramaian malam di sekitar Alun-alun akan menghindari daerah Jl. Banceuy tempat kerkhof berada. Suasana yang sepi dan gelap membuat tidak nyaman, mereka akan memilih melewati jalan yang agak memutar melalui daerah Pecinan di belakang Pasar Baru yang selalu ramai hingga pagi hari.

Dalam perkembangan berikutnya, batas utara kota Bandung bergeser ke daerah Jl. Pajajaran sekarang. Permakaman Sentiong harus dipindahkan untuk menyesuaikan dengan perkembangan kota. Kuburan-kuburan warga etnis Cina dipindahkan ke daerah Babakan Ciamis. Lalu ruas jalan lama bekas Sentiong dinamai Oudekerkhofweg atau Jalan Kuburan Lama.

Tampaknya hingga tahun 1950-an permakaman Cina di daerah Babakan Ciamis masih ada, seperti yang ditulis oleh Us Tiarsa dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan”. Menurut Us, makam-makam Cina yang disebut dengan Bong terletak di lembah antara daerah Cicendo dengan Kebon Kawung. Di sana terdapat pintu air sungai Ci Kapundung yang sering dijadikan lokasi bermain dan berenang anak-anak dari daerah Cicendo dan Babakan Ciamis. Walaupun daerah Bong tersebut terkenal angker karena banyaknya anak-anak terbawa hanyut saat Sungai Ci Kapundung meluap, namun tetap saja menjadi tempat berenang favorit bagi anak-anak pada masa itu.

AstanaanyarSebuah makam keluarga di tengah kompleks permakaman Astanaanyar. Foto: mooibandoeng.

Sementara itu, kuburan-kuburan orang Eropa juga dipindahkan dari Sentiong ke kerkhof di Kebon Jahe, di lokasi yang sekarang ditempati oleh GOR Pajajaran. Periode ini berlangsung saat jabatan Asisten Residen Priangan dijabat oleh Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898 ia mendirikan wadah untuk menyalurkan partisipasi serta aspirasi warga kota yaitu Vereeniging tot nut van Bandung en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan sekitarnya. Upaya organisasi ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan fasilitas kota, di antaranya adalah pembukaan jalur-jalur jalan, perumahan, pembangunan sarana pendidikan, dan pembangunan Pasar Baru. Di Bidang sosial, organisasi ini mendirikan perkumpulan yang bertugas untuk mengurusi masalah kematian, organisasi ini pula yang memindahkan Kerkhof Sentiong. Untuk permasalahan yang berhubungan degan kematian, perkumpulan ini menyediakan kereta jenazah. Kereta jenazah ini adalah kereta kuda beroda empat yang ditarik oleh empat ekor kuda putih. Model kereta jenazah ini seperti ranjang kuno dengan kelambu berwarna hitam.

Pada awal abad ke-20 kota Bandung sempat dikenal dengan julukan yang menyeramkan yaitu Kinderkerkhof (kuburan anak-anak), ini terutama akibat wabah kolera pada tahun 1910. Tingkat kematian anak terhitung tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Suasana kota Bandung sebelum tahun 1917 pun tak kalah menyeramkan, kuburan atau makam dapat dengan mudah ditemukan di pekarangan, di samping, di belakang rumah atau di kebun-kebun warga. Praktis tak ada aturan mengenai makam-makam ini. Keadaan ini ditertibkan pada tahun 1917 dengan dikeluarkannya Bouwverrordening van Bandung (Undang-Undang Pembangunan Kota Bandung). Sejak dikeluarkannya aturan ini pemakaman jenazah harus dilakukan di tempat yang telah ditentukan, yaitu di komplek permakaman, seperti untuk warga muslim yang ditempatkan di permakaman Astana Anyar (Kuburan Baru).

101_0062Sebuah makam di tengah gang umum di kawasan Cihampelas. Foto: Hani Septia Rahmi.

Sebenarnya urusan permakaman telah menjadi tugas dan kewajiban pemerintah kota setelah Bandung memperoleh status Gemeente (Kotapraja) yang berarti menjadi daerah otonomi, kota yang dapat mengurus, mengatur, dan mengelola beberapa macam wewenang sebagaimana rumah tangga sendiri. Pengesahan tersebut terjadi pada tanggal 1 April 1906, melalui perundang-undangan tanggal 21 Februari 1906 dan 1 Maret 1906. Pengesahan dilakukan oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutz. Saat itu Residen Priangan dijabat oleh G.A.F.J. Oosthout, Asisten Residen oleh E.A. Maurenbrechter, dan bupati dijabat oleh R.A.A. Martanagara. Semuanya berkedudukan di Bandung.

Dalam perundang-undangan itu diatur mengenai tugas dan kewajiban Gemeente, di antaranya adalah: pembuatan dan pemeliharaan perkuburan umum Islam maupun Kristen di dalam wilayah Gemeente Bandung. Juga menyelenggarakan kuburan Cina di luar kota (Gemeente). Setelah status kota Bandung diubah menjadi Stadsgemeente dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 27 Agustus 1926 No.3 (Staatsblad 1926 No. 369), kota Bandung tidak lagi dikepalai oleh Asisten Residen, ini terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1926. Sejak saat itu yang menjadi pemimpin dalam mengurus kota adalah seorang walikota/Burgemeester.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya walikota membaginya kepada 3 orang Pembantu Walikota/Wethouders, yang terdiri dari seorang berkebangsaan Belanda, Bumiputra dan Cina. Salah satu tugas Wethouder adalah mengurus kuburan bagi bangsa mereka, maksudnya untuk Wethouder berkebangasaan Belanda kebagian tugas mengurus kuburan Kristen/Eropa (Europeesche begraafplaatsen), bagi Wethouder Bumiputera mengurus kuburan Islam (Mohammedaansche begraafplaatsen), demikian pula dengan pembantu walikota beretnis Cina memiliki tugas mengurus kuburan Cina (Chineesche begraafplaatsen).

IMG-20140312-WA0017Makam keluarga Ursone di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Kerkhof Kebon Jahe didirikan dalam masa yang sama degan Pabrik Kina yang terletak di sebelah timurnya. Kira-kira tahun 1896. Ada banyak tokoh kota dimakamkan di sini, salah satunya adalah  Dr. C.H. Westhoff (pendiri Rumah Buta yang lokasinya berada di seberang kerkhof), familie Ursone dengan mausoleumnya yang bergaya barok berlapis batu marmer Carrara. Tak mengherankan, salah satu anggota keluarga pemilik peternakan sapi Ajax di Lembang ini juga memiliki perusahaan Carrara Marmerhandel en–bewerking. Pengelola perusahaan yang terletak di Bantjeuj itu adalah  A. Ursone.

Setidaknya ada 16 orang lainnya yang memiliki hubungan dengan perkembangan kota Bandung dimakamkan di Kerkhof Kebon Jahe. Siapa saja ya?

Cerita mengenai kerkhof Kebon Jahe, juga ditulis dalam buku “Basa Bandung Halimunan” karya Us Tiarsa. Buku ini berkisah mengenai pengalamannya hidup di Bandung pada tahun 1950-60an. Dalam buku yang berbahasa Sunda ini Pak Us bercerita tentang pembagian kelas-kelas makam. Kelas 1 makamnya besar-besar dan terletak paling utara, dekat dengan ke jalan raya (Jl. Pajajaran). Makam-makam dihiasi porselen serba mengilap. Makam lain dilapisi marmer yang tebal berbagai warna, ada yang putih, kehijauan, atau kekuningan. Makam-makam di kelas 1 dilengkapi hisan berupa patung malaikat, bidadari, atau patung Yesus. Ukurannya beragam, mulai dari sebesar orang dewasa hingga ke ukuran terkecil seukuran tangan anak kecil. Pot dan vas kembangnya bagus terbuat  dari bahan porselen, gelas, marmer, atau kuningan. Tak ada yang berbahan gerabah.

Makam kelas 2 terletak agak ke sebelah selatan, kebanyakan hanya menggunakan batu granit dan tanpa penutup. Kadang ada yang ditutupi memakai beton namun tak sekokoh penutup beton yang menaungi makam-makam di kelas 1. Sedangkan makam kelas 3 terletak paling selatan. Makam-makam di area ini kebanyakan bahkan tanpa nisan.

Di tahun 1950an-60an Pak Us Tiarsa tinggal di Kebon Kawung, tak jauh dari kerkhof tersebut. Katanya, setelah masa kemerdekaan pun kerkhof Kebon Jahe adalah permakaman yang tetap terpelihara dan bersih, rumputnya tertata rapi dan dipotong secara teratur. Di dalam area permakaman terdapat jalan berbatu, malah ada juga yang menggunakan marmer. Tanamannya mulai dari kacapiring, cempaka gondok dan cempaka cina, serta pohon kamboja. Tak heran bila warga yang bermukim di derah Kebon Kawung, Nangkasuni, Torpedo, Merdeka Lio, Cicendo, atau Rumah Buta, kerkhof Kebon Jahe menjadi tempat bermain dan bersantai. Tak hanya anak-anak kecil, bahkan hingga orang dewasa meluangkan waktu senggangnya dengan bercengkrama di dalam area permakaman ini.

Salah satu kegiatan anak-anak adalah mengumpulkan potongan marmer dari makam. Potongan marmer yang besarnya seukuran jempol kaki dibuat kelereng dengan membentuknya menggunakan golok yang tumpul. Walaupun pada akhirnya kelereng tersebut tidak sepenuhnya bundar, namun sudah cukup bagi anak-anak untuk menggunakannya dalam permainan poces. Kegiatan lainnya yang dilakukan anak-anak kecil dalam area permakaman ini adalah mengumpulkan bubuk marmer yang kemudian dihaluskan menggunakan palu. Bubuk ini digunakan untuk mengilapkan kerajinan tangan dari buah kenari atau tempurung buah kelapa.

Aturan di permakaman ini sebenarnya melarang warga umum masuk ke dalam area kerkhof. Sekeliling area kerkhof dipagari dengan kawat berduri dan pagar hidup dari tanaman seperti kembang sepatu, pringgandani, kacapiring, dan enteh-entehan. Kerkhof Kebon Jahe dijaga oleh banyak penjaga dan dikepalai oleh seorang mandor yang terkenal galak, namanya Mandor Atma. Ia tinggal dekat gapura pintu masuk permakaman di sisi sebelah utara kerkhof (Jl. Pajajaran).

Kerkhof Kebon Jahe akhirnya digusur pada akhir tahun 1973. Sayang pembongkarannya tidak sistemastis, asal bongkar dan kadang dengan membuldoser makam-makam yang ada, akibatnya banyak artefak bersejarah yang hilang. Padahal sebetulnya banyak yang bisa dipelajari dari peninggalan-peninggalan di permakaman. Sebagai contohnya adalah bukti otentik kedatangan orang Belanda di daerah sekitar Bandung pada pertengahan tahun 1700-an dapat dilihat dari batu nisan Anna Maria de Groote, putri Sersan de Groote. Anna meninggal saat masih berusia 1 tahun, yaitu pada tangal 28 Desember 1756. Nisan makamnya pernah ditemukan di Dayeuh Kolot. Tapi sayangnya, makam ini pun entah bagaimana nasibnya sekarang.

Tahun 1932, kota Bandung memiliki kompleks permakaman baru bagi orang Eropa (Nieuwe Europeesche Begraafplaats) yaitu kompleks permakaman yang kini lebih kita kenal dengan sebutan Permakaman Pandu. Bila kita cermati, permakaman Pandu masih menyimpan banyak cerita, di antaranya makam laci. Makam ini berbentuk layaknya laci-laci dikamar jenazah/koroner. Lalu ada makam penerbang yang meninggal karena pesawatnya jatuh, ini juga menandakan masih begitu berbahayanya transportasi udara kala itu.

IMG-20140312-WA0014Makam penerbang di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Copy of SAM_5620BMakam Raymond Kennedy di Pandu. Foto: A13Xtriple.

Banyak makam tokoh yang memilliki hubungan dengan sejarah perkembangan kota Bandung seperti Ir. C.P. Wolf Schoemaker, mausoleum keluarga Ursone yang merupakan pindahan dari kherkhof Kebon Jahe, atau makam Profesor Raymond Kennedy, sorang guru besar dari Universitas Yale yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Raymond Kennedy dibunuh oleh kelompok tak dikenal di daerah Tomo, Sumedang, dalam perjalanan penelitiannya ke Jawa Tengah bersama Robert Doyle, sorang koresponden bagi  majalah Times dan Life. Pembunuhan kedua warga negara Amerika ini menarik perhatian hingga ke pucuk pimpinan Indonesia, salah satunya adalah Bung Hatta yang berjanji akan menemukan kedua pembunuh warga negara Amerika ini. Di kompleks permakaman Pandu terdapat pula kompleks permakaman terpisah khusus bagi tentara KNIL, Ereveld Pandu. Wilayah permakaman ini merupakan wilayah dari Negeri Belanda.

Copy of SAM_5357BMakam Elisabeth Adriana Hinse Rieman di Ciguriang. Foto: A13Xtriple.

Pembongkaran Oude Europeesche Begraafplaats atau Kerkhof Kebon Jahe pada tahun 1970an berlangsung tidak sistematis, banyak kuburan didalam kompleks permakaman Kerkhof Kebon Jahe yang asal saja dibongkar. Sebagian memang dipindahkan ke Permakaman Pandu, tapi sebagian lain rusak begitu saja. Mungkin bukti tidak tertibnya proses pembokaran makam ini dapat kita lihat pada sebuah nisan batu granit atas nama Elisabeth Adriana Hinse Rieman. Nisan berusia 110 tahun ini dipakai penduduk sekitar mata air Ciguriang sebagai batu alas mencuci pakaian.

Copy of SAM_5321BMulut jalan H. Mesrie. Foto: A13Xtriple.

Tak jauh dari mata air Ciguriang terdapat pula makam keluarga saudagar Pasar Baru dan tuan tanah di daerah Kebon Kawung, keluarga H. Moh. Mesrie. Nama Mesrie diabadikan menjadi nama jalan menggantikan Rozenlaan. Kekayaan yang didapat dari usahanya dibelikan tanah-tanah persil di daerah Kebon Kawung. Makam-makam keluarga saudagar Pasar Baru lainnya tersebar di daerah Cipaganti, Sukajadi, Jl. Siti Munigar, Jl. Karanganyar, dan Jl. Kresna.

Kota Bandung tidak memiliki Taman Prasasti seperti yang terdapat di Jakarta, di bekas permakaman lama yang juga bernama Kebon Jahe. Kedua tempat dengan nama sama ini ternyata memiliki nasib yang berbeda. Setelah tidak berfungsi lagi, kerkhof Kebon Jahe Jakarta naik derajatnya menjadi museum bagi nisan-nisan dari masa lalu kota Jakarta. Dari tempat yang sebelumnya ditakuti menjadi tempat bergengsi untuk berfoto, sedangkan nisan-nisan makam di kherkhof Kebon Jahe Bandung hilang ditelan bumi.

Sumber :
Haryoto Kunto “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (1984) Pernerbit PT Granesia Bandung
Haryoto Kunto “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (1986) Pernerbit PT Granesia Bandung
Us Tiarsa R “Basa Bandung Halimunan” (2011), Penerbit Kiblat
Sudarsono Katam “Bandung; Kilas Peristiwa di Mata Filatelis”(2006),  Penerbit Kiblat

Bandungers in Yogya : Bagian 2

Posted in Catatan Perjalanan on Januari 29, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh : R.Indra Pratama (@omindrapratama)

Dari Pakualaman, saya lanjut jalan untuk mengeksplorasi daerah Bintaran. Daerah ini terkenal dengan arsitektur indis-Jawa yang khas. Kawasan Bintaran merupakan kawasan hunian alternatif bagi orang Belanda yang menetap di Yogyakarta. Merupakan perluasan dari kawasan hunian di Malioboro. Nama Bintaran dikenal karena kawasan ini adalah tempat berdirinya Ndalem Mandara Giri, kediaman Bendara Pangeran Haryo Bintoro, salah satu trah Keraton Ngayogyakarta. [1]

IMG_6963Suasana Bintaran

Objek pertama yang saya temui kawasan ini adalah Museum Panglima Besar Sudirman. Seorang tokoh yang saya belum mengerti signifikansinya dalam sejarah pergerakan. Sudirman adalah seorang bekas guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah.  Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Dari saat itulah pasca kemerdekaan, karier militer Sudirman melejit hingga mendapat gelar panglima.

Museum Sasmitaloka SoedirmanMuseum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman

Patung Jenderal Sudirman

Museum ini menempati sebuah rumah tua, yang saat era Yogyakarta sebagai ibukota Indonesia ditempati oleh Sudirman (Pada tanggal 18 Desember 1945 sampai tanggal 19 Desember 1948)[2]. Rumah ini dibangun tahun 1890, pertama ditempati oleh Mr. Wijnchenk, seorang pejabat keuangan Puro Pakualaman[3]. Sayang saat saya datang museum telah tutup. Namun penjaganya masih mengijinkan saya mengambil gambar dari luar.

Patung Jenderal Sudirman

Patung Jenderal Sudirman

Saya jalan lagi (backtrack) melalui Jalan Bintaran menuju Gereja Santo Yusup Bintaran. Gereja ini dibangun tahun 1931 atas prakarsa seorang indo bernama H. van Driessche. SJ.[4]

IMG_6972Gereja Santo Yusup Bintaran

Backtrack lagi, karena perut mulai keroncongan (istilah yang pas dipakai di Yogyakarta), saya pun balik ke arah utara untuk makan di Bakmi Jawa Kadin. Kenapa disebut Kadin, karena di samping warung ini, terdapat Gedung Kamar Dagang Indonesia (KADIN). Bakmi ini sudah melayani pelanggan sejak tahun 1947[5]. Pendiri Bakmi Kadin adalah Mbah HJ. Karto, sedangkan penerusnya adalah Bapak Rochadi. Warung ini juga memiliki fasilitas wi-fi yang cukup cepat. Konon bakmi ini adalah salah satu favorit Soeharto.[6]

Setelah kenyang, saya pun kembali menuju selatan untuk melihat Museum Kirti Griya Taman Siswa di Jalan Taman Siswa. Di Selatan bintaran, saya sempat menemukan plang “Rute Gerilya Jenderal Sudirman”. Namun sepanjang perjalanan berikutnya saya tidak pernah lagi menemukan plang serupa.

Setelah 15 menit, saya pun tiba di depan Museum Kirti Griya. Museum ini dulunya berfungsi sebagai Pendopo Yayasan Tamansiswa, sebuah yayasan pendidikan yang diprakarsai oleh RM Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Awalnya kegiatan belajar-mengajar Tamansiswa berpusat di Jalan Gajah Mada, namun seiring dengan meningkatnya jumlah peserta didik, maka pada tahun 1935 Ki Hadjar Dewantara beserta Ki Sudaminto, Ki Supratolo dan  Mas Adjeng Ramsinah patungan membeli bangunan ini untuk dijadikan pusat kegiatan Tamansiswa. Bangunan ini kemudian direnovasi pada periode Juli-November 1938 dengan penambahan pendopo dan perluasan bangunan asli.

IMG_6973Museum Kirti Griya Tamansiswa

Dana pembangunan pendapa yang diperkirakan menghabiskan dana f. 4000,00 (empat ribu gulden)

Sumber dana antara lain :

1. Para siswa setanah air dengan Gerakan Sebenggolan tiap siswa menyumbang satu benggol (dua setengah sen satu per empat puluh gulden), setiap bulan.

2. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia melakukan penarikan pertandingan sepakbola di berbagai tempat dan uang seluruhnya diserahkan kepada Tamansiswa.

3. Hasil penjualan pekerjaan tangan Wisma Rini yang pada waktu itu pengasuhnya adalah Ni Koema Ratih Wonobojo. [7]

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_'De_heer_Soerjoadipoetro_houdt_een_voordracht_over_de_school_van_Tagore_voor_o.a._kwekelingen_van_het_Nationaal_Onderwijs_Instituut_'Taman_Siswa'_te_Bandung_Java'_TMnr_10002308Suasana Kegiatan Belajar-Mengajar di Salah Satu Sekolah Tamansiswa (tropenmuseum)

Ki_Hadjar_Dewantara,_with_Tamansiswa_Leaders_(page_104)Ki Hajar Dewantara dan Para Pemuka Tamansiswa

Kini saya pun sampai ke bagian paling menantang dari perjalanan ini. Lewat jalan mana saya harus menyeberangi Kali Code untuk menemukan Pemakaman Sasanalaya (dulu Tjandilaya). Saya pun masuk ke daerah Kampung Gondomanan. Menyusuri kampung yang bersih ke arah selatan. Untuk kemudian belok ke barat untuk menyeberangi Kali Code yang dangkal dan kotor (mungkin juga akibat lahar dingin Merapi 2010). Demi meminimalisir kenyasaran, saya bertanya pada warga, arah Pemakaman Sasanalaya. Sambil menunjukkan arah, salah satu ibu menyeletuk “mau sajen to mas?“. Saya senyum aja sambil berterimakasih. Emang ada tampang sajen ya?..

GondomananJembatan Kali Code Gondomanan

Akhirnya sampai juga ke Sasanalaya tempat makam Arie Frederik Lasut, ahli pertambangan dan aktivis Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS)  asal Minahasa. Didalamnya juga terdapat makam Alexander Noel Constantine dan Roy Hazlehurst. Kedua orang ini adalah pilot dan co-pilot pesawat Dakota VT-CLA (membawa obat-obatan untuk keperluan perjuangan dari Malaya), yang ditumpangi oleh tiga pahlawan nasional RI yakni Komodor Muda Udara (Kolonel) A Adisutjipto, Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara (Lettu) Adisumarmo. Pesawat angkut ini sebelumnya milik negara bagian Orissa, India, kemudian dibeli oleh pejuang-pejuang Indonesia untuk mendukung kedaulatan negara RI yang baru saja berdiri. Konon di pemakaman yang dulu dikenal sebagai Kerkhof Gondomanan ini juga terdapat makam fotografer pribumi pertama Kasijan Cepphas. [8]

Sayang saat saya tiba pintu pemakaman ini sudah ditutup. Di gerbang depan masih ada tulisan lama “Tjandi Laya”. Menunjuk nama lama pemakaman ini.

SasanalayaTPU Sasanalaya

Sedikit kecewa, saya pun jalan lagi melewati Purawisata. Di area rekreasi ini rupanya sedang ada panggung musik metal. Sempat ingin masuk tapi takut kemalaman. Di luar banyak berkumpul kawan-kawan muda berbaju hitam. Scene musik Yogyakarta akhir-akhir ini memang menarik dan kompak, meskipun sempat ada tragedi bunuh diri ketua panitia acara Locstock.

Sebetulnya niat saya ingin mencari Ndalem Joyodipuran. Bekas kongres Perempuan Pertama tahun 1928 (yang diperingati sebagai Hari Ibu, tiap 22 Desember). Namun ternyata lokasi tersebut ada di belakang, dan akan menyulitkan saya menuju objek berikutnya.

Akhirnya saya jalan ke barat menuju Jalan Ibu Ruswo. Rejeki memang tidak kemana, saya menemukan sebuah nDalem lagi yang terbuka untuk umum (sebagai lahan parkir), yaitu nDalem Yudonegaran. nDalem ini merupakan bekas rumah Bendoro Pangeran Haryo Yudonegoro, seorang kerabat keraton.  Terdapat beberapa kereta kuda kuno yang bisa diakses, dan ternyata di nDalem ini juga terdapat sebuah sekolah Farmasi.

IMG_6990

Gapura nDalem Yudonegaran

IMG_6993nDalem Yudonegaran

Lanjut jalan lagi, saya pun melewati Plengkung (Gerbang area keraton) Wijilan. Area Wijilan terkenal sebagai sentra gudeg. Saya pun terbuai dan masuk ke Gudeg Bu Djuminten atau dikenal sebagai Gudeg Yu Djum. Buat saya, Gudeg Mbarek yang lebih basah lebih enak. Mirip buatan mertua saya. Harga seporsi Rp.30.000 (plus dada ayam).

IMG_6997Plengkung Wijilan

Plengkung sendiri merupakan bangunan gapura pintu masuk menuju jeron (dalam) benteng Keraton Yogyakarta . Bangunan ini merupakan satu dari lima plengkung yang digunakan untuk masuk ke dalam benteng Keraton Yogyakarta. Kelima plengkung tersebut yaitu : Plengkung Nirbaya, Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) , Plengkung Madyasura (Plengkung Buntet), Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari), Plengkung Jagasura (berada di sebelah barat alun-alun utara). Dari kelima plengkung tersebut, yang terkenal adalah Plengkung Gading dan Plengkung Wijilan karena wujudnya yang masih asli. [9]

Setelah kekenyangan, jalan lagi menuju Alun-Alun Utara. Rupanya sedang ada pasar malam dalam rangka Sekaten. Kata Sekaten sendiri berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Acara ini merupakan peringatan ulang tahun Nabi Muhammad s.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.[10]

IMG_7016Suasana Pasar Malam

Di pasar malam ini, saya kembali kalap melahap empat buah mendoan dan satu plastik gula kapas. Entahlah kandungan apa didalamnya. Penasaran, saya pun menonton wahana tong setan. Wahana ini seru (tapi juga berisik dan bau bensin). Dimana dua sepeda motor RX King, dan satu sepeda onthel (yes man, onthel), berjalan merayap di tong secara vertikal. Tanpa helm dan pengaman apapun. Plus sedikit saweran dari penonton. Ongkos pertunjukkam Rp.10.000 saja untuk 20 menit pertunjukkan. Evel Knievel would say : Worth it!.

IMG_7019Persiapan Pertunjukan Tong Setan

Beranjak dari alun-alun, saya pun masuk ke area Masjid Gedhe Yogyakarta. Jadi teringat setting film Sang Pencerah. Memang di kawasan inilah dulu Kyai Ahmad Dahlan berjuang menegakkan Islam yang diyakininya, dengan tentangan dari kaum konservatif.

Di area Masjid Gedhe juga ada pasar kaget. Dalam masjid sedang ada ceramah. Saya sendiri menjama’ Maghrib dan Isya disini. Karena takut lupa. Di dua bangsal di halaman masjid nampak dua rombongan pemain set gamelan sedang bersiap main. Masjid Gedhe Kauman dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M atau 6 Robi’ul Akhir 1187 H.[11]

IMG_7048 Masjid Gedhe Kauman YogyakartaIMG_7051Suasana Masjid Gedhe

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Klein_gebouw_behorend_bij_de_moskee_op_het_stadsplein_Jogjakarta_TMnr_10014974Gerbang Masjid Gedhe 1920an (Tropenmuseum)

Lama menunggu degung yang tak kunjung main, saya pun jalan ke belakang masjid menuju Kampun Kauman. Di Kampung inilah ulama-ulama Masjid Gedhe dan keluarganya bermukim. Di ujung gang saya menemukan sebuah monument. Di monumen itu terdapat tulisan “Syuhada bin Fisabillillah”, tahun 1945 – 1948, dan daftar nama  ( 25 orang). Monumen itu didirikan untuk memperingati jasa warga Kauman yang meninggal ketika ikut pertempuran di era revolusi fisik..[12]

IMG_7058Monumen Fisabilillah

IMG_7059

Suasana Kampung Kauman

Saya sempat pula mengunjungi langgar pertama Ahmad Dahlan, juga sebuah sekolah dasar yang dibangunnya tahum 1919.

IMG_7083Langgar KH Ahmad Dahlan

IMG_7084SD Muhammadiyah Suronatan. Dibangun Tahun 1919 oleh KH Ahmad Dahlan

Saya melewati Kampung Kauman yang rapi dan bersih menuju Jalan Nyi Ahmad Dahlan. Sempat melewati Plengkung Jagasura. Kata jagasura berasal dari dua unsur kata yakni jaga ‘menjaga’ dan sura ‘berani’. [13]

IMG_7077Plengkung Jagasura

Bersambung ke bagian ketiga..


[1] Yunanto Wiji Utomo. 2007. Bintaran, Dari Kediaman Pangeran Bintoro ke Kawasan Indisch. Diakses via yogyes.com (http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/architectural-sight/bintaran/) 29 Januari 2014

[2] Imran, Amrin (1980). Panglima Besar Jenderal Soedirman. Jakarta: Mutiara

[3] Suwandi. 2012. Pengunjung “Kecelik” Saat Museum Sasmitaloka Pangsar
Jenderal Sudirman Yogyakarta Direnovasi. Diakses via tembi.net (http://www.tembi.net/en/news/museum/pengunjung-kecelik-saat-museum-sasmitaloka-pangsar-jenderal-sudirman-yogyakarta-direnovasi-3720.html) 29 Januari 2014.

[4] Yunanto Wiji Utomo. 2007. Bintaran, Dari Kediaman Pangeran Bintoro ke Kawasan Indisch. Diakses via yogyes.com (http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/architectural-sight/bintaran/) 29 Januari 2014

[5] Arisca Meir.

[6] I Made Asdhiana. 2011. Bakmi Kadin Yogyakarta. Diakses via travel.kompas.com (http://travel.kompas.com/read/2011/04/08/08470887/Bakmi.Kadin.Yogyakarta) 29 Januari 2014.

