Dunia Aleut!

Catatan Bandung karya Komunitas Aleut!


64 Komentar

Bandung as a Gimmick City

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@SadnessSystem)

Gimmick : A trick or device intended to attract attention, publicity, or trade (oxforddictionaries.com)

Beberapa waktu yang lalu, Walikota Bandung sempat dikritik karena dianggap hanya menjalankan gimmick untuk menunjukan kesuksesannya. Gimmick yang dimaksud adalah kebijakan-kebijakan yang bersifat penampakan luar, bukan bersifat esensial. Hal ini menarik untuk dicermati, karena di era demokrasi ini pemimpin merupakan cerminan dari rakyatnya. Apabila walikota Bandung adalah jago gimmick, begitu pula dengan rakyat Bandung itu sendiri.

Bandung, berbeda dengan daerah lain seperti Yogyakarta atau Bali, tidak memiliki akar budaya yang kuat karena relatif masih berusia sangat muda. Kota Bandung baru berdiri sekitar 200 tahun yang lalu (tahun 1810). Itupun kurang tepat karena resminya Bandung masih berstatus kabupaten hingga diresmikan menjadi gemeente (kotamadya) pada tahun 1906. Sejak berstatus gemeente itulah Bandung mulai membangun identitasnya sebagai “Kota Eropa”. Tujuannya adalah untuk menarik para pensiunan pegawai Eropa dari berbagai kota di Nusantara untuk menghabiskan masa tuanya di Bandung alih-alih pulang ke kampung halamannya di Eropa. Agar para pensiunan itu merasa “tinggal di rumah sendiri”, Bandung dipermak sedemikian rupa agar lingkungannya menyerupai lingkungan Eropa. Usaha ini cukup berhasil karena nantinya selain mendapat julukan “Parijs van Java”, Bandung juga mendapat julukan “de Stad der Gepensioneerden” (Kota Pensiunan). Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

#PernikRamadhan: Rindu Suara Badia-Badia Batuang

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

hani12

Desa Pungguang Kasiak 2) yang terletak di Kecamatan Lubuak Aluang3) merupakan tempat yang menyimpan kenangan Ramadhan masa kecil saya. Punggung Kasiak merupakan tanah kelahiran dan tempat ayah saya menghabiskan masa muda. Tak hanya itu, tempat tersebut dipilih beliau sebagai tempat menunggu hari kebangkitan kelak.

Menjelang Ramadhan, ke desa itulah saya dibawa ayah bersilaturahmi dengan keluarga besar ayah. Jika ayah saya tidak memiliki waktu untuk bersilaturahmi sebelum Ramadhan, minggu-minggu awal bulan Ramadhan sudah pasti kami ke sana. Dalam kenangan saya, Punggung Kasiak merupakan tempat dengan hamparan sawah yang menghijau diselingi oleh nyiur-nyiur yang melambai tertiup oleh angin –maklumlah desa ini termasuk ke daerah pesisir.

Pada bulan Ramadhan dari ba’da Ashar hingga magrib, desa yang biasa hening dihebohkan dengan suara tembakan meriam yang sering disebut badia-badia batuang. Permainan tradisional ini umumnya dimainkan oleh anak laki-laki antara 6-12 tahun di tanah lapang.

Sekali waktu saya pernah merengek pada salah seorang sepupu laki-laki, Da Jhon, agar saya turut serta bermain badia-badia batuang dengan syarat saya hanya menonton mereka bermain. Persyaratan tersebut saya setuju. Diam-diam, kami keluar dari rumah kakek melalui pintu dapur menuju tanah lapang terdekat untuk bermain. Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

#PernikRamadhan: Ngabuburit ala Kapitalis

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

“Duh stasiun London berapa nih?”

“Oh itu properti milik Arip Podomoro Group, hmm… bayar 2000 weh”

“Jis geuleuh ke cewek mah pake diskon”

ngabuburit main monopoly

Meski cashflow sedang hancur, saya tetap istiqomah jadi pebisnis yang murah hati. Apalagi sedang dalam bulan baik bernama Ramadan. Tapi nampaknya permainan Monopoly nggak mengenal yang namanya matematika sedekah. Meski berhasil memonopoli jaringan bisnis transportasi internasional, krisis finansial pun melanda saya. Ini diperparah dengan munculnya faktor godaan wanita. Ah klise banget.

