Dunia Aleut!

Catatan Bandung karya Komunitas Aleut!


Meninggalkan komentar

#PojokKAA2015: Us Tiarsa dan KAA

Oleh: Ariono Wahyu (@A13xtriple)

Bagi seorang anak berusia dua belas tahun melihat orang-orang asing dari negara-negara yang jauh diseberang lautan hadir di kotanya adalah pengalaman yang luar biasa. Untuk Us Tiarsa dan mungkin banyak penghuni Kota Bandung saat itu, yang mereka sebut dengan orang asing adalah orang Belanda, orang India dan orang Tionghoa.

Sungguh merupakan suatu kebanggaan bagi dirinya dan seluruh penghuni Kota Bandung, bahwa republik yang baru saja merdeka selama sepuluh tahun, sudah mampu dan berani melaksanakan hajatan besar berupa konferensi internasional yang mampu mengundang banyak negara.

Menurutnya, penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 1955 berlangsung dengan sederhana. Semua persiapan berlangsung apa adanya dan tidak mengada-ada. Mungkin dapat dikatakan Kota Bandung saat itu tak “berdandan”, namun tetap resik dan cantik, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah bersahaja.

Dalam ingatan Us Tiarsa yang kala itu masih duduk di kelas satu SMP, persiapan penyambutan hanya sebatas pemasangan bendera terutama bagi mereka yang tinggal di rumah-rumah yang terletak di pinggir jalan yang akan dilalui oleh rombongan delegasi peserta konferensi. Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

#PojokKAA2015: Bendera Dadakan di KAA 1955

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Saat berada di Museum Konferensi Asia-Afrika, ada satu bendera yang membuat saya tertarik. Bendera ini tidak memiliki bermacam-macam warna atau pola. Bendera ini berwarna polos dan bertuliskan Sudan. Loh, bukannya bendera sudan memiliki tiga warna (1956-1970) lalu empat warna (1971-sekarang)?

Bendera Dadakan Untuk Dikibarkan

Terdapat cerita di balik bendera Sudan yang dipamerkan di Museum Konferensi Asia-Afrika. Cerita tersebut bermula dari beberapa minggu sebelum konferensi dimulai. Saat itu, Joint Secretariat memerlukan bendera-bendera negara peserta konferensi. Maksud permintaan bendera tersebut untuk dikibarkan di beberapa gedung di Bandung. Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

#PojokKAA2015: Penggalan Kisah di Balik Konferensi Asia Afrika 1955

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Judul Buku       : Di Balik Layar, Warna-Warni Konferensi Asia Afrika 1955 di Mata Pelaku

Penulis               : Sulhan Syafii, Ully Rangkuti

Sponsor             : Pacific Paint

Penerbit             : TNC Publishing

Tebal Halaman : vi +167

hani1

Dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 dibicarakan hal-hal yang menyangkut kepentingan bersama negara-negara yang terdapat di Benua Asia dan Afrika terutama masalah kerja sama ekonomi, kebudayaan, kolonialisme serta perdamaian dunia. Pencapaian terbesar dari konferensi ini adalah lahirnya Gerakan Non-Blok yaitu suatu gerakan dari negara-negara yang menganggap dirinya tidak beraliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apapun. Baca lebih lanjut


1 Komentar

#PojokKAA2015: Madrawi – Kisah Keluarga dan Tanah Harapan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN0703Fadly Badjuri, kakek berusia 108 tahun itu tengah membakar rokok kreteknya yang pertama. Sementara Abdul Fatah, anaknya yang bungsu sedang sibuk melayani pembeli. Tak lama kemudian Abdul Fatah masuk ke dalam rumah dan menyuguhkan minuman mineral dalam gelas, “sama bapak mah ngobrol aja ya.” Kemudian dia keluar lagi sebab ada yang hendak makan di warung nasinya.

Dengan alat bantu dengar yang terpasang, Fadly kemudian bercerita. Komunikasi hampir berjalan satu arah, sebab alat bantu dengar ternyata tak begitu banyak membantu pendengaran seseorang yang usianya sudah lebih dari satu abad.