[7] Taman Siswa .1993. Buku Petunjuk Musuem Dewantara Kirti Griya. Proyek Taman Siswa

[8] A. Sartono. 2013. Sasanalaya Menjadi Persemayaman Terakhir Pejuang Indonesia Asal Australia dan Inggris. Diakses via tembi.net (http://www.tembi.net/id/news/bale-dokumentasi-situs/sasanalaya-menjadi-persemayaman-terakhir-pejuang-indonesia-asal-australia-dan-inggris-5381.html) 29 Januari 2014

[9] http://www.tagtung.com/173-plengkung-gading.html

[10] Pemerintah Kota Surakarta. 2011. Calendar of Cultural Event Solo 2011.

[11] Olivia Lewi Pramesti. 2011. Masjid Kaum Duafa. National geographic Indonesia.[12] Yunanto Wiji Utomo. 2011. Kampung Kauman, Pesona Perjuangan Islam. Diakses via yogyes.com (http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/neighborhood/kauman/) 29 Januari 2014.

[13] Sartono K. Keraton Yogyakarta-Plengkung Jagasura. Diakses via tembi.net (http://www.tembi.org/keraton_yogja/plengkung_jagasura.htm) 29 Januari 2014.

Bandungers in Yogya : bagian 1

Posted in Catatan Perjalanan, Yogyakarta on Januari 24, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh : R.Indra Pratama (@omindrapratama)

Sebagai mantan social scientist, saya benar-benar benci dengan sistem feodal yang sedikit banyak masih berlaku di Yogyakarta. Tapi di cabang lain lidah saya, sedikit keterjebakan Yogyakarta di masa lalu ini menjadikan kondisi yang lebih kondusif bagi banyak artefak masa lalu di daerah ini (Yogyakarta kota maupun DIY). 2009 merupakan perjalanan saya yang terbaik di kota ini. Menghabisan tiga hari untuk mengeksplorasi Yogyakarta, bahkan hingga bisa mencapai Candi Ijo di Gumuk (Bukit) Ijo yang memiliki pemandangan spektakuler.

2014 ini kesempatan itu datang lagi, kali ini via employee gathering kantor (PT Danareksa Persero). Lihat-lihat jadwal acara, saya punya waktu sekitar 8 jam untuk ngaleut sendirian (sebenarnya istilah ini kurang tepat, karena ngaleut berarti yang jalan jamak. Tapi saya tetap ingin pakai istilah ini sebagai tribut untuk Komunitas Aleut yang telah memperkenalkan saya akan konsep apresiasi ruang melalui tur sejarah).

Menginap di Hotel Hyatt di utara kota, saya berangkat pukul 14.30 dari hotel dengan memakai Taksi Centris yang dicall oleh pihak hotel. Menuruni Jalan Monjali (Monumen Jogja Kembali) menuju Jalan A.M.Sangaji. Saya berencana turun di daerah Stasiun Tugu, untuk kemudian jalan kaki ke arah selatan.

Objek pertama saya datangi sebelum turun taksi, yaitu Gedung SMAN 11 Yogyakarta. Gedung ini pada tahun 1908 merupakan lokasi Kongres Pertama Boedi Oetomo. Kongres ini secara politik merupakan “serah terima” dari para pendiri Boedi Oetomo di STOVIA, kepada para bangsawan feodal yang menjadi pengurus resmi. Setelah pendirian Boedi Oetomo di Jakarta, dirasa BO memerlukan dukungan kaum bangsawan untuk memajukan tujuan-tujuannya di bidang kebudayaan. Berbagai lobi dilakukan para pengurus untuk mendapatkan dukungan dari para pembesar lokal, khususnya wilayah Jawa Tengah.(1)

Dukungan untuk BO semakin meluas, dan akhirnya diselenggarakanlah kongres besar BO yang pertama tanggal 3-5 Oktober 1908 di gedung ini. Kongres dipimpin oleh dr.Wahidin Soedirohoesodo dan menghadirkan beberapa pembicara, yaitu R.Soetomo (STOVIA), R.Saroso (Kweekschool Yogyakarta), R. Kamargo (Magelang), dr MM.Mangoenhoesodo (Surakarta), dan M.Goenawan Mangoenkoesoemo (STOVIA).

Pembicaraan kongres kongres disimpulkan dengan mengesahkan Anggaran Dasar Boedi Oetomo yang pada pokoknya menetapkan tujuan perhimpunan sebagai berikut:
Kemajuan yang selaras (harmonis) buat negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, kebudayaan (kesenian dan ilmu pengetahuan). (2)

SMAN 11 YogyakartaSMAN 11 Yogyakarta (eks Kweekschool Yogyakarta)

Kongres BO 1908Kongres BO 1908 di Kweekschool Yogyakarta

Beres napak tilas Kongres BO selama beberapa belas menit, saya pun kembali naik ke taksi yang menunggu. Lurus ke arah selatan, saya pun turun di depan Stasiun Tugu, yang sebenarnya sudah saya eksplorasi saat kedatangan kami ke Yogyakarta malam sebelumnya.

Stasiun Tugu mulai beroperasi pada 2 Mei 1887 (Info tambahan : Stasiun Lempuyangan sudah beroperasi sejak 1872). Awalnya, stasiun ini hanya digunakan untuk transit kereta pengangkut hasil bumi. Mulai digunakan untuk transit kereta penumpang sejak 1 Februari 1905 (3). Stasiun ini juga pernah menjadi lokasi salah satu peristiwa bersejarah Republik ini, yaitu saat rombongan pembesar Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno berhasil tiba di Yogyakarta saat hijrah dengan kereta api luar biasa dari Jakarta. Rombongan tiba di Stasiun Tugu pada pagi hari tanggal 4 Januari 1946, setelah melalui perjalanan yang melelahkan dan menegangkan belasan jam lamanya.. Usai upacara penerimaan di Stasiun Tugu, rombongan singgah di Pura Pakualaman. Setelah beberapa saat, Soekarno dan keluarga pindah ke bekas rumah gubernur Belanda (Loji Besar, sekarang istana kepresidenan Yogyakarta).(4)

Stasiun Tugu 2014Stasiun Tugu 2014

Stasiun Toegoe 1935Stasiun Toegoe 1935 (@mbahKJ)

Kebetulan kadang menguntungkan, tepat di seberang Stasiun Tugu, saya menemukan bangunan eks Hotel Toegoe yang cantik. Tersembunyi dibalik pagar seng yang tinggi. Titik ini sebelumnya tidak ada dalam tujuan saya. Tapi saya sempatkan mengambil gambar dari jauh. Sampai sekarang saya belum menemukan informasi mengenai kapan bangunan ini dibangun. Informasi yang saya dapat hanya bahwa bangunan ini sejak abad 20 difungsikan sebagai Hotel Toegoe. Lalu saat Agresi Militer tahun 1948, dipergunakan sebagai markas Pasukan Belanda dibawah komando Kolonel DBA Van Longen. Tak ayal saat Serangan Umum 1 Maret dilancarkan, bangunan ini menjadi salah satu sasaran penyerangan salah satu pasukan TRI, yang dipimpin Sudarno. (5)

Bangunan dengan gaya arsitektur indis ini saat saya temui ditutupi pagar seng. Sejak dimiliki oleh pengusaha Probosutedjo (adik tiri Soeharto) tahun 1982, bangunan ini sudah beberapa kali beralih fungsi, dan kini sedang dirancang untuk menjadi Soeharto Center. (6)

Eks Hotel Toegoe 2014Eks Hotel Toegoe 2014

Hotel Toegoe 1900Hotel Toegoe 1900 (KITLV)

Saya pun jalan menyeberangi rel. Tujuan saya berikutnya bukanlah Malioboro. Saya benci berjalan di Malioboro yang ramai dan tak nyaman. Saya mengambil jalan memutar melalui Jalan Mataram yang sejajar dengan Malioboro di timur. Tujuan saya berikutnya adalah sebuah masjid yang dulu terkenal dengan nama Surau Kalimantan. Tapi ternyata letaknya cukup jauh dari Tugu. Saya pun menyusuri Jalan Mataram, sempat mampir shalat di sebuah masjid kecil di Kampung Gemblakan Bawah. Dimana saya menemukan sebuah selebaran menarik, yang intinya ingin menyadarkan warga Kampung Gemblakan Bawah Akan pentingnya sebuah lapangan bermain. Menarik sekali dan layak dicontoh.

Selebaran

Setelah berjalan agak jauh saya pun menemukan Surau Kalimantan yang dicari. Kini ia bernama Masjid Quwattul Islam. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1943.Langgar ini menempati sebidang tanah pemberian dari Sultan Hamengku Buwana IX. Sebelumnya warga masyarakat Kalimantan mengajukan permohonan kepada Sultan Hamengku Buwana IX agar diperbolehkan mendirikan sebuah tempat ibadah di Yogyakarta. Sultan pun memberikan sebidang tanah seluas 958 meter persegi. Kemudian diperluas pada tahun 1953. Perluasan ini sekaligus menandai berubahnya Langgar Kalimantani menjadi Masjid Quwwatul Islam. (7)

Suaru KalimantaniMasjid Quwwatul Islam (eks Surau Kalimantani)

Itulah, menemukan objek yang dicari dengan tanpa persiapan matang membuat sensasi tersesat ala National Geographic Adventure sangat terasa.

Selanjutnya saya mencari sebuah nDalem (rumah bangsawan) yang saya sangka ada di dekat Jl.Mataram. Tapi ternyata seorang mbok di Beringharjo bilang bahwa lokasi itu ada di sekitar keraton. Yaelah broo..