Enrichissez-vous! Francois Guizot, cendikiawan dan ahli sejarah yang jadi menteri utama Prancis di abad ke-19 menyeru agar setiap orang harus menjadi kaya, dan ini adalah inti dari permainan monopoly. Ya, jadilah kaya! Jadilah kapitalis yang bisa mengeruk kekayaan sampai pebisnis lain jatuh pailit. Nggak ada kamusnya untuk jadi filantropi dalam permainan ini. Baca lebih lanjut


1 Komentar

#PernikRamadhan: Ngabuburit Tempo Dulu

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

ngabuburit : ngadagoan burit dina bulan puasa bari jalan – jalan

Ngabuburit berasal dari kata burit yang berarti waktu sebelum bedug magrib. Ngabuburit itu sendiri berarti menunggu burit saat bulan puasa dengan jalan – jalan. Jika bertanya pada pelaku sejarah Bandung mengenai ngabuburit di Bandung tempo dulu, ingatan mereka akan melayang menuju beberapa lokasi yang telah berubah fungsi di tempo kini. Misal sungai Ci Kapundung yang tidak sejernih tempo dulu.

Dulu, ketika Bandung belum memiliki saluran air ledeng, sebagian warga masih melakukan kegiatan sehari–hari di sungai Ci Kapundung. Hal itu wajar dikarenakan Ci Kapundung tempo dulu memiliki air yang jernih, sejuk dan langsung berasal dari kaki Gunung Tangkubanparahu.

Pemandian Cihampelas tempo dulu

Ngabuburit tempo dulu yang cukup menyenangkan adalah dengan bermain air di pinggiran sungai. Warga kota bisa memilih banyak tempat bermain air seperti Empang Cipaganti milik Haji Sobandi, Pemandian Cihampelas, atau Situ Aksan yang memiliki fasilitas berperahu. Selain bermain air di beberapa lokasi tersebut, warga Bandung bisa ngabuburit dengan menikmati taman. Warga Bandung tempo dulu akan merasa kebingungan dalam memilih taman untuk ngabuburit. Bisa dibayangkan bahwa Bandung memiliki banyak taman indah seperti Jubileum Park (Taman Sari), Insulinde Park (Taman Lalu Lintas), Molukken Park (Taman Maluku) dan taman lainnya.

Baca lebih lanjut


1 Komentar

#PernikRamadhan: Ramadan sebagai “Waktu Publik”

Oleh: Zen RS (@zenrs)

…. when holy days and holidays were one and indivisible

/1

Seorang Amrikiya berdarah Yahudi, saya berdiskusi santai dengannya saat Ramadan bertahun-tahun lalu, berkali-kali mengucapkan ketidakpercayaannya bahwa muslim di Indonesia sungguh-sungguh menikmati dan bahkan menunggu-nunggu Ramadan. Ia sukar mengerti mengapa “penindasan dan pengekangan” terhadap perut, mata, telinga, kelamin dan hasrat-hasrat duniawi lainnya, yang berlangsung rutin setiap tahun, bisa disambut dengan gegap gempita oleh muslim di Indonesia.

Ia tidak mungkin paham karena ia tidak mengerti betapa Ramadan sesungguhnya bukan sekadar “penindasan dan pengekangan” terhadap makan, minum dan seks sepanjang pagi hingga sore, melainkan juga pembebasan yang menyenangkan dari rutinitas yang membosankan dalam 11 bulan lainnya.

Amrikiya itu bisa diberi sedikit pemahaman sewaktu saya mencoba menjelaskan semaraknya Ramadan melalui konsep yang agak dikenalnya: semangat karnaval ala Mikhail Bakhtin.

Karnaval, menurut Bakhtin dalam buku Rebelais and His World yang berisi telaahnya tentang zaman renaissance yang termaktub dalam lima jilid novel Gargantua and Pentagruel karya Francois Rebelais, merupakan sebuah pusat perayaan yang para pesertanya begitu menghidupi dan menghayatinya, tapi penghayatan itu bukan perpanjangan (atau bagian dari) dunia sehari-hati atau kehidupan yang riil. Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

Ramadhan Kecil Dari Halteu Utara

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Suasana Jalan Halteu Utara

Suasana Jalan Halteu Utara

Pikiran saya agak kacau sore itu. Dengan mengemban banyak beban, saya mengambil satu obat bernama jalan di sore hari. Rute yang diambil berada di sepanjang Jalan Halteu Utara.

Pas sekali, sore itu adalah waktu pemuda dan pemudi, tuan dan nyonya keluar menikmati angin dan suasana sore hari. Sore itu semakin pas karena hari itu adalah hari ke empat di bulan Ramadhan. Dikarenakan di minggu pertama di bulan Ramadhan, suasana khas bulan Ramadhan terasa kental di Jalan Halteu Utara.

Ramadhan tidak pas kalau tidak membeli bekal untuk berbuka puasa. Nah, karena alasan itu, saya membeli satu bungkus tahu bulat ke pedagang yang berjualan di dekat rel kereta api. Sambil menunggu tahu bulat matang, saya mengobrol basa – basi dengan pedagang tersebut.

“Cep, tinggal di mana?”

“Saya mah tinggal di Logam tapi sering main ke sini. Akang sendiri dari mana?”

“Dayeuh Kolot. Ke sini hanya jualan tahu bulat doang”

“Tidak cape kang?”

“Mau apa lagi, cep. Tiket kereta api dan bis mahal. Anak – anak mau ketemu nenek dan kakeknya, cep”

“O,”

Setelah membeli satu bungkus tahu bulat untuk berbuka puasa, saya mengelilingi dan mengamati keadaan sekitar Halteu Utara. Mulai dari pedagang kain hingga pedagang sosis bakar menghias pemandangan Halteu Utara sore itu. Tidak sedikit, ada anak kecil menangis karena tidak dibelikan keinginannya di sela – sela pedagang. Sungguh suasana Ramadhan yang khas!

Selesai mengobrol, saya jalan ke arah Pasar Ciroyom. Setelah jalan sekitar 150 meter, bau tak sedap tercium kuat oleh saya. Bau tersebut berasal dari tumpukan sampah dan tempat pemotongan ayam. Tapi dibalik bau tersebut, saya bertemu dengan kumpulan anak kecil yang sedang asik bermain di daerah tersebut. Dengan ragu – ragu, saya bertanya mereka sedang apa.

“Lagi apa, cep?”

“Lagi ngabuburit, kang.”

“Loh, kok ngabuburit di sini? Engga risih sama bau?”

“Geus biasa, kang. Di dieu mah lumayan lega keur main bola”

“O,”

Setelah bercakap dengan mereka, saya kembali ke rumah. Ada satu pikiran baru yang tercantol di antara pikiran lain. Di antara ingar bingar Ramadhan, masih banyak cerita kecil yang jarang diketahui orang atau mungkin hanya dilihat sekilas oleh orang. Mulai dari pengorbanan yang dilakukan kepala keluarga untuk pulang kampung hingga cerita ngabuburit anak kecil di sekitar tumpukan sampah. Sungguh Ramadhan yang baru untuk saya!

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/06/26/ramadhan-kecil-dari-halteu-utara/


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Diskusi Buku Zaman Perang Bersama Hendi Jo

2015-06-28 Hendi Jo

#InfoAleut Hari Minggu (28/06/2015) kita akan… “Diskusi Buku Zaman Perang Bersama Hendi Jo”. Mari bersama-sama mengupas segala hal yang berkaitan dengan buku Zaman Perang dan Kang Hendi Jo sendiri :)

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di Kedai Preanger (Jl. Solontongan No. 20-D) pukul 14.00 WIB. Bawa uang Rp 15.000,00 untuk udunan berbuka. Bagi yang punya bukunya, harap dibawa yah :D

Jangan lupa untuk konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup kirim SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Kuota peserta terbatas, jadi pastikan Aleutians untuk konfirmasi terlebih dahulu. Oh iya, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah :)

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D

Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :)


1 Komentar

#PernikRamadhan: Berburu Tanda Tangan di Bulan Ramadhan

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Para jamaah bangkit dari sujudnya, memasuki rakaat terakhir dari shalat witir. Hanya satu rakaat lagi dari berakhirnya rangkaian shalat Tarawih malam hari itu. Beberapa anak kecil yang mengikuti jalannya shalat Tarawih sudah terihat tak tenang, seolah ingin segera mengakhiri saja shalat ini. Di rakaat terakhir, imam yang merangkap sebagai penceramah malam ini membaca surat pendek yang panjangnya lebih dari 10 ayat. Terdengar oxymoron, memang.

Setelah penantian yang dirasa panjang, imam akhirnya menoleh ke kanan sambil mengucap salam. Berakhir juga shalat Tarawih malam ini. Namun sebelum imam selesai membaca doa, sudah terlihat antrian anak kecil yang mengular di belakang sang imam. Mereka semua memegang sebuah buku tipis yang berbahan kertas koran. Salah satu anak mengangkat bukunya ke atas kepalanya, entah apa maksudnya. Dari kejauhan terlihat tulisan “Buku Kegiatan Ramadhan” di sampul buku anak itu.

Imam selesai membaca doa, lalu beranjak dari duduknya untuk membalikan badan. Sejenak terlihat gestur kaget dari tubuhnya setelah melihat panjangnya antrian yang di luar dugaannya. “Sok biar cepet, langsung buka halaman nu rek diparaf ku Bapak”, ujar sang imam dengan logat Sunda kentalnya sambil mengeluarkan bolpoin dari saku baju kokonya. Bak jendral yang mengkomandoi anak buahnya, semua anak langsung membuka halaman yang dimaksud sang imam. Satu per satu anak-anak yang mengantri mendapat tanda tangan dan terpancar senyum di wajah mereka Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 10.709 pengikut lainnya.