Asal-usul Istilah “Pedagang Kaki Lima”

Posted in Foto, Lalu Lintas on Mei 9, 2012 by Komunitas Aleut

Istilah “kaki lima” sudah lama dikenal di Indonesia. Istilah ini berasal dari zaman antara tahun 1811 sampai 1816, saat Napoleon menguasai benua Eropa, dan daerah-daerah Koloni Belanda di Asia berada di bawah kekasaan administrasi Inggris. Saat itu Gubernur Jenderal di Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles menginstrusikan sistem lalu lintas di sebelah kiri di jalan-jalan raya sekaligus mengeluarkan aturan bahwa di tepi-tepi jalan harus dibuat trotoar untuk pejalan kaki yang tingginya harus 31 CM dan lebarnya sekitar 150 CM atau “five feet”. Dari perkataan “five feet” inilah maka para pedagang yang menjalankan usaha di atas trotoar mendapat julukan “Kaki Lima”

Sistem lalu-lintas kiri masih berlaku sampai sekarang. Sedangkan trotoar untuk pejalan kaki tidak begitu banyak bertambah. Di Bandung kondisinya begitu menyedihkan, Para pejalan kaki yang notabene sangat ramah lingkungan dan menyehatkan harus kehilangan haknya mendapatkan fasilitas yang aman dan nyaman serta bersaing dengan pengguna kendaraan dan pedagang “kaki lima”.

Mungkin sesekali para pembuat kebijakan harus merasakan bagaimana sulitnya berjalan kaki secara nyaman di Bandung… Hmmm,, tampaknya tidak mungkin, lalu apa gunanya mobil dinas dan fasilitas voorrijder yang disediakan untuk mereka??.

Oleh : M. Ryzki Wiryawan

Bandoeng Voetbal Bond

Posted in Foto, Sejarah Sepakbola Indonesia on April 24, 2012 by Komunitas Aleut

Sepakbola sejak dahulu dikenal sebagai salah satu cabang olahraga paling populer. Sejarah mencatat bahwa rintisan organisasi olahraga di Bandung telah dimulai sejak pendirian Asosiasi Olahraga “Uni”. Kegiatan olahraga sepakbola sendiri awalnya dilakukan di Pieterspark (taman balai kota sekarang) dan sebidang lahan di Jalan Jawa yang kini ditempati gedung Bala Keselamatan.

Kapan tepatnya organisasi sepakbola di Bandung didirikan agak sulit untuk ditentukan, namun tampaknya organisasi olahraga tertua, UNI dan SIDOLIG yang diketahui didirikan tahun 1913 bisa menjadi acuan. Kapan mulanya organisasi perserikatan sepakbola didirikan di Bandung juga agak sulit ditentukan, namun peraturan kota pertama yang mengatur soal itu disetujui pada sidang tanggal 1 Februari 1914.

Bandung Voetball Bond (B.V.B.) kemudian diakui berdiri secara hukum pada tahun 1914. B.V.B. turut merintis pembentukan Asosiasi Sepakbola di Hindia Belanda (NIVB). Pada tahun 1918 mereka atas inisiatif sendiri mengadakan kongres di Hotel Preanger. Namun atas oposisi dari klub lainnya, Asosiasi Sepakbola Hindia Belanda baru bisa berdiri setahun sesudahnya di Batavia.

B.V.B. berinisiatif mengadakan Liga Sepakbola Militer yang sempat mengalami kesuksesan. Namun akibat kekurangan dana, liga sepakbola militer ini dihentikan tahun 1930.

Pada tahun 1930, BVB telah mengafiliasi 7 perkumpulan sepakbola, dengan partisipasi 24 team yang terlibat di berbagai pertandingan. Jumlah anggota BVB sendiri pada tahun 1930 terdiri dari 540 orang Eropa, 131 Pribumi, 57 orang China dan 1 orang Timur Jauh. Jumlah ini merupakan penurunan karena pada tahun 1925, organisasi ini pernah mencatat keanggotaan sebanyak 1100 orang.

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Ketawang Puspawarna : Karya yang Mengangkasa

Posted in Kelas Musik Aleut!, Musik Tradisional on April 24, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh : Indra Pratama

Kami mengirimkan pesan ini kepada seluruh alam semesta… Yang terdiri dari 200 milyar bintang di Galaksi Bima Sakti, beberapa -mungkin banyak- di antaranya, mungkin mempunyai planet yang didiami oleh peradaban yang bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa. Bila salah satu diantaranya bisa bertemu dengan Voyager dan mampu mengerti isi dari rekaman ini, inilah pesan dari kami: Kami semua berusaha untuk mempertahankan keberadaan kami, sehingga kami bisa hidup bersama-sama dengan kalian. Kami harap suatu hari nanti, kami bisa menyelesaikan permasalahan yang kami hadapi, untuk ikut bergabung dalam sebuah komunitas Peradaban Galaksi. Piringan emas ini mewakili harapan, kebulatan tekad, serta niatan baik kami dalam alam semesta yang luas dan amat menakjubkan ini.

Kutipan pidato Jimmy Carter tersebut mungkin merupakan salah satu pidato yang paling bersejarah dalam konteks harapan, imaji, dan keinginan liar manusia untuk bertemu, atau bahkan sekedar berinteraksi, dengan sahabat dari planet lain. Pidato tersebut masuk dalam Voyager Golden Records, rekaman phonograph yang dikirim ke angkasa luar bersama dengan wahana luar angkasa Voyager I yang diluncurkan pada thun 1977. Satelit Voyager adalah sebuah wahana luar angkasa tanpa awak yang diluncurkan amerika serikat tahun 1977 dengan beberapa tujuan yaitu :

1. meneliti luar angkasa lebih dalam dan luar angkasa yang tidak dapat dilihat oleh mata.

2. mencari keberadaan planet yang dapat dihuni

3. mencari planet yang berpenghuni.

Digerakkan dengan tenaga nuklir, Voyager diharapkan mampu mengirim data ke bumi sampai tahun 2025 ( 48 tahun setelah diluncurkan) sebelum pasokan listriknya habis.

Rekaman tersebut ditempatkan pada Voyager I dengan misi mustahil, sebagai pembawa pesan dari bumi kepada kemungkinan kehidupan di luar bumi. Dari maksud itu, Voyager Golden Records berperan sebagai profil audio yang dianggap mewakili bumi. Konten rekaman itu selain pidato dari Jimmy Carter, yang saat itu menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, berisi pula pidato dari Sekjen Persatuan Bangsa-Bangsa saat itu Kurt Waldheim, kalimat salam sapaan dalam 55 bahasa, suara-suara alam, seperti suara ombak, angin, petir, serta suara-suara binatang, termasuk kicauan burung dan suara dari ikan paus, serta 90 menit berisi musik-musik yang dianggap mewakili bumi, dari berbagai budaya.

Nusantara, yang memang memiliki tempat khusus dalam khasanah musik tradisional, menempatkan satu komposisi sebagai duta Indonesia di mata semesta, yaitu komposisi Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura.

Ketawang Puspawarna

Teks dan melodi dari Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura merupakan hasil karya dari Pangeran Mangkunegara IV, yang berkuasa di Mangkunegaran era 1853-1881. Ketawang Puspawarna ini biasanya dibunyikan sebagai tanda kedatangan pangeran maupun untuk mengiringi tarian. Gendhing ini memiliki lirik mengenai berbagai jenis bunga yang melambangkan beragam suasana, rasa, atau nuansa.

Puspawarna merupakan salah satu komposisi gamelan dengan jenis kendhangan (ritme) Ketawang yang dapat dilagukan dalam laras slendro maupun pelog. Movement yang dipakai adalah movement Pathet Manyura, yang biasa dipakai pada bagian happy ending dari sebuah pertunjukkan wayang, mewakili mood puas dan kegemilangan.  Ketawang Puspawarna terdiri dari tujuh “cakepan” (bait) “gerongan” (lirik lagu). Biasanya, komposisi gending Jawa pada umumnya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit untuk memainkannya. Sedangkan, Ketawang Puspawarna sangat berbeda karena hanya membutuhkan waktu lima menit untuk melantunkan setiap cakepan gerongan.

Versi dari komposisi ini yang mendapat kehormatan tersebut dibawakan oleh gamelan Keraton Pakualaman, yang diaransir ulang oleh pemimpinnya, yaitu Kanjeng Pangeran Haryo Notoprodjo, yang lebih dikenal dengan nama Tjokrowasito, atau Wasitodipuro, yang dikenal sebagai salah satu Empu Karawitan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Proses seleksi untuk bisa masuk rekaman Voyager tentunya tidak sembarangan. NASA saat itu membentuk sebuah komite khusus untuk masalah seleksi rekaman-rekaman yang akan masuk. NASA menunjuk astronom Dr. Carl Sagan dari Universitas Cornell, sebagai pemimpin komite. Nama Carl Sagan dikenal luas di dunia non astronomi sebagai penulis novel Contact, yang kemudian dilayarlebarkan dengan bintang film Jodie Foster. Sagan dan timnya menyeleksi 115 suara alami yang dianggap mewakili suasana bumi: angin, ombak, kilat, burung, ikan paus, dan suara binatang lainnya. Ia juga menghimpun ucapan salam dari 55 bahasa yang dipergunakan makhluk bumi. Himpunan itu diawali bahasa Akkadian, yang digunakan bangsa Sumeria 6.000 tahun lalu, dan diakhiri dengan Wu, dialek modern Cina kini.

Tim Sagan juga menyeleksi bunyi-bunyian musik yang ada di bumi, musik berdurasi 90 menit yang meliputi klasik, etnis, dan modern. Yang mengusulkan agar Ketawang Puspawarna kepada Sagan adalah etnomusikolog dari Wesleyan University dan Universitas San Diego, Profesor Robert E. Brown. Brown memiliki rekaman live Ketawang Puspawarna yang dimainkan gamelan Pakualaman pimpinan Tjokrowasito pada tahun 1971 di Pakualaman.

Tjokrowasito

Tjokrowasito sendiri lahir pada 17 Maret 1909 di Kompleks Pakualaman. Ia  dikenal sebagai putra dari R.W. Padmowinangun, pemimpin gamelan keraton.

Lingkungan Pakualaman sebagai keraton yang menaruh perhatian sangat tinggi kepada bidang pendidikan (baik tradisional maupun barat) , sastra dan kesenian memiliki andil besar pada perkembangan Tjokrowasito. Tjokrowasito memiliki kebebasan untuk terlibat di beberapa kelompok gamelan terkenal sebelum akhirnya mengambil alih jabatan pemimpin gamelan keraton Pakualaman dari ayah angkatnya pada 1962.

Tjokrowasito sebelumnya pernah terlibat di MAVRO (Mataramsche Vereeniging Radio Omroep) mulai tahun 1934 sebagai music director untuk segmen gamelan,sampai kemudian bergabung di  Radio Hosokyoku sejak 1942 sampai 1945 selama pendudukan Jepang, and RRI Yogyakarta setelah kemerdekaan. Di masa terakhir inilah kiprahnya makin luas dan berkualitas. Ia dipercaya mengajar karawitan di beberapa negara sejak 1953, kemudian mengajar juga di Konservatori Tari Indonesia and Akademi Seni Tari Indonesia. Lalu mendirikan Pusat Olah Vokal Wasitodipuro.

Tjokrowasito juga merupakan salah satu penggagas awal bentuk kesenian Sendratari. Bersama koreografer Bagong Kussudiarjo di dekade 1960-an, ia pertama kali mementaskan Sendratari Ramayana di Prambanan, yang kini sudah menjadi salah satu trademark wisata kesenian Indonesia.

Tahun 1971 ia pindah ke Valencia, Amerika Serikat untuk mengajar di California Institute for the Arts. Ia juga menjadi dosen tidak tetap untuk beberapa kmpus ternama negeri Paman Sam, seperti University of California, Berkeley, dan San Jose University. Pada usia lanjut, tahun 1992 ia pulang ke Indonesia, dan menciptakan ruang kesenian yang aktif di kediamannya di Jogjakarta. Hingga wafat tahun 2007.

Selain komposisinya yang mengangkasa, ternyata Tjokrowasito juga menyusul mengangkasa. Lou Harrison, komponis terkemuka Amerika, mengusulkan agar nama Tjokrowasito menjadi nama salah satu bintang di angkasa. Harrison, memang dekat dengan Tjokrowasito. Mereka berkenalan tahun  1975 di Center of World Music di Berkeley. Harrison belajar pada Tjokrowasito dan menghasilkan beberapa karya yang bereksperimen dengan konsep, sistem gamelan, atau struktur tembang-tembang Jawa seperti Concerto in Slendro (1961), La Karo Sutro (1972), dan Main Bersama-sama (1978).

Pada 12 April 1983, sertifikat internasional Star Registry diberikan kepada Tjokrowasito. Letak persisnya di Andromeda Ra 23 h 35 mm 54 sd 43× 48×. Bintang itu dinamai Wasitodiningrat (nama saat Tjokrowasito dianugerahi gelar Kanjeng Raden Tumenggung oleh Pakualaman. Nama bintang baru itu kini tercatat di Library of Congress, Amerika Serikat.

Tahun 2009 Voyager I diketahui telah mencapai jarak 16,5 milyar kilometer dari matahari, sudah jauh menginggalkan sistem tata surya kita,  dan terus akan melanglangbuana dengan kecepatan rata-rata 61.000 kilometer/jam. Kita tidak pernah tahu apakah Voyager I beserta Ketawang Puspawarna akan ditemukan dan dikenang seluruh jagat, ataukah hanya akan menjadi sampah antariksa.

Tetapi NASA, Voyager, Golden Records, Tjokrowasito dan Ketawang Puspawarna setidaknya telah jauh melangkah dibanding kebanyakan kita. Kita bahkan tidak berani bermimpi, ketika tidak ada orang-orang Robert Brown, apakah Ketawang Puspawarna, serta banyak karya besar musik tradisional kita akan dikenang, ataukah hanya teronggok menjadi sampah.

Sumber :

  •   Arcana, Putu Fajar.2005.  Brown Pilih “Ketawang Puspawarna”. Kompas Minggu, 21 Agustus 2005
  •   Brown, Robert E. 2003.  Notes to Java: Court Gamelan. Reissued edition. New York: Nonesuch.
  •   I N. Wenten. 1996.The Creative World of Ki Wasitodipuro: the Life and Work of a Javanese Gamelan Composer. (Dissertation).
  •   NASA. What is the Golden Records?. Diakses via (http://voyager.jpl.nasa.gov/spacecraft/goldenrec.html) tanggal 9 April 2012.
  •   Sorrell, Neil. 1990.  A Guide to the Gamelan. London: Faber and Faber. Hlm 68.
  •   Sutton, R.Anderson. “Wasitodiningrat [Tjokrowasito, Wasitodipuro, Wasitolodoro], Kanjeng Radèn Tumenggung      [Ki]“, Grove Music Online, ed. L. Macy. Diakses via (http://www.oxfordmusiconline.com/subscriber/article/grove/music/48809?q=wasitodipuro&search=quick&pos=1&_start=1#firsthit). Tanggal 9 April 2012.
  • Suyono,Seno Joko and Idayanie, Lucia. 2004. Puspawarna di Kehampaan Kosmis. Dimuat di Tempo Online tanggal 26 Juli 2004. Diakses via (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2004/07/26/LYR/mbm.20040726.LYR94078.id.html) tanggal 9 April 2012.

Laskar Api

Posted in Bandung Lautan Api, Catatan Perjalanan on April 24, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh : Mira Rachmawatie

Bandung, 23 maret 1946

Suasana langit  sore Parijs van Java berwarna merah marun, semburat lembayung terlukis. Saat kepala menengadah keatas maka terpaksa mata memicing untuk menghindari terpaan warna sang langit. Jam 17.00 mungkin atau bahkan menuju magrib, suasana Bandung  tampak mencekam.

“Rencana kita apakah sudah matang??” sang kolonel  berbicara, dengan pandangan yang lurus ke arah meja yang ada di depan nya

“Siap kolonel!!!” sahut sang ajudan

“evakuasi rakyat, segera!! Segenap raga dan jiwa tidak akan pernah rela jika tanah ini kembali dijajah!!” teriak sang kolonel

“merdeka!!!!” teriak lantang para pembawa obor.

 

 

Bandung, 23 maret 1946

Pukul : 23.00

Derap langkah para laskar terdengar, degup jantung mereka pun serasa akan menggoncangkan Tanah Parahyangan ini.

Penentuan titik – titik api sudah dimulai. Para pejuang api mulai mensisir warga dan mendata rumah siapa saja yang rela menjadi korban.

Setiap pintu mereka datangi, tak hanya disambangi, tetapi mereka kobarkan api yang sangat besar pada setiap penghuni rumah yang mereka kunjungi.

“bung, saya dengan sukarela membakar semua yang saya punya, termasuk jantung saya demi perjuangan tatar Parahyangan” sahut salah seorang pemuda kepada sekumpulan laskar api

“baik bung, mari bergabung, hanya pemuda seperti anda yang mampu menjadi kan tatar Parahyangan ini menjadi panas dan membara” sang empu laskar menyambut dengan mata yang berbinar.

 

 

Bandung, 24 maret  1946

Pkl : 05.00

Sekelompok pemuda, berlari menuju pusat kota Parijs van Java. Derap derap langkah mereka terdengar, nafas yang terengah-engah pun menjadi  pengiring derap langkah mereka.

Demi tatar Parahyangan, demi tanah kelahiran mereka, berkobaran api di kepalan tangan mereka.

Tinjuan dari kepalan tangan ke langit yang kosong menjadi sangat berarti bagi sekelompok pemuda ini. Laskar api, suara suara menggelegar dari sang empu bagiakan minyak tanah yang terus disirami kepada jiwa mereka yang sedang membara.

Sekarang hanya teriakan teriaknn heroik yang sangat membahana terdengar.

“Merdeka!!!merdeka!!!merdeka!!!” suara lantang dari laskar api

 

 

Bandung, 24 maret 1946

Pkl: 06.00

Sirene sudah mulai menghiung, pertanda sudah dimulai

“ayo!!! Kita mulai, jangan ragu bung!! Nasib tatar ini ada dikepalan tangan kita semua, MERDEKA!!!!!” Gelegar sang empu laskar, membuat kobaran sang laskar api semakin berkibar.

DUARRRR!!!!…

DUARRRRRR!!!!

DUARRRRR!!!

Suara bom yang dilemparkan sudah terdengar. Bom bom tersebut serasa lega dengan mengeluarkan suara suara yang menggelegar. Bandung semakin panas, semakin membara.

Semua titik mereka lumat tanpa sisa. rumah rakyat tampak lezat dilahap oleh si jago merah.

Bandung terbakar. Bandung membara.

Sang koloni kewalahan.

Laskar api berlari, membawa si jago merah dikepalan tangan mereka.

MERDEKA!!!!MERDEKA!!!

 

Bandung. 1 april 2012

Pkl 08.00

Segerombolan pemuda dan pemudi berada di depan gedung Bank Jabar Banten. Mengerumuni seonggok semen yang kira-kira 50-60cm tinggi nya. Stilasi, itu yang mereka sebut-sebut. Padahal hanya seonggok semen berbentuk bangun ruang segitiga dilengkap plat besi di setiap sisi nya.

Janganlah berburuk sangka pada onggokan semen tersebut, disana ada berbagai cerita yang akan membuat kita merasa menjadi pejuang.

Stilasi Bandung Lautan Api, adalah sebuah penanda yang dibangun sekitar tahun 1995 atau 1997 (saya lupa persisnya). Ini  merupakan monumen, pertanda bahwa Bandung pernah di bumi hangus kan oleh rakyatnya sendiri. Mungkin jika seonggok semen ini bisa berbicara maka dia akan seperti proyektor yang akan memutarkan tentang kisah bagaiman tatar Parahyanagn ini menjadi batu bara yang panas. Refleksi peristiwa  Bandung Lautan Api di zaman sekarang sangat kentara perbedaan dengan  zaman dulu. Jajaka jajaka bandung membumi hanguskan segala yang mereka miliki dengan  satu alasan yaitu PENGORBANAN.

Tetapi berbeda dengan kenyataan sekarang, pemuda sekarang membumi hanguskan apapun yang ada dihadapan mereka dengan alasan PENOLAKAN. Sungguh sangat jauh. Seperti langit dan bumi.

Tentu fikiran kita melayang ketika pemerintah dengan kurang tegas dan lugas ingin menaikan harga BBM. Para demonstran yang notabene adalah pemuda pemudi mulai beraksi, menunjukan ke “membaraan”  mereka. Menunjukan “kelantangan “ mereka sebagai pemuda, dengan berteriak di depan gedung gedung pemerintah.

Ironi . hangus nya tatar parahyangan tahun 1946 dan hangus nya tatar parahyanagn tahun 2012 diesebakan oleh hal yang berbeda. Yang bertolak belakang sekali.

Bandung. 8 april 2012

*cerita diatas hanya fiktif belaka, apabila ada kesammaan tokoh atau nama itu hanya kebetulan,, hehehe

Ngaleut Bandung Lautan Api ; Kota Kita Tanggung Jawab Kita Bersama.

Posted in Catatan Perjalanan on April 24, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh : Unang Lukmanulhakim

Di hari Minggu pertama bulan April 2012, saya menyempatkan diri untuk ngaleut bersama Komunitas Aleut! Hari itu kita menelusuri stilasi-stilasi yang menjadi penanda dan pengingat peristiwa Bandung Lautan Api, kita mengambil tema Bandung Lautan Api karena memang berdekatan dengan momentum peringatan peristiwa Bandung Lautan Api yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. 

 

Dari perjalanan ngaleut kali saya mendapat beberapa pelajaran yang mungkin bisa sangat berharga setidaknya bagi saya sendiri, yaitu :

 

Pada penelusuran stilasi-stilasi Bandung Lautan Api, kami menjumpai stilasi-stilasi BLA sudah dalam kondisi yang memprihatinkan, dari 10 titik stilasi sekitar 80 % nya dalam kondisi yang tidak terawat.

 

 

 

(Foto kondisi-kondisi Stilasi BLA. source : Foto-foto pegiat Komunitas Aleut!)

 

Menurut pandangan pribadi saya, kondisi seperti ini dikarenakan beberapa faktor yang saling berkaitan, dan faktor-faktor tersebut berhubungan dengan sikap mental sebagian masyarakat kita, mungkin termasuk saya sendiri. Faktor-faktor tersebut adalah :

1. Ketidaktahuan warga sekitar atau bahkan sebagian besar warga Bandung, hal tersebut karena memang sampai saat masih sangat sedikit informasi tentang stilasi BLA yang dipublikasikan ke masyarakat umum. 

2. Ketidaktahuan sebenarnya bisa saja teratasi seandainya ada kepedulian dan kepekaan (awareness), karena faktanya sebagian besar stilasi tersebut memang berada di lokasi yang lazim dilewati oleh orang kebanyakan. Namun entah karena rasa peduli masyarakat kita yang semakin berkurang atau terlalu sibuknya kita, sehingga seringkali tidak menghiraukan hal-hal yang ada di sekitar kita.

3. Kekurangpedulian dan kekurangpekaan tersebut bisa jadi timbul dari kurangnya rasa keingintahuan (Curiosity) kita yang masih kurang terbangun. Ya, memang sistem pendidikan kita sudah sedari dulu kurang bisa menanamkan mental curious kepada para peserta didiknya. Padahal jika saja curiousity ini telah terbangun maka persoalan tentang perawatan stilasi ini akan terpecahkan, karena seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang”, jika kita sudah mengenal sesuatu maka kita bakal (minimal) peduli dengan sesuatu tersebut.

 

Dalam perjalanan ngaleut kali ini, para pemandu menyampaikan berbagai informasi dari sumber-sumber yang berbeda dan dengan banyak versi yang berbeda pula. Hal tersebut membuat saya berfikir bahwa sejarah adalah sesuatu yang sangat subjektif, sejarah kadang-kadang ditulis untuk kebutuhan tertentu para penulis atau penuturnya. Maka dari itu saya secara tidak langsung selalu diwanti-wanti agar memandang sejarah tidak dari satu sisi saja, karena akan berakibat kurang baik yaitu timbulnya sikap yang terlalu fanatis ataupun terlalu apatis terhadap sebuah peristiwa, objek ataupun tokoh sejarah. Jika fanatisme dan apatisme telah merasuki pikiran kita maka objektivitas dan sikap kritis kita terhadap sesuatu akan terus menurun, dan hal tersebut akan menjadi tidak bagus ketika kita melakukan suatu proses pembelajaran. Selain itu pada ngaleut kali ini saya diingatkan kembali untuk selalu meng-crosscheck setiap materi yang disampaikan, hal yang mana sudah jarang atau malas dilakukan oleh kebanyakan dari kita setiap kali merespon suatu berita ataupun informasi.

 

Setiap perjuangan dan pergerakan selalu saja ada kontroversi dan pro kontra yang mengiringinya, hal tersebutlah yang menjadi poin selanjutnya yang bisa saya ambil dari perjalanan ngaleut kali ini. Begitu pula dengan peristiwa Bandung Lautan Api, walaupun cerita-cerita yang berkembang di masyarakat kebanyakan tentang kepahlawanan, pengorbanan dan perjuangan warga Bandung pada masa itu, namun ada beberapa pihak yang memang kurang setuju dengan langkah yang diambil pada masa itu, mereka berpendapat tindakan membumihanguskan Bandung adalah suatu tindakan yang merugikan Bandung dua kali, pertama Bandung harus diserahkan kepada NICA dan yang kedua warga Bandung harus memusnahkan harta benda yang dimilikinya begitu saja padahal andaikata NICA menguasai bandung secara utuhpun, mereka belum tentu mempergunakan semua rumah dan harta warga Bandung demi kepentingan mereka, jadi tindakan membumihanguskan Bandung dianggap tindakan yang mubadzir. Jika diperhatikan, tanggapan peristiwa BLA tersebut memiliki kemiripan dengan tanggapan tentang perjuangan dan pergerakan menolak rencana kenaikan BBM baru-baru ini, banyak yang mendukung dan tidak sedikit pula yang tidak simpatik terutama karena banyak aksi yang dilakukan dengan cara yang merusak. Menyikapi hal ini saya beranggapan bahwa setiap orang punya hak dalam berpendapat dan punya cara masing-masing dalam memperjuangkan pendapatnya, semua itu sah-sah saja sepanjang memang dilakukan atas dasar kesadaran sendiri, bukan karena ikut-ikutan belaka, tahu tujuan yang diperjuangkannya dan tidak merugikan orang lain.

 

Demikianlah sedikit pengalaman dan kesan yang bisa saya share setelah mengikuti perjalanan ngaleut Bandung Lautan Api. Semua pendapat diatas adalah sebatas pendapat dan intrepretasi pribadi. 

 

Dulu Bandung dikobarkan demi harga diri, hari ini mari kita jaga demi masa depan kita. Kota kita bukan cuma tanggung jawab pemerintah saja, kota kita tanggung jawab kita bersama.

 

 

Dimuat juga pada : 

http://oenank.tumblr.com/post/20356328285/ngaleut-bandung-lautan-api-kota-kita-tanggung-jawab

Napak Tilas Bioskop Bandung Tempo Dulu

Posted in Bioskop di Bandung on Maret 22, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh: Fan Fan F Darmawan

Bandung 1980 (atau mungkin setahun lebih awal)

Saat itu di Indonesia diputar sebuah film yg bercerita tentang manusia berkekuatan super yang berkostum pakaian dalamnya terbalik bernama Superman. Saya cukup beruntung, bisa menyaksikan pahlawan super idola anak anak di masa itu, di layar lebar. Saya lupa di bioskop mana mana tepatnya saya menonton itu, karena memory saya yg terbatas sebagai seorang balita. Tapi saya yakin itu berada di kawasan yg sekarang Alun Alun Bandung.

 32 tahun kemudian / 18 maret 2012

Saya mengikuti sebuah event perjalanan sejarah kota Bandung, dengan tema Bioskop di Kota Bandung Tempo Dulu. Saya berjalan bersama lebih dari 50an anak muda pencinta sejarah. Mereka berada dalam sebuah komunitas bernama Komunitas Aleut. Sebuah komunitas yang melestarikan sejarah dan budaya warisan sejarah Kota Bandung.

Ini kali pertama saya berinteraksi dengan mereka. Sudah cukup lama saya memantau twitter nya, berharap bisa suatu hari nanti ikut kegiatannya. Tema kali ini cukup kuat mendorong saya memaksakan diri bangun pagi di hari minggu, dan langsung menuju meeting point di kawasan BIP. Tema kali ini, Bioskop di Kota Bandung Tempo Dulu, sangat menarik minat saya. Saya tumbuh bersama dua hal di dunia ini, Film dan Komik (kelak hal ke 3 yg tumbuh bersama saya, adalah musik rock).

Kami memulai perjalanan dari kawasan jalan Merdeka, depan bekas bioskop Panti Karya (saat ini gedung bekas bioskop itu terletak tepat disamping gedung toko buku Gramedia Merdeka). Dulu ketika bioskop itu masih beroperasi, tepat di depan gedungnya, berdiri patung besar -mungkin- patung Jenderal Ahmad Yani, dengan posisi tangan menunjuk ke depan. Patung itu sudah lama sekali tidak ada di sana.

Kami berjalan menuju bunderan jalan antara Balai Kota Bandung dan Polwiltabes Bandung. Disana berdiri gedung baru Bank Indonesia.  Disana pernah berdiri bioskop yang cukup legendaris, terakhir bernama Vanda Theatre.

Saya ingat saat itu, sekitar tahun 1988 atau 89, saya ingin sekali menonton film yang dibintangi oleh Michael Jackson berjudul Moonwalker. Sebagai anak kecil, pastinya saya tidak punya otoritas penuh dalam masalah keuangan, bukan? Setiap kali saya lewat di depan Vanda, saya melihat poster film Moonwalker masih terpajang disana selama beberapa hari. Saya pikir, saya harus segera menontonnya disana. Seingat saya tempat itu paling nyaman dan murah dibanding Paramount (Jl.Sudirman) atau Dallas (Jl.Dalem Kaum). Hanya selang beberapa hari, ketika saya berhasil membujuk orang tua saya memberikan uang untuk nonton, ternyata bioskop Vanda telah dibongkar.. Saya sedih mendapati kenyataan bahwa saya tidak sempat menonton film tsb. Mungkin, jika ada yang ingat, film Moonwalker adalah film terakhir yg diputar di Vanda.

ALEUT di depan Gedung BI sekarang, dulunya Vanda Theatre

Lalu kami menuju kawasan Alun Alun Bandung, ke kawasan bioskop yang lebih dari 30 tahun lalu saya menonton Superman, dan sejumlah film box office lainnya pada zaman itu. Sepertinya saya menonton Star Wars disana.

Di Alun Alun Bandung, yang kini berdiri Gd.Palaguna, pernah berderet bioskop, Elita dan Oriental, yang telah berdiri sejak periode kolonialisme Belanda. Saat ini tidak tampak lagi sisa bangunannya. Bahkan Palaguna, yang sampai akhir dekade 90an masih memiliki gedung bioskop di salah satu lantainya, kini menjadi mall kosong tak terawat. Siapa sangka bahwa kawasan itu pernah sangat lekat di ingatan para penonton bioskop selama puluhan tahun silam. Puluhan tahun lalu saya yakin, saya dan ayah saya pernah menginjakan kaki di sana, di salah satu gedung bioskop itu. Saya masih ingat Elita masih beroperasi sampai awal 80-an, tapi entah dengan bioskop yang berada di sekitarnya.

Gd.Palaguna saat ini, di atasnya pernah berdiri gedung bioskop Elita dan Oriental yg legendaris sejak tahun 30-an.

Di depan Palaguna, masih berdiri bekas gedung bioskop Dian (saat ini digunakan sebagai gedung arena Futsal). Gedung ini masih lebih beruntung memiliki sisa bangunan nya yang kokoh, khas bangunan zaman dulu. Kami berkumpul disana untuk menikmati sisa kemegahan itu. Saya menikmati kenangan nya. Puluhan tahun lalu mungkin saya dan ayah saya pernah menginjakan kaki kesana. Beberapa dari kami bahkan berkesempatan naik ke lantai atas. Masih terdapat ruang bekas mengoperasikan proyektor, yang kini hanya berupa ruang kosong berdebu. Jendela utk memproyeksikan gambar masih ada disana.

Teman teman Aleut berkumpul di depan bekas Gedung Bioskop DIAN, yg kini menjadi arena Futsal

Sebenarnya, dikawasan Jl. Dalem Kaum, pernah berjaya sebuah bioskop bernama Dallas. Lokasinya berada sejajar dengan Gedung Parahyangan, saat ini baru dipugar menjadi sebuah trade centre produk pakaian. Sampai akhir dekade 80, bioskop itu masih sangat berwibawa.  Kami tak sempat kesana.

Sebelum ke kawasan Alun Alun, kami mengunjungi bekas Gd Bioskop Majestic. Lokasinya di samping Museum Konferensi Asia Afrika arah ke Jl.Braga. Bioskop ini menyimpan memori sejarah yang membentang sampai ke periode awal 1920an, di masa kolonialisme Belanda.

Bangunan yang memiliki disain arsitek khas Eropa ini, seakan akan memindahkan bangunan opera di Eropa ke tengah kota Bandung. Sebuah kota yang bisa jadi belum ada dalam peta internasional, dan tentu saja tidak seterkenal London atau Paris di masa itu.

Selain menjadi simbol warisan budaya yg dibawa para koloni Belanda -saya tak ingin menggunakan kata ‘penjajah’-, bioskop ini juga merekam memori tentang rasialisme bangsa Eropa dan pribumi. Bayangkan saja, untuk masuk ke bioskop itu, hanya boleh orang orang Belanda saja, dan sedikit keturunan menak (bangsawan) Sunda di masa itu. Meski ada orang pribumi yang menjadi penonton disana, saya tak yakin mereka diperlakukan sama.

Para pribumi nya saya yakin hanya menjadi pekerja di gedung itu, paling beruntung mungkin menjadi pemain musik disana. Hey, jaman itu diluar gedung bioskop dimainkan pertunjukan musik sebelum jam tayang film dimulai. Mungkin untuk memeriahkan suasana, karena menonton bioskop adalah hiburan berkelas bangsawan, dan juga hiburan kelasnya para koloni Belanda di Indonesia.

Salah satu teman di Komunitas Aleut bercerita tentang pemusik di dalam gedung bioskop. Ketika periode film bersuara belum ada, yang diputar di bioskop adalah film tanpa suara. Hanya gambar yang diputar, tanpa suara karena teknologi perekam dan pemutar film yang menggabungkan audio dan video belum ditemukan. Fungsi dari pemusik di dalam gedung bioskop adalah untuk memberikan efek suara, yang bersesuaian dengan adegan yang dipertontonkan di film. Para pemusik tadi, harus tepat memberikan irama ketika adegan romantis, ketika adegan penuh ketegangan, semuanya di sesuaikan dengan tempo lagu yang dimainkan.

Aleut di kawasan jalan Braga menuju bekas Bioskop Majestic.

Bioskop Majestic ini menjadi sangat penting dalam sejarah perfilman di Indonesia, karena ia merekam perjalanan panjang yang membentang selama puluhan tahun, bahkan hampir seabad.

Pada dekade 90an awal, bioskop ini sudah tidak memiliki wibawa lagi. Seiring dengan menurunnya kualitas film produksi Indonesia, membanjirnya film drama erotik dari hongkong, dan berjayanya cineplex (sebutan untuk satu gedung bioskop dengan lebih dari satu gedung pertunjukan). Bioskop ini mulai menjadi gedung bioskop kelas bawah, berbanding terbalik pada era puluhan tahun sebelumnya.

Diawal 90an, saya dan teman teman satu sekolah sangat ingin nonton di gedung itu. Sekadar mencari suasana baru, dibanding menonton di cineplex yang saat itu menjadi lokasi menonton bioskop favorit.  Selain itu, kami semua sangat penasaran dengan bentuk interior nya yg konon sangat megah. Hanya saja, bioskop Majestic, pada saat itu, hanya memutar film Indonesia dan atau film Hong Kong, dengan nuansa erotisme yg kental. (meminjam istilah Reza -koordinator Komunitas Aleut-, film yg diputar disana berjenis film ‘esek-esek Nusantara’). Tapi akhirnya kami menonton disana, hanya untuk menikmati interior teater yg sesungguhnya. Film yg kami tonton, semoga Tuhan mengampuni dosa kami, berjudul Girls From Beijing.

Tahun 2000an bioskop ini menjadi gedung pertunjukan hingga sekarang. Bayangkan, gedung bioskop ini menyimpan kenangan rasialisme di era koloni Belanda tahun 30an, sampai kenangan tentang hancurnya moral film di Indonesia akhir 80an, sampai pertunjukan konser music hardcore yang memakan jiwa beberapa penontonnya di era 2000an. Andai saja ia bisa berbicara…

Hey, saya baru tahu ada bekas gedung bioskop bernama Apollo, yang lokasi nya kini bersebrangan dengan komplek Ruko Banceuy. Kita masih bisa melihat pintu besi nya saat ini. Bangunan nya sudah tidak ada.

Gedung bekas Bioskop Apollo (sekarang depan Ruko Banceuy) yg berdiri sejak awal 1900an*

Sebenarnya saya sangat ingin rombongan ini menuju ke kawasan Sudirman, tempat dulu ada bioskop bernama Capitol, Texas, dan tentu saja Paramount. Tentu saja kami tak mungkin berjalan sejauh itu dari kawasan Merdeka sampai Alun Alun saja sudah memakan waktu 3 jam lebih berjalan kaki.

Kawasan bioskop di pecinan Bandung itu penting untuk saya, karena dulu sejak kecil, saya sering diajak menonton film kungfu disana. Periode akhir 70an sampai awal 80an adalah periode membanjirnya film kungfu produksi Hong Kong. Saya ingat pernah menonton film periode awal Chen Lung (kini dikenal dengan nama Jackie Chen), berjudul Drunken Master dan beberapa judul lainnya. Lalu beberapa nama pemain film yg berhasil saya ingat sampai saat ini seperti Ti Lung, Fu Shen, dan Meng Fei. Saya berhasil mengingat, bahwa film tersebut produksi Shaw Brothers, dan saya ingat dari logo di setiap opening filmnya. Logonya mirip dengan logo Warner Bros, salah satu raksasa produsen film Holywood itu. Dulu saya heran, kenapa kemudian logo Shaw Brothers tidak pernah ada lagi tampak di layar bioskop.  Baru sekitar awal tahun 2000an, saya mendapati informasi bahwa sebenarnya Shaw telah bangkrut di tahun 1983. Mungkin saya suatu saat harus menyempatkan diri kesana. Oh ya, dari nama bioskop yg saya sebut diatas, hanya Paramount yg masih berdiri. Kini menjadi sebuah restoran yg cukup megah. Saya tak ingat jika kemudian mereka merenovasi bangunannya.

Perjalanan kami berakhir di belakang gedung PLN Cikapundung. Kami duduk duduk di pelataran gedung tersebut, lalu saling berbagi kesan selama perjalanan tadi. Beberapa dari kami juga saling berkenalan dalam sebuah suasana berbagi yang akrab.

Saya sempat memperlihatkan koleksi flyer bioskop asli dari cetakan tahun 70 an. Seluruhnya adalah flyer film kungfu, karena saya spesifik menggemari film kungfu di era 70an.

Perjalanan kali ini tidak hanya menyenangkan, dan menambah teman. Tentu saja saya bertambah teman, karena ini adalah interaksi pertama saya dengan Komunitas Aleut. Perjalanan ini juga menyadarkan saya bahwa banyak hal telah berubah, dan ternyata itu luput dari perhatian saya. Bahkan perubahan itu terjadi, di depan mata, di masa hidup saya, bukan perubahan yang terjadi di masa lalu. Banyak hal yang pernah bersinggungan dengan kehidupan saya, kini sudah tidak ada lagi, menghilang tanpa saya sadari.

Tentu saja menyenangkan bisa kembali menyaksikan Ti Lung dan Superman di layar bioskop. Bukan di DVD Player dengan keping bajakan.  Hal paling indah tentunya, kalau saja saya bisa kembali menyaksikan kembali apa yang saya alami ketika kecil, dalam tubuh dan pikiran saya sebagai orang dewasa. Tentu saja tidak mungkin, kecuali mesin pembalik waktu ternyata bisa ditemukan dimasa depan.

*Untuk referensi lebih lanjut tentang perkembangan bioskop di Bandung ditulis oleh teman kita Taufanny Nugraha – Penggiat Klab Aleut

http://www.sundanetwork.com/bandung-updates/seabad-bioskop-di-bandung.html

Layar Terkembang

Posted in Bioskop di Bandung on Maret 22, 2012 by Komunitas Aleut

Oleh: Mira Rachmawatie

Seonggok bangunan yang dulu sangat berjubel oleh penonton yang memadati ruangan, kemudian menghilang, tergeser oleh perkembangan kota modern dan juga dialih fungsikan karena kalah tenar dengan bioskop masa kini. Itulah bioskop-bioskop Bandung yang nyaris terlupakan. Dari bioskop kelas atas di sepanjang Alun-alun Kota Bandung – mulai dari Elita, Aneka, Nusantara dan Dian – hingga bioskop-bioskop ternama di Jalan Braga – seperti Majestic, Braga Sky, Presiden dan Pop – tak satupun dari bangunan ini yang berkembang, bahkan cuma tersisa bioskop Dian (sekarang menjadi lapangan futsal) dan Majestic (yang berubah menjadi New Majestic) yang masih bertahan. Padahal pada masanya, salah satu dari bioskop-bioskop tempo dulu ini merupakan yang terbaik pada erannya

 menulis tentang Bandung tempo dulu, memang tak ada habisnya. mungkin kisah-kisah dari orang tua, nenek, bahkan buyut kita akan lebih seru jika kita campurkan dengan imajinasi kita tentang suasana Bandung tempo dulu. Bioskop bagi sebagian orang merupakan tempat hiburan, hirarkinya, kita sebagai manusia adalah makhluk yang haus akan hiburan, dan salah satu pelampiasan nya mungkin bioskop.

Bioskop adalah adaptasi bahasa Indonesia terhadap kata ‘bioscope’ dari Afrika Selatan (kemungkinan juga dari Belanda). Pada awalnya film di bioskop adalah rangkaian gambar bergerak yang berdurasi pendek, bisu, dan diputar di lapangan atau ruangan/hall. Genre yang diusung biasanya adalah seni drama, komedi slapstick (bodoh-bodohan, seperti Caplin), sulap, dan percintaan.

 Film-film pendek tersebut pada awalnya memang merupakan sarana hiburan bagi warga barat sebagai pengganti pertunjukan langsung. Pada pertunjukan langsung, durasi pertunjukan memang bisa lebih lama, namun frekuensinya terbatas. Dengan bantuan teknologi film, frekuensi pertunjukan dapat ditingkatkan puluhan kali lipat, kostum dan panggung dapat dihemat, untung bagi para pengusaha film dan bioskop pun meningkat pesat

 Atau bioskop mungkin sebut saja tempat nya sebuah layar yang terkmbang lalu dipantulkan-nya sebuah cahaya yang berisi permutaran memori yang direkam oleh suatu mesin, adalah tempat kenangan bagi banyak orang.

Tempat pertama yang dikunjungi lagi kencan sama mantan pacar, atau tempat kamu menyatakan perasaan kamu sama seseorang.

Flas back tentang fungsi bioskop pada era tahun 1900 an. dimana fungsi bioskop tidak hanya dijadikan “air segar” bagi “para peminum” yang haus akan hiburan, tetapi bioskop merupakan simbol dari kemajuan suatu bangsa atau suatu tempat pada masanya. Dimana bioskop era tahun 1900 hanya menampilkan gambar saja atau film bisu. Artis pada masa itu adalah Charli Caplin. Pemutaran film tersebut hanya dimulai pada jam 7 malam. pada era tersebut bioskop merupakan tempat pemisahan pemisahan kasta, dimana seperti  misal nya majestic hanya untuk kaum priyayi dan kaum belanda yang pada saat itu tangan-tangan pemerintahan belanda masih sangat mendominasi.

Kelas kelas penonton pun menentukan dimana mereka mendapatkan tempat duduk. mungkin kalo sekarang kelas 1, 2 atau VIP, VVIP. Bersyukur lah karena zaman nya “kelas kambing ” sudah tidak digunakan pada era perbioskopan sekarang. Kelas kambing dimana para penonton yang mendapatkan tiket kelas ini akan duduk paling depan dan meliahat layar dengan kepala tengadah melihat keatas, mungkin fungsi “kelas kambing” pada era sekarang telah berubah, dimana penonton yang mendapatkan tiket VIP akan duduk paling depan.

 Pada dekade tahu 1920-1930 film film dari Amerika atau biasa disebut HOLLYWOOD, Eropa, dan China masuk ke Hindia Belanda. Bahkan beberapa film  Hollywood lebih dulu diputarkan di Hindia Belanda sebelum di Belanda sendiri.

Orang kulit putih membawa sebuah roll yang berisi film yang dapat diputarkan pada suatu mesin, maka orang hindia Belanda dahulu menyebutnya “film idoep”.

 Film pertama yang di buat di perancis, film tersebut berjudul “kereta datang”. Sesuai dengan judunya, film tersebut hanya menampilkan sebuah kereta yang datang ke stasiun. Dan para penonton sangat kaget, mereka sangka kereta yang ada di film tersebut benar-benar datang pada mereka. sehingga mereka menghindari kereta tersebut.

Berkembang nya jaman dan tekhnologi manusia untuk berfikir, maka film tak hanya dibuat hidup saja, tapi juga bersuara,

sekitar tahun 1920-an (kalo tidak salah) pemutaran “film idoep + boenyi” diputar pertama di hindia belanda, tepatnya di LUXOR teater. Saking antusiasnya para priyayi dan orang belanda saat itu, LUXOR theater temboknya sempat jebol karena berjubelnya para penonton yang penasaran seperti apa film yang akan diputarkan.

 Masa kejayan bioskop tak pernah usai walau sudah termakan usia 100 tahun. Bioskop menjadi tempat favorit untuk tempat berkumpulnya  keluarga, teman teman, atau bahkan kolega bisnis. 21 atau blittz megaplex merupakan penerus kepemilikan bioskop yang saat ini terkenal,

Inti dari ngAleut saya tentang bioskop tempo dulu, adalah suatu tempat berkumpulnya para sosialita pada era tersebut, dan menggunakan fasilitas bioskop sebagi tempat unjuk kasta dan ke- “HIGH CLASS” an para priyayi dan orang Hindia Belanda. Penonjolan sikap membeda- bedakan kasta sangat terlihat, dimana para priyayi dan kaum sosialita yang ELIT (berasa dari kata “ELITA” yang artinya Terdepan) harus mengenakan pakaian yang rapi, septu yang bagus. Tapi kalangan rakyat menengah kebawah hanya bisa mendapatkan tiket dengan title “KELAS KAMBING”

Pengelompokan kelas-kelas tersebut sangat kental sekali pada era tersebut. Mungkin untuk era sekarang kelas-kelas tersebut dikelompokan menurut fasilitas. Misalnya di 21 Ciwalk, dari kelas PREMIERE, 3D, dan biasa sudah tersedia. harga tiket untuk pertunjukan di Premiere sekitar Rp.75.000 –Rp.100.000,- fasilitas didalamnya yang sangat exclusive membuat para penonton sangat dimanja.

Ngaleut adalah sarana informasi, edukasi, dan refreshing bagi saya. Koordinator ALeut bagi saya adalah sebuah “Film idoep dan boenyi ” yang berjudul “BANDUNG TEMPO DULU”,, beliau dengan serius tapi santai (baca : SERSAN)  mengulas banyak tentang Bandung tempo dulu, Terimaksih buat ALEUT.

Tak ada masa sekarang jika tak ada masa lalu.

 Bioskop ELITA, bioskop yang sempat berjaya pada masa nya, dimana yang datang hanya kaum kaum elit atau kaum yang terdepan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.126 pengikut lainnya.