Cihapit, “Surga dan Masa Yang Kelam” Bandung

Posted in Cihapit on Maret 1, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh: Reza Ramadhan Kurniawan

Cihapit merupakan salah satu tempat dari beberapa bagian kawasan di kota Bandung yang menarik untuk di ceritakan. Jika di analogikan, Cihapit pada masa sekarang adalah surga,  berbagai makanan yang khas, buku-buku antik, kaset-kaset nuansa lalu, vinyl dan hal-hal unik yang khas lainya dapat kita temui dikawasan satu ini.

Di pasar Cihapit kita bisa menemukan ruang bak surga bagi para pecinta kuliner. Berbagai makanan khas Kota Bandung yang telah lama ada dengan cita rasa lama masih dapat kita temukan disini, beberapa diantaranya: Kupat Tahu Galunggung, Nasi Rames Emak Eha, Lotek Cihapit, Surabi Cihapit, Gorengan Cihapit dan Awug. Dengan berbagai sugguhan kuliner yang lezat lekat di lidah, menjadikan Cihapit magnet tersendiri bagi para pemburu makanan dari dalam ataupun luar daerah Kota Bandung. Ehmm.. lezaat.. aroma nuansa Cihapit begitu memikat, tak khayal seringkali kita temui para pelancong nongkrong sambil icip-icip sugguhan jajaran berbagai makanan yang di sajikan di sekeliling Pasar Cihapit.

 Salah satu yang terhipnotis lalu terjerat akan nikmatnya kuliner disekitaran Pasar Cihapit adalah Bondan Winarno, presenter Wisata Kuliner yang terkenal dengan ungkapan “Pokoe maknyus!” ini bahkan sampai tiga kali gagal menyantap suguhan warung Emak Eha yang legendaris itu, ini disebabkan karena Emak Eha yang selalu tutup lebih dahulu karena daganganya habis.

Kalau tidak datang pagi, jangan harap masih tersisa, itulah tagline warung Emak Eha yang tersirat di setiap benak para penikmat sajian siemak. Selain itu ada pula keluarga Simangunsong yang tidak lain adalah kakak-beradik Dewi Lestari dan Arina Mocca  yang menjadikan warung ini sebagai restoran favorite mereka untuk bersantap sambil mengenang masa kecilnya dulu.

Sepanjang mata memandang, Cihapit terlihat menarik, masih kita jumpai beberapa pepohonan yang rindang, bangunan gaya lama dan sebuah pasar, menjadikan sebuah petanda bahwa nuansa lama masih terasa hidup kentara. Jika kembali ke sejarah masa lalu, Belanda membangun daerah Cihapit dengan suatu konsep lingkungan yang sehat, komplek perumahan dilengkapi dengan pasar, pertokoan, taman dan lapangan terbuka (plein). Sehingga pada tahun 1920-an komplek perumahan Cihapit mendapatkan predikat sebagai contoh lingkungan pemukiman sehat di kota Bandung yang di huni oleh warga golongan menengah baik pribumi maupun Belanda. Beberapa sisa bangunan lama masih dapat disaksikan di Jalan Sabang.

 Selain itu kawasan Cihapit dikenal sebagai surga bagi kawasan pecinta barang-barang antik ataupun barang loak, harga yang relatif murah tidak serbanding lurus dengan kualitasnya yang murahan. Misalnya buku-buku loak tua yang di jual bukan berarti barang bekas tak berguna, keasikan tersendiri ketika berburu mencari buku dengan tema yang di inginkan. Tiga sampai empat buku yg kita temui bisa dihargai Rp.20.000 namun ada pula satu buku yang bisa jadi dihargai sampai Rp.100.000 semua tergantung dengan umur tua dan isi buku yang akan di cari,  semakin sulit di dapat semakin mahal.

Cetakan pertama pada penerbitan buku dapat menjadi faktor penentu sebuah harga buku. Artinya harga buku semua abu-abu, seorang penjual menjadi penentu sebuah harga yang dapat kita tawar dalam suatu transaksi jual beli.

Daya tarik kawasan Cihapit  lainya adalah pedagang kaset, CD dan vinyl yang hadir di sepanjang Jalan Cihapit bagian utara. Para penjual disana terkadang merangkap sebagai kolektor. Cihapit layaknya seperti surga penikmat musik,  kaset, CD dan Vinyl yang ditawarkan merupakan barang-barang langka yang tidak dapat kita temukan di toko-toko kaset baru, seperti kaset Dedy Stanzah, Dara Puspita ataupun musisi luar negri seperti Bob Dylan dan The Smiths  yang jarang ada di pasaran umum. Selain itu juga terdapat piringan hitam yang terkesan lama dan langka dari berbagai genre dan harga di tawarkan disana.

Begitu luar biasanya Cihapit seperti surga berisi pernuh harta karun yang tersembunyi di balik tirai kemewahan gemerlapnya suasana kota Bandung dengan berbagai citra nama sebuah kota.

 Cihapit yang berhimpit

Seorang wanita manis dengan pakaian berwarna merah yang malu tapi tak angkuh bertanya, “Bagaimana keadaan Cihapit pada masa Jepang dahulu?” terhimpit-himpit pada umumnya jawabanya. Pada tahun 1942-1946 Komplek Perumahan Cihapit digunakan sebagai interniran, yaitu sebuah kamp konsentrasi tawanan bagi wanita dan anak-anak warga Belanda maupun Pribumi.

Kamp tawanan pada masa penjajahan Jepang dipisahkan kedalam tiga kelompok bagian yaitu: kamp konsentrasi untuk anak anak dan wanita, kamp konsentrasi pria berumur 18 tahun (remaja) dan kamp konsentrasi pria dewasa. Pemisahan wilayah pengkonsentrasian dengan berbagai kategori yang telah ditentukan memiliki tujuan terendiri. Pemisahan antara kamp wanita dan anak dengan kamp pria bertujuan untuk meminimalisir gejolak kekacauan yang kapan-kapan bisa terjadi, pihak jepang beranggapan jika kamp diasatukan lalu salah satu anggota keluarga teraniayaya, faktor tersebut bisa saja dapat memicu kemarahan dan kekacauan bagi kerabat anggota keluarga yang lainya, sehingga dengan itu pengelompokan kamp konsentrasi wilayah di buat oleh Jepang.

 Kamp  Interniran wanita dan anak- anak terbagi kedalam beberapa tempat wilayah di Kota Bandung, diantaranya adalah Bloemenkemp, kamp tersebut dibuat mengunakan beberapa bangunan yang terletak dalam komplek yang dibatasi Riouwstraat (Jln Riau, sekarang Jln L.L.R.E. Martadinata) Tjitaroemstraat (Jln Citarum), Houtmanweg (Jln. Tjioetjoeng, sekarang Jl.Supratman) Bengawanslaan (Jln Bengawan) sampai Grote Postweg (JalanRaya Timur, sekarang Jl Ahmad Yani).

Seluruh komplek yang menjadi sebuah kamp konsentrasi terlindung di balik pagar yang terbuat dari anyaman bambu dan kawat berduri yang sangat tinggi, dengan beberapa pengawas yang  bertugas menjaga gerbang pos penjagaan.

Ada hal yang menarik di kamp Interniran Cihapit, kamp dengan pengambaran garang tidak selalu terlihat menakutkan, konon di Kamp Cihapit selalu hadir pertunjukan kabaret yang dibintangi Corry Vonk artis kabaret terkenal asal Belanda yang ditawan disana, selain itu muncul pula berbagai kursus sebagai bentuk pengembangan kemampuan bagi tawanan yang tertawan disana, diantaranya: kursus balet, yoga, sekolah bagi anak-anak dan acara keagamaan. Ramal meramal dengan kartu Bridge atau tarot pun kerap dilakukan menggunakan lahan terbuka yang ada di taman segitiga Poeloelaoetweg (Jl Pulolaut) yang sekarang menjadi gedung pertemuan rukun warga.

Nasib tahanan wanita dan anak-anak masih terlihat lebih baik dari pada tahanan remaja pria dan laki laki dewasa, karena para wanita dan anak-anak tidak selalu diwajibkan harus bekerja sehingga masih bisa berinteraksi dengan baik antara sesama tahanan. Bila ingin mendapatkan jatah makanan lebih, para wanita dapat segera bekerja mengosongkan rumah yang di daulat sebagai kamp tahanan yang akan digunakan oleh tentara wanita Jepang untuk berupaya bekerja di dapur. Namun jika jatah makanan yang semula dapat dirasakan cukup (walaupun kurang bergizi atau bervitamin) semakin berkurang, para wanita menangulangi hal itu dengan menanam sayuran, buah-buahan dilahan perkarangan rumah tahanan mereka, hal ini berbeda jauh dengan keadaan yang ada di kamp konsentrasi pria, para tahanan pria harus bekerja seharian penuh tanpa adanya kebebasan menjalani berbagai aktivitas.

Keadaan menyeramkan dan kesengsaraan luar biasa terkadang tersiar di berbagai kamp interniran, hal tersebut dikarenakan para tahanan yang melanggar secara langsung ataupun tidak langsung peraturan yang dibuattentara Jepang. Kesalahan yang dapat mengundang berbagai penindasan, pukulan, pengikatan dan penjemuran di bawah terik matahari secara kejam terjadi jika bila: tidak membungkuk atau menghormati orang Jepang, tidak menunduk atau menatap langsung kemata orang Jepang, melawan tentara jepang, tidak melaksanakan perintah tentara Jepang, menyelundupkan barang terlarang di luar kamp, menyimpan barang berharga berupa uang, menyimpan barang- barang yang dapat diartikan sebagai lambang Raja dan kerajaan Belanda, tidak mematikan lampu tepat waktu ataupun keluar rumah tahanan diluar waktu yang ditentukan.

Namun terkadang juga terjadi penyiksaan tanpa alasan yang jelas, tahanan di pukuli sampai babak belur dan terkapar. Hanya karena perasaan kesal tentara Jepang tahanan bisa dijadikan bulan-bulanan pelampiasan kekesalan.

Para tahanan Kamp Cihapit mendapat dua kali kebaikan hati kaisar, yaitu diperbolehkan mengirimkan kartupos kepada suami dan anak di kamp lainya, Surat yang di dituliskan pada sebuah kartupos tidak lebih dari 25 kata, tidak boleh dituliskan tanggal dan ditulis dalam bahasa indonesia. Selain itu surat tidak boleh berisi berita mengenai nama kamp, nama penyakit, menurunya berat badan dan berita negatif lainya. Berita yang diperbolehkan untuk di ceritakan dalam kartupos adalah berita baik dan dan menggembirakan saja, namun hal ini pun tidak mudah karena sulitnya alat tulis, pena, kartupos dan waktu penulisan yang terbatas, menjadikan kesulitan tersendiri.

Pada saat dibuka pada 17 November 1942 penghuni Kamp Interniran Cihapit sekitar 14.000 orang, dan ketika ditutup pada Desember 1944 penghuninya sekitar 10.000 orang lalu dipindahkan ke berbagai kamp di Jakarta, Bogor dan Jawa tengah. Tercatat sekitar 243 korban pernah meninggal di Kamp ini. Dengan kepadatan penghuni yang padat maka keadaan Kamp Cihapit dahulu saling berhimpit dalam satu rumah. Bisa jadi dalam satu rumah kecil bisa berisi 20 orang penghuni. Padat dan berhimpitan bukan.

Belajar dari Masa lalu yang berlalu

Sejarah merupakan sebuah gambaran masa lalu, hal ini dapat bermakna baik ataupun buruk pada kisahnya. Salah satu contohnya bagaimana kita dapat melihat kisah hiruk-pikuk keadaan kawasan Cihapit pada masa lalu hingga suasananya bertranformasi seperti sekarang ini. Kawasan Cihapit yang dulu mempunyai julukan sebagai kawasan percontohan pemukiman sehat di kota Bandung, patutlah untuk dihidupkan kembali konsepenya di berbagai pemukiman kota. Sebuah lingkungan komplek pemukiman dengan dilengkapi taman, lahan terbuka hijau dan pasar, menjadikan keunggukan di banding komplek pada saat ini yang berisi perumahan saja tanpa ruang terbuka publik yang makin lama samakin hilang keberadaanya.

Adanya sebuah lahan terbuka hijau pada suatu komplek perumahan diperlukan sebagai lahan interaksi antar penghuni rumah, atapun juga sebagai sarana rekreasi bagi penghuni komplek perumahan; piknik, bermain dan belajar. Keberadaan rumah yang sama tingginya seperti yang dapat kita lihat pada gambar suasana perumahan di Cihapit pada masa lalu, mengidentifikasikan bahwa, perumahan yang sehat patutlah menerima cahaya matahari yang sama, hal ini bertujuan untuk keberlangsungan hidup rumput dan berbagai tanaman yang ditanam di depan halaman rumah, sehingga tercipta lingkungan sehat bagi penghuni rumah.

Adapun pula konsep pasar yang berada di sebuah komplek pemukiman, pendirianya bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan bagi para penghuni komplek. Pasar yang dapat diartikan sebagai sarana tempat bertemunya para penjual dan pembeli, memiliki keungulan di bandingkan konsep unit pertokoan yang hadir pada komplek  pemukiman saat ini, konsep toko serba ada hanya menguntungkan bagi kepentingan beberapa  kalangan orang saja di banding keberadaan pasar yang mensejahterakan berbagai penjual dan pembeli pada lingkungan sebuah pasar.

Sejarah memberikan gambaran pada kita bagaimana hal yang baik dan yang buruk terjadi pada masa lalu. Patutlah menjadi bijak jika kita bisa belajar dari cerita sejarah masa lalu, hal ini kiranya bisa dijadikan sebuah referensi  untuk kebijakan yang lebih baik kedepanya. Biarkanlah berlalu untuk cerita kelam, tapi hendaklah tidak di lupakan dalam benak, dari sana kita bisa belajar banyak bukan malah makin terperosok ke dalaman sumur nestapa yang gelap.

Apresiasi adalah menghargai segala sesuatu yang ada, mengepresiasi sejarah berarti kita menghargai setiap kejadian cerita yang ada, bukan berarti  mengagung-agungkan romantisme pada masa lalu ataupun mengangkat kisah sejarah kelam yang ada, tetapi hendaklah menjadi sebuah acuan untuk kita bisa belajar. Toleransi adalah perekat perbedaan pendapat yang ada, untuk apa bersikut-sikutan, jika kita punya satu tujuan yang sama menjadikan kota lebih baik, bukankah sejarah bisa di jadikan pijakan pertama untuk bertindak yang bijak. Semoga para petinggi pemerintahan kota Bandung bisa belajar dari masa lalu yang berlalu. Amien.

Daftar pustaka:

Kartodowiro, Sudarsono Katam. 2006. Bandung, Kilas Peristiwa di Mata Filatelis. Sebuah Wisata Sejarah. Bandung : Kiblat Buku Utama.

Schomper, Pans. 1996. Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur. Dorned.

Voskuil, Robert P.G.A. 2007. Bandung Citra Sebuah Kota. Terjemahan Bandung: Jagadhita.

Asdhiana, I made. 2011. Warung Kenangan Pasar Cihapit. dimuat di http://travel.kompas.com/read/2011/01/26/08240089/Warung.Kenangan.Pasar.Cihapit. Diakses 26 Januari, 2011.

Winarno , Bondan. 2008. Mak Eha dan Mbah Karto. dimuat di http://nasional.kompas.com/read/2008/06/20/08510523/Mak%20Eha%20dan%20Mbah%20Karto. Diakses 20 Juni, 2008.

Wiryawan, Ryzki. 2011. Kamp Interniran Cihapit. dimuat di http://aleut.wordpress.com/2011/08/04/kamp-interniran-cihapit/. Diakses 4 Agustus, 2011.

Daftar Gambar:

 Cari Buku Langka? Mungkin Ada di Cihapit http://www.reportase.com/2011/09/cari-buku-langka-mungkin-ada-di-cihapit/. Diakses 15 September,2011.

Wiryawan, Ryzki. 2011. Kamp Interniran Cihapit. dimuat di http://aleut.wordpress.com/2011/08/04/kamp-interniran-cihapit/. Diakses 4 Agustus, 2011.

Asdhiana, I made. 2011. Warung Kenangan Pasar Cihapit. dimuat di http://travel.kompas.com/read/2011/01/26/08240089/Warung.Kenangan.Pasar.Cihapit. Diakses 26 Januari, 2011.

Dalam Memorabilia Masa Anak-anak bersama Aleut

Posted in Catatan Perjalanan on Maret 1, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh: Dyah Setyowati Anggrahita

Cihapit sudah familiar bagi saya. Di sini ada SDN Sabang, yang masuk dalam rute sopir jemputan saya waktu SD, sedang saya sendiri sekolah di SD Istiqamah yang lokasinya tak jauh dari situ. Seingat saya di dekat SDN Sabang ada Toko MM, yang mana berkali-kali saya pernah dibawa ibu saya belanja di situ. Tidak tahu apakah toko tersebut masih ada, Aleut (26/02/12) tidak menggiring kami sampai sana.

 

Pintu masuk yang nyempil di antara dua bangunan

Di Pasar Cihapit kami berpencar. Pintu masuknya berupa lorong yang diapit dua dinding bangunan yang lumayan tinggi. Bagian dalamnya seperti pasar pada lazimnya. Beragam barang didagangkan di sini, mulai dari makanan tradisional, buah-buahan, lauk-pauk, bumbu masak, hingga pakaian dan elektronik. Namun yang menjadikannya demikian terkenal sebagai salah satu tujuan wisata kuliner di Bandung adalah kehadiran beberapa tempat makan khas seperti warung makan Bu Eha, Surabi Cihapit, dan Kupat Tahu Galunggung.

 

Surabi Cihapit campur telor

Saat kami melintasi los Bu Eha, warung makan tersebut tidak buka. Saya sendiri belum pernah makan di sana. Konon warung makan tersebut menjual masakan khas Sunda biasa—masakan rumahan—yang saking maknyusnya, Bondan Winarno pernah bertandang ke sana. Pasar Cihapit konon sudah berdiri sejak lama, meski mungkin tidak selama Nyonya Meneer, begitupun warung makan Bu Eha.

Penyambung nyawa para survivo

Di sini pula menjadi ajang reuni saya dengan honje. Bagian buahnya yang berwarna merah muda itu dikupas hingga tersisa bagian berwarna putih dengan rasa agak sepet. Buah inilah yang menjadi salah satu penyambung saya dan kawan-kawan yang melakukan survival di Situ Lembang dalam rangka Diksar Jamadagni—ekskul pecinta alam di SMAN 3 Bandung.

 

Belajar nama-nama lalapan yuk… dari atas: Gandaria (penyedap), Belimbing Wuluh, Eceng Gondok dan Kembang Pepaya.

Masih di kawasan Cihapit, terdapat Taman Cibeunying. Taman ini terbagi karena dipisahkan jalan. Salah satu pulau taman menjadi sentra penjualan tanaman hias. Saya pernah ikut Bapak saya belanja ke situ. Sudah begitu, pohon-pohon besar masih anteng merindangi sehingga kawasan ini menjadi salah satu kawasan terhijau di Bandung.

 Di mana ada kawasan hijau di Bandung, itu rupanya memiliki keterkaitan dengan sejarah pembangunan kota pada masa pendudukan Belanda. Taman merupakan elemen yang wajib ada pada pemukiman orang Belanda saat itu sebagai ruang aktivitas warga. Merupakan tradisi pula bagi warga Eropa untuk menghabiskan waktu dengan mengaso di halaman rumah sambil minum teh, makan kue, mengobrol dengan tetangga, dan sebagainya.

 Sebagian taman memang telah raib, namun sebagian taman masih ada dan menawarkan kenyamanan bagi penduduk Kota Bandung kini. Contohnya ya taman-taman yang dilalui dalam lawatan Aleut kali ini. Taman Cibeunying sendiri dulu merupakan pusat pembibitan tanaman (Tjibeunjingplantsoen).

 

Bank yang terletak di seberang Taman Cibeunying ini ternyata warisan Belanda. Cek di sini

Siapa sangka, Cihapit ternyata pernah mengalami masa kelam. Pada masa pendudukan Jepang, Cihapit yang merupakan kawasan pemukiman orang Belanda notabene menjadi kamp interniran terbesar bagi kaum wanita, orang tua, dan anak-anak, sedang para pria ditempatkan di kamp interniran di daerah lain. Sekeliling kawasan diberi pagar berduri. Para interniran pun memanfaatkan gorong-gorong di bawah tanah sebagai sarana berkomunikasi. Dalam masa itu, warga hanya bisa beraktivitas di taman-taman. Hiburan datang dari simpatisan Belanda atau Jerman yang melawat ke Asia Tenggara. Salah satunya adalah Corry Vonk.

Dari Cihapit, kami memasuki jalan demi jalan di pemukiman sekitarnya. Kami bertemu beberapa bangunan tua seperti Gereja Maranatha yang dibangun sekitar 1925 dengan gaya arsitektur khas kolonial, rumah khas Belanda dengan nama anak perempuan pertama di bawah atapnya (Helena dan Leonie), rumah pribumi, dan toko-toko (pertokoan China dan Toko Cairo).

 

Gereja Maranatha yang antara lain terkenal karena loncengnya

 

Salah satu rumah pribumi yang tersisa di jalan buah-buahan

 

Dengan jam buka dari 1 PM – 3 AM, Toko Cairo masih mengikuti tradisi tidur siang dari Eropa yang disebut siesta

 

Rumah bernama Leonie (haha enggak kelihatan yah namanya) di seberang Taman Cempaka

Melewati SDN Priangan, lagi-lagi saya merasa familier. Beberapa orang yang saya kenal di masa awal SD saya merupakan murid SD tersebut. Saya bertemu mereka dalam mobil jemputan setiap pagi dan siang selama enam hari sekolah, sebanyak itu pula saya melintasi daerah ini kala itu. Di sekitar SDN Priangan itulah terdapat bangunan pertokoan khas China dengan lima pintu yang mempengaruhi bentuk rumah khas Betawi.

 

Di pinggir lapangan ini mobil jemputan saya biasa nongkrong. Di seberang sana adalah deretan toko China, namun ternyata sudah ada yang bersalin rupa.

Tidak jauh dari SDN Priangan, terdapat SDN Ciujung. Lapangan yang rada becek berada di seberangnya, dilingkari jalan, dulunya bernama Houtmanplein. Masih dua taman lagi di depan yang kami jumpai. Konon dua taman tersebut berpasangan. Taman yang dinamai dengan nama raja dari Belanda berukuran lebih kecil dan tampak tidak terawat bila dibandingkan dengan taman satunya, yang dinamai dengan nama ratu dari Belanda namun kini lebih dikenal sebagai Taman Cempaka.

 

Lapangan Ciujung alias Houtmanplein yang tertutup semak-semak… :9

 

Sisi taman (aslinya plein atau lapangan) raja Belanda:  sampah apa lemarinya tuna wisma?

 

Kondisi taman raja Belanda

 

Bemukim di Taman Cempaka

 

Beginilah sebaiknya taman dimanfaatkan

Empat pohon ki hujan alias trembesi (Samanea saman) berdiameter sekitar 1,5 m cukup untuk menaungi taman yang cukup luas bagi warga untuk melakukan beberapa aktivitas itu. Beberapa sarana bermain anak menancap di rumputnya yang sebagian telah tergerus. Di sana kami memakan bekal yang kami beli di Pasar Cihapit lalu mendemonstrasikan beberapa permainan di masa lampau.

 

Sondah

 

Permainan congklak konon mengandung filosofi menabung

Entah apakah anak-anak zaman sekarang masih ada yang merasakan kesenangan dari permainan-permainan ini, sebut saja congklak, gatrik, dan benteng-bentengan atau pris-prisan. Saya termasuk generasi yang cukup beruntung dapat merasakannya. Melalui permainan yang sekaligus tampak melelahkan dan sadis inilah anak-anak belajar berstrategi, bersosialisasi, sekaligus mengasah daya motorik seluruh tubuh—tidak hanya jari.

 

Gatrik, belum pernah saya mencoba permainan satu in

Kini kemajuan teknologi yang dibarengi penyempitan lahan telah membuat anak-anak lebih memilih untuk jadi anak rumahan. Permainan individualis tapi aman, misalnya bunuh-bunuhan dengan teman tapi cuman dalam layar, lebih menyita minat mereka.

 

Mana nih yang lagi main benteng-bentengan?

Bang Ridwan—salah satu narasumber Aleut—tidak sependapat bahwa permainan jadul secara persis membentuk karakter. Para “pembesar” negeri ini, yang notabene besar-besaran dalam KKN, juga besar dengan melakukan permainan-permainan jadul.

Tan hana nguni, tan hana mangke, pepatah Sunda Kuno yang berarti tidak ada masa lalu, tidak ada pula hari ini, demikian jargon Aleut. Minggu itu, bersama Aleut dan kru Metro TV yang hendak meliput kegiatan komunitas-komunitas di Bandung, saya menapaktilasi bagian dari masa silam yang ikut membentuk saya yang sekarang. Seperti apa saya yang sekarang hanyalah masa lalu bagi saya di masa yang akan datang. Jika masa lalu demikian nikmat dikenang, maka seyogyanya masa yang dijalani kini bisa menjadi sesuatu yang berharga pula untuk dikenang nanti. Persoalannya, bagaimana caranya?

Kaulinan Tradisional

Posted in Permainan Tempo Dulu on Maret 1, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh: Risman Budiman

Kami anak-anak pencinta pelangi “Pak ketipak ketipung mejikuhibiniu”

Kami kesekolah di antar pelangi ” Pak ketipak ketipung mejikuhibiniu”

Tema Aleut kali ini seperti “Mesin waktu” yang membawa kita kembali ke masa kecil, menjadi manusia tanpa obsesi dan permasalahan seperti sekarang yang sebenarnya sifat dan pembawaan semasa kecil tidak hilang sepenuhnya, karena kita tetap menjadi orang yang sama (angger resep ulin, resep jajan, resep ngahiji) walaupun bentuknya tidak sama.

Terpintas di pikiran kalau saja bisa kembali ke masa kecil dengan kapasitas pemikiran yang sekarang, pasti cerita hari ini akan berbeda. Bang Ridwan kemarin bilang kalau permainan tradisional tidak di ketahui persis akan membentuk watak dan pola prilaku seseorang setelah dewasa, tetapi setiap permainan tradisional punya filosofi yang masuk akal.

Setiap jenis permainan memiliki maksud tertentu dan ternyata penuh dengan filosofi pendidikan. Misalnya saja pada permainan sondah mandah, dimana bidang permainan dibuat dalam bentuk bangun persegi beberapa kotak dan diujungnya dibuat lingkaran besar. Menurut penelitian Kang Zaini, petak pertama media sondah adalah simbol dari bumi, sedangkan lingkaran besar di ujung adalah simbol dari surga.

Perjuangan para pemain sondah untuk mencapai tahap demi tahap permainan adalah simbol dari usaha di dunia ini. Ketika seorang pemain gigih bekerja keras, maka ia pun sedikit demi sedikit akan mendapat bintang di salah satu petak. Bintang itu sendiri adalah simbol kenikmatan duniawi. Jika satu kotak sudah ditandai bintang oleh satu pemain, maka pemain lain tidak boleh menginjaknya, tetapi harus melangkahinya. Hal itu adalah simbol dari aturan dalam menghormati hak milik seseorang di dunia ini. Semakin banyak seseorang pemain mendapat bintang ia semakin santai, dan sebaliknya pemain yang bintangnya sedikit ia pasti kerepotan karena harus melangkahi banyak petak orang lain untuk berjalan. Begitulah juga kehidupan di dunia nyata, bukan?

Filosofi lain yang tak kalah menarik adalah pada bintang yang diperoleh para pemain di lingkaran besar. Kalau pada petak permainan (dunia) para pemain dilarang meletakkan bintang di wilayah yang sudah dimiliki orang, namun berbeda dengan lingkaran di ujung itu (surga). Meskipun hanya satu area, tapi semua pemain boleh berbagi tempat meletakkan bintang di sana, tak peduli apakah pada petak permainan mereka punya banyak bintang (orang kaya) atau sedikit bintang (miskin). Sungguh filosofi yang menarik menurut saya.

Tahukah Anda permainan paciwit-ciwit lutung? entah di daerah lain selain Tatar Sunda bernama apa. Permainan itu adalah saling mencubit punggung tangan menumpuk ke atas. Lagu pengiringnya kalau di Tanah Sunda”Paciwit ciwit lutung si lutung pindah ka tungtung” (saling mencubit para lutung (monyet) si lutung pindah ke ujung). Maka tangan yang paling bawah akan pindah ke atas, mencubit tangan temannya yang lain. Begitulah terus-menerus sampai setiap tangan bergantian naik ke atas dan kemudian tergeser rotasi permainan kembali ke bawah dan seterusnya.

Katanya, permainan itu adalah juga simbol kehidupan dunia. Manusia itu tidak selamanya sengsara, dan tidak selamanya juga kaya raya; tidak selamanya mendapat berkah, tidak selamanya juga berada dalam kesusahan. Hal itu sepertinya untuk menyadarkan manusia agar tidak sombong saat berjaya dan juga tidak merasa rendah diri dan putus asa saat kondisi materil tidak terlalu memadai.

Ternyata kita bisa belajar kehidupan dari masa lalu, dan anak kecil.

Telusur Buku, Telusur Sejarah

Posted in Toko Buku Lama on Maret 1, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh: Dyah Setyowati Anggrahita

 Aleut edisi 19/02/12 adalah edisi spesial. Selain karena temanya adalah menelusuri toko buku tempo dulu yang pernah ada di Bandung, saya pribadi kedatangan beberapa tamu istimewa. Mereka yang pernah satu SD, satu SMP, hingga satu SMA dengan saya mengiringi jalan-jalan saya kali ini. Dengan demikian saya tidak terlalu menghayati ngaleut kali ini, juga karena banyaknya istilah dalam bahasa asing yang berseliweran dan saya tidak tahu bagaimana menuliskannya kembali. Setidaknya, dari ingatan, foto-foto, serta rekaman audio sepanjang kira-kira 81 menit, inilah beberapa hal yang bisa saya sarikan.

Lagi-lagi rute kali ini termasuk rute sangat pendek. Titik-titik pemberhentian kami membentuk rute Landmark – Hotel Royal Palace – Museum Mandala Wangsit Siliwangi – sekitar Jalan Kejaksaan – Yayasan Pusat Kebudayaan (Jalan Naripan) – seberang Majestic – sekitar Museum Konperensi Asia-Afrika (KAA) – Gedung PLN.

 

Landmark tampak depan dengan ornamen kala di sebelah kanannya

Bangunan Landmark diarsiteki oleh C. P. W. Schoemaker (lihat tulisan sebelumnya) dan didirikan pada tahun 1922. Bangunan ini dihiasi oleh ornamen-ornamen khas nusantara yang disebut kala. Berdasarkan tradisi Hindu, konon ornamen ini dibuat untuk menangkal sial.

 

Salah satu contoh halaman album gambar keluaran Toko Buku Van Dorp

Tahun 1940-an, toko buku ini mengeluarkan album gambar tumbuh-tumbuhan. Pemrakarsa album tersebut adalah orang yang sama dengan yang mendirikan kebun raya botani di Bogor sedang ilustrasinya dibuat oleh orang Indonesia. Pembeli album gambar tersebut akan diberikan bunga dan potnya. Ini dilakukan untuk mengajak warga Bandung menanam bunga. Pada waktu itu pasar bunga masih terletak di seberang bangunan ini—sebelum dipindah ke Jalan Wastukencana—sehingga suplai selalu tersedia.

 

Arcade di kejauhan

Kekhasan lain dari bangunan ini adalah adanya arcade alias gang/lorong beratap. Desain ini memberikan ruang yang lebar sekaligus terlindung bagi pedestrian. Bangunan di ITB juga memiliki desain seperti ini.

 

Hotel Royal Palace di kejauhan

Dulu Hotel Royal Palace merupakan toko buku milik S. M. I Prawirawinata yang didirikan pada tahun 1920-an. Yang dijual di toko buku pertama milik pribumi ini adalah khusus bacaan Sunda semacam roman, novel, dan buku pelajaran. Dalam buku-buku terbitannya, S. M. I. Prawirawinata memuat foto dirinya dan peraturan mengenai hak cipta. Bila ingat Nyonya Meneer, tampaknya ini tradisi yang dilakukan orang-orang pada masa itu untuk mencirikan produknya.

 

Jadi penasaran menilik ke bagian belakang bangunan ini

Di belakang Yayasan Pusat Kebudayaan, konon terdapat bekas bangunan Medan Prijaji. Media ini dicetuskan oleh Raden Tirto Adhi Soewirjo yang merupakan model untuk Minke dalam tetralogi Pulau Buru karangan Pramoedya Ananta Toer. Karena kritik pedasnya terhadap pemerintah kolonial Belanda, pada tahun 1912 dia diasingkan. Cek buku “Sang Pemula” karya Pramoedya Ananta Toer yang menceritakan sosok nyata Raden Tirto Adhi Soewirjo. Di dalamnya juga disertakan beberapa tulisan milik orang yang dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia itu.

Ternyata tidak semuanya bersangkut-paut dengan industri perbukuan maupun sejarah sastra Sunda, melainkan juga gaya hidup orang pada zaman itu yang menggemari tonil dan mode pakaian terbaru.

Jika kini kita bisa mendapatkan informasi secepat mungkin melalui internet, termasuk jadwal film, maka informasi mengenai pertunjukan terbaru saat itu disebarkan ke jalan dengan kereta kuda. Pertunjukan berupa film bisu yang diproyeksikan pada layar kain dengan musik pengiring yang ditampilkan secara live di sampingnya. Sebelum tampil di ruang pertunjukan, grup musik bermain di luar untuk mengiringi pengunjung yang baru datang.

Di sekitar gedung pertunjukan berbentuk kaleng biskuit yang kini dikenal sebagai Gedung Majestic, ada toko yang menjual pakaian yang diimpor langsung dari Paris dan Belanda. Setelah desain pakaian diwujudkan jadi barang jadi, desain tersebut dibakar sehingga tidak ada model pakaian yang sama.

Lalu daripada repot menyeberang jalan, terowongan bawah tanah dibangun untuk menghubungkan Societet Concordia (kini Museum KAA) dengan bangunan di seberangnya. Terowongan tersebut kini sudah ditutup.

Pegangan besi di tepi kaca luar apotik Kimia Farma (seberang Museum KAA) ternyata dibuat untuk mencegah agar orang yang mabuk tidak langsung menabrak kaca.

Agak jauh dari situ, kawasan yang kini bernama Jalan Kejaksaan merupakan kawasan prostitusi. Sebetulnya ada beberapa kawasan prostitusi lain di Bandung. Imbasnya adalah didirikan rumah sakit kelamin di samping Kantor Pos Besar. Pasien rumah sakit tersebut tidak hanya berasal dari Bandung. Para pencari nafkah di kawasan prostitusi itu sendiri konon merupakan hasil dari hubungan tidak resmi antara meneer perkebunan dengan kembang gunung. Cek novel “Paris van Java” oleh Remy Sylado (KPG).

Ekspektasi saya semula, kami akan dibawa ke toko buku tempo dulu yang masih bertahan atau setidaknya ke toko buku yang menjual buku-buku lama. Kami memang menemukan buku-buku lama pada sepanjang perjalanan, tapi itu bukan di etalase bangunan art deco melainkan di tangan narasumber. Saya juga membawa sebuah buku lama terbitan tahun 1948 yang judul bahasa Indonesianya adalah “Jalan ke Barat”. Buku ini merupakan buku pelajaran anak-anak pada masa itu dan kondisinya masih bagus. Saya kira itu punya omnya mama saya.

 

Pikiran Rakyat zaman baheula

Sang koordinator menceritakan bahwa buku-buku lama justru diperoleh dari pasar loak. Orang awam mungkin akan menganggap mereka rongsokan. Namun bagi yang tahu, harga satu karung benda yang menyimpan sejarah tersebut bisa mencapai empat puluh juta rupiah. Dan melalui perantaan orang Indonesia sendiri, sampailah sejarah tersebut ke Singapura hingga Belanda. Buat apa sih mereka mengoleksi barang-barang lapuk itu? Tidak tahu. Karena kita tidak tahu, maka kita membiarkannya diambil siapa saja yang barangkali bisa merawatnya dengan lebih baik, atau malah menjadikannya bungkus gorengan.

 

Inilah Sumur Bandung nan legendaris itu. Letaknya di dalam kompleks Gedung PLN. Masih dianggap memiliki kekuatan mistis hingga saat ini.

 

Perhatikan! Ada yang aneh pada teks ini.

“Jika di luar negeri masuk museum itu harus bayar, di Indonesia, sudah gratis saja belum tentu ada yang mau masuk,” begitu kira-kira wacana yang menggambarkan kondisi masyarakat payah sejarah. Tapi cukuplah sampai situ saja kepayahan kita. Mengapa kita tidak mulai menghargai sejarah dengan merawat buku-buku yang kita punya? Kelak jika Aleut masih eksis seabad kemudian, buku-buku kita akan jadi objek foto yang sangat menarik bagi para Aleutian.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 929 pengikut lainnya.