Alhasil saya pun lewat depan Beringharjo. Pasar Beringharjo terlihat cukup bersih dan teratur untuk ukuran Pasar Tradisional. Wilayah Pasar Beringharjo konon mulanya merupakan hutan beringin. Tak lama setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya tahun 1758, wilayah ini mulai dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga. Pada tahun 1925, barulah tempat transaksi ekonomi ini memiliki sebuah bangunan permanen. Nama ‘Beringharjo’ sendiri diberikan oleh Hamengku Buwono IX, artinya wilayah yang semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo). (8)

BeringharjoPasar Beringharjo (jogjacityparadise)

Beringharjo 1940anPasar Beringharjo 1940-an (KITLV)

Saya pun dengan buta arah mengikuti jalan. Rupanya jalan itu membawa saya ke Taman Budaya Yogyakarta. Taman budaya ini terletak di Jalan Sriwedani. Taman Budaya Yogyakarta pertama kali dibangun di sekitar Kawasan Universitas Gadja Mada, Bulaksumur pada 11 Maret 1977. Diresmikan oleh Sri Sultan HamengkubuwonoIX. Awalnya, Taman Budaya Yogyakarta menggunakan nama Purna Budaya. Pada tahun 2002 akhirnya Taman Budaya Yogyakarta dibangun ulang di daerah Sriwedani ini. (9)

Tak jauh dari Sriwedani ada Taman Pintar. Sebuah hiburan yang menarik untuk membawa anak-anak bermain. Taman ini mulai dibangun tahun 2004. Direncanakan sebagai tempat wisata yang berintegrasi dengan Benteng Vredeburg, Taman Budaya, maupun tempat perbelanjaan buku Shopping Center. Shopping Center mungkin kalau di Bandung seperti Palasari. Dimana buku-buku baru dan bekas berjejer bersama. Saya pun belanja Catatan Seorang Demonstran dan Orang orang di Simpang Kiri Jalan karya Soe Hok Gie. Dua buku Rp.60.000 saja.

Lurus terus ke arah selatan saya pun sampai ke Jalan Senopati. Saya kurang tertarik untuk lihat Bank Indonesia karena sudah pernah. Saya blusukan sedikit ke area parkir bus wisata. Untuk kemudian memotret gedung SD Marsudirini. Dulu sekolah ini bernama Sekolah Dasar Interamata yang didirikan oleh para suster OSF (Ordo suster St.Fransiskus) pada tanggal 28 Juni 1920.

SD MarsudiniSD Marsudirini

Saya juga melewati Kelenteng Fuk Lik Miau (Kelenteng Gondomanan). Klenteng ini dibangun  dengan menempati area seluas 1150 meter persegi yang merupakan  hibah dari Keraton Kasultanan Yogyakarta tahun 1900 (masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII).

KelentengKelenteng Fuk Lik Miau (Kelenteng Gondomanan)

Saya mencoba stick to the plan dengan bergegas jalan menuju Pakualaman. Sempat melewati juga Museum Biologi UGM yang menempati sebuah rumah tua. Sayang sampai sana kompleks wisata telah tutup (sebagaimana semua museum yang saya datangi).

Museum Biologi UGMMuseum Biologi UGM 2014

Saya sangat tertarik ke Pakualaman sebab sejarah pergerakan Indonesia mencatat Pakualaman menelurkan dua bersaudara yang perannya sangat penting di masa pergerakan. Yang pertama adalah Suryopranoto si Raja Mogok. Seorang pangeran yang mengabdikan dirinya untuk mengagitasi kaum buruh. Serta adik kandungnya, yaitu Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Klan Pakualaman memang salah satu klan feodal pertama yang membuka diri terhadap pendidikan ala barat.

Gerbang Pura Pakualaman

Gerbang Pura PakualamanPura PakualamanPura Pakualaman

Sengkalan Pura PakualamanSengkalan Gerbang Pura Pakualaman

Kompleks Pura Pakualaman mulai dibangun tahun 1813 dengan bantuan dari Inggris, saat pertama kali Pangeran Notokusumo oleh Inggris diberikan gelar sebagai seorang pengeran yang merdeka dari Kesultanan Yogyakarta akibat kekisruhan tahta antara Hamengkubuwono II dan pejabat Inggris (10). Pada perkembangannya, Klan Pakualaman memang lebih perhatian kepada urusan seni, budaya, sastra, pendidikan, dan arsitektur. Tak mengeherankan jika melihat beberapa anggota klan ini menjadi “aktivis sosial” (Freemasonry, pergerakan buruh, pendidikan, dan lain-lain). Mungkin lain waktu kita buat tulisan khusus mengenai Klan Pakualaman ini.

Saya sempat juga membasuh kaki di Masjid Pakualaman. Masjid ini dibangun circa 1850, pada masa pemerintahan Pakualam II. Masih banyak ciri arsitektur masjid khas keraton di Masjid Pakualaman ini. Disinilah saya, tempat Suwardi dan Suryopranoto belajar mengaji. Bangga juga.

Masjid PakualamanMasjid Pakualaman

Sumber Bacaan

[1] Kahin, George M. 1952. Nationalism and revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.

[2] Miert, Hans van. 2003. Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda Indonesia, 1918-1930. Jakarta : Hasta Mitra. Penerjemah : Sudewo Satiman

[3] Yunanto Wiji Utomo. 2006. Tugu Railway Station, One of the Oldest Train Stops in Indonesia. Diakses via yogyes.com (http://www.yogyes.com/en/yogyakarta-tourism-article/getting-there-and-around/stasiun-tugu/). 23 Januari 2014.

[4] Ricklefs, M.C. 1993. A History of Modern Indonesia Since c.1300. San Francisco: Stanford University Press.

[5] Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. 2012.  Hotel Toegoe. Diakses via http://www.tasteofjogja.org/contentdetil.php?kat=artk&id=OTc=&fle=Y29udGVudC5waHA=&lback=a2F0PWFydGsmYXJ0a2thdD0xMSZsYmFjaz0=. 23 Januari 2014

[6] Addi Mawahibun Idhom. 17 Juni 2013. Hotel Toegoe akan menjadi Soeharto Center. Diakses via tempo.co (http://www.tempo.co/read/news/2013/06/17/078488720/Hotel-Toegoe-akan-menjadi-Soeharto-Center).  23 Januari 2014.

[7] A. Sartono. 2013. Masjid Quwwatul Islam, dulu Bernama Surau Kalimantani. Diakses via tembi.net (http://www.tembi.net/en/news/bale-dokumentasi-situs/masjid-quwwatul-islam–dulu-bernama-surau-kalimantani-4259.html) 23 Januari 2014.

[8] Yunanto Wiji Utomo. 2006. Beringharjo, Pasar Tradisional Terlengkap di Yogyakarta. Diakses via Yogyes.com (http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/market/beringharjo/) 23 Januari 2013.

[9] Ahmad Ibo. Taman Budaya yogyakarta: Laboratorium Seni di Yogyakarta. Diakses via indonesiakaya.com (http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/taman-budaya-yogyakarta-laboratorium-seni-di-yogyakarta) 23 Janauri 2013.

[10] Tasyriq Hifzhillah. Pura Pakualaman. Diakses via jogjatrip.com (http://jogjatrip.com/id/193/Pura-Pakualaman) 24 Januari 2014.

Bersambung ke bagian kedua..

Ngaleut Inhofftank, 01.12.13

Posted in Bandung Selatan, Catatan Perjalanan, Kota, Lingkungan with tags , , , , , on Desember 17, 2013 by KomunitasAleut!

Oleh: Ridwan Hutagalung

Minggu, 1 Desember 2013, adalah hari yang cukup istimewa. Hari ini kami akan berkenalan dengan satu kawasan di bagian selatan Bandung, yaitu Inhoftank. Walaupun cukup sering melewati kawasan ini dalam berbagai kesempatan, tetapi mengunjunginya secara khusus belum pernah dilakukan. Lagipula sering terpikir, apa perlunya berkunjung ke tempat ini selain karena namanya yang unik itu?

Nama Inhoftank memang terdengar unik dan sering mengundang pertanyaan, apa arti nama itu? Sejarah nama tempat ini pernah dituliskan oleh @mooibandoeng dalam blog-nya, kira-kira seperti ini keterangannya: Imhoff, dan bukan Inhof, adalah nama orang. Ia adalah seorang teknisi yang pernah membuat suatu pabrik pengelolaan limbah rumah tangga di Bandung tempo dulu. Tank adalah tangki-tangki tempat penampungan limbah tersebut.

Dari pengelolaan ini didapatkan bentuk energi yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat banyak, yaitu biogas. Catatan yang ada menyebutkan bahwa energi ini dipergunakan untuk menjalankan bis-bis sekolah. Selain itu, ampas dari hasil pengelolaan ini dapat dipergunakan sebagai pupuk. Nah, pabrik itu berada di kawasan yang sekarang bernama Inhoftank, pelafalan lokal untuk Imhofftank.

Keterangan yang didapatkan dari buku “Kisah Perjuangan Unsur Ganesha 10; Kurun Waktu 1942-1950” itu memang tidak terlalu banyak memberikan informasi latar belakang kawasan yang dijadikan lokasi pabrik tersebut. Tidak rinci juga memberikan catatan tentang apa dan bagaimana sebenarnya pabrik tersebut. Perjalanan bersama @KomunitasAleut hari ini mencoba mendapatkan informasi lebih banyak berkaitan dengan Inhoftank, baik sebagai pabrik di masa lalu maupun sebagai suatu kawasan di Bandung Selatan.

Sampai dengan menjelang abad ke-20, wilayah Kota Bandung masih tidak terlalu luas, batas barat di sekitar Andir, batas timur di Simpang Lima, batas utara di sekitar Jl. Dago, dan batas selatannya di Tegallega. Pada bagian terluar inilah biasanya banyak dibangun vila-vila milik orang Eropa. Batas-batas ini tentu saja selalu bertambah luas seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan pembangunan kota. Namun anehnya, batas selatan kota Bandung tidak banyak berubah hingga masa kemerdekaan, tetap berada di kawasan Tegallega.

Tegallega 1950b
Cuplikan peta Bandung tahun 1950.

Tegallega, sesuai makna namanya, adalah sebuah lapangan yang luas. Lapangan ini sering dipergunakan untuk berbagai aktivitas mengimbangi lapangan utama yang berada di pusat kota, yaitu Alun-alun. Namun fungsi yang paling utama atau paling populer adalah sebagai lapangan pacuan kuda, karena itulah namanya dahulu Raceterrein.

Di sebelah timur Tegallega terdapat sebuah sekolah pangreh praja tingkat menengah, yaitu Middelbare Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA) yang didirikan tahun 1910. Gedungnya yang bergaya neo-klasik masih berdiri dan terawat cukup baik hingga sekarang (digunakan sebagai Gedung Hubdam III Siliwangi).

Di sebelah selatan Tegallega, berdiri sekolah Hoofdenschool yang pada tahun 1900 berubah menjadi Opleidingschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) atau sekolah pangreh praja tingkat dasar. Masyarakat Bandung tempo dulu menyebutnya sebagai Sakola Menak, karena yang bersekolah di sana umumnya berasal dari kalangan priyayi Bandung. Bangunan sekolah ini didirikan pada tahun 1879, namun penampilannya saat ini sudah mengalami beberapa perubahan.

Sebuah lahan kosong di sisi perkampungan Muararajeun, di sebelah barat daya Tegallega, sempat dimanfaatkan untuk mendirikan sebuah pabrik yang memiliki banyak manfaat bagi kota. Kerja utama pabrik ini adalah menampung dan mengolah limbah rumah tangga menjadi sumber energi. Pabrik itulah yang di sini dinamakan Inhofftank.

Nama Imhoff diambil dari seorang bangsa Jerman, Karl Imhoff (1876-1965). Dia dikenal sebagai insinyur yang membuat suatu instalasi pengolahan limbah air kotor di Jerman. Metodenya sederhana, mengatur ruang-ruang (tangki) penerimaan, pengendapan, dan penyaluran limbah. Dalam satu ruang, endapan ditempatkan pada bagian bawah, sedangkan bagian atasnya untuk aliran limbah baru. Prinsip kerja Tangki Imhoff ternyata banyak dipakai di banyak tempat di dunia, semua menggunakan nama Imhoff untuk instalasi tersebut.

Di Bandung, tangki pengolahan limbah rumah tangga model Imhoff ini pernah juga dibuat, yaitu pada tahun 1916. Air limbah rumah tangga saat itu dialirkan lewat saluran riool atau pipa-pipa sepanjang 14 km serta saluran parit kecil menuju Tangki Imhoff. Instalasi Tangki Imhoff di Bandung menggunakan prinsip kerja yang sama, dengan tangki-tangki penerimaan, pengendapan, dan penyaluran. Pada tangki pengendapan, bagian terbawah dibiarkan tergenang dan membusuk sehingga mengeluarkan gas metan.

Pada bagian endapan terbawah ini dipasang pipa atau saluran ventilasi yang dengan menggunakan kompresor dapat mengalirkan gas metan tersebut ke penampungan berupa tabung silinder besi dengan kapasitas 40 liter dan tekanan 1 atmosfer.

1217-imhoff-tank-b

Tangki Imhoff di Delaware, AS.

Selain ruang atau tangki pengendapan, juga ada tangki pengeringan yang merupakan bagian dari instalasi produksi berikutnya, yaitu pupuk. Pupuk organik yang dihasilkan dari pabrik ini dimanfaatkan di kawasan pertanian dan kebun-kebun bunga di daerah Lembang, Cisarua, Pangalengan, dan Ciwidey.

Beberapa meter memasuki ruas jalan Inhofftank, terdapat percabangan, ke kiri memasuki Jl. Pelindung Hewan dan ke kanan melanjutkan Jl. Inhofftank. Tentang Pelindung Hewan yang dijadikan nama kelurahan kawasan ini, sebetulnya punya cerita sendiri. Lain waktu akan kami coba telusuri lebih lanjut jejak-jejaknya, karena yang tersisa saat ini hanyalah sebuah Klinik Hewan.

100_0420

Klinik Hewan di Jl. Pelindung Hewan. Berdasarkan catatan kami, Klinik Hewan ini sudah ada sejak masa sebelum merdeka.

Bila menyusuri Jl. Inhofftank, maka tak berapa jauh kita akan melihat sebuah aliran sungai dengan jembatan dan pintu air. Aliran ini adalah sungai Ci Tepus yang datang dari arah utara lalu mengalir ke kawasan Bandung Selatan. Nama jembatan ini adalah Malabar. Tidak ada informasi kenapa dinamakan seperti itu dan apa kaitannya dengan nama-nama Malabar lainnya. Sedangkan pintu air di aliran Ci Tepus dinamai Bendung Ranjeng.

Awalnya kami ragu, apakah kata “ranjeng” itu mungkin perubahan dari kata “rajeun” sesuai nama daerah ini di masa lalu, Muararajeun. Tapi ternyata ada satu kamus Sunda yang memuat lema “ranjéng,” dengan penjelasan: semacam pagar untuk menahan tanah dari kelongsoran. Mungkin kata ini dapat menjelaskan kondisi tanah atau gawir di aliran Ci Tepus ini dahulu, sementara ini kami tidak mendapatkan informasi tentang penggunaan nama “ranjéng” untuk pintu air ini. Tebing-tebing pada aliran Ci Tepus di kawasan ini umumnya sudah dibeton menggunakan batu-batu kali.

Page-1bPlakat Jembatan Malabar, plakat Bendung Ranjeng, dan Bendung Ranjeng di Inhoftank.

Tak jauh dari Bendung Ranjeng ternyata kami menjumpai bangunan-bangunan lama bekas Tangki Imhoff. Kolam-kolam penampungan saat ini berada di tengah perkampungan yang cukup padat. Beberapa konstruksi lain pendukung instalasi masa lalu itu masih juga dapat ditemui di sana-sini.

Salah satu rumah yang kami datangi bahkan dibangun tepat di atas pintu masuk menuju kolam penampungan yang saat ini berada di bawah tanah. Kedalaman kolam sebagaimana tercatat pada salah satu panel yang tersisa, adalah 11 meter, sedangkan keluasannya tidak kami ketahui. Tidak ada catatan pula sejak kapan kawasan ini mulai dijadikan permukiman.

Sebenarnya agak sulit membayangkan bagaimana angkatan pertama penduduk di sini mulai bermukim, apalagi mengingat bahwa kawasan yang mereka tempati itu adalah bekas kolam penampungan limbah rumah tangga.

DSCF7043Sisa kolam-kolam  pengendapan  Tangki Imhoff dan permukiman yang mengepungnya.

Page-2Rumah, kandang-kandang ternak, sisa kolam dan perangkatnya, serta jemuran warga saling berhimpitan di sini.

Dengan melihat kembali panel yang kami singgung sebelumnya dan membandingkannya dengan gambar pada situs http://www.tpub.com, tampak bahwa tangki pengendapan yang dipakai di sini menggunakan kompartemen ganda, menandakan besarnya instalasi Imhofftank ini dulu.

Pada beberapa bagian tebing di aliran sungai Ci Tepus masih dapat ditemui bekas-bekas saluran tua yang sudah tidak berfungsi lagi. Berdasarkan skema Imhofftank dari situs yang sama dengan di atas, tampaknya saluran-saluran itu berhubungan langsung dengan kolam-kolam Imhoff, sangat mungkin merupakan saluran pembuangan limbah yang sudah dimanfaatkan dan sudah diklarifikasi atau berada dalam kondisi yang layak untuk dialirkan kembali ke sungai.

Page-2Panel berisi keterangn kompartemen kolam pengendapan serta kedalaman kolam.

Di sebelah kanan adalah bagan kolam pengendapan dengan kompartemen ganda, seperti yang dibuat in Inhoftank.

Tangki Imhoff 

Salah satu sisa tabung silinder penampung gas metan.

ufc_3_240_09fa0056imTangki Imhoff di Bandung baheula beserta bagan-bagannya. Diambil dari De Ingenieur in Nederlandsch-Indie, Mei 1936.

Sekilas Karl Imhoff (1876-1965)

Selain terkenal sebagai seorang insinyur sipil, Imhoff yang kelahiran Berlin 7 April 1876 ini juga dikenal sebagai perintis pengolahan limbah air dan penulis dari berbagai buku teknik. Dalam bidang pengolahan limbah air, Imhoff menciptakan beberapa pembaruan, di antaranya adalah mekanisme aliran dan proses pengolahan sedimentasi secara aktif. Ia menciptakan suatu rangkaian penampungan limbah, mengendapkannya, dan mengalirkannya kembali setelah kondisi limbah layak buang.

220px-Karl_Imhoff_1907Karl Imhoff

Sebagai penulis, ia membuat buku Handbook of Urban Drainage pada tahun 1906. Sat perayaan 100 tahun penerbitan buku ini, diketahui telah diterjemahkan sebanyak 40 kali dan beredar dalam 20 bahasa.

Sejak tahun 1906 Imhoff tercatat mengepalai departemen pengolahan limbah pada Emscher Society. Setahun berikutnya ia membuat Pancuran Emscher menggunakan mekanisme tekanan dan pengendapan hasil ciptaannya. Antara tahun 1922-1934 Imhoff mengepalai suatu lembaga bernama Ruhrverband yang merencanakan pembuatan lima buah bendungan di Sungai Ruhr.

Beberapa penghargaan diterimanya baik dari universitas (Stuttgart dan Aachen) maupun dari pemerintah Jerman (The Great Cross of the Federal Republic). Sebagai peringatan bagi karya besarnya, sebuah lembaga di bidang pengelolaan limbah air memberikan penghargaan tahunan sejumlah 10 ribu Euro bagi para pembaharu dalam bidang pengelolaan limbah air.

Nama Karl Imhoff diabadikan juga dengan menjadikannya nama jalan raya di kota-kota Hannover, Langenhagen, Mannheim, Schleswig, dan Straubing di Jerman.

Makam Penghulu, Muarasari

Selain tentang Imhofftank, ngaleut kali ini juga membawa kami pada pengetahuan baru, yaitu keberadaan kompleks makam keluarga Penghulu Bandung bernama R.H. Abd. Rahman. Letak persisnya di Jl. Muarasari No.4. Seluruh makam berada di bawah cungkup yang disangga oleh beberapa pilar.

Kompleks makam ini tidak terlalu besar, dan tidak terlihat sesuatu yang istimewa pula. Secara keseluruhan, tampaknya kompleks makam ini sedang berada dalam usaha perbaikan. Sebagian lantai dalam keadaan terkelupas dan dua buah kepala makam tergeletak menunggu dipasang. Kebanyakan makam berlapis semen atau keramik seperti yang biasa ditemui. Dua buah makam dengan keramik berwarna hijau terletak di di sisi kiri, pada bagian tengah, masing-masing dengan nama R.H. Abd. Rahman dan N.R. Salbiyah.

Nisan yang terpasang pada dua makam berdampingan ini tampaknya hanya untuk kebutuhan sementara karena masih menggunakan guratan tangan. Di belakangnya terletak makam lain dengan nama Ibu Rasanah binti Omo. Di bagian lain, sebuah makam dengan nama R.H. Dali Ardiwidjaja, kelahiran Garut 1917.

IMG_4144Kompleks makam Penghulu Bandung, R.H. Abd. Rahman, di Jl. Muarasari No.4.

100_0456bNisan makam Erma Paulladinsyah.

Sebuah makam lain hanya berlapis semen sederhana, namun memiliki nisan yang sangat menarik. Epitaph yang terpahat pada nisannya:

Erma Paulladinsyah
Selasa, 8 April 1945
Selasa, 3 Maret 1997
 
dan bumi tak pernah membeda-bedakan
mencinta atau membenci; bumi adalah
pelukan yang dingin,
tak pernah menolak atau menanti
takkan berjanji dengan langit
 
lelaki yang tak pernah tua itu
bersemayam di sini…


 

 

Bahan Bacaan
Bandung, Uitgave N. Visser & Co, 1950
Dinamika Kehidupan Sosial Ekonomi di Priangan 1870-1906, A. Sobana Hardjasaputra, 2006
Karl Imhoff – Wikipedia
Sundanese-English Dictionary, R.R. Hardjadibrata, Pustaka Jaya, 2003
http://www.tpub.com

Pengumpul Data
Hani Septia Rahmi
Vecco Suryahadi
Indra Rha

Dokumentasi Foto
Hani Septia Rahmi
Wisnu Setialengkana
Adira Oktaroza Krishnamukti
Budi Yasri

Penulis
Ridwan Hutagalung – Komunitas Aleut
November, 2013

Ngaleut Ci Kapayang 10.11.13

Posted in Catatan Perjalanan, Kota with tags , , , on Desember 17, 2013 by KomunitasAleut!

Oleh: Ridwan Hutagalung

RAA_Martanagara_nuju_janten_Patih_di_SumedangRAA Martanagara (1845-1926) adalah Bupati Bandung periode 1893-1918. Karena bukan berasal dari trah Bandung, maka ia mendapat julukan Dalem Panyelang.

27 Juni 1893, seorang Patih yang bertugas di Afdeling Sukapura Kolot diangkat menjadi Bupati Bandung yang kesepuluh, Raden Adipati Aria Martanagara. Ia menggantikan Bupati Bandung kesembilan, Raden Adipati Kusumadilaga, yang wafat dua bulan sebelumnya.

Pengangkatan ini menimbulkan masalah, karena RAA Martanagara bukanlah seorang berdarah Bandung. Selain itu, Patih Bandung, Raden Rangga Somanagara  yang sudah bertugas menggantikan pekerjaan bupati sehari-hari juga merasa kecewa dan marah karena beranggapan telah terjadi penyerobotan hak dalam meneruskan kepemimpinan di Kabupaten Bandung. Raden Rangga Somanagara adalah menantu Bupati Bandung Wiranatakusuma IV atau Dalem Bintang.

Raden Rangga Somanagara merasa seharusnya dialah yang menggantikan Kusumadilaga sebagai Bupati Bandung. Kekecewaan membuat kalap. Somanagara dibantu beberapa kroninya melakukan beberapa percobaan pembunuhan, baik terhadap bupati yang baru maupun pejabat-pejabat Belanda di Bandung.

Upaya pembunuhan dengan peledakan menggunakan dinamit ini berhasil digagalkan oleh polisi Hindia Belanda saat itu. Para perusuh langsung dibuang ke beberapa daerah di luar Pulau Jawa. Tetapi Martanagara tidak lantas merasa tenang karena pembuangan ini. Ia menyiapkan pasukan Sumedang di daerah Soreang. Pergaulan dengan kalangan menak Bandung dipererat dengan mendirikan Parukunan di depan Pendopo Kabupaten. Secara rutin Martanagara mengadakan kegiatan hiburan di Parukunan dan mengundang segenap menak Bandung untuk hadir. Dengan begitu, Martanagara mendekatkan dirinya kepada kalangan menak Bandung.

Martanagara segera menunjukkan kemampuan dan pengabdiannya sebagai bupati dengan melaksanakan banyak pekerjaan dalam mengembangkan Kabupaten Bandung. Pada tahun pertama kepemimpinannya, Martanagara mengganti atap-atap rumah penduduk yang menggunakan bahan ilalang dengan genting.

Rumah-rumah di Bandung pada akhir abad ke-19 memang kebanyakan masih berdinding bilik dengan atap ilalang, hanya sekitar 25% saja yang sudah menggunakan tembok dan genting. Martanagara mendatangkan beberapa ahli pembuat bata dan genting dari luar Bandung untuk melatih penduduk agar mampu membuat genting sendiri.

IMG_3727Mulut Jl. Merdekalio dari arah Jl. Pajajaran. Foto @mooibandoeng.

Salah satu pusat pembuatan genting dan bata itu berada di wilayah Balubur Hilir yang kemudian bernama Merdika Lio, sesuai dengan aktivitas di sana. Lio adalah tempat pembakaran untuk membuat genting atau bata, sedangkan “merdika” atau “merdeka” adalah status para pekerja di lio tersebut yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Dengan begitu, nama jalan Merdeka yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda menjadi jelas tidak mengacu pada kemerdekaan RI, melainkan kepada nama kawasan permukiman masyarakat pembuat genting ini. Sebuah jalan baru di sebelah barat Merdikaweg pun diberi nama Nieuw Merdika, belakangan diganti menjadi Burgermeesterkuhrweg, dan sekarang Jl. Purnawarman.

Sebetulnya lokasi pembuatan bata dan genting di Bandung tidak hanya berada di Merdika Lio, tapi ada juga di lokasi lainnya. Sila tebak :-))

Martanagara juga mendorong penduduk Bandung untuk melakukan penanaman singkong secara intensif. Banyak kebun dibuka di wilayah Bandung. Beberapa sisa rawa ditimbun tanah dan dijadikan area perkebunan, sawah, atau kolam ikan. Ingat nama Situ Saeur? Nah itu juga salah satu hasil karya Martanagara. Ia menimbun (disaeur) bekas danau dengan tanah agar dapat dijadikan lahan garapan.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_boogbrug_van_bamboe_over_de_rivier_Tjisokan_in_Preanger_West-Java_TMnr_10007546Foto koleksi Tropenmuseum.

Ia juga membangun beberapa jembatan yang melintasi Ci tarum, mulai dari Cihea, Sapan, sampai Majalaya, dan membuat selokan-selokan serta jaringan irigasi di Gunung Halu (Solokan Dalem).

Di tengah kota Bandung, Martanagara mengerahkan penduduk Lebak Gede untuk membuat jaringan kanal dengan memanfaatkan aliran air dari sungai Ci Kapundung.  Pada satu titik di sekitar Lebak Gede, dibuat satu saluran baru ke arah timur sebagai jalan utama kanal menuju kawasan tengah kota. Aliran baru ini kelak dikenali sebagai sungai Ci Kapayang.

Sungai baru ini bermula dari aliran Ci Kapundung dan akan bermuara di beberapa tempat lain, di antaranya kembali ke Ci Kapundung seperti di sekitar Lengkong Tengah (Jl. Sasak Gantung). Muara lainnya dapat ditemui di aliran Ci Kapundung Kolot (dua aliran), dan di aliran Ci Hapit di sekitar Taman Cilaki.

Aliran Ci Kapayang dibuat agar dapat mengairi area kebun singkong penduduk dan sejumlah taman yang berada di tengah kota, di antaranya Taman Balaikota (Pieterspark), Taman Maluku (Molukkenpark), dan Taman Cilaki (Tjilakiplein).

Pada aliran Ci Kapundung yang menjadi mulut kanal, dibuat bendungan untuk menaikkan permukaan air agar dapat mengisi kanal, untuk mengatur alirannya dibangun sebuah pintu air. Kanal mengalir ke wilayah Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) lalu berbelok ke arah selatan melewati bagian belakang kompleks Kebun Binatang Bandung. Aliran di sepanjang  kawasan ini dimanfaatkan oleh warga untuk mengairi kebun, membuat kolam (pemancingan) ikan.

Pada bagian kanal yang mengalir di bawah tanah, dibuat juga bak-bak pemantau kelancaran aliran. Dari sekitar Pelesiran, kanal mengarah ke dua jurusan, yang satu kembali ke Ci Kapundung, satu lagi mengarah ke belakang Rektorat ITB (Jl. Tamansari 64). Di sini kanal Ci Kapayang mulai bercabang-cabang.

Dengan berjalan kaki menyusuri aliran Ci Kapayang, kita dapat melihat bahwa seantero kota Bandung ini dihubungkan juga oleh kanal-kanal yang berukuran lebih kecil (selokan), ada yang bermuara di Ci Kapayang, ada juga yang memulai alirannya dari Ci Kapayang. Ukuran kanal-kanal ini umumnya cukup besar dan memberi petunjuk besarnya aliran air yang datang dari ketinggian Bandung ke daerah-daerah yang lebih rendah.

Dalam dua kali penyusuran aliran Ci Kapayang di tengah kota, ada beberapa hal menarik yang ditemui. Yang paling jelas adalah bertambahnya fungsi kanal Ci Kapayang sebagi penampung limbah rumah tangga. Dengan mudahnya dapat kita temui saluran-saluran pembuangan dari rumah-rumah yang langsung mengarah ke kanal. Air kotor dari toilet, cucian, buangan oli, deterjen, semua bergabung di kanal Ci Kapayang dan terbawa berkeliling kota.

Di kawasan sehijau Taman Cilaki saja serakan sampah hasil kerukan bertumpuk di tepi saluran, masih ditambah pula dengan sampah-sampah baru hasil karya para pengunjung taman. Jajaran warung yang padat di kedua sisi luar taman ini dari mana mendapat air bersih? Ke mana mereka membuang air kotornya?

Taman kota seharusnya menyediakan kesegaran bagi para pengunjungnya. Sayang sekali pengunjung Taman Cilaki tidak mendukung fungsi ini, sebagian dengan santainya merusak fungsi taman ini. Bayangkan bila taman dengan jalur kali di tengahnya itu bersih, bakal sangat menyenangkan menikmati pemandangan aliran air bersih di sini. Atau mungkin seperti zaman para penjajah dulu, dengan riang dan tanpa takut orang bisa turun main air bersih di kali.

Coba lihat muara Ci Kapayang di sekitar Sasakgantung. Memandangnya saja bikin ngeri, bagaimana pula mau bermain di sana? Biarpun begitu, kelompok masyarakat yang tidak punya pilihan, terpaksa melakukannya juga, bermain air kotor dan menggunakannya untuk kebutuhan rumah tangga.

BZPa94DCMAALAfH.jpg largeKanal di lingkar luar kompleks Balaikota Bandung. Foto Nia Janiar.

Ini cerita Ibu Nunu, warga  Gg. Rathkamp yang sudah lama tinggal di daerah tepi kanal Ci Kapayang. Katanya, pada masa kecilnya kali Ci Kapayang itu sangat jernih airnya, biasa dipakai untuk mandi dan mencuci, berbeda sekali dengan kondisi sekarang yang kotor dan berbau. Bahkan pada musim hujan saat aliran air sedang tinggi, rembesan air bisa muncul dari bawah ubin dan menggenangi lantai rumahnya.

Sepertinya pipa-pipa saluran pembuangan yang diarahkan ke Ci Kapayang tak mampu menembus aliran, malah sebaliknya, pipa-pipa itu menjadi jalan masuk air dari Ci Kapayang ke rumah-rumah dan mengakibatkan rembesan yang muncul dari bawah ubin.

Di sisi lain, bila Ibu Nunu dan masyarakat sekitar tidak membuang limbah ke aliran Ci Kapayang, lalu ke mana mereka akan membuangnya? Apakah apakah ada saluran alternatifnya? Dalam program ngaleut mendatang, kami akan coba menelusuri tentang masalah ini.

_____________________________________

Hasil catatan bersama Komunitas Aleut

Pengumpul Data dan Foto
Ariyono Wahyu
Arya Vidya Utama
Gilang Purnama
Hani Septia Rahmi
Hani Septia Rahmi
Irmayanti
Nia Janiar
Nunis Rezia Mustika
Ridwan Hutagalung
Sherly Marcelina
Sita Ariana Pangestu
Vecco Suryahadi
Yane Kristina

Penulis
Ridwan Hutagalung – Komunitas Aleut
November, 2013

Menyusuri Houtmanstraat

Posted in Catatan Perjalanan, Lingkungan with tags , , , on Desember 6, 2013 by KomunitasAleut!

Oleh : Indra Rha

“Houtmanstraat ?”

Mendengar kata tersebut saya diliputi rasa penasaran. Di mana kawasan itu? Pengumuman @KomunitasAleut menyebutkan akan menjelajah sudut kota dengan nama Houtmanstraat pada hari Minggu, 24 November 2013.

Pagi-pagi saat udara terasa segar dan cerah, saya sudah siap di lokasi berkumpul yang ditentukan, yaitu di halaman PUSDAI. Seperti pada kegiatan-kegiatan ngaleut lainnya, hari ini pun kami mendapatkan banyak teman baru. Kami segera saling berkenalan dan akrab.

Nah.., ternyata inilah dia “Houtmanstraat,” yaitu Jalan Supratman sekarang. Jalan besar dengan suasana teduh karena rindangnya pepohonan. Dalam foto tahun 1920-an ini, Houtmanstraat masih terlihat lenggang dan gersang, belum banyak bangunan ataupun pepohonan. Tapi tentunya udara saat itu lebih dingin karena masih bersih dari polusi.

Houtmanstraat-1

Secara umum di kawasan ini kami menemukan banyak rumah-rumah villa dari masa Hindia Belanda yang masih berdiri, meskipun rumah-rumah tersebut telah beralih fungsi menjadi tempat usaha seperti toko, café, restoran, hotel, dan kantor usaha lainnya. Jalanan dan trotoar yang rapi membuat para pejalan kaki nyaman berjalan. Tetapi begitu melewati kawasan depan Pussenif ada sedikit hal ganjil ketika melihat trotoar berpaving blok yang seharusnya buat pejalan kaki justru ditumbuhi pohon-pohon besar ditengah-tengahnya, dan pejalan kaki terpaksa memakai jalan tanah yang  harusnya buat taman dan pohon.

Houtmanstraat-2

Houtmanstraat-3

Pussenif atau Pusat Kesenjataan Infanteri adalah kompleks markas TNI Angkatan Darat yang membawahi pasukan Infanteri atau pasukan pejalan kaki, termasuk di dalamnya Kostrad dan Kopassus. Mereka ini merupakan pasukan terbesar dan tempur utama di TNI AD. Pussenif menempati wilayah yang sangat luas di Jalan Supratman.

Houtmanstraat-4

Di seberang kawasan Pussenif terdapat sebuah lapangan yang dulu bernama Houtmanplein, kemudian berganti menjadi Lapangan Ci Ujung dan sekarang Lapangan Supratman. Sudah sejak lama lapangan ini dipakai sebagai tempat berolahraga dan salah satu tempat bersosialisasi  masyarakat.

Houtmanstraat-5

Houtmanstraat-6

Pada saat itu kami melihat kondisi taman sedang ada pembangunan. Di tengah lapangan ada galian dan penanaman pondasi batu untuk mendirikan bangunan. Memang beberapa waktu ini terdengar kabar bahwa lapangan ini akan dijadikan taman bertema Persib dengan konsep taman, lapangan, dan museum sepakbola.

Sedangkan di beberapa sudut lapangan rencananya akan didirikan patung-patung pemain bola legendaris yang pernah memperkuat klub Persib. Sayangnya rencana ini seperti tidak tersosialisasikan dengan baik, terlihat dari bentangan spanduk-spanduk berisi protes dan petisi penolakan pembangunan yang dilakukan.

Dari obrolan dengan warga setempat, kami ketahui bahwa ternyata mereka cemas bila terjadi perubahan fungsi lapangan yang akan menghambat atau malah menghilangkan kegiatan-kegiatan olah raga yang selama ini dilakukan masyarakat di sana.

Houtmanstraat-7

Dari lapangan ini kami meneruskan perjalanan menyusuri bagian Jalan Supratman sebelah selatan. Di sini kami lihat masih ada beberapa tukang cukur rambut tradisional dengan tempat yang sederhana di DPR atau Di Bawah Pohon Rindang. Tarif sekali potong rambut hanya 5000-7000 rupiah saja. Kebanyakan tukang-tukang cukur ini telah puluhan tahun melakoni profesinya.

Houtmanstraat-8

Houtmanstraat-9

Houtmanstraat-10

Pada waktu Jepang berkuasa, daerah Jalan Supratman termasuk kawasan interniran. Di sini banyak sekali bangunan lama yang dulunya dipergunakan sebagai rumah interniran, seperti Gedung Providentia yang terletak tidak jauh dari jalan raya.

Kompleks pusat aktivitas Biarawati Ursulin ini menempati wilayah yang cukup luas, di dalamnya terdapat sebuah kapel yang didirikan tahun 1933. Selain itu, masih ada bangunan-bangunan lain seperti klinik umum dan sekolah-sekolah mulai dari TK, SD, sampai SMA. Bangunan tertua dalam kompleks ini adalah SMP Ursula yang didirikan tahun 1927.

Houtmanstraat-11

Kami mengelilingi lingkar luar kompleks Ursulin ini sampai ke bagian belakangnya di Jalan Bengawan. Di pinggir jalan, saya menemukan sebuah pohon yang sangat jarang ditemui di sini, yaitu pohon Matoa. Pohon ini adalah tanaman buah khas Papua. Wow.., saya sangat senang dan penasaran dengan buahnya yang konon rasanya seperti gabungan buah rambutan, lengkeng, dan duren! Saya lihat banyak buahnya yang masih mentah, berwarna hijau. Sayang sekali belum ada yang matang untuk dicoba, tapi saya berniat datang lagi minggu depan untuk melihatnya :-D.

Perjalanan Aleut! kami teruskan melewati beberapa taman lain, termasuk kawasan penjual tanaman hias yang dikelola oleh Koperasi dan Yayasan Bandung Berhiber. Akhirnya kami sampai di Taman Cibeunying, sebuah taman hasil revitalisasi yang terawat dengan baik. Di sini kami beristirahat, bertukar cerita, dan berdiskusi mengenai pengalaman barusan seputar Houtmanstraat dan sekelilingnya.

Salah satu diskusi kami membahas asal usul nama Houtman ini. Siapakah dia? Apakah Cornelis de Houtman, sang pionir Belanda yang datang ke wilayah Indonesia, atau mungkinkah dia Suzanne Houtman, dokter pertama dan orang Eurasia pertama yang kuliah kedokteran di Amsterdam, yang menikahi Sam Ratulangie dan tinggal di Bandung? Ataukah masih ada Houtman lainnya? Kami masih belum mendapat jawaban yang pasti…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.084 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: