Dunia Aleut!

Catatan Bandung karya Komunitas Aleut!


2 Komentar

Riungan Buku Aleut

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

riungan buku aleut

“Aku agak introvert. Aku tidak terlalu nyaman dengan klub buku, kecuali klub bukunya kecil dan orang-orangnya sudah kukenal baik,” ungkap sang penulis Lelaki Harimau saat ditanya soal pentingnya klub buku dalam pos Eka Kurniawan: Aku Lebih Ingin Membesarkan Diriku Sebagai Pembaca Daripada Penulis di Revi.us. Seperti inilah saya, meski hidup di orde kebebasan berpendapat, saya lebih senang jadi pendengar.

Namun beruntunglah kita bisa hidup tanpa takut diawasi teleskrin dan diciduk polisi pikiran seperti pada novel ‘1984’. George Orwell dalam karyanya ini menggambarkan soal negara yang adem ayem, bukan karena penduduknya memang adem ayem, namun karena mulut mereka dibungkam dan jika mereka sedikit saja membuka mulut, mereka akan diuapkan, dilenyapkan. Diskusi diharamkan, buku dimusnahkan. Kita tahu, buku sebagai produk intelektual butuh pertukaran gagasan – bukan hanya antara penulis dan pembaca, tapi juga antara pembaca dan pembaca. Sebab lewat budaya literasi dan diskusi, bisa muncul yang namanya revolusi. Maka patut bersyukur Komunitas Aleut eksis di masa kondusif, ketika bisa bebas berpikir dan bebas bicara tanpa ada yang harus ‘diuapkan’ Bung Besar dan Partainya. Nggak perlu sembunyi-sembunyi melakukan sebuah riungan.

Di antara sebab kebahagiaan adalah meluangkan waktu untuk mengkaji, menyempatkan diri untuk membaca, dan mengembangkan otak dengan hikmah-hikmah. Jika teman duduk terbaik adalah buku, maka teman nongkrong terbaik adalah mereka yang bisa diajak berbagi hikmah. Warga Bandung sendiri adalah manusia yang hobi ‘ngariung’, senang kumpul bareng-bareng. Dari sekedar untuk berbagi omong kosong dan keluh kesah sampai untuk beradu pemikiran dan ide.

karena setiap lembarnya, mengalir berjuta cahaya
karena setiap aksara membuka jendela dunia

Setiap Sabtu di Kedai Preanger yang berlokasi di Jl. Solontongan 20D, Buahbatu,  rutin diadakan acara resensi buku bersama kawan-kawan dari . Buku yang dibaca kemudian diresensi secara lisan cukup beragam; sejarah, sastra, filsafat, budaya, dan lainnya. Baik non-fiksi dan fiksi, dari karya klasik sampai kontemporer kita bahas sampai menjelang malam Minggu.

Kelas resensi buku secara lisan ini diharapkan menjadi pijakan untuk melatih keterampilan berbahasa; menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sebabnya keterampilan berbahasa ini erat kaitannya soal pola pikir seseorang. Nah, inilah hal paling penting, untuk merubah pola pikir lewat adanya pembudidayaan literasi dan diskusi. Pola pikir adalah kunci! Ini mengingatkan pada sabda Lao Tze, “Jika kau ingin mengubah takdirmu, ubahlah kebiasaanmu. Jika kau ingin mengubah kebiasaanmu, ubahlah tindakanmu. Jika kau ingin mengubah tindakanmu, ubahlah perkataanmu. Dan jika kau ingin ingin mengubah perkataanmu, ubahlah pola pikirmu.”

Jangan bermimpi bisa melakukan revolusi terhadap kedzaliman seorang Bung Besar, jika untuk merevolusi diri sendiri pun nggak becus. Ini semata-mata kecaman buat diri sendiri sih. Revolusi diri! Ya, sebuah revolusi yang akan tercipta lewat jalan literasi, teman diskusi, dan mungkin sempurnakan dengan secangkir kopi. Ah ya, sesungguhnya nggak ada yang bisa mengalahkan kepuasan masturbasi jenis ini. Selamat berevolusi!

Lego ergo scio!

+

Post-scriptum:

“Riungan Buku Aleut” sendiri adalah istilah yang dilemparkan kamerad Irfan TP (@irfanteguh) di pos Kelas Resensi Buku Komunitas Aleut.

Buku yang saya baca dan resensi

  1. Baruang Kanu Ngarora – D. K. Ardiwinata (4 Juli 2015)
  2. Sabda Zarathustra – Friedrich Wilhelm Nietzsche (25 Juli 2015)
  3. The Professor and The Madman – Simon Winchester (8 Agustus 2015)
  4. Haji Murad – Leo Tolstoy

 

Tautan asli: http://yeaharip.com/2015/08/10/riungan-buku-aleut/


Meninggalkan komentar

Ngaleut Sebagai Piknik Sokratik

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Wanderer Above the Sea of Fog – David Caspar Friedrich

Wanderer Above the Sea of Fog – David Caspar Friedrich

Di tengah siang yang terik dan kuno, terlihat Socrates dengan pakaian gembelnya sedang keluyuran, gudag-gidig di seputaran pasar Athena. Edan, sang filsuf ini ujug-ujug berdiskusi soal Tuhan dengan seorang penjual ikan: menjelaskan kalau dewa-dewi nggak ada. Ini bukan satu dua kali, tapi gurunya Plato ini sudah kelewat sering. Karena dianggap subversif, maka hukum minum racun menghadapinya. Ya, hukuman memang selalu menimpa kepada mereka yang serba ingin tahu dan banyak tahu.

Berabad-abad kemudian, tindakan sokratik ini, khususnya di kegiataan jalan-jalan nggak jelas di pusat perkotaan, diamalkan oleh para kaum borjuis Prancis. Dari cendekia, filsuf, penulis, pelukis, atau seniman yang ingin mencari inspirasi ya keluyuran sendirian di jalanan Paris. Sebuah aktivitas filosofis dengan berjalan kaki ini selanjutnya beken dengan istilah flâneur, yang kemudian diperagakan nggak hanya di kota mode ini saja. Mungkin pada kenal Chairil Anwar kan? Nah, sastrawan ini adalah contoh flâneur dari Indonesia.

All great thoughts are conceived by walking,” sebut Nietzsche. Memang, pada mulanya belajar filosofi kehidupan adalah soal pekerjaan kaki. Suatu kegiatan membaca juga, tapi lebih ke arah membaca ‘ayat kauniah’, beragam teks dalam wujud benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. “Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan dari permulaannya…,” kata-Nya.

Lain di Athena sebelum Masehi, lain juga di Paris saat memasuki abad modern, maka di Bandung kekinian – di abad pertama milenia ketiga – muncul gerakan subkultur berbasis platform sejarah yang gelisah akan kondisi kotanya: Komunitas Aleut! 

Aleut, with intermission, one by one said of people walking, like all natives do, in a row, one by one after each other.

Rigg, Jonathan. 1862. A Dictionary of The Sunda Languange of Java. Batavia: Lange & Co.

Sisa dari suatu kebudayaan masyarakat agraris. Sebagaimana para petani beramai-ramai melintasi jalan setapak, ‘Aleut’ dalam bahasa Sunda memiliki arti berjalan berbanjar atau beriringan yang dilakukan sekelompok orang. Inilah yang kerap dilakukan Komunitas Aleut! Beriringan keliling kota, untuk lebih mengenal kotanya, mengenal sesamanya, dan mungkin mengenal dirinya. Dalam upaya membaca ayat kauniyah tadi.

The Exodus – Horace William Petheric

Secara historis, kegiatan ngaleut tentunya bukan hanya milik masyarakat Sunda. Sejak manusia hidup di muka bumi, sebagai zoon politikon, pastinya dalam bepergian seringnya dalam kawanan. Kisah hijrahnya Bani Israil yang dipimpin Nabi Musa menuju tanah harapan dengan melewati Laut Merah tentunya bisa disebut sebagai “ngaleut paling akbar di dunia”. Maka, tindakan ngaleut bisa diartikan sebagai sifat alamiah manusia; bergerak bersama kelompok, bepergian beriringan untuk memetik kebaikan.

Seperti Socrates, membantu orang-orang melahirkan pengetahuan dari dalam dirinya sendiri melalui dialog-dialog. Rupanya para jamaah Aleut pun banyak menemukan data menarik dari warga sekitar yang justru nggak ada di dalam buku sejarah. Karena memang, metode sokratik sendiri menitikberatkan kekuatannya bukan pada jawaban, melainkan pada pertanyaan. Sehingga bikin kita terus merasa haus untuk bertanya dan mempertanyakan. Untuk apa sebenarnya? Pastinya agar semakin arif.

Dalam perjalan selama setahun berkecimpung di Komunitas Aleut!, maka saya ingin mencoba meredefinisi istilah ‘ngaleut’ secara filosofis dan spiritual, kalau boleh dibilang mungkin rada sufistik lah.

 

Tautan asli: http://yeaharip.com/2015/08/04/ngaleut-sebagai-piknik-sokratik/


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Ngaleut Kampung Mahmud

11896093_668660523264752_2691160768431020770_n

#InfoAleut Hari Minggu (30/08/2015) kita akan… “Ngaleut Kampung Mahmud”. Mari bersama-sama mengenal kampung adat yang ada di kawasan selatan Bandung.

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di Museum Sri Baduga pukul 07.00 WIB. Bawa uang Rp 25.000,00 untuk biaya akomodasi :D

Nah, jangan lupa untuk konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup kirim SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah :)

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D

Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :)


Meninggalkan komentar

Palang Merah, Romansa Zaman Perang, dan Perjuangan di Zaman Merdeka

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Aryvc5bPZ8iDx38H5qzqN98Xtn9QwN4MDry3kXR5vCad

Setelah dua puluh empat tahun tinggal di Bandung, baru hari Minggu kemarin (16 Agustus 2015) saya masuk ke Taman Makam Pahlawan Cikutra. Kesempatan ini saya dapatkan bersama-sama dengan Komunitas Aleut saat Ngaleut Taman Makam Pahlawan. Kami berkunjung dalam rangka nyekar menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia dan juga mencari tahu siapa saja tokoh yang dimakamkan di sini. Berdasarkan hasil membaca artikel di dunia maya, ada banyak tokoh nasional yang dimakamkan di sini seperti Abdul Muis dan Eugene F.E. Douwes Dekker.

Dalam penelusurannya, kami memang menemukan kedua nama tersebut. Dua orang kawan bahkan menyempatkan diri untuk menaruh karangan bunga di makam E.F.E. Douwes Dekker, yang belakangan dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi. Nama Setiabudi diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung.

AriISz8kRpkZt-maNhhb-9jvN3KaLp9i65B1eEVBr4c6

Di blok yang berada tak jauh dari makam Setiabudi, saya menemukan satu makam yang entah mengapa bisa menggetarkarkan hati saya cukup kuat. Di permukaan nisan tertulis “Ny. Emi, P.M.I., Gugur 11-9-1945”.

IMG_5285

Saat melihat kata “P.M.I” dan “gugur”, saya teringat kembaliakan cerita guru SD saya tentang Palang Merah dan perang. Saat sedang memberikan pertolongan, Palang Merah akan mengibarkan benderanya dan selama bendera berkibar, titik itu tidak boleh diserang. Hal ini tercantum di dalam Hukum Perikemanusiaan Internasional. Mungkin saat bertugas, Ny. Emi terkena peluru nyasar yang merenggut nyawanya. Semoga Tuhan YME memuliakan beliau di sisi-Nya.

***

Peperangan, seburuk apapun keadaanya, selalu meninggalkan sebuah cerita menarik antara dua insan. Di antara desingan suara peluru dan ledakan bom, tumbuh roman antara pejuang dan perawat. Mungkin roman ini awalnya hanya sekedar cinta lokasi. Para pejuang yang berada di pos pertahanan atau rumah sakit selalu disambut para perawat yang siap merawat atau membantu logistik para pejuang. Setelah bisa mengenal satu sama lain karena frekuensi bertemu yang tinggi, muncullah benih cinta itu.

Dalam buku A Farewell To Arms karya Ernest Hemingway. Frederic Henry, seorang tentara Amerika yang menjadi tokoh utama di novel ini, jatuh cinta kepada seorang perawat bernama Catherine Barkley. Romansa ini berawal dari rumah sakit, saat Henry terluka terkena pecahan mortir. Selama masa perawatan, Henry dirawat oleh Barkley hingga akhirnya Henry sembuh. Luka sembuh, cinta tumbuh. Keduanya jatuh cinta hingga dikaruniai keturunan.

Romansa Henry-Barkley sendiri diambil dari pengalaman Hemingway sendiri saat ia jatuh cinta kepada Agnes von Kurowsky, seorang perawat yang ia temui di Italia saat Perang Dunia I. Bahkan tulang rusuk Christine Barkley diambil dari sosok von Kurowsky. Sayangnya, saat Hemingway ingin meminang von Kurowsky, ia harus segera kembali ke Amerika. Keadaan tak berpihak pada Hemmingway.

Hemingway bukanlah satu-satunya penulis yang mengabadikan memori kisah cintanya dalam sebiah buku. Di Indonesia, kisah cinta perawat-pejuang juga diabadikan Jus Rusady dalam memoarnya yang berjudul Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Dalam memoarnya, Jus Rusady beberapa kali menyinggung tentang para pejuang yang seringkali menggoda para perawat di pos pertahanan. Tak sedikit para pejuang yang akhirnya berpacaran dengan perawat, bahkan hingga naik ke pelaminan. Jus Rusady sendiri adalah contohnya. Ia menikahi Marry Z. Abdullah, seorang perawat yang ia temui di saat sedang mengungsi dari Bandung. Salah satu buah hati Jus Rusady dan Marry Abdullah yang paling familiar di mata kita adalah Paramitha Rusady, anak bungsu dari pernikahan mereka.

Teteh Mitha bersama ayahnya, Jus Rusady, dalam acara bedah buku Tiada Berita dari Bandung Timur pada bulan Maret 2015

Teteh Mitha bersama ayahnya, Jus Rusady, dalam acara bedah buku Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947 pada bulan Maret 2015 (dokumentasi pribadi)

***

Di era kemerdekaan ini, sebetulnya perjuangan para pahlawan masih bisa kita teruskan melalui Palang Merah Indonesia dengan cara yang cukup mudah: mendonorkan darah. Sering kita temui kabar di media sosial tentang kekurangan stok darah golongan tertentu. Kekurangan ini sebetulnya masih bisa diatasi dengan cara rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan sekali.

Keinginan untuk mendonorkan darah seringkali terbentur dengan ketakutan para calon pendonor akan jarum, apalagi jarum yang digunakan untuk melakukan donor ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari jarum suntik biasa. Merasa ngeri? Tak perlu sebetulnya. Rasa takutakan jarum bisa diatasi dengan cukup mudah. Ingat saja baik-baik dalam hati bahwa dengan melawan rasa takut ini, kita bisa menolong nyawa lain.

Ah, siapa tahu juga dengan rajin donor darah kita bisa mengalami romansa yang diceritakan Hemingway dan Jus Rusady.

 

Tautan asli: https://aryawasho.wordpress.com/2015/08/28/palang-merah-romansa-zaman-perang-dan-perjuangan-di-zaman-merdeka/


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Ngaleut Cisanggarung

2015-08-23 Cisanggarung

#InfoAleut Hari Minggu (23/08/2015) kita akan… “Ngaleut Cisanggarung”. Mari bersama-sama menjelajahi daerah yang ada di kawasan Bandung Timur ini.

Apa saja yang ada di kawasan ini? Apakah betul ada curug yang cukup terkenal di sini? Yuk kita cari tahu bersama :)

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di Circle-K Buah Batu (Sebelah Domino’s Pizza) pukul 07.00 WIB. Bawa catatan dan alat tulis, siapa tahu ada hal menarik yang harus dicatat. Untuk yang akan bawa sepeda motor, mohon membawa dua helm supaya Aleutians lain yang ga bawa motor bisa nebeng :D

Nah, jangan lupa untuk konfirmasikan kehadiranmu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup kirim SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah :)

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D

Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :)


Meninggalkan komentar

Komunitas Aleut: Mencintai Kota dari Dekat

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

“Kotamu nanti bakal mekar menjadi plaza raksasa

Banyak yang terasa baru, segala yang lama

mungkin akan tinggal cerita,

dan kita tak punya waktu untuk berduka.”

(Joko Pinurbo)

***

Karsa 1Seseorang datang ke kantor Pemkot Bandung hendak melihat dokumentasi catatan sejarah tentang kota tempat lahirnya, namun sayang sejarah yang dia cari hanya tersaji pada tiga lembar kertas folio. Tiga lembar saja! Dia adalah Haryoto Kunto (alm). Berangkat dari kekecewaan itulah akhirnya beliau menulis beberapa buku tentang Bandung yang sangat lengkap, di antaranya adalah Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dan Semerbak Bunga di Bandung Raya, tak lama kemudian beliau ditasbihkan sebagai Kuncen Bandung.

Kelahiran Komunitas Aleut sedikit banyak dipengaruhi oleh buku-buku Sang Kuncen Bandung itu. Komunitas ini, satu dari beberapa komunitas lain yang—seperti sepenggal puisi Joko Pinurbo yang saya kutip di awal tulisan—merasakan kegelisahan terhadap kondisi kota yang semakin hari kian berubah. Pembangunan merangsek di segala penjuru, yang celakanya kadang kurang memperhatikan unsur sejarah yang menjadi ingatan kolektif warga kota.

Cikal bakal komunitas ini diawali ketika Direktur Program Radio Mestika FM Bandung, yaitu Ridwan Hutagalung, membuat satu program di radionya yang bernama “Afternoon Coffee”. Acara ini sepekan sekali disajikan untuk membahas sejarah Kota Bandung yang sumbernya sebagian besar diambil dari buku-buku Haryoto Kunto.

Ridwan–di tengah tahun 2005, kemudian dilibatkan oleh panitia ospek mahasiswa baru Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran untuk ikut dalam acara yang relatif segar, yaitu ospek tanpa kekerasan, dan sebagai gantinya adalah mengunjungi situs-situs bersejarah di Kota Bandung. Gagasan ini ternyata mendapatkan respon yang positif dari para peserta ospek. Dari situlah kemudian muncul ide untuk mendirikan sebuah komunitas yang fokus utamanya pada apresiasi sejarah kota. Maka pada tahun 2006 resmilah didirikan Komunitas Aleut. Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

Suatu Subuh di Pasar Andir

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

pasar andir street photography 3

Zarathustra tiba di tempat orang ramai berjual beli dan ia pun berkata: Larilah, kawanku, ke dalam kesendirianmu! Kulihat kau jadi tuli oleh suara riuh orang-orang besar dan tersengat oleh orang-orang kecil…

Di mana kesendirian berhenti, pasar pun mulai; dan di mana pasar mulai, mulai pulalah riuh dan rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.

Nietzsche menulis Also Sprach Zarathustra ini di tahun 1883, dan kita tak tahu persis apa pasar baginya. Bukankah pasar adalah tempatnya kebersamaan yang semu, hubungan antar-manipulatif, perjumpaan yang sementara dan hanya permukaan, pertemuan antara sejumlah penjual dengan sejumlah pembeli, yang masing-masing cuma memikirkan kebutuhannya sendiri agar terpenuhi? Bukankah pasar adalah sebuah tempat di mana kesendirian sebenarnya justru hadir? Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

Karnaval di Jalan Halteu Utara

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Suasana Jalan Halteu Utara

Suasana Jalan Halteu Utara

Rombongan anak kecil dan remaja berjalan lambat menjadi pemandangan Jalan Halteu Utara sore itu. Dengan memakai baju yang unik dan tidak biasa, seperti baju adat, gaun biru muda yang dipakai Elsa dalam film Frozen, dan baju polisi, mereka menghiasi suasana sore di Jalan Halteu Utara. Sedang apa mereka?

Saya dekati rombongan tersebut. Tidak dengan mencegat mereka di tengah jalan, melainkan ikut jalan dengan anggota rombongan yang berada di baris paling akhir bisa membaur dan tidak terlalu mencurigakan. Selama ikut berjalan, saya mengobrol dengan beberapa orang, termasuk orang tua yang menemani anaknya ikut rombongan.

Dalam obrolan tersebut, saya mengetahui bahwa rombongan tersebut adalah rombongan karnaval yang diikuti oleh anak–anak. Karnaval tersebut rutin dilaksanakan setiap tanggal 17 Agustus dalam rangka memeriahkan perayaan kemerdekaan Indonesia. Karnaval tersebut kerap menggunakan rute yang mengelilingi kawasan Jalan Halteu Utara (Jalan Halteu Utara – Jalan Garuda – Jalan Rajawali – Jalan Halteu Utara).

Lalu, siapa mereka yang berpakaian unik tersebut? Baca lebih lanjut


Meninggalkan komentar

#InfoAleut: Ngaleut Taman Makam Pahlawan

2015-08-16 TMP Cikutra

#InfoAleut Hari Minggu (16/08/2015) kita akan… “Ngaleut Taman Makam Pahlawan”. Mari bersama-sama berkunjung ke peristirahatan terakhir para pahlawan dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan :)

Tertarik untuk bergabung? Langsung saja kumpul di depan Gerbang TMP Cikutra pukul 07.30 WIB. Peserta diwajibkan untuk menggunakan pakaian yang sopan dan rapi.

Nah, jangan lupa untuk konfirmasikan kehadiranmu terlebih dulu ke nomor 0896-8095-4394. Cukup kirim SMS dengan format nama dan kesedian untuk ikut serta. Ingat, konfirmasi ini hukumnya WAJIB yah :)

BywSSCTCUAAIE_G

Untuk yang mau daftar keanggotaan, langsung aja di tempat kumpul kegiatan. Konfirmasikan kehadiranmu, hadir di tempat kumpul, lalu daftarkan keanggotaanmu dengan biaya iuran Rp 10.000,00. Voila! Kamu sudah terdaftar sebagai anggota Komunitas Aleut :D

Sekian saja Info Aleut pagi hari ini. Ayo datang dan ramaikan, karena tiada kesan tanpa kehadiranmu :)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 11.463 pengikut lainnya.