Siapa Fadly Badjuri?

Jelang peringatan Konperensi Asia Afrika yang ke-60, nama-nama pelaku dan saksi sejarah penyelenggaran KAA yang pertamakali di tahun 1955 menuai banyak sorotan. Salahsatunya adalah Madrawi, nama dan pemilik rumah makan yang pernah meyuplai makanan untuk para delegasi KAA angkatan mula-mula. Lalu apa hubungannya dengan Fadly Badjuri? Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

#PojokKAA2015: Sore Hari Bersama Relawan KAA 2015 di Balai Kota

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Pada umumnya, wajah Balai Kota sore hari diisi dengan pengunjung yang swafoto, remaja yang sedang latihan tari K-Pop, atau pengunjung yang sedang mengobrol. Kadang-kadang, ada juga yang sedang latihan perkusi. Mereka semua menghiasi wajah Balai Kota setiap harinya.

Sore tadi, wajah Balai Kota tampak sedikit berbeda. Wajah Balai Kota sedikit berbeda dengan 100-200 orang yang berkumpul di teras Balai Kota. Mereka bukan dari kelompok perkusi atau penari yang sering latihan di Balai Kota, melainkan relawan KAA 2015.

Enam Fungsi, Enam Kelompok, dan Empat Kasta

Saya sempat bertanya pada Syahrul, relawan yang duduk di sebelah saya. Menurut dia, relawan KAA telah dibagi dalam enam kelompok. Enam kelompok tersebut antara lain Pakistan, India, Indonesia, Bandung, Burma, dan Srilanka. Enam kelompok tersebut memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

#PojokKAA2015: Seputar Pengibaran Bendera Negara-negara KAA

Oleh: Deris Reinaldi

Semula jadwal pengibaran bendera negara peserta KAA jatuh di tanggal 18 April 2015, tapi entah mengapa alasannya, jadwalnya dimajukan menjadi tanggal 15 April 2015. Bendera yang dikibarkan terdiri dari 109 bendera dari setiap negara peserta KAA yang dikibarkan oleh Pramuka Kwarcab Bandung, para pengibar ini terdiri dari pelajar SD, SMP dan SMA di Bandung. Upacara terbuka untuk umum, sehingga semua orang dapat melihat proses pengibaran bendera. Upacara pengibaran bendera dihadiri oleh para relawan KAA, pegawai Museum KAA, dan sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika. Upacara ini bertempat di Jl. Cikapundung Timur yang kini jalannya menggunakan batu granit serta banyak bangku-bangku untuk nongkrong.

deris1

Para pengibar bendera ini diberi waktu untuk latihan selama dua hari tepatnya dari hari Senin, 13 April sampai Zelasa, 14 April 2015. Dalam latihannya yang singkat ini semangat mereka tak terhalangi semangatnya untuk latihan di tengah cuaca di Bandung yang sulit terprediksi. Patut diacungi jempol, bila perlu dua jempol untuk pengibar bendera negara peserta KAA. Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Ngaleut Seputaran Gedung Merdeka

 

IMG-20150418-WA0001

#InfoAleut Hari Minggu (19/04/2015) kita akan… “Ngaleut KAA”. Mari bersama-sama mencari tahu tentang keadaan terkini sekitar Gedung Merdeka dan Museum Asia-Afrika.

Seperti apa wajah baru lingkungan sekitar Gedung Merdeka? Bagaimana kondisi Sungai Ci Kapundung? Apa saja yang dilakukan warga di sekitaran Gedung Merdeka? Mari kita cari tahu bersama! :)

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di depan Kantor Pikiran Rakyat (Jl. Asia-Afrika no. 77) pukul 07.30 WIB. Jangan lupa bawa alat tulis, karena akan ada hal penting yang harus dicatat :D

Nah, jangan lupa untuk konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup kirim SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah :)

BywSSCTCUAAIE_G

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D

Sekian saja Info Aleut siang hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.365 pengikut lainnya.