#InfoAleut: Ngaleut Kiaracondong

Posted in Info Kegiatan, Poster Kegiatan on Maret 28, 2015 by KomunitasAleut!

2015-03-29 Kiaracondong alt 1

#InfoAleut Hari Minggu (29/03/2015) kita akan… “Ngaleut Kiaracondong”. Mari bersama-sama mencari tahu tentang kawasan sekitar Stasiun Kiaracondong.

Seperti apa keadaan Stasiun Kiaracondong? Apakah betul ada simpang rel menuju salah satu perusahaan BUMN? Seperti apa kondisi lingkungan di daerah ini? Mari kita cari tahu bersama! :)

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di Stasiun Selatan Bandung (Jl. Stasiun Timur) pukul 07.00 WIB. Jangan lupa bawa uang Rp 2.000,00 untuk tiket kereta KRD Ekonomi dan juga alat tulis, siapa tahu ada hal menarik yang perlu dicatat :D

Nah, jangan lupa untuk konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup kirim SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah :)

Cara Gabung Komunitas Aleut

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D

Sekian saja Info Aleut pagi ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :)

Singgahnya Kian Santang di Tumpukan Sampah

Posted in Bandung Selatan, Catatan Perjalanan, Kabupaten Bandung with tags , , , , , , , , , , , , on Maret 27, 2015 by KomunitasAleut!

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Dari Sumedang Larang, Kian Santang memacu mobilnya melintas Jatinangor dan masuk Tol Cileunyi. Rupanya tim intel berhasil melacak keberadaan Prabu Siliwangi di sebuah bukit di daerah Baleendah. Kemacetan, jalanan terjal berbatu dan becek pun harus dilalui Kian Santang dalam perburuannya menaklukan Sri Baduga Maharaja yang keukeuh nggak mau masuk Islam.

Prabu Kian Santang tertunduk lemas. Nampaknya ada kesalahan informasi, karena yang dia dapatkan hanya sebuah gundukan sampah.

gunung munjul baleendah

Entahlah. Yang pasti jika Descartes mah bersabda, “Aku berpikir maka aku ada”, maka saya berkata, “Aku berpikir maka aku mengada-ada”.

Cerita di prolog tadi memang sunguh fiktif. Tapi sebenarnya saya punya itikad baik untuk membantu Dadang Naser dalam memajukan pariwisata Kabupaten Bandung, salah satunya dengan mempromosikan situs Gunung Munjul di Baleendah ini. Tentunya lewat pengemasan menarik dengan menjual suatu cerita. Dan nampaknya saya pembuat cerita yang terlalu kreatif dan bodoh.

Intinya, sebenarnya sangat mudah membuat cerita, memanipulasi data sejarah. Apalagi kalau punya yang namanya kuasa dan modal.

Gunung Munjul: Petilasan Kian Santang dan TPS Liar

Minggu ini Komunitas Aleut mengadakan aktivitasnya dengan judul “Ngaleut Ciparay”. Dengan sepeda berknalpot, Aleutian mengeksplorasi tiga destinasi ‘kurang perhatian’ di Kabupaten Bandung; Situ Sipatahunan, Gunung Munjul, dan Culanagara.

Nah, untuk Gunung Munjul sendiri sebenarnya hanya sebuah bukit yang kalau dalam bahasa Sunda disebutnya ‘pasir’. Sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2012, namun bukit di Kampung Munjul, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah ini sangat tidak terawat.

| Lihat: Pikiran Rakyat Online – Situs Gunung Munjul Tidak Terawat

Ini termasuk kemajuan atau kemuduran kah? Bukankah ini bukti kalau masyarakat makin modern karena mampu berpikir rasional? Areal situs yang dipercaya sebagai tempat patilasan Kian Santang ini, tanpa merasa risih dapat kualat, malah jadi tempat pembuangan sampah liar bagi warga sekitar. Petilasan sendiri berarti suatu tempat yang dikeramatkan karena pernah menjadi lokasi yang pernah disinggahi atau didiami oleh seorang tokoh publik di masa lalu yang dianggap penting. Mitos hanya tinggal cerita picisan, mengotori tempat keramat siapa peduli.

Lewat cerita takhayul, masyarakat baheula bisa lebih enviromentalis. Dan untuk masyarakat kekinian kudu pakai apa coba? Ditulis di hukum pidana pun masih banyak yang mengacuhkan. Meski disamakan dengan hewan lewat coretan “TONG MICEUN RUNTAH DI DIEU ANJING!”, tetap saja banyak yang menghinakan dirinya lewat buang sampah seenaknya.

Kasihan benar Gunung Munjul, karena mungkin sebentar lagi akan tertandingi dengan gunung sampah di sebelahnya. Dan sungguh beruntung Prabu Kian Santang nggak perlu tutup hidung pas dulu nilas di sini.

 

Tautan asli: http://arifabdurahman.com/2015/03/25/singgahnya-kian-santang-di-tumpukan-sampah/

Di Bukit Tegak Lurus dengan Langit *)

Posted in Bandung Selatan, Catatan Perjalanan, Kabupaten Bandung, Makam with tags , , , , , , , , , on Maret 25, 2015 by KomunitasAleut!

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN8335

Di kampung saya–di Selatan Sukabumi, tak jauh dari rumah; berjajar beberapa bukit (Sunda : pasir) yang memanjang dari Timur ke Barat. Persis di belakang rumah ada Pasir Pogor, kemudian Pasir Gundul, Pasir Hiris, dan Pasir Hanjuang, lalu di akhiri dengan sebuah bukit yang melintang dari Selatan ke Utara, yang dinamai dengan Pasir Malang. Waktu Ahad kemarin (22/03/2015) mengunjungi bukit Munjul dan Culanagara di wilayah Bandung Selatan, tentu saja ingatan melayang ke bukit-bukit yang saya sebutkan tadi. Ada kesamaan yang sangat jelas, yaitu tentang tempat-tempat keramat yang berada di puncak bukit.

Di Pasir Hiris ada beberapa makam yang dikeramatkan, dan konon sering diziarahi oleh orang-orang dari luar kota (terutama Jakarta). Ditemani oleh sang juru kunci, mereka kerap melaksanakan ritual yang diisi dengan do’a-do’a. Saya sendiri baru menyadari kemudian ihwal makam keramat itu, sebab waktu kecil saya hanya menganggapnya tak lebih dari makam biasa saja. Hanya letaknya yang memang terasa ganjil. Di pasir yang lain sebenarnya ada juga beberapa makam, namun makam yang tadi adalah yang paling terkenal.

Kecenderungan tempat-tempat keramat di ketinggian bukan hanya ada di Tatar Priangan, sebab di Pulau Jawa bagian Tengah dan Timur banyak juga terdapat hal demikian. Di Cirebon pun, sebagai suatu wilayah yang kerap “enggan” disebut Sunda—bahasa dan catatan sejarah banyak menulis hal ini, terdapat juga tempat keramat yang letaknya di ketinggian. Dalam buku Ziarah & Wali di Dunia Islam yang naskahnya dikumpulkan oleh Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot, terdapat keterangan sebagai berikut :

“Kompleks keramat Sunan Gunung Jati mencakupi dua bukit , yaitu Bukit Sembung dan Bukit Gunung Jati, yang hanya berjarak beberapa ratus meter. Bukit Gunung Jati bisa dipastikan sudah keramat pada jaman pra-Islam. Orang setempat masih mengenang bahwa api besar-besaran kadang-kadang di nyalakan di puncaknya, yang dianggap dan dikeramatkan sebagai puseur alam. Kepercayaan-kepercayaan kuno sedikit demi sedikit telah diintegrasikan dalam kerangka Islam, namun bukit ini tetap mempunyai ciri sakral.”

DSCN8300

Ada tiga kata yang bisa ditangkap dari kutipan tersebut. Pertama “bukit”, kedua “pra-Islam”, dan yang ketiga adalah “diintegrasikan”. Di beberapa petilasan yang diyakini sebagai rute pelarian Prabu Siliwangi sewaktu dikejar oleh Kian Santang—anaknya yang hendak meng-Islamkan sang bapak (salahsatunya di bukit Munjul), kepercayaan masyarakat terbelah dua; yang pro Siliwangi melakukan ritual dengan nuansa Hindu, sedangkan yang berpihak kepada Kian Santang dengan ritual bernuansa Islam. Entah bagaimana perbedaan ritualnya, mungkin terletak pada do’a.

Kutipan di atas pun menyatakan sebuah alur, bahwa kata “pra-Islam” menunjukan adanya kekuatan politik dan kepercayaan yang mendahului Islam sebagai pemenang selanjutnya. Sebagai pemenang tentu saja leluasa membuat narasi sejarah, dan atau menempel lalu menggantikan simbol-simbol si kalah. Kata “diintegrasikan”—bukan “terintegrasikan”, jelas adalah kata aktif, artinya sebagai bentuk penyengajaan. Hal ini mungkin juga berlaku pada perlakuan dan penamaan situs-situs, makam keramat, dan petilasan yang lain.

Selain itu, kalau kita amati, banyak juga komplek pemakaman Cina yang berada di dataran tinggi. Beberapa contoh antara lain; Sentiong di Sukabumi, Pasir Hayam di Cianjur, Lereng Tidar di Magelang, dan Cikadut di Bandung. Artinya pemilihan bukit sebagai tempat tinggi bukan kepercayaan yang dimonopoli oleh etnis dan kepercayaan tertentu saja. Bukit sebagai sebuah dataran tinggi, bahkan telah juga dituliskan pada teks-teks jaman kenabian. Bukankah bukit Tursina disebutkan dalam riwayat Nabi Musa?, dan Jabal (gunung) Nur ada dalam lintasan sejarah Nabi Muhammad?

Membahas kaitan antara tempat-tempat tinggi dengan kepercayaan manusia mungkin bisa ditulis dari ragam perspektif, namun saya hendak mencatatnya dari sudut pandang tempat tinggal dan budaya produksi pangan etnis Sunda jaman baheula.

Tapi sebelum masuk ke sana, mungkin ada baiknya kita sadari dulu sebuah kenyataan, bahwa fakta-fakta sejarah di negara kita—terutama era pra kolonial, seringkali dipadukan dan lebur bersama mitos dan legenda.  Dalam sebuah pengantar yang beraroma pujian di buku Bo’ Sangaji Kai-Catatan Kerajaan Bima–penyunting buku tersebut menulis hal berikut :

“Sumber-sumber Eropa terutama sumber Belanda umumnya dianggap lebih berguna daripada sumber-sumber lokal, oleh karena orang Eropa sudah lama mengembangkan satu usaha pendokumentasian yang tepat dan lengkap. Berbagai bentuk arsip yang dikembangkan oleh orang Eropa selama berabad-abad sarat dengan fakta, angka, nama, dan tanggal. Arsip jenis itulah yang menjawab pertanyaan para sejarawan modern, sedangkan sumber-sumber berbahasa Melayu, seperti juga sumber dalam bahasa-bahasa lain di Indonesia, seringkali mamadukan mitos, legenda, dan sejarah, sehingga sukar dimanfaatkan. Karya-karya sejarah yang ditulis dalam bahasa Melayu di Bima (Pulau Sumbawa) merupakan satu kekecualian yang gemilang.”

Anggaplah saya imperior dengan mengiyakan kutipan tersebut, tapi kenyataannya memang demikian.

***

DSCN8364

Menurut Drs. Saleh Danasasmita dalam buku berbahasa Sunda yang berjudul Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi, beliau menjelaskan bahwa type masyarakat di Indonesia terbagi menjadi tiga, yaitu; masyarakat sawah, masyarakat ladang (huma), dan masyarakat pesisir. Pajajaran (Sunda) termasuk ke dalam type masyarakat ladang (huma).

Bukti-bukti sejarah mengenai hal ini bisa ditemukan pada beberapa catatan. Pertama,  dalam buku Priangan, de Haan menginformasikan bahwa system pertanian sawah di Jawa Barat dimulai oleh van Imhoff. Di Bogor, daerah pertama yang membuka lahan sawah adalah Cisarua, yang petaninya didatangkan dari Tegal dan Banyumas. Untuk selanjutnya daerah Bogor dijadikan “daerah bebas huma” oleh Yakob Mossel yang menggantikan van Imhoff pada tahun 1750. Selain itu, beberapa istilah yang digunakan oleh petani Sunda dalam ngawuluku dan ngagaru, umumnya bukan kosa kata Sunda, melainkan kosakata Jawa, seperti : kalen, mider, luput, sawed, arang, damping, dll.

Kedua, dalam Carita Parahiyangan—yang merupakan hasil sastra jaman Pajajaran, tidak terdapat istilah husus “patani”, tapi “pahuma”. Dalam naskah yang lain disebutkan bahwa perkakas yang disebut hanyalah kujang, baliung, patik, korěd, dan sadap; yang semuanya adalah perkakas untuk berladang.

Ketiga adalah dokumen tradisi seperti yang terdapat di suku Baduy kiwari. Orang Baduy yang masih memegang teguh adat kebiasaan leluhurnya cadu untuk bertani di sawah.

Dan yang terakhir adalah berdasarkan kepada dokumen lisan dalam bahasa Sunda yang terkait dengan bahasa Indonesia. Huma dalam bahasa Indonesia artinya rumah, sedangkan ladang dalam bahasa Sunda artinya hasil. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa huma adalah ya rumah itu sendiri. Ini bisa juga diperkuat dengan kebiasaan orang tua dulu ketika melarang anaknya yang sedang bertengkar atau berselisih, mereka kerap berucap; “Ulah sok pasěa jeung dulur, bisi pajauh huma!” (Jangan bertengkar dengan saudara, nanti huma/rumah-nya berjauhan).

Dari keempat hal tersebut di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Sunda pada mulanya adalah masyarakat ladang/huma, yang secara geografis mayoritas berada di dataran tinggi (minimal lebih tinggi dari sawah)—umumnya disebut dengan bukit. Karakter tanah huma pada umumnya tidak bisa ditanami tumbuhan pangan secara berulang-ulang, oleh sebab itu para pehuma biasanya berpindah-pindah tempat ketika hendak menanam padi. Hal tentu berpengaruh juga dengan tempat tinggal, artinya perkampungan pun mesti pindah berkali-kali.

DSCN8387

Lalu apa kaitannya antara masyarakat huma dengan beberapa situs, makam keramat, dan petilasan yang berada di Priangan? Jika dilihat dari posisi, keberadaan tempat-tempat yang keramatkan sesuai dengan kebiasaan tempat tinggal orang Sunda baheula, yaitu di dataran tinggi. Selain itu, letaknya yang berjauhan danancal-ancalan, menandakan bahwa memang karakter masyarakat huma adalah nomaden.

Kita kerap mendengar beberapa ungkapan yang menunjukkan Tuhan (sesuatu/dzat yang tidak terjangkau kecuali dengan kepasrahan) dengan kata “di atas”, misalnya; “Kita serahkan kepada yang di atas”, atau “terserah yang di atas”. Dalam konteks ini, barangkali posisi beberapa situs, makam keramat, dan petilasan yang berada di ketinggian adalah simbol tentang dzat yang tidak terjangkau. Sesuatu yang tidak tergapai oleh logika, dan sumerah menjadi jalan pilihan.

Namun dalam masyarakat Sunda yang sudah Islam, agak sulit jika menganggap semua yang keramat-keramat itu sebagai Tuhan, bagi mereka mungkin lebih tepat sebagai batu pijakan menuju yang di atas yang lebih mutlak. Beberapa kelompok dalam masyarakat Sunda Islam (biasanya kaum nahdliyin/NU)–ketika berdo’a, kerap menyebut beberapa syekh dan atau wali yang disebut tawasul. Penyebutan ini bukan berarti menganggap orang-orang saleh itu Tuhan, namun sebagai jembatan menuju Tuhan.

Maka dengan meredakan sangka buruk (suudzon) tentang praktek kemusyrikan; keberadaan situs, makam keramat, dan petilasan di bukit adalah sebuah simbol agar bisa tegak lurus dengan langit. Ya, lurus ke atas—ke hadirat Tuhan. [ ]

 

*) Tegak Lurus dengan Langit adalah salahsatu judul cerpen Iwan Simatupang

 

Foto : Arsip Irfan TP

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.com/2015/03/di-bukit-tegak-lurus-dengan-langit.html

 

Situ Sipatahunan

Posted in Bandung Selatan, Catatan Perjalanan, Kabupaten Bandung with tags , , , , , on Maret 25, 2015 by KomunitasAleut!

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Tergolek janji berahi. 

Tumpur dalam keangkuhan jaman. (Juniarso Ridwan – Asap di Atas Bandung)

Sebetulnya saya agak malu dengan pengetahuan saya tentang tempat wisata di Bandung Selatan. Tempat wisata di Bandung Selatan yang pernah saya kunjungi hanya di Ciwidey dan Cibuni. Saat itu, saya merasa gagal sebagai warga Bandung yang harusnya kenal Bandung.

Setelah mengetahui pengetahuan saya yang kurang tentang Bandung Selatan, saya coba ikuti kegiatan ngaleut Ciparay bersama Komunitas Aleut. Objek – objek ngaleut Ciparay yakni Situ Sipatahunan, Bukit Munjul, dan Bukit Cula.

Kali ini, tulisan pertama saya tentang Situ Sipatahunan. Kenapa harus Situ Sipatahunan dulu? Tentu saja karena Situ Sipatahunan adalah salah satu tempat wisata yang memprihatinkan.

Situ Sipatahunan dulu dan kini

Sawah dekat Situ Sipatahunan

Menurut warga, Situ Sipatahunan yang sekarang adalah  bekas sawah  milik warga. Sawah – sawah tersebut berada di cekungan. Oleh karena itu, cekungan tersebut sering menjadi danau tadah hujan saat hujan.

Pada akhir tahun 1970-an, pemerintah membeli sawah –  sawah tersebut untuk diubah menjadi danau buatan. Fungsi awal danau buatan tersebut adalah sebagai pengairan sawah sekitarnya.

Sekarang ini, fungsi danau bertambah menjadi tempat wisata dengan nama Situ Sipatahunan. Selain tempat wisata, Situ Sipatahunan sering dipakai oleh warga sebagai tempat pemancingan. Kalau musim kemarau, warga sekitar sering memakai air di Situ Sipatahunan untuk kebutuhan sehari – hari.

Situ Sipatahunan, tempat wisata yang setengah matang

Walaupun memiliki status sebagai tempat wisata, jalan  yang menuju Situ Sipatahunan tergolong tidak layak. Jalan sepanjang 1,5 km tergolong sempit dan tidak rata. Sehingga, saya tidak bisa membayangkan bus wisata berukuran besar bisa melalui jalan tersebut.

Setelah jalan selama 15 menit, pemandangan Situ Sipatahunan akan terlihat. Pemandangan Situ Sipatahunan lebih diisi dengan warna hijau dan coklat muda. Warna hijau berasal dari pohon – pohon di gunung yang berada di belakang Situ Sipatahunan. Sedangkan warna coklat muda berasal dari air Situ Sipatahunan.

Situ Sipatahunan dan TPS

 

Rasanya ada yang mengganggu pemandangan Situ Sipatahunan. Gangguan tersebut berasal dari dua Tempat Pembuangan Sampah (TPS) . TPS tersebut berlokasi dekat dengan Situ Sipatahunan.

Selain TPS, terdapat satu hal lagi yang mengganggu pemandangan Situ Sipatahunan. Gangguan tersebut datang saat saya ingin buang sampah. Situ Sipatahunan yang berstatus tempat wisata tidak memiliki tempat sampah. Mungkin karena itulah, saya menemukan banyak sampah yang tercecer di sekeliling Situ Sipatahunan.

Melihat banyak kekurangan Situ Sipatahunan yang disebabkan oleh manusia. Rasanya Situ Sipatahunan kurang mendapat penghargaan dan perawatan dari warga dan pemerintah. Mungkin dengan sedikit perawatan, Situ Sipatahunan akan indah seperti seharusnya.

Keindahan Situ Sipatahunan tanpa TPS

 

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/03/24/catatan-perjalanan-situ-sipatahunan/

Cheng Beng ala Komunitas Aleut

Posted in Catatan Perjalanan, Makam with tags , , , , on Maret 25, 2015 by KomunitasAleut!

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Cheng Beng merupakan suatu tradisi ziarah kubur etnis Tionghoa yang diselenggarakan setiap tanggal 4,5,dan 6 April. Dalam kepercayan Tionghoa pada tanggal-tanggal tersebut arwah nenek moyang mereka turun ke bumi. Para keturunan wajib berziarah mendatangi kuburan leluruhnya. Dalam tradisi tersebut, para keturunan Tionghoa datang membersihkan makam leluhur, sembahyang, sambil membawa makanan yang diletakkan di altar. Menurut penuturan Abah Asep Suryana yang menjadi interpreter Aleut kali ini, setelah melaksanakan ritual, makanan tersebut dibawa pulang untuk dimakan bersama-sama di rumah.

Abah Asep Suryana juga menceritakan pengalaman masa kecilnya. Dalam rentang tahun 1972-1977, Abah Asep bersekolah di SD Negeri IV Cikadut di Kampung Jarambas yang tidak jauh dari TPU Hindu-Buddha Cikadut. Bagi beliau, TPU Hindu-Buddha ini merupakan tempat bermain ketika istirahat ataupun selepas pulang sekolah.

Sekitar tahun 1970-an, setiap kali ada perayaan Cheng Beng, parkiran Cikadut tidak mampu menampung banyaknya kendaraan peziarah yang berkunjung karena meluap hingga ke sepanjang Jalan Raya Timur (Jl. A.H. Nasution sekarang). Apabila perayaan Cheng Beng jatuh pada hari sekolah, ada segelintir teman SD Abah membolos untuk  mencari uang jajan sebagai cleaning service kuburan dadakan.

Sekarang, perayaan Cheng Beng tidak seramai dahulu. Menurut Andry Harmony yang sempat berdiskusi dengan saya di Facebook, salah satu penyebab perayaan Cheng Beng tidak seramai dahulu disebabkan terjadinya pergeseran tradisi pemakaman etnis Tionghoa. Tradisi pemakaman yang awalnya dilakukan dengan cara penguburan di tanah beralih dengan cara dikremasi kemudian dilarung ke laut. Pergeseran tradisi ini disebabkan oleh keterbatasan lahan TPU Cikadut karena semenjak tahun 1990, luas area TPU  tidak diperluas lagi sehingga petugas dinas pemakaman menyarankan kremasi sebagai solusi alternatif untuk memakamkan. Selain itu, juga karena maraknya penjarahan makam yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Penjarahan tak hanya mengambil pagar besi di permukaan, banyak pula makam-makam yang dibongkar untuk diambil perhiasan ataupun barang berharga yang biasanya turut dikubur bersama jenazah.

***

hani1

Cheng Beng ala Komunitas Aleut berlangsung pada Minggu, 15 Maret 2015, tepat sehari setelah Kirab Cap Go Meh yang diadakan oleh Pemerintah Kota Bandung. Cheng Beng ala Komunitas Aleut bertujuan untuk belajar dan mengeksplorasi kawasan TPU Cikadut seluas lebih dari 100 ha yang terletak di timur Kota Bandung. Dengan luas tersebut, TPU Cikadut dinobatkan sebagai nekropolis terbesar se-Asia Tenggara (Nanang Saptono, 2015).

#InfoAleut: Ngaleut Ciparay

Posted in Info Kegiatan, Poster Kegiatan on Maret 21, 2015 by KomunitasAleut!

2015-03-22 Ciparay 2

Hari Minggu (22/03/2015) kita akan… “Ngaleut Ciparay”. Mari cari tahu mengenai beberapa situs yang ada di daerah ini.

Apa saja situs yang akan kita kunjungi? Bagaimana keadaan situs tersebut? Benarkah di akhir kegiatan akan ada makan bersama? Daripada bingung, mending ikutan aja :)

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di Circle-K Buah Batu (sebelah Domino’s Pizza) pukul 07.30 WIB. Untuk yang akan bawa sepeda motor, mohon membawa dua helm supaya Aleutians lain yang ga bawa motor bisa nebeng :D

Nah, jangan lupa untuk konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Kirim SMS dengan format nama, kesedian untuk ikut serta, dan keterangan apakah bawa motor atau tidak. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah :)

Cara Gabung Aleut

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D

Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :)

Catatan Perjalanan: Makam Buniwangi yang Keramat

Posted in Catatan Perjalanan, Makam with tags , , , , , on Maret 19, 2015 by KomunitasAleut!

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

buni, teu babari katembongna, katenjona, lantaran katutupan (pengertian Buni di Kamus Basa Sunda)

Sebetulnya, Bandung dan sekitarnya adalah kota yang memiliki banyak makam keramat. Makam keramat seperti makam di Caringin Tilu, Gunung Batu, dan Pageur Maneuh adalah sedikit makam keramat yang berada di Bandung. Salah satu makam keramat yang berada di Bandung adalah makam Buniwangi.

Buniwangi, salah satu makam keramat di Bandung

Salah satu makam keramat di Buniwangi

Salah satu makam keramat di Buniwangi

 

Makam yang berada di Desa Buniwangi adalah makam yang pernah dicantumkan oleh Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya. Dalam tulisannya, Haryoto Kunto mendeskripsikan kondisi makam Buniwangi yang tua dan berlumut.

Menurut kuncen Buniwangi, makam Buniwangi memiliki hubungan dengan beberapa orang. Pada awalnya, makam Buniwangi adalah salah satu lokasi pelarian Prabu Siliwangi. Setelah menjadi tempat pelarian, lokasi makam Buniwangi menjadi tempat Dalem wangi. Setelah Dalem wangi pindah ke Subang, lokasi makam Buniwangi dimiliki oleh Buniwangi atau Kentringmanik.

Perlu kita ketahui bahwa Kentringmanik adalah “penguasa gaib” kota Bandung. Konon menurut W. H. Hoogland, Kentringmanik adalah dewi penguasa mata air Sungai Citarum. Selain itu, tokoh Kentringmanik adalah permaisuri Prabu Siliwangi.

Di dalam komplek Makam Buniwangi

Pendopo dan Paseban di Makam Buniwangi

Pendopo dan Paseban di Makam Buniwangi

 

Terdapat dua kawasan saat berada di komplek Makam Buniwangi. Kawasan tersebut antara lain Paseban dan Pendopo. Paseban adalah tempat ritual yang berada di Makam Buniwangi. Sedangkan Pendopo adalah lokasi makam keramat Buniwangi.

Sesajen di Makam Buniwangi

Sesajen di Makam Buniwangi

 

Saat berada di Paseban, kita akan menemukan banyak sesajen yang berada di makam. Menurut kuncen Buniwangi, sesajen yang berada di makam adalah upeti atau pajak peziarah untuk Buniwangi. Sesajen yang diberikan berupa telur dan kopi.

Terdapat larangan yang harus dipatuhi saat berada di komplek Makam Buniwangi. Larangan tersebut antara lain melepas alas kaki di pohon dan mengucapkan salam saat berziarah.

Menurut kuncen Buniwangi, pohon – pohon yang ditanam di komplek Makam Buniwangi bermacam – macam. Terdapat lima jenis pohon yang tumbuh di komplek makam. Pohon tersebut antara lain pohon Jajaway, Nunuk, Kawung, Lame, dan Pancawarna atau Limawarna. Salah satu pohon yang sudah lama tumbuh di makam adalah pohon Jajaway.

Pintu masuk makam Buniwangi

Pintu masuk makam Buniwangi

 

Sumber Bacaan :

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Kamus Basa Sunda karya R. A. Danadibrata

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/03/15/catatan-perjalanan-makam-buniwangi-yang-keramat/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.258 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: