Ngaleut Perdana: Bandung Kota Pendidikan

Posted in Catatan Perjalanan on September 16, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

ngaleut pendidikan 2

Bersyukurlah, kalau perlu langsung sujud syukur. Sebab kita lahir di zaman yang setidaknya sedikit lebih baik, hidup di era kapital ketimbang kolonial. Ya, meski pendidikan sudah dikapitalisasi, tapi lebih mending daripada pendidikan politik etis penuh intrik dan diskriminatifnya Belanda. Pada masih bisa mencicipi nikmatnya bersekolah kan?

Berbicara soal pendidikan, saya rupanya melupakan salah satu elemen penting dari hal ini: menulis. Sebuah kesalahan besar karena ga mencatat pemaparan yang disampaikan saat Ngaleut. Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Duh saya hilap pesan Imam Syafii ini.

Jadi harap maklum info yang bakal saya sampaikan cuma secuil dan mungkin ga valid. Masih anak bawang di Komunitas Aleut, dan ini ngaleut perdana saya.

ngaleut pendidikan 1

Gambaran tentang kondisi pendidikan modern di era kolonial pada awal abad 20 sebelumnya telah sedikit saya ketahui berkat roman Tetralogi Bumi Manusia-nya Pramoedya. Selain sebagai politik etis, pembangunan fasilitas pendidikan di Hindia Belanda bertujuan dalam misi zending juga sebagai pencetak sumber daya manusia yang murah.

Bandung saat itu akan diplot untuk dijadikan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Beragam infrastruktur dibangun, salah satunya fasilitas pendidikan. Iklim sejuk yang dimiliki seperti di Belanda sana juga menjadi alasan tepat Bandung untuk dijadikan kota pendidikan.

ngaleut pendidikan 3

Theodore Conrad Van Deventer, yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Sumur Bandung, merupakan tokoh politik etis yang menekankan akan pentingnya edukasi, migrasi, dan irigasi bagi pribumi. Pada masa politik etis inilah, sifat sekolah diubah dari elitis menjadi populis. Salah satu usaha Van Deventer dan istrinya adalah mendirikan Yayasan Kartini, yang kemudian menelurkan Sekolah Kartini sebagai wadah kepedulian bagi pendidikan khusus kaum perempuan muda pribumi.

Nah, Sekolah Kartini di Jalan Van Deventer inilah lokasi terakhir ngaleut kemarin. Berawal dari Balai Kota, menyusuri Jalan Merdeka dari Santa Angela menuju Unpar dan dilanjutkan ke Santa Aloysius. Kemudian ngaleut menuju SMA paling ngehits di Kota Bandung, SMAN 5. Lalu terus ke Bala Keselamatan.

Oh ya belum dijelasin nih, ngaleut itu artinya berjalan beriringan. Aktivitas rutin yang diadakan Komunitas Aleut untuk menyusuri jalan Kota Bandung untuk mempelajari sejarahnya. Dan setelah sekian lama cuma bisa memantau akun twitternya, akhirnya saya bisa ikutan ngaleut juga.

Untuk urusan jalan kaki keliling Bandung sih udah biasa, jalan sendirian tapi. Soalnya banyak bangunan unik dan antik di kota ini. Sekaligus sekarang lagi terobsesi sama street photography, semoga dengan ikutan ngaleut ini bisa sambil belajar. Selain itu, motif lainnya ikutan ya buat kardio dan nambah teman aja, mungkin juga pacar.

Sumber: Irfan Akbar Budiman

Tautan Asli: http://arifabdurahman.com/2014/09/16/ngaleut-perdana-bandung-kota-pendidikan/

 

 

#InfoAleut: Ngaleut Pendidikan

Posted in Info Kegiatan on September 13, 2014 by KomunitasAleut!

Ngaleut Pendidikan

#‎InfoAleut‬ Hari Minggu (14/9/2014) ngaleut-nya berjudul… Ngaleut Pendidikan! Kita bakal menelusuri sambil bercerita beberapa sekolah peninggalan tempo doeloe yang ada di Kota Bandung. Kumpul di Taman Balaikota Bandung pukul 07.30 WIB, asik kan bisa sambil liat Taman Balaikota yang baru selesai dibenahi :)

Tertarik untuk bergabung? Segera konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Ingat, konfimasi kehadiran hukumnya WAJIB.

Ayo ikutan, dan ajak teman-temanmu supaya ngaleut-nya tambah asik dan seru! :D

Catatan Perjalanan: Ngaleut Tjimahi!

Posted in Catatan Perjalanan, Cimahi on September 1, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Berjalan adalah cara terbaik dalam berwisata!

Penetapan Cimahi sebagai garnisun

Pada abad 19, pemerintah Hindia Belanda merencanakan pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung. Dalam upaya pemindahan tersebut, pemerintah membangun fasilitas–fasilitas yang akan dipakai. Jika rencana pemindahan ibukota berhasil, kelak fasilitas–fasilitas tersebut akan menopang Bandung sebagai ibukota.

Di antara banyaknya fasilitas yang dibangun, garnisun atau tempat kedudukan tentara adalah fasilitas yang paling penting. Hal itu terlihat dari fungsi garnisun sebagai benteng utama ibukota dan pemerintahan.

Sebagai tempat kedudukan tentara, lokasi garnisun harus sesuai dengan syarat–syarat. Beberapa syarat tersebut adalah wilayah tersebut harus memiliki hawa sejuk dan garnisun harus dilewati jalur kereta api. Cimahi dipilih menjadi lokasi garnisun Hindia Belanda karena memenuhi kedua kriteria tersebut.

Rumah sakit Militer di Cimahi tahun 1900an

Cimahi harus memiliki fasilitas–fasilitas militer yang memadai untuk dijadikan sebagai garnisun. Fasilitas militer tersebut yakni rumah sakit militer, rumah tahanan militer, fasilitas pelatihan tentara, dan fasilitas logistik militer. Sampai sekarang, kita masih bisa melihat bangunan–bangunan yang pernah menjadi fasilitas militer tersebut.

Selain fasilitas militer, kita akan menemui beberapa fasilitas yang terkait dengan kenyamanan tentara–tentaranya. Fasilitas tersebut antara lain perumahan militer dan tangsi. Bagi tentara pribumi yang berpangkat rendah, mereka mendapat kamar di kamp atau tangsi. Tentara Belanda yang berpangkat tamtama, bintara, dan bintara tinggi dapat tinggal di rumah dinas yang disewakan seharga 10 – 12% dari gaji mereka. Oleh karena itu, kita akan menemukan delapan tingkat perumahan sesuai dengan pangkatnya.

Kantin militer di Cimahi

Pemerintah Hindia Belanda juga membangun fasilitas yang memenuhi kebutuhan pangan tentara, yakni pabrik roti, kantin militer, dan rumah pemotongan hewan. Dengan fasilitas tersebut, tentara KNIL di Cimahi sudah dipastikan memiliki kebutuhan pangan yang cukup.

Seperti orang Belanda di Bandung, orang Belanda di Cimahi memiliki tempat berkumpul yang disebut societeit. Soceiteit tersebut bernama Soceiteit Voor Officieren Tjimahi. Societeit ini dibangun dengan gaya Empire dan digunakan untuk tempat berkumpul orang Eropa. Sama seperti soceiteit di Bandung, soceiteit di Cimahi sering menyelenggarakan pesta dan parade.

Cimahi sebagai tempat berwisata

Seperti catatan perjalanan lainnya, saya selalu berusaha mengenalkan suatu tempat untuk menjadi tempat wisata. Kali ini, saya akan sedikit bercerita mengenai berwisata di Cimahi.

Banyak jalan yang bisa dipilih untuk menuju Cimahi. Jalan seperti memakai motor atau mobil, bersepeda, atau lebih ekstrim yakni berjalan kaki. Tapi dari semua jalan yang ada, kereta api adalah jalan menuju Cimahi yang paling menyenangkan dan murah. Dengan menggunakan KRD Patas, kita hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 7.000 untuk mendapat tiket. Selain murah, kita akan disajikan pemandangan–pemandangan selama perjalanan ke Cimahi.

Komunitas Aleut di depan Stasiun Cimahi

Kembali kepada topik berwisata di Cimahi. Terdapat satu jalan yang menyenangkan untuk berwisata di Cimahi. Jalan tersebut adalah berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, kita bisa menikmati keindahan bangunan–bangunan tua, pohon – pohon yang teduh, dan sejuknya udara Cimahi di pagi hari.

Sedikit berbeda dengan kota tua di Jakarta dan kawasan Braga di Bandung, Cimahi memiliki keunikannya sendiri. Jika di kota tua dan di Braga, kita bisa mengambil foto bangunan dengan mudah. Hal ini berbeda dengan di Cimahi. Cimahi adalah kawasan militer, sehingga mengambil foto bangunan adalah hal yang sulit dilakukan.

Komunitas Aleut di depan Soceiteit Voor Officieren Tjimahi

Meskipun demikian, kita masih bisa menikmati keindahan bangunan tua di Cimahi. Bangunan – bangunan tua di Cimahi masih dirawat dan tidak berubah banyak karena kepemilikannya kebanyakan berada di tangan PT KAI dan TNI.

Seperti di Bandung, Cimahi memiliki masalah yang sama: trotoar yang tidak layak. Trotoar yang sempit dan kadang – kadang putus di tengah jalan adalah masalah yang dialami saat berjalan kaki di Cimahi. Mungkin berjalan kaki sudah tidak menjadi tradisi orang Indonesia, sehingga trotoar pun bukan masalah utama yang harus diselesaikan.

Sebagai penutup tulisan yang sudah keluar dari jalannya, saya berharap Bandung akan merawat dan memperbaharui bangunan–bangunan tuanya. Bukan karena merawat kenangan era kolonial, tapi karena tanpa bangunan tua tersebut, generasi di bawah kita tidak akan mengetahui kenangan yang dialami keturunan di atasnya.

-Terimakasih-

Sumber Bacaan :

Bandung, Citra sebuah kota karya Robert P.G.A Voskuil

Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng karya Sudarsono Katam

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Sumber Foto :

@komunitasaleut

@tesyaclalalaud

http://www.media-kitlv.nl/all-media

 

Tautan asli: http://catatanvecco.wordpress.com/2014/09/01/catatan-perjalanan-ngaleut-tjimahi/

Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Posted in Jakarta, Kota on Agustus 27, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Indra Pratama (@omindrapratama)

Jakarta adalah pusat geliat ekonomi Indonesia. Daerah bisa saja memiliki komoditas, tenaga kerja, bahkan pabrik dan lahan usaha, namun jika bicara perputaran modal, manajemen, dan hulu bisnis, maka pusatnya adalah Jakarta. Persentase GDP Jakarta dari GDP Indonesia mencerminkan bagaimana hebatnya geliat ekonomi di ibukota.

Siapa sangka, sejarah panjang ekonomi Jakarta (dulu Batavia), dulu sempat ditopang hanya dengan satu ruas jalan sebagai infrastruktur. Jalan yang menghubungkan dua pasar tertua di “Batavia baru”, sejak pusat pemerintahan dipindahkan dari Kota Tua ke Weltevreden.

Adalah seorang Justinus Vinck, pengusaha kaya asal Belanda, yang berperan penting menggerakkan ekonomi Weltevreden. Pada 1735 dia membeli dua lahan besar untuk dijadikan pasar, satu di Tanah Abang dan satu di daerah timur Weltevreden.

Lahan di Tanah Abang ia beli dari keluarga pengusaha dan Kapten Cina Phoa Bingham. Bingham sendiri terkenal karena inisiasinya membuat kanal di Tanah Abang untuk sarana transportasi komoditas dari selatan ke Kota Tua pada 1648. Saat dibeli Vinck, lahan Tanah Abang dipergunakan keluarga Bingham sebagai perkebunan tebu, pertanian, dan peternakan. Lahan ini kemudian sejak 1735 disulap Vinck menjadi Pasar Saptu. Sesuai namanya, pasar hanya buka setiap hari Sabtu, dan jualan utamanya adalah tekstil serta barang kelontong.

Satu lahan lagi terletak sekitar 2 kilometer arah timur dari Weltevreden. Di lahan ini Vinck membuka sebuah pasar yang hanya buka di hari Senin, yang dinamai Vinck Passer. Kemudian hari dikenal dengan nama Pasar Snees, lalu Pasar Senen.

Pasar Saptu dan Vinck Passer dibuka pada 30 Agustus 1735, atas izin Gubernur Jenderal Abraham Patras. Perizinan atas kedua pasar ini ditengarai sebagai salah satu upaya pemerintah Hindia Belanda untuk membatasi dominasi pedagang Cina pada bidang perdagangan di Batavia.

Sebagai infrastruktur penopang, Vinck membangun sebuah ruas jalan yang menghubungkan Pasar Saptu dan Vinck Passer. Ruas ini kini dikenal sebagai JL. Kebon Sirih dan JL. Prapatan. Pola toponimi umum mengisyaratkan bahwa dahulu wilayah Kebon Sirih banyak terdapat tanaman Sirih. Tanaman ini menjadi bagian dari budaya “nyirih” di Nusantara yang bertahan hingga kini.

Dinamika sejarah pun turut membawa kedua pasar ini. Huru-hara Cina 1740 turut melibatkan Pasar Saptu. Pasar Saptu menjadi basis perlawanan para buruh tebu dalam upaya merebut Batavia, sehingga pasar ini terpaksa dibakar habis. Tahun 1766 Pasar Senen mulai dibuka tiap hari.

Kebon Sirih sendiri mulai dikembangkan sejak masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Van den Bosch menjadikan kawasan ini sebagai bagian dari garis pertahanan Van den Bosch (Defensielijn Van Den Bosch), sebuah garis pertahanan Batavia yang berpusat di Prince Frederik Citadel, yang mana di lahannya kini berdiri Masjid Istiqlal.

Menurut Adolf Heuken, daerah  Weltevreden (termasuk Kebon Sirih), dikembangkan dengan gaya pemukiman Jawa, dimana setiap bangunan memiliki halaman yang luas. Berbeda dengan gaya Kota Tua yang dibangun dengan bergaya gesloten bouwwijse (gaya susunan bangunan tertutup) dengan struktur bangunan pemukiman yang rapat.

Gaya ini masih dapat kita lihat pada foto sisa bangunan-bangunan masa itu di Kebon Sirih dan Medan Merdeka Selatan dibawah ini.

Contoh rumah di pemukiman Kebon Sirih tahun 1922

Contoh bangunan abad 19 di Kebon Sirih

image

Lima bangunan abad 19 yang masih tersisa di JL. Medan Merdeka Selatan. Dari kiri atas : Perpustakaan Nasional, Gedung Lemhanas, Balaikota Jakarta, dan dua bangunan Istana Wakil Presiden

image

Rumah tua yang terletak di JL. Kebon Sirih, dekat Gedung Multimedia, Telkom.

image

Rumah tua yang terletak di JL. Kebon Sirih, dibelakang Kantor Garuda Indonesia.

Hampir tiga abad berselang, Kebon Sirih, yang kini terkenal dengan nasi goreng kambing, tetap menjadi infrastruktur penting perekonomian kota. Sebagai salah satu ruas utama di Jakarta Pusat, menghubungkan kawasan Monas dengan Cikini, Menteng, Senen, hingga Sudirman.

Sumber:

Shahab, Alwi. 2007. Kramat-Pasar Senen. Jakarta : Republika.
Blackburn, Susan. 2013. Jakarta : Sejarah 400 Tahun. Jakarta : Masup Jakarta.
Heuken, Adolf. 2000. Historical Sites of Jakarta. Jakarta : Cipta Loka Caraka.
Heuken, Adolf. 2009. Gereja-Gereja Bersejarah di Jakarta. Jakarta : Cipta Loka Caraka.
Ruchiat, Rachmat. 2011. Asal-usul Nama Tempat di Jakarta. Jakarta : Masup Jakarta

Tautan Asli: http://oomindra.wordpress.com/2014/08/13/kebon-sirih-jalan-tol-ekonomi-batavia/

Catatan Perjalanan: Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Posted in Catatan Perjalanan, Kemerdekaan on Agustus 18, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Enjoy Bandung with museum!

Setiap museum memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan edukasi melalui benda yang ditampilkan. Melalui benda yang dipajang, pengunjung akan diberikan wawasan baru. Wawasan baru ini kelak digunakan pengunjung untuk memperluas pemikiran mereka.

Jika kita melihat Bandung sebagai kota untuk beberapa museum, kita akan menemukan banyak museum yang tersebar di Bandung. Total museum yang terdaftar di Bandung sebanyak tujuh buah. Dikarenakan setiap museum memiliki tema yang berbeda dan menarik, museum bisa menjadi tempat berwisata yang menarik.

Sekilas Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Komunitas Aleut di depan Museum Mandala Wangsit

Berbicara mengenai museum di Bandung, saya akan mengambil Museum Mandala Wangsit Siliwangi sebagai objek catatan perjalanan kali ini. Museum Mandala Wangsit Siliwangi berlokasi di Jalan Lembong. Tidak ada tiket masuk untuk berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Kita hanya mengisi daftar hadir di depan pos penjaga untuk memasuki museum ini.

Saat mengunjungi Museum Mandala Wangsit Siliwangi, kita akan menemukan pembagian museum berdasarkan waktu. Pembagian tersebut sebagai berikut:

1. Era Kerajaan

Pada bagian ini, kita akan diperlihatkan beberapa benda koleksi yang berhubungan dengan kerajaan di Jawa Barat. Benda koleksi tersebut antara lain beduk, keris, dan tombak. Selain itu, Museum Mandala Wangsit Siliwangi memperlihatkan lukisan Prabu Siliwangi yang merupakan raja terkenal saat itu.

2. Era Sebelum Kemerdekaan

Pada bagian ini, kita akan menemukan beberapa lukisan yang berhubungan dengan Indonesia sebelum merdeka. Beberapa lukisan menggambarkan kedatangan penjajah ke Indonesia dan lukisan lainnya menggambarkan perlawanan penduduk setempat kepada penjajah.

3. Era Perjuangan Setelah Kemerdekaan

Pada bagian ini, museum menyajikan lukisan–lukisan, miniatur perlawanan tentara Indonesia, dan peralatan yang dipakai saat perang. Satu hal yang menarik pada bagian ini adalah tangga bambu. Menurut pemandu, tangga bambu ini dipakai untuk mengangkat jenazah–jenazah korban perang ke ambulans.

4. Era Pemberontakan di Jawa Barat

Pada bagian ini, kita harus tahan dengan beberapa foto yang diperlihatkan museum. Kenapa tidak? Foto–foto koleksi museum di bagian ini berisi kekejaman para pemberontak seperti pembunuhan dan pembakaran. Selain foto, kita akan menemukan beberapa lukisan dan barang–barang yang dipakai oleh pemberontak.

Foto keluarga Komunitas Aleut di ruang persenjataan

Selain beberapa bagian yang telah disebut, kita akan menjumpai satu bagian yang berisi senjata–senjata dan peta. Pada bagian ini, kita diijinkan untuk mengambil foto bersama.

Sekitar Mandala Wangsit Pasca Kemerdekaan

Bandung pasca kemerdekaan bukanlah kota yang nyaman dan aman. Setiap malam dan siang hari, seringkali terjadi kebakaran dan perampokan di Bandung. Selain terjadi kebakaran dan perampokan, jalanan di Bandung menjadi medan perang antara tentara Sekutu dengan tentara Indonesia.

Upacara pergantian Bendera di Markas Siliwangi

Setelah penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949 di Oude Hospitalweg (Jalan Rumah Sakit Lama, sekarang dikenal dengan nama Jalan Lembong) diselenggarakan pergantian bendera. Pergantian ini dilaksanakan oleh Jendral E. Engles dan Kolonel Sadikin di depan markas staf Divisi Siliwangi. Setelah pergantian bendera, Bandung kembali dikuasai oleh TNI dan Pemerintahan Indonesia.

Sayangnya setelah penyerahan kedaulatan, Bandung kembali tidak aman oleh kegiatan separatis. Kegiatan ini dilakukan oleh APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh Raymond Westerling. Tentara yang berada di pihak APRA berasal dari korps pertahanan diri yang dibangun Westerling saat menjadi pengusaha angkutan.

Korban APRA di Jalan Braga

Singkat cerita, pada 23 Januari 1950, APRA melakukan serangan ke Bandung. Serangan ini dilakukan pada pukul 04:00 melalui Cimahi. Saat penyerangan di Cimahi, tentara Indonesia dengan cepat kocar–kacir dan melarikan diri. Baru di pusat kota Bandung, APRA mendapat perlawanan dari kesatuan Batalyon Siliwangi. Sayangnya, pada pukul 09:30, Markas Besar Siliwangi di Oude Hospitalweg dikuasai oleh APRA.

Pada saat penyerangan APRA, sebanyak 94 orang tentara Indonesia menjadi korban, termasuk Letnan Kolonel Lembong. Untuk mengenang Letnan Kolonel Lembong yang menjadi korban serangan APRA, nama Lembong dipakai untuk menggantikan nama Oude Hospitalweg. Selain dijadikan nama jalan, kita akan menemukan patung Letnan Kolonel Lembong di depan Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

 

Sumber Bacaan :

Bandung awal revolusi karya John R.W. SMAIL

Bandung citra sebuah kota karya Robert P.G.A Voskuil, dkk

Selamat tinggal Hindia Belanda : Janjinya pedagang telur karya Pans Schomper

Sumber Foto :

Kitlv

Voskuil

Komunitas Aleut

 

Tautan asli: http://catatanvecco.wordpress.com/2014/08/17/catatan-perjalanan-museum-mandala-wangsit/

Halim Perdanakusumah, Berjuang dari Udara

Posted in Kemerdekaan, Tokoh with tags , , , on Agustus 14, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh : Vecco Suryahadi, dengan tambahan dari Ghera Nugraha dan Arya Vidya Utama

Abdul Halim Perdanakusumah atau Halim Perdanakusumah lahir pada tanggal 18 November 1922 di Sampang, Madura. Halim memiliki ayah bernama Haji Abdul Gani Wongsotaruno dan ibu bernama Asih yang merupakan istri ke tujuh. Halim juga memiliki adik yang kelak juga berkarir di Angkatan Udara, yaitu Makki Perdanakusumah, dan nantinya juga menjadi Direktur PT Dirgantara Air Service. Makki sendiri menikah dengan Indriati Iskak, anggota Tiga Dara dan anak dari seniman R. Iskak.

Halim Perdanakusuma

Halim Perdanakusuma

Dikarenakan pekerjaan ayahnya yang seorang Patih di Sumenep, beliau mendapat pendidikan yang mengarahkan dirinya sebagai pamongpraja. Pendidikan pertamanya yakni HIS pada tahun 1928. Kemudian MULO pada tahun 1935. Lalu MOSVIA Magelang pada tahun 1938. Tapi dikarenakan perang dunia kedua, Halim yang tingkat dua diharuskan mengikuti wajib militer.

Kehidupan Halim setelah perang kedua berubah. Pemerintah Hindia Belanda menempatkan Halim di Surabaya sebagai opsir torpedo. Dikarenakan ketahuan oleh Jepang di Perairan Cilacap, armada yang ditumpangi Halim kalah telah. Beberapa awak – awak armada laut termasuk Halim diselamatkan oleh kapal Inggris. Kapal inggris membawanya ke Australia kemudian India.

Di India, Halim bertemu dengan Laksamana Mounbatten. Saat itu, Halim ditawari pendidikan militer di Eropa oleh Mounbatten. Lanjutlah kehidupan militernya di Kanada sebagai anggota AU Kanada sebagai navigator. Tahun 1943, Halim ke Inggris sebagai Flight lieutenant dan terlibat 44 serangan udara di Jerman dan Perancis.

Setelah perang dunia usai, Halim yang tergabung tentara sekutu ditangkap oleh TRI di Kediri. Setelah itu dilepaskan oleh Amir syarifudin yang saat itu sebagai Menteri Pertahanan. Halim diminta oleh Amir syarifudin untuk melatih angkatan perang udara RI.

Halim memberikan arahan kepada anakbuahnya.

Halim memberikan arahan kepada anakbuahnya.

Tahun 1947, Halim ditugaskan untuk membina angkatan udara di Sumatera. Pada tanggal 14 Desember 1947, Halim, Ishwahyudi, dan penumpang berkebangsaan Australia bernama Keegan terbang ke Bangkok untuk mengantarkan Keegan pulang dan membeli persediaan untuk militer Indonesia. Dalam perjalanan pulang, pesawat Halim jatuh di Pantai Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Tidak ada kepastian alasan jatuhnya. Jasad Halim dikebumikan di Tanjung Hantu pada tanggal 14 Desember 1947. Namun pada 10 November 1975, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Iswahyudi

Iswahyudi

Halim meninggalkan seorang istri bernama Kosadelina, dan seorang putra bernama Ian Santoso Halim Perdanakusumah. Ian kelak juga mengikuti jejak ayah dan pamannya menjadi anggota TNI Angkatan Udara.

Sisi lain dari peristiwa jatuhnya pesawat Halim adalah misteri keberadaan Iswahyudi. Ketika pencarian, tim pencari tidak bisa menemukan jasad Iswahyudi. Maka ISwahyudi pun dimakamkan secara simbolik (tanpa jasad) di TMP Kalibata. Ada legenda yang menyatakan Iswahyudi masih hidup dan menjadi aktivis komunis Malaysia. Legenda ini timbul ketika seorang wartawan Malaysia meliput perjanjian gencatan senjata di Haadai antara Pemerintah Malaysia dan Partai Komunis Malaysia, ia menyatakan melihat seseorang indonesia yg mirip Iswahyudi.

Sumber :

Www.Tni-au.mil.id/content/halim-perdanakusuma

Ajisaka, Arya; Damayanti, Dewi. 2010. Mengenal Pahlawan Indonesia. Jakarta: Kawan Pustaka

Achmad Juniarto, Tangguh Sutjaksono, Ardiatmiko dan Nunik Sumasni. . Abdul Halim Perdanakusuma. Pahlawan Nasional dan Tokoh AURI yang Gugur Dalam Tugas. Diakses via dianrana-katulistiwa.com/halim_pk.pdf

Catatan Perjalanan: Bandros Bandung

Posted in Bus Bandros, Catatan Perjalanan on Juli 21, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

“…the way to see London is from the top of a ‘bus” – William Ewart Gladstone

Saya selalu bertanya – tanya pada diri sendiri mengenai alasan pemakaian nama Bandros untuk bus wisata Bandung. Apakah nama Bandros diambil dari nama makanan tradisional khas Bandung? Atau karena Bandros hanya singkatan yang cukup unik dan mudah diingat oleh konsumen?

Sesaat saya teringat konsep branding suatu produk. Jika kita memakai sudut pandang pemasaran, branding adalah poin terpenting dalam memperkenalkan suatu produk. Tujuan branding yakni mendapatkan perhatian dan loyalitas konsumen. Pemilihan brand name suatu produk haruslah sesuai dengan kriteria. Kriteria tersebut adalah mudah diingat, unik, dan kreatif. Nah, apakah branding Bandros ini sudah cukup tepat? Mungkin jawabannya tidak akan didapatkan pada waktu dekat ini.

Bandros saat tahun baru 2014

Sebelum lebih jauh membahas konsep branding Bandros, kita belum mengetahui permukaan luar mengenai Bandros. Bandros adalah singkatan dari Bandung Tour on the Bus. Bus yang dipakai Bandros memakai konsep double decker dimana terdiri dari dua dek. Bandros sendiri diperkenalkan oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil kepada warga Bandung pada awal tahun baru.

Walaupun konsep bis yang dipakai Bandros memiliki tujuan sebagai angkutan publik, Bandros sendiri memiliki tujuan yang sangat unik. Tujuan awal dari Bandros adalah sebagai pengantar para wisatawan ke tempat wisata di Bandung. Tujuan Bandros ini memanfaatkan dek teratas dari bis. Berdasarkan observasi William Ewart Gladstone, cara terbaik menikmati kota adalah dengan berada di atas bis. Oleh karena itu, tujuan Bandros sebagai pengantar para wisatawan sangat tepat karena para wisatawan bisa melihat Bandung dari atas bis Bandros.

Sayang seribu sayang, rute Bandros sekarang ini masih tergolong pendek. Rute Bandros saat itu Taman Pustaka – Gedung Sate – Dago – kembali ke Taman Pustaka.

Walaupun rute Bandros yang tergolong pendek, kita akan menemukan kebahagiaan saat memakai Bandros. Kebahagiaan ini tidak hanya dialami penumpang Bandros. Kebahagiaan ini juga dialami oleh warga Bandung yang berada di rute Bandros. Kenapa tidak? Bis Bandros yang tergolong unik untuk warga Bandung menjadikan Bandros sebagai atraksi menyenangkan di sore hari. Jika kita melihat baik – baik Bandros yang melewati rute nya, kita akan menemukan warga Bandung yang melambaikan tangan kepada penumpang Bandros.

Penggiat Komunitas Aleut di Bandros

Sebagai penutup tulisan yang mulai tidak jelas ini, saya sebagai warga Bandung sangat berharap Bandros bisa lebih banyak dan lebih panjang jangkauannya. Mungkin tidak dalam waktu dekat ini, tapi lebih baik berharap bukan?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.485 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: