#InfoAleut: “Basa Bandung Halimunan”

Posted in Info Kegiatan on September 27, 2014 by KomunitasAleut!

2014-09-28 Basa Bandung Halimunan

‪#‎InfoAleut‬ Kegiatan ngaleut hari Minggu (28/09/2014) besok berjudul… “Basa Bandung Halimunan”. Familiar dengan judul ngaleut ini? Iya, kita mengambil judul buku Pak Us Tiarsa karena di ngaleut kali ini kita bakal menyusuri beberapa tempat yang diceritakan Pak Us Tiarsa di dalam buku “Basa Bandung Halimunan”

Titik kumpul ngaleut Minggu ini di Halaman Stasiun Bandung Jl. Kebon Kawung no. 43 pukul 07.30

Tertarik untuk bergabung? Silakan konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Konfirmasi hukumnya WAJIB yah :)

Ayo ajak temanmu untuk ikutan supaya ngaleutnya tambah seru! :D

Ngaleut Episode “Bandung Untuk Indonesia”

Posted in Catatan Perjalanan on September 27, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Pada 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Bandung dan kreativitas merupakan pasangan yang sulit dipisahkan. Hal ini salah satunya disebabkan warganya yang hobi ‘ngariung’, senang kumpul bareng-bareng. Dari sekedar untuk berbagi omong kosong dan keluh kesah sampai untuk beradu pemikiran dan ide.

Ya, hampir semua hal besar memang berawal dari aktivitas ngariung ini. Dan di Bandung, pernah diadakan satu ngariung yang paling fenomenal dan berdampak bagi dunia, Konferensi Asia-Afrika.

gedung merdeka

Bahwa Bandung terkenal juga sebagai ibukota Asia-Afrika memang bukan suatu kebetulan. Setelah usai Perang Dunia II, Vietnam dan Indonesia tampil sebagai pelopor Asia-Afrika untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Dan Bandung diberi kehormatan untuk dijadikan tempat konferensi, dan gedung yang bernama Sociëteit Concordia dipilih sebagai tempat ngariung-nya.

Ironis, Gedung Merdeka yang merupakan tempat ngariung paling bersejarah ini pernah dipakai konser dangdutan, yang membuat heran para turis dari China yang notabene warganya sangat respek dengan peristiwa KAA. Memang benar, bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarahnya.

Berkat peristiwa memalukan tadi, akhirnya pada Maret 1980, gedung bergaya art deco rancangan dari Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker ini kembali dipercayakan menjadi tempat peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25. Pada puncak peringatannya diresmikan Museum Konferensi Asia Afrika oleh Soeharto.

KAA dan pengaruhnya terhadap solidaritas antarbangsa ga hanya berdampak pada negara-negara di Asia dan Afrika, tetapi juga bergema ke seluruh dunia.

bandung km 0

Prasasti Bandoeng KM 0

“ZORG, DAT ALS IK TERUG KOM HIER EEN STAD IS GEBOUWD”

Sebuah intruksi yang diberikan Gubernur Jenderal Daendels ketika melintasi jembatan Sungai Cikapundung yang baru selesai dibangun. Arti dari bacotan Belanda itu adalah “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun suatu kota”.

Dibanding kota-kota besar lain di Indonesia, Bandung terbilang masih muda. Hanya sebuah kota ciptaan kolonial. Nuhun buat Daendels telah membangun Jalan Pos Anyer-Panarukan yang melewati sebuah dataran tinggi bekas kawah purba. Yang karenanya tercipta sebuah kota bernama Bandung ini.

Dan terkutuklah kau wahai Daendels karena melakukan kerja paksa berujung genosida yang merenggut sampai puluhan ribu orang pribumi. Sialan kau!

Buku rekomendasi: Pramoedya Ananta Toer – Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Sebagai fanboy dari Pram, tentunya roman tetralogi Bumi Manusia menjadi bacaan favorit saya. Dan yang paling saya suka yakni tokoh utamanya Minke sebagai representasi dari sosok Tirto Adhi Soerjo sang pendiri Medan Prijaji. Sebuah koran pertama berbahasa Melayu yang dikelola pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri.

Bukan hanya sekadar memberitakan sebuah peristiwa atau kebijakan yang merugikan publik, namun Medan Prijaji terjun langsung menangani kasus-kasus yang menimpa orang kecil.

Surat kabar ini pun pernah menjadi sorotan publik internasional pada waktu itu saking larisnya. Selain memang karena sang redaktur Tirto Adhi memegang peran penting di Syarikat Islam, dan tentunya memakai surat kabar ini sebagai media propaganda organisasi pergerakan nasional ini.

Jadi jauh sebelum KAA tadi, Bandung sudah memberikan kontribusi bagi Indonesia lewat Medan Prijaji ini. Bukan hanya “Bandung Untuk Indonesia”, tapi lebih dari itu, “Bandung Untuk Dunia”. :cool:

Tanpa mendeskritkan kota-kota lainnya di Indonesia, jangan iri bagi yang ga tinggal di Bandung. Silahkan buat sesuatu yang berdampak di wilayahmu masing-masing. Mulai dengan ‘ngariung’, dan kalau bisa lanjut ke ‘ngaleut’.

 

Tautan asli: http://arifabdurahman.com/2014/09/23/ngaleut-episode-bandung-untuk-indonesia/

Catatan Perjalanan: Ngaleut Kontribusi Bandung untuk Indonesia

Posted in Catatan Perjalanan on September 27, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Deris Reinaldi

Pada hari minggu, 21 September 2014 yang sangat cerah dengan udara yang segar saya tiba di Gedung Merdeka (Jl. Cikapundung Timur) untuk ngaleut pada hari itu. Setelah menunggu teman lainnya berkumpul, dimulailah ngaleut ini. Dimulai di Gedung Merdeka, bahwa di gedung ini pernah terjadi perhelatan akbar yaitu Konferensi Asia Afrika pada 18-24 April 1955. Konferensi ini bertujuan untuk menyelamatkan bangsa Asia maupun Afrika untuk bebas dari segala bentuk kolonialisme dan imprealisme, perwakilan bangsa bangsa Asia dan Afrika pun hadir di gedung Merdeka. Konferensi ini bertempat di Gedung merdeka untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa bangsa Asia maupun Afrika bisa masuk di Gedung Merdeka bisa masuk ke gedung ini, karena gedung ini di masa kolonial Belanda dijadikan tempat berkumpulnya orang-orang Belanda dan orang orang Pribumi dilarang keras masuk ke gedung itu. Gedung Merdeka juga pernah dijadikan gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada tahun 1960, pada tahun 1980 Gedung Merdeka dijadikan Museum Konferensi Asia Afrika.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Tugu ‘Nol’ KM Bandung yang bertempat di Dinas Bina Marga Dan Pengairan Provinsi Jawa Barat Jl. Asia Afrika. Pada masa pemerintahan Daendles (1808-1811) pembangunan jalan raya pos dimulai. Pembangunan ini dibuat dengan alasan untuk mempermudah membawa hasil perkebunan agar ekonomi di pulau Jawa semakin lancar. Pegawainya adalah kaum pribumi dengan peralatan tradisional. Pembangunan jalan raya pos ini banyak menelan korban jiwa yang meninggal dunia karena terlalu lelah. Sebelum diaspal, jalan ini masih bebatuan. Pada tugu ‘nol’ Km ini terdapat stoom tua yang dijadikan monumen. Stoom ini bukan merupakan stoom yang dipakai untuk pembuatan jalan raya pos ,karena jalan raya pos dibangun dengan peralatan tradisional. Stoom ini dijadikan monumen disitu dikarenakan gedung itu merupakan Dinas Bina Marga Dan Pengairan Provinsi Jawa Barat.

Berikutnya perjalanan berlanjut ke Bank BJB di Perempatan Braga-Naripan. Gedung ini dahulunya merupakan bank dengan sistem hipotek pertama di Bandung. Selain itu kita melihat reruntuhan Sarinah. Dahulu Sarinah merupakan tempat berbelanja serba ada. Nama Sarinah ini dinamakan oleh Ir. Soekarno yang berasal dari nama pengasuh Soekarno ketika kecil. Nama sarinah ini dijadikan sebagai identitas wanita Indonesia. Di seberang Gedung Bank BJB terdapat Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan yang dulunya pun pernah menjadi perusahaan media cetak pertama di Indonessia yang menggunakan bahasa Melayu dengan nama NV. Medan Priyayi.

Perjalanan berlanjut ke Balaikota tepatnya ke Taman Dewi Sartika. Di sana terdapat babancong yang merupakan tempat untuk menampilkan pementasan musik. Kemudian kita berjalan kembali ke Taman Lalu-Lintas atau lebih dikenal Taman Ade Irma Suryani Nasution di Jl. Belitung. Nama itu diambil untuk menghormati Ade Irma Suryani Nasution yang meninggal akibat tertembak oleh pasukan G 30 S PKI pada 1965, ia merupakan putri dari Jend. TNI. Abdul Haris Nasution. Taman Lalu lintas ini ketika masa kolonial Belanda dijadikan tempat latihan baris berbaris tentara, dan pernah juga dijadikan tempat belajar untuk pemuda-pemudi untuk berlalu lintas karena waktu itu pemuda-pemudi Bandung masih semrawutan dalam berlalu lintas. Taman Ade Irma Suryani Nasution merupakan Taman Lalu Lintas pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Lalu perjalanan berlanjut kembali ke Gedung Jaarbeurs di Jl. Aceh. Sekarang gedung ini merupakan kantor TNI Angkatan Darat. Dahulu gedung ini dijadikan tempat pekan raya sepeti Pekan Raya Jakarta. Kala itu jalanan ditutup karena dipenuhi stand. Ke arah utara sedikit tepatnya Jl. Banda kita menemukan Gereja St. Albanus, bangunannya kurang terawat, lebih mengkhawatirkan ketika melihat rumah di sebelahnya itu sudah ditutupi seng. Gereja ini sekarang berfungsi menjadi tempat kursus Bahasa Belanda.

Perjalanan kita berakhir di Taman Lansia, di sana kita melakukan sharing serta tanya jawab. Semua peserta wajib sharing atau bertanya mengenai perjalanan tadi atau juga apapun mengenai sejarah Bandung. Kegiatan ini di akhiri dengan foto bersama.

 

Tautan asli: https://www.facebook.com/notes/deris-reinaldi/ngaleut-kontribusi-bandung-untuk-indonesia/10152689584567418

 

#InfoAleut: Dari Bandung Untuk Indonesia

Posted in Poster Kegiatan on September 20, 2014 by KomunitasAleut!

Dari Bandung Untuk Indonesia

#InfoAleut Ngaleut hari Minggu (21/9/14) besok berjudul… “Dari Bandung Untuk Indonesia”. Dalam ngaleut hari Minggu besok, kita akan menelusuri kontribusi Kota Bandung untuk Indonesia di masa kolonial maupun di masa setelah kemerdekaan.

Ngaleut hari Minggu besok spesial karena kita bekerja sama dengan @mojangjajakabdg :D

Kumpul di halaman Gedung Merdeka (pertigaan Jl. Cikapundung Timur) pukul 07.30 WIB. Tertarik untuk bergabung? Konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Konfirmasi hukumnya WAJIB yah, hehe

Ayo ikutan & jangan lupa ajak temanmu untuk bergabung supaya ngaleutnya lebih seru. Selamat pagi :)

Ngaleut Perdana: Bandung Kota Pendidikan

Posted in Catatan Perjalanan on September 16, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

ngaleut pendidikan 2

Bersyukurlah, kalau perlu langsung sujud syukur. Sebab kita lahir di zaman yang setidaknya sedikit lebih baik, hidup di era kapital ketimbang kolonial. Ya, meski pendidikan sudah dikapitalisasi, tapi lebih mending daripada pendidikan politik etis penuh intrik dan diskriminatifnya Belanda. Pada masih bisa mencicipi nikmatnya bersekolah kan?

Berbicara soal pendidikan, saya rupanya melupakan salah satu elemen penting dari hal ini: menulis. Sebuah kesalahan besar karena ga mencatat pemaparan yang disampaikan saat Ngaleut. Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Duh saya hilap pesan Imam Syafii ini.

Jadi harap maklum info yang bakal saya sampaikan cuma secuil dan mungkin ga valid. Masih anak bawang di Komunitas Aleut, dan ini ngaleut perdana saya.

ngaleut pendidikan 1

Gambaran tentang kondisi pendidikan modern di era kolonial pada awal abad 20 sebelumnya telah sedikit saya ketahui berkat roman Tetralogi Bumi Manusia-nya Pramoedya. Selain sebagai politik etis, pembangunan fasilitas pendidikan di Hindia Belanda bertujuan dalam misi zending juga sebagai pencetak sumber daya manusia yang murah.

Bandung saat itu akan diplot untuk dijadikan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Beragam infrastruktur dibangun, salah satunya fasilitas pendidikan. Iklim sejuk yang dimiliki seperti di Belanda sana juga menjadi alasan tepat Bandung untuk dijadikan kota pendidikan.

ngaleut pendidikan 3

Theodore Conrad Van Deventer, yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Sumur Bandung, merupakan tokoh politik etis yang menekankan akan pentingnya edukasi, migrasi, dan irigasi bagi pribumi. Pada masa politik etis inilah, sifat sekolah diubah dari elitis menjadi populis. Salah satu usaha Van Deventer dan istrinya adalah mendirikan Yayasan Kartini, yang kemudian menelurkan Sekolah Kartini sebagai wadah kepedulian bagi pendidikan khusus kaum perempuan muda pribumi.

Nah, Sekolah Kartini di Jalan Van Deventer inilah lokasi terakhir ngaleut kemarin. Berawal dari Balai Kota, menyusuri Jalan Merdeka dari Santa Angela menuju Unpar dan dilanjutkan ke Santa Aloysius. Kemudian ngaleut menuju SMA paling ngehits di Kota Bandung, SMAN 5. Lalu terus ke Bala Keselamatan.

Oh ya belum dijelasin nih, ngaleut itu artinya berjalan beriringan. Aktivitas rutin yang diadakan Komunitas Aleut untuk menyusuri jalan Kota Bandung untuk mempelajari sejarahnya. Dan setelah sekian lama cuma bisa memantau akun twitternya, akhirnya saya bisa ikutan ngaleut juga.

Untuk urusan jalan kaki keliling Bandung sih udah biasa, jalan sendirian tapi. Soalnya banyak bangunan unik dan antik di kota ini. Sekaligus sekarang lagi terobsesi sama street photography, semoga dengan ikutan ngaleut ini bisa sambil belajar. Selain itu, motif lainnya ikutan ya buat kardio dan nambah teman aja, mungkin juga pacar.

Sumber: Irfan Akbar Budiman

Tautan Asli: http://arifabdurahman.com/2014/09/16/ngaleut-perdana-bandung-kota-pendidikan/

 

 

#InfoAleut: Ngaleut Pendidikan

Posted in Info Kegiatan on September 13, 2014 by KomunitasAleut!

Ngaleut Pendidikan

#‎InfoAleut‬ Hari Minggu (14/9/2014) ngaleut-nya berjudul… Ngaleut Pendidikan! Kita bakal menelusuri sambil bercerita beberapa sekolah peninggalan tempo doeloe yang ada di Kota Bandung. Kumpul di Taman Balaikota Bandung pukul 07.30 WIB, asik kan bisa sambil liat Taman Balaikota yang baru selesai dibenahi :)

Tertarik untuk bergabung? Segera konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Ingat, konfimasi kehadiran hukumnya WAJIB.

Ayo ikutan, dan ajak teman-temanmu supaya ngaleut-nya tambah asik dan seru! :D

Catatan Perjalanan: Ngaleut Tjimahi!

Posted in Catatan Perjalanan, Cimahi on September 1, 2014 by KomunitasAleut!

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Berjalan adalah cara terbaik dalam berwisata!

Penetapan Cimahi sebagai garnisun

Pada abad 19, pemerintah Hindia Belanda merencanakan pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung. Dalam upaya pemindahan tersebut, pemerintah membangun fasilitas–fasilitas yang akan dipakai. Jika rencana pemindahan ibukota berhasil, kelak fasilitas–fasilitas tersebut akan menopang Bandung sebagai ibukota.

Di antara banyaknya fasilitas yang dibangun, garnisun atau tempat kedudukan tentara adalah fasilitas yang paling penting. Hal itu terlihat dari fungsi garnisun sebagai benteng utama ibukota dan pemerintahan.

Sebagai tempat kedudukan tentara, lokasi garnisun harus sesuai dengan syarat–syarat. Beberapa syarat tersebut adalah wilayah tersebut harus memiliki hawa sejuk dan garnisun harus dilewati jalur kereta api. Cimahi dipilih menjadi lokasi garnisun Hindia Belanda karena memenuhi kedua kriteria tersebut.

Rumah sakit Militer di Cimahi tahun 1900an

Cimahi harus memiliki fasilitas–fasilitas militer yang memadai untuk dijadikan sebagai garnisun. Fasilitas militer tersebut yakni rumah sakit militer, rumah tahanan militer, fasilitas pelatihan tentara, dan fasilitas logistik militer. Sampai sekarang, kita masih bisa melihat bangunan–bangunan yang pernah menjadi fasilitas militer tersebut.

Selain fasilitas militer, kita akan menemui beberapa fasilitas yang terkait dengan kenyamanan tentara–tentaranya. Fasilitas tersebut antara lain perumahan militer dan tangsi. Bagi tentara pribumi yang berpangkat rendah, mereka mendapat kamar di kamp atau tangsi. Tentara Belanda yang berpangkat tamtama, bintara, dan bintara tinggi dapat tinggal di rumah dinas yang disewakan seharga 10 – 12% dari gaji mereka. Oleh karena itu, kita akan menemukan delapan tingkat perumahan sesuai dengan pangkatnya.

Kantin militer di Cimahi

Pemerintah Hindia Belanda juga membangun fasilitas yang memenuhi kebutuhan pangan tentara, yakni pabrik roti, kantin militer, dan rumah pemotongan hewan. Dengan fasilitas tersebut, tentara KNIL di Cimahi sudah dipastikan memiliki kebutuhan pangan yang cukup.

Seperti orang Belanda di Bandung, orang Belanda di Cimahi memiliki tempat berkumpul yang disebut societeit. Soceiteit tersebut bernama Soceiteit Voor Officieren Tjimahi. Societeit ini dibangun dengan gaya Empire dan digunakan untuk tempat berkumpul orang Eropa. Sama seperti soceiteit di Bandung, soceiteit di Cimahi sering menyelenggarakan pesta dan parade.

Cimahi sebagai tempat berwisata

Seperti catatan perjalanan lainnya, saya selalu berusaha mengenalkan suatu tempat untuk menjadi tempat wisata. Kali ini, saya akan sedikit bercerita mengenai berwisata di Cimahi.

Banyak jalan yang bisa dipilih untuk menuju Cimahi. Jalan seperti memakai motor atau mobil, bersepeda, atau lebih ekstrim yakni berjalan kaki. Tapi dari semua jalan yang ada, kereta api adalah jalan menuju Cimahi yang paling menyenangkan dan murah. Dengan menggunakan KRD Patas, kita hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 7.000 untuk mendapat tiket. Selain murah, kita akan disajikan pemandangan–pemandangan selama perjalanan ke Cimahi.

Komunitas Aleut di depan Stasiun Cimahi

Kembali kepada topik berwisata di Cimahi. Terdapat satu jalan yang menyenangkan untuk berwisata di Cimahi. Jalan tersebut adalah berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, kita bisa menikmati keindahan bangunan–bangunan tua, pohon – pohon yang teduh, dan sejuknya udara Cimahi di pagi hari.

Sedikit berbeda dengan kota tua di Jakarta dan kawasan Braga di Bandung, Cimahi memiliki keunikannya sendiri. Jika di kota tua dan di Braga, kita bisa mengambil foto bangunan dengan mudah. Hal ini berbeda dengan di Cimahi. Cimahi adalah kawasan militer, sehingga mengambil foto bangunan adalah hal yang sulit dilakukan.

Komunitas Aleut di depan Soceiteit Voor Officieren Tjimahi

Meskipun demikian, kita masih bisa menikmati keindahan bangunan tua di Cimahi. Bangunan – bangunan tua di Cimahi masih dirawat dan tidak berubah banyak karena kepemilikannya kebanyakan berada di tangan PT KAI dan TNI.

Seperti di Bandung, Cimahi memiliki masalah yang sama: trotoar yang tidak layak. Trotoar yang sempit dan kadang – kadang putus di tengah jalan adalah masalah yang dialami saat berjalan kaki di Cimahi. Mungkin berjalan kaki sudah tidak menjadi tradisi orang Indonesia, sehingga trotoar pun bukan masalah utama yang harus diselesaikan.

Sebagai penutup tulisan yang sudah keluar dari jalannya, saya berharap Bandung akan merawat dan memperbaharui bangunan–bangunan tuanya. Bukan karena merawat kenangan era kolonial, tapi karena tanpa bangunan tua tersebut, generasi di bawah kita tidak akan mengetahui kenangan yang dialami keturunan di atasnya.

-Terimakasih-

Sumber Bacaan :

Bandung, Citra sebuah kota karya Robert P.G.A Voskuil

Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng karya Sudarsono Katam

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Sumber Foto :

@komunitasaleut

@tesyaclalalaud

http://www.media-kitlv.nl/all-media

 

Tautan asli: http://catatanvecco.wordpress.com/2014/09/01/catatan-perjalanan-ngaleut-tjimahi/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.529 